Ganja kerap disebut sebagai tanaman alami yang aman, dan anggapan ini mudah ditemukan di media sosial. Sebagian orang lalu bertanya, apakah ganja sebenarnya termasuk narkoba di Indonesia.
Jawabannya menyangkut dua hal sekaligus, yaitu aturan hukum dan kesehatan. Zat aktif dalam ganja bekerja langsung pada otak dan ikut memengaruhi jantung, paru, serta kesehatan jiwa.
Artikel ini membahas status ganja dalam aturan narkotika, efek jangka pendek dan panjangnya, kelompok yang lebih rentan, langkah untuk berhenti, dan cara tes urine membaca jejaknya.
Ya, Ganja Termasuk Narkotika Golongan I
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat-obatan. Kelompok ini mencakup zat dari tanaman maupun bukan tanaman, baik alami, sintetis, maupun semisintetis, yang menurunkan kesadaran dan daya rangsang.
Ganja tercantum di urutan ke-8 daftar Narkotika Golongan I pada Lampiran I Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 36 Tahun 2022 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika kembali mencantumkannya di urutan yang sama.
Daftar itu memuat semua tanaman genus Cannabis beserta seluruh bagiannya, termasuk biji, buah, jerami, hasil olahan, damar ganja, dan hasis. Zat aktifnya, tetrahidrokanabinol atau THC, juga tercantum tersendiri di daftar yang sama.
Undang-undang membagi narkotika menjadi tiga golongan menurut pemanfaatan dan potensi ketergantungannya:
Golongan I. Narkotika golongan ini hanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi. Potensinya menimbulkan ketergantungan sangat tinggi, dan ganja berada di kelompok ini.
Golongan II. Golongan ini berkhasiat pengobatan dan dipakai dalam terapi sebagai pilihan akhir. Potensi ketergantungannya juga sangat tinggi.
Golongan III. Golongan ini berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi. Potensi ketergantungannya tergolong ringan.
Bagaimana dengan Ganja untuk Pengobatan?
WHO mencatat sejumlah studi menunjukkan efek terapi senyawa ganja atau kanabinoid untuk mual dan muntah pada tahap lanjut penyakit seperti kanker dan AIDS.
Di Indonesia, aturannya berbeda. Kajian hukum dalam TATOHI Jurnal Ilmu Hukum Universitas Pattimura menjelaskan bahwa UU Narkotika hanya membolehkan Golongan II dan III dijadikan bahan obat. Artinya, ganja sebagai Golongan I tidak dipakai untuk pengobatan apa pun, dan keluhan seperti nyeri atau mual tetap perlu ditangani bersama dokter.
Cara THC Memengaruhi Otak dan Tubuh
Menurut MSD Manual, ganja berasal dari tanaman Cannabis sativa dan Cannabis indica yang mengandung THC. WHO menyebut THC sebagai zat psikoaktif utama dalam ganja, yaitu zat yang mengubah kerja otak dan suasana hati.
CDC menjelaskan bahwa ganja memengaruhi bagian otak yang mengatur memori, belajar, perhatian, pengambilan keputusan, koordinasi, emosi, dan waktu reaksi. Produk dengan kadar THC tinggi memberi efek memabukkan yang lebih kuat.
Efek yang Muncul Tak Lama setelah Dipakai
Sebagian efek terasa segera setelah ganja dipakai. Beberapa di antaranya tampak ringan, tetapi tetap memengaruhi keselamatan dan kesehatan.
1. Rasa Rileks dan Persepsi yang Berubah
MSD Manual menyebut ganja umumnya meredakan ketegangan dan memberi rasa nyaman. Warna bisa tampak lebih terang dan suara terdengar lebih keras.
2. Jantung Berdebar dan Tekanan Darah Naik
CDC menyebut ganja bisa membuat jantung berdetak lebih cepat dan menaikkan tekanan darah segera setelah dipakai. Perubahan mendadak ini perlu diwaspadai oleh orang yang sudah memiliki penyakit jantung. Keluhan jantung berdebar yang tidak kunjung reda atau disertai nyeri dada perlu segera diperiksa.
3. Mata Merah, Mulut Kering, dan Nafsu Makan Naik
MSD Manual mencatat mata merah, mulut kering, dan nafsu makan yang meningkat sebagai efek fisik lain dari ganja, bersama denyut jantung yang lebih cepat. Keluhan ini menandakan zat sedang bekerja di tubuh.
4. Cemas, Panik, atau Curiga Berlebihan
Pada sebagian orang, efek yang muncul berupa rasa cemas, panik, atau paranoid, yaitu curiga berlebihan terhadap orang lain. CDC juga mengaitkan ganja dengan kecemasan sosial, sehingga orang yang mudah mengalami kecemasan berlebih perlu lebih berhati-hati.
5. Koordinasi dan Konsentrasi Menurun
Koordinasi, waktu reaksi, kemampuan menilai jarak, dan konsentrasi bisa terganggu selama 24 jam setelah pemakaian, menurut MSD Manual. WHO mencatat risiko kecelakaan lalu lintas meningkat pada orang yang mengemudi di bawah pengaruh ganja.
Dampak Pemakaian Berulang bagi Kesehatan
Efek jangka panjang muncul ketika ganja dipakai berulang dalam waktu lama. Berikut dampak yang dicatat lembaga kesehatan:
Ketergantungan. CDC memperkirakan sekitar 3 dari 10 orang yang memakai ganja mengalami cannabis use disorder, yaitu tidak mampu berhenti walau ganja sudah menimbulkan masalah kesehatan dan sosial. Risikonya lebih besar bila pemakaian dimulai sejak remaja dan dilakukan makin sering.
Kemampuan berpikir. MSD Manual menyebut pemakaian yang dimulai pada masa remaja bisa menyebabkan gangguan kemampuan berpikir dan perubahan pada otak. WHO juga mencatat ganja mengganggu perkembangan kemampuan belajar.
Kesehatan jiwa. CDC mengaitkan ganja dengan depresi dan skizofrenia. Kemenkes menambahkan bahwa pemakaian narkoba jangka panjang bisa memperburuk kecemasan dan depresi yang sudah ada, bahkan memicu serangan panik.
Saluran napas. Pemakaian dalam jumlah besar dan lama bisa memicu batuk, mengi, dahak bertambah, hingga bronkitis, menurut MSD Manual. CDC menambahkan bahwa asap ganja bisa merusak jaringan paru, menimbulkan jaringan parut, dan merusak pembuluh darah kecil.
Jantung dan pembuluh darah. Menurut CDC, ganja bisa meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung, dan penyakit pembuluh darah lain. Orang dengan hipertensi perlu memperhatikan risiko ini karena ganja juga menaikkan tekanan darah.
Mual dan muntah berulang. MSD Manual menjelaskan sindrom hiperemesis kanabinoid, yaitu serangan mual dan muntah yang datang silih berganti pada pemakai lama. Serangannya biasanya mereda dalam 48 jam dan mandi air hangat memberi sedikit kelegaan, tetapi muntah yang terus berulang perlu diperiksa dokter.
Kelompok yang Lebih Rentan terhadap Efek Ganja
Efek ganja bisa lebih berat pada beberapa kelompok berikut:
Remaja dan dewasa muda. Otak yang masih berkembang lebih mudah terpengaruh, dan risiko ketergantungan lebih tinggi bila pemakaian dimulai sejak remaja. Kemenkes juga mencatat narkoba bisa memunculkan pikiran menyakiti diri, khususnya pada remaja dan anak muda.
Ibu hamil, perempuan yang merencanakan kehamilan, dan ibu menyusui. MSD Manual menyarankan kelompok ini tidak memakai ganja. WHO mencatat pemakaian saat hamil berkaitan dengan gangguan perkembangan janin yang menurunkan berat lahir bayi.
Orang dengan riwayat gangguan jiwa. Ganja bisa memperburuk atau memicu psikosis, yaitu kondisi ketika seseorang kehilangan kontak dengan kenyataan, pada orang dengan skizofrenia. Riwayat gangguan jiwa sebaiknya selalu disampaikan kepada dokter saat berkonsultasi.
Kapan Perlu Pertolongan Dokter atau IGD?
Segera ke IGD bila setelah memakai ganja muncul nyeri dada, sesak napas, pingsan, kebingungan berat, halusinasi, pikiran menyakiti diri, atau muntah yang tidak berhenti. Anak yang tidak sengaja menelan produk mengandung THC juga perlu segera dibawa ke IGD, karena CDC menyebut anak bisa jatuh sakit berat.
Jadwalkan konsultasi dengan dokter bila keinginan memakai ganja sulit dikendalikan, perubahan suasana hati tidak kunjung membaik, atau keluhan napas menetap.
Tanda Ketergantungan dan Langkah untuk Berhenti
CDC mencatat sejumlah tanda ketergantungan ganja, seperti memakai lebih banyak dari rencana, gagal saat mencoba berhenti, sering merasa ingin memakai, dan tetap memakai walau menimbulkan masalah di rumah, sekolah, atau tempat kerja. Sebagian orang juga mulai meninggalkan kegiatan penting bersama keluarga dan teman.
Berhenti secara mendadak bisa memicu gejala putus zat. MSD Manual menyebut gejalanya mulai sekitar 12 jam kemudian dan berlangsung hingga 7 hari, berupa sulit tidur, mudah marah, rasa murung, mual, dan nafsu makan turun. Keluhan insomnia yang mengganggu aktivitas perlu disampaikan kepada dokter.
Pendampingan membuat proses berhenti lebih terarah. MSD Manual menyebut konseling, terapi perilaku, dan program penanganan ketergantungan bisa membantu. Kemenkes juga menganjurkan mencari bantuan profesional seperti psikolog dan konselor bila Anda atau anggota keluarga membutuhkannya.
Berapa Lama THC Bisa Terdeteksi dalam Urine?
Menurut MedlinePlus, tes narkoba umumnya memakai sampel urine dan bisa menemukan jejak zat yang dipakai beberapa jam hingga beberapa hari atau lebih sebelum tes. Untuk ganja, MSD Manual menyebut tes urine bisa mendeteksi THC selama beberapa hari hingga beberapa minggu setelah dipakai, bahkan pada pemakai sesekali.
Tes ini dipakai untuk berbagai keperluan, seperti seleksi kerja, olahraga, pemantauan program pemulihan, dan bukti hukum. Pada seleksi kerja, pemeriksaan ini bisa menjadi bagian dari tes kesehatan calon karyawan. Ganja termasuk zat yang bisa diperiksa dalam tes NAPZA, bersama kokain dan amfetamin.
Hasil positif pada tes awal masih perlu dipastikan. MedlinePlus menjelaskan bahwa obat, suplemen, dan makanan tertentu bisa memengaruhi hasil, sehingga hasil positif biasanya diikuti tes konfirmasi yang lebih akurat. Selain urine, jenis tes narkoba lain memakai sampel darah, air liur, atau rambut.
Tes Urine NAPZA untuk Memeriksa Jejak THC
Jejak THC yang tertinggal di urine membantu dokter atau pihak yang memerlukan memastikan riwayat pemakaian ganja. Di Bumame, pemeriksaan ini tersedia sebagai NAPZA 6 Parameter. Menurut halaman produknya, tes ini memeriksa THC bersama Amphetamine, Methamphetamine, Morphine, Benzodiazepine, dan Cocaine dari sampel urine dalam wadah steril.
Pemeriksaan tersedia secara Walk In di klinik maupun Home Care, dan hasilnya keluar dalam 1-2 hari kerja. Sampaikan obat atau suplemen yang sedang Anda konsumsi sebelum tes. Untuk pertanyaan seputar pemeriksaan, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Pilih Langkah yang Menjaga Pikiran dan Tubuh Tetap Sehat
Ganja termasuk narkotika Golongan I di Indonesia, dan efeknya pada otak, jantung, paru, serta kesehatan jiwa tercatat dalam berbagai sumber kesehatan. Informasi yang jelas membantu Anda dan keluarga mengambil keputusan dengan tenang. Bila muncul keluhan atau keinginan untuk berhenti, dokter, psikolog, dan konselor bisa mendampingi. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan.
Untuk informasi seputar tes NAPZA, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat. 5 Bahaya Narkoba bagi Kesehatan Mental yang Perlu Anda Ketahui.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 36 Tahun 2022 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.
Kaya RS, Hehanussa DJA, Latupeirissa JE (TATOHI Jurnal Ilmu Hukum, Universitas Pattimura). Tindak Pidana Penggunaan Ganja Untuk Keperluan Pengobatan.
World Health Organization. Cannabis.
Centers for Disease Control and Prevention. Cannabis Health Effects.
Centers for Disease Control and Prevention. Understanding Your Risk for Cannabis Use Disorder.
O'Malley GF, O'Malley R (MSD Manual Consumer Version). Marijuana (Cannabis).
MedlinePlus, National Library of Medicine. Drug Testing.
Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani
Frequently Asked Question
Apakah ganja termasuk narkoba di Indonesia?
Ya, tanaman ganja beserta biji, buah, dan hasil olahannya tercantum sebagai narkotika Golongan I dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 36 Tahun 2022.
Apakah ganja boleh dipakai untuk pengobatan di Indonesia?
Menurut artikel, ganja sebagai narkotika Golongan I tidak digunakan dalam terapi di Indonesia. UU Narkotika hanya memperbolehkan narkotika Golongan II dan III dijadikan bahan obat.
Apa efek ganja bagi tubuh?
Efek jangka pendek ganja antara lain jantung berdebar, tekanan darah naik, mata merah, rasa cemas, serta koordinasi dan konsentrasi menurun. Pemakaian berulang berkaitan dengan ketergantungan, gangguan saluran napas, dan masalah kesehatan jiwa.
Berapa lama ganja bisa terdeteksi dalam urine?
Tes urine dapat mendeteksi THC selama beberapa hari hingga beberapa minggu setelah pemakaian, bahkan pada pemakai sesekali. Hasil positif pada tes awal biasanya perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan yang lebih akurat.
Apa gejala yang muncul saat berhenti memakai ganja?
Gejala putus zat dapat mulai sekitar 12 jam setelah berhenti dan berlangsung hingga 7 hari. Gejalanya meliputi sulit tidur, mudah marah, suasana hati murung, mual, dan nafsu makan menurun.
