Perbedaan Epilepsi dan Kejang: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan 

13 Mar 2024 Tips Kesehatan Ditinjau oleh: Bumame Farmasi
Bagikan:

Epilepsi merupakan gangguan neurologis jangka panjang yang ditandai dengan serangan berulang tanpa sebab langsung. Serangan ini disebabkan oleh aktivitas listrik abnormal yang berlebihan di otak. Epilepsi dapat terjadi pada semua usia, baik anak-anak maupun orang dewasa. 

Kasus Epilepsi di Indonesia 

Epilepsi merupakan salah satu penyakit neurologis yang cukup sering terjadi di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar Nasional (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi epilepsi pada penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas sebesar 0,5%. Artinya, dari setiap 1.000 penduduk, 5 orang menderita epilepsi. Jika diperkirakan jumlah penduduk Indonesia saat ini sekitar 275 juta jiwa, maka diperkirakan terdapat sekitar 1,375 juta orang yang menderita epilepsi di Indonesia. 

Kasus epilepsi pada anak-anak juga menjadi perhatian. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa epilepsi merupakan gangguan neurologis tersering kedua pada anak setelah cerebral palsy. Data menunjukkan bahwa sekitar 0,5% anak di Indonesia menderita epilepsi. 

Perbedaan Epilepsi dan Kejang 

Istilah epilepsi dan kejang seringkali digunakan secara rancu. Namun, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Berikut penjelasannya: 

  • Epilepsi: Merupakan kondisi neurologis jangka panjang yang ditandai dengan kecenderungan mengalami kejang berulang tanpa sebab langsung. 
  • Kejang: Merupakan gejala yang bisa disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk epilepsi. Kejang terjadi akibat aktivitas listrik abnormal di otak yang sementara dan menimbulkan gejala tertentu, seperti hilangnya kesadaran, gerakan otot yang tidak terkendali, atau sensasi aneh. 

Jadi, tidak semua orang yang mengalami kejang didiagnosis epilepsi. Untuk didiagnosis epilepsi, seseorang harus mengalami kejang berulang tanpa sebab langsung minimal dua kali dalam jangka waktu minimal enam bulan. 

Penyebab, Gejala, dan Pengobatan Epilepsi 

Epilepsi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain: 

  • Faktor genetik: Riwayat epilepsi dalam keluarga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami epilepsi. 
  • Cedera otak: Cedera kepala berat, infeksi otak, tumor otak, dan stroke dapat memicu epilepsi. 
  • Gangguan perkembangan otak: Beberapa gangguan perkembangan otak, seperti autisme dan cerebral palsy, dapat disertai dengan epilepsi. 
  • Gangguan metabolisme: Gangguan metabolisme tertentu dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit di otak yang memicu kejang. 

Gejala epilepsi beragam, tergantung pada jenis dan lokasi aktivitas listrik abnormal di otak. Berikut beberapa jenis gejala epilepsi yang umum terjadi: 

  • Kejang umum: Hilangnya kesadaran secara tiba-tiba, badan menjadi kaku dan kejang-kejang, serta mulut berbusa. 
  • Kejang parsial sederhana: Gangguan sensori atau motorik sementara yang melibatkan area otak tertentu, seperti kedutan pada lengan atau kaki, sensasi kesemutan, atau bau tertentu yang tercium tiba-tiba. 
  • Kejang parsial kompleks: Hilangnya kesadaran sementara yang disertai dengan gerakan tidak terkendali atau automatisme (perilaku berulang tanpa disadari), seperti mengunyah-ngunyah atau meraba-raba. 
  • Absence seizure: Hilangnya kesadaran sementara dalam hitungan detik, tatapan kosong, dan terkadang disertai dengan kedutan kelopak mata. 

Pengobatan epilepsi bertujuan untuk mengendalikan frekuensi dan keparahan kejang. Obat antiepilepsi (OAE) merupakan pengobatan utama untuk epilepsi. Jenis dan dosis OAE akan disesuaikan dengan jenis dan keparahan epilepsi pada masing-masing pasien. 

Selain obat-obatan, beberapa metode pengobatan lain dapat dipertimbangkan, seperti: 

  • Operasi bedah otak: Dilakukan pada kasus epilepsi yang tidak terkontrol dengan obat, dengan mengangkat area otak yang menjadi sumber aktivitas listrik abnormal. 
  • Stimulasi saraf vagus (VNS): Stimulasi saraf vagus menggunakan alat yang ditanam di bawah kulit dada dapat membantu mengendalikan kejang pada beberapa kasus epilepsi. 

Tes untuk Mendeteksi Epilepsi 

Epilepsi adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan aktivitas listrik abnormal di otak, yang dapat menyebabkan kejang. Diagnosis epilepsi penting untuk mendapatkan pengobatan yang tepat dan membantu mengendalikan kejang. Berikut beberapa tes yang dapat digunakan untuk mendeteksi epilepsi: 

  1. Pemeriksaan Fisik dan Neurologis 

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan neurologis untuk mencari tanda-tanda kerusakan otak atau kelainan neurologis lainnya. Dokter juga akan menanyakan tentang riwayat kesehatan Anda, termasuk gejala yang Anda alami, kapan kejang pertama kali terjadi, dan seberapa sering kejang terjadi. 

  1. Electroencephalogram (EEG) 

EEG adalah tes utama untuk mendiagnosis epilepsi. Tes ini merekam aktivitas listrik otak menggunakan elektroda yang dipasang di kulit kepala. EEG dapat membantu dokter untuk: 

  • Mendeteksi aktivitas listrik abnormal yang terkait dengan epilepsi 
  • Membedakan antara epilepsi dan kondisi lain yang dapat menyebabkan kejang 
  • Menentukan jenis epilepsi 
  • Memprediksi kemungkinan terjadinya kejang di masa depan 
  1. Tes Pencitraan Otak 

Tes pencitraan otak, seperti MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan CT scan (Computerized Tomography), dapat membantu dokter untuk: 

  • Mencari kelainan struktur otak yang dapat menyebabkan epilepsi 
  • Menentukan lokasi aktivitas listrik abnormal di otak 
  • Memprediksi kemungkinan keberhasilan operasi untuk mengatasi epilepsi 
  1. Tes Darah dan Tes Lainnya 

Tes darah merupakan salah satu bagian penting dalam diagnosis dan pemantauan epilepsi. Berikut beberapa tes darah yang dianjurkan untuk penderita epilepsi: 

  1. Tes Hematologi 
  • Hemoglobin dan Hematokrit: Untuk mendeteksi anemia, yang dapat memperburuk gejala epilepsi. 
  • Trombosit: Untuk memantau efek samping obat antiepilepsi (OAE) yang dapat menyebabkan gangguan pembekuan darah. 
  • Leukosit: Untuk mendeteksi infeksi yang dapat memicu kejang. 
  1. Tes Elektrolit 
  • Sodium, kalium, dan klorida: Ketidakseimbangan elektrolit dapat menyebabkan kejang. 
  • Kalsium: Kadar kalsium yang rendah dapat meningkatkan risiko kejang. 
  1. Tes Fungsi Hati 
  • SGOT (AST) dan SGPT (ALT): Untuk memantau efek samping OAE yang dapat menyebabkan kerusakan hati. 
  • Albumin dan Bilirubin: Untuk menilai kesehatan liver. 
  1. Tes Ginjal 
  • Kreatinin dan Ureum: Untuk memantau efek samping OAE yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal. 
  1. Tes Obat Antiepilepsi (OAE) 
  • Tes kadar OAE: Untuk memastikan kadar OAE dalam darah berada pada tingkat terapeutik. 
  • Tes autoantibodi OAE: Untuk mendeteksi resistensi OAE. 
  1. Tes Lainnya 
  • Tes kadar gula darah: Untuk mendeteksi diabetes yang dapat meningkatkan risiko kejang. 
  • Tes kadar tiroid: Untuk mendeteksi hipotiroidisme yang dapat meningkatkan risiko kejang. 
  • Tes genetik: Untuk mendeteksi kelainan genetik yang dapat menyebabkan epilepsi. 

Penting untuk dicatat bahwa tidak semua orang yang mengalami kejang akan didiagnosis dengan epilepsi. Dalam beberapa kasus, kejang dapat disebabkan oleh kondisi lain, seperti stroke, tumor otak, atau infeksi otak. Jika Anda mengalami gejala yang dicurigai epilepsi, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat. 

Berikut beberapa tips untuk mempersiapkan diri sebelum menjalani tes untuk mendeteksi epilepsi: 

  1. Catat riwayat kesehatan Anda, termasuk gejala yang Anda alami, kapan kejang pertama kali terjadi, dan seberapa sering kejang terjadi. 
  2. Bawa semua obat yang Anda konsumsi, termasuk obat resep dan obat bebas. 
  3. Beritahu dokter jika Anda memiliki alergi terhadap obat atau bahan tertentu. 
  4. Tanyakan kepada dokter tentang apa yang perlu Anda lakukan sebelum dan setelah tes. 

Dengan persiapan yang matang, Anda dapat menjalani tes untuk mendeteksi epilepsi dengan lebih lancar dan nyaman. 

Cara Menghindari Epilepsi 

Meskipun belum ada cara pasti untuk mencegah epilepsi sepenuhnya, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko terjadinya epilepsi, yaitu: 

  • Mencegah cedera kepala: Menggunakan helm saat berkendara, memakai sabuk pengaman di mobil, dan menghindari aktivitas berisiko tinggi yang dapat menyebabkan cedera kepala. 
  • Mencegah infeksi otak: Menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta melakukan imunisasi sesuai anjuran dokter untuk mencegah infeksi yang dapat menyebabkan epilepsi. 
  • Kontrol tekanan darah dan gula darah: Tekanan darah tinggi dan gula darah tinggi merupakan faktor risiko stroke yang dapat memicu epilepsi. Oleh karena itu, penting untuk mengontrol tekanan darah dan gula darah dengan baik. 
  • Kontrol kehamilan: Konsultasi dan pemeriksaan kehamilan secara teratur penting untuk mendeteksi dan mencegah komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan risiko epilepsi pada bayi. 
  • Konseling genetik: Jika memiliki riwayat keluarga dengan epilepsi, konsultasi genetik dapat dipertimbangkan untuk mengetahui risiko genetik dan skrining pada janin. 

Namun perlu diingat, menerapkan langkah-langkah ini tidak menjamin terhindar dari epilepsi sepenuhnya. Jika Anda mengalami gejala yang dicurigai epilepsi, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. 

Hidup dengan Epilepsi 

Epilepsi merupakan kondisi kronis yang tidak bisa disembuhkan, tetapi dapat dikontrol dengan baik. Dengan pengobatan yang tepat dan pola hidup sehat, penderita epilepsi tetap dapat hidup berkualitas dan produktif. Berikut beberapa tips untuk hidup sehat dengan epilepsi: 

  • Minum obat secara teratur: Patuhi petunjuk dokter mengenai jenis, dosis, dan jadwal minum obat antiepilepsi. Jangan sembarangan berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter. 
  • Istirahat cukup: Tidur yang cukup sangat penting untuk menjaga kesehatan otak dan membantu mengendalikan kejang. 
  • Kelola stres: Stres dapat memicu kejang. Oleh karena itu, penting untuk belajar mengelola stres dengan cara yang sehat, seperti yoga, meditasi, atau relaksasi. 
  • Hindari alkohol dan obat-obatan terlarang: Alkohol dan obat-obatan terlarang dapat menurunkan efektivitas obat antiepilepsi dan meningkatkan risiko terjadinya kejang. 
  • Jaga pola makan sehat: Konsumsi makanan bergizi seimbang dan batasi asupan kafein. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa diet ketogenik dapat membantu mengendalikan kejang pada anak dengan epilepsi. Namun, sebelum menjalankan diet ketogenik, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter spesialis saraf atau dokter gizi. 
  • Dukungan keluarga dan lingkungan: Dukungan keluarga dan lingkungan sangat penting bagi penderita epilepsi. Beri tahu orang terdekat tentang kondisi epilepsi yang Anda alami dan bagaimana cara membantu saat terjadi kejang. 

Dengan menerapkan pola hidup sehat, dukungan keluarga dan lingkungan, serta pengobatan yang tepat, penderita epilepsi dapat menjalani hidup yang produktif dan berkualitas. 

Bagikan artikel ini ke orang-orang terdekatmu: