Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Penyebab Biduran pada Anak: Pemicu yang Sering Muncul dan Cara Mengatasinya
Kembali ke Artikel & Berita

Penyebab Biduran pada Anak: Pemicu yang Sering Muncul dan Cara Mengatasinya

SBATips Kesehatan

Seorang anak bangun pagi dengan bentol merah di perut dan lengan. Siang harinya bentol itu hilang, lalu muncul lagi di paha. Banyak orang tua langsung menduga makanan semalam sebagai penyebabnya. Dugaan itu bisa keliru. IDAI mencatat biduran pada anak juga bisa dipicu infeksi, suhu, atau tekanan pada kulit, dan sebagian kasus tidak diketahui penyebabnya. Bila bentol disertai bibir atau lidah bengkak, sesak napas, muntah-muntah, atau anak lemas hingga pingsan, segera bawa anak ke IGD terdekat. Artikel ini membahas tanda darurat, pemicu yang sering ditemukan, cara menelusurinya, dan perawatan di rumah. Tanda Darurat yang Membuat Anak Perlu Segera ke IGD Sebagian besar biduran pada anak ringan dan membaik sendiri. Namun, biduran bisa menjadi bagian dari reaksi alergi berat. Segera bawa anak ke IGD bila bentol disertai tanda berikut: Bengkak di bibir, lidah, wajah, atau tenggorokan. Bengkak bisa muncul tiba-tiba, termasuk di sekitar mata. Bengkak di mulut dan tenggorokan bisa menyempitkan saluran napas. Sulit bernapas atau menelan. Napas anak tampak cepat, berbunyi, atau ia seperti tercekik. Suara yang mendadak serak termasuk tanda yang sama. Muntah-muntah atau nyeri perut. AAP memasukkan muntah sebagai tanda yang perlu pertolongan segera. IDAI juga mencatat nyeri perut sebagai tanda bahaya. Lemas, pusing, atau pingsan. Anak kecil bisa tampak lunglai atau tidak merespons seperti biasa. Kulit dan bibir yang pucat atau kebiruan juga perlu ditangani segera. IDAI juga menggolongkan bentol yang meluas ke seluruh badan sebagai tanda bahaya. Kumpulan tanda ini bisa mengarah ke anafilaksis, reaksi alergi berat yang berkembang dalam hitungan menit dan perlu ditangani di rumah sakit segera. Sambil menuju IGD, baringkan anak dan hindari membuatnya berdiri atau berjalan, sesuai saran NHS. Bila anak sesak, bantu ia duduk perlahan. Apa Itu Biduran dan Mengapa Bentolnya Berpindah-pindah? Biduran atau urtikaria adalah bentol menonjol yang gatal, berbatas tegas, dan memudar bila ditekan. Bentol bisa bulat kecil, melebar, atau berbentuk cincin. Pada kulit sawo matang hingga gelap, warnanya bisa mirip kulit sekitar sehingga lebih sulit terlihat. Bentol muncul ketika sel imun di kulit, misalnya sel mast, melepaskan histamin. Zat kimia ini menambah aliran darah ke kulit sehingga kulit membengkak dan terasa gatal. Satu bentol biasanya hilang dalam hitungan jam, lalu bentol baru bisa muncul di bagian tubuh lain selama beberapa hari. Itulah sebabnya biduran tampak berpindah-pindah. Biduran yang berlangsung kurang dari 6 minggu disebut akut, sedangkan yang berlangsung 6 minggu atau lebih disebut kronis. Ambang diagnosis ditentukan oleh dokter. Menurut AAP, episode biduran pada sebagian besar anak selesai dalam beberapa minggu. AAP juga menyebut biduran sangat umum dan bisa dialami segala usia, jadi banyak orang tua pernah merasakan biduran sendiri. Pemicu Biduran yang Sering Ditemukan pada Anak Orang tua sering langsung menganggap biduran sebagai tanda alergi. IDAI menjelaskan pemicunya lebih beragam, dan AAP mencatat pada banyak kasus pemicunya tidak diketahui. 1. Infeksi Virus dan Kuman Lain AAP menyebut infeksi virus sebagai salah satu penyebab biduran yang sering pada anak kecil. Anak sering tampak sehat, dengan sedikit atau tanpa gejala sakit lain sebelum bentol muncul. IDAI menambahkan infeksi bakteri, parasit, dan cacing sebagai pemicu. Karena itu, makanan yang kebetulan dimakan hari itu belum tentu penyebabnya. 2. Makanan dan Bahan Tambahan Pangan Kemenkes mencatat kacang, cokelat, makanan laut, telur, gandum, dan susu sebagai makanan pemicu yang umum, begitu pula bahan tambahan seperti pewarna, pengawet, dan pemanis. Menurut IDAI, biduran bisa timbul dalam 1 sampai 2 jam setelah anak terpapar pemicunya. Bila pola ini berulang setelah makanan yang sama, kemungkinan alergi makanan perlu dibicarakan dengan dokter. 3. Obat yang Baru Diminum IDAI menyebut alergi obat sebagai salah satu pencetus biduran, dan Kemenkes mencatat hampir semua jenis obat bisa memicunya. NHS mencontohkan antibiotik sebagai obat yang bisa memicu reaksi alergi berat. Bila bentol muncul setelah anak mulai minum obat baru, catat nama obat dan jamnya, lalu tanyakan kepada dokter sebelum memberikan dosis berikutnya. 4. Gigitan atau Sengatan Serangga Kemenkes dan NHS mencatat gigitan serangga sebagai pemicu biduran. Sengatan tawon atau lebah bisa memicu reaksi alergi berat yang berkembang dalam hitungan menit. Setelah anak tersengat, amati tanda darurat di atas. 5. Panas, Dingin, Keringat, dan Tekanan NHS mencatat air atau angin dingin, kulit yang panas dan berkeringat setelah olahraga, stres, serta tekanan dari pakaian ketat atau garukan sebagai pemicu. Paparan air dan sinar matahari juga bisa memicu biduran, tetapi jarang. Pemicu fisik patut dicurigai bila bentol berulang kali muncul setelah berenang, berlari, atau memakai celana berkaret ketat. 6. Kontak dengan Hewan, Tanaman, atau Bahan Tertentu NHS mencatat sentuhan dengan tanaman, hewan, bahan kimia, atau lateks sebagai pemicu biduran. Daftar Kemenkes juga memuat bulu hewan dan tungau debu rumah. Bila bentol muncul setelah anak bermain dengan hewan peliharaan atau memakai sabun baru, catat kejadiannya. 7. Pemicu yang Belum Ditemukan Pada sebagian anak, pemicunya tetap tidak diketahui meski orang tua sudah mencatat dengan teliti. IDAI mencatat sebagian kasus berkaitan dengan penyakit autoimun, yaitu kondisi ketika sistem imun menyerang tubuh sendiri. Biduran yang terus kambuh tanpa pola jelas perlu dievaluasi dokter. Siapa yang Lebih Mudah Mengalami Biduran? Kemenkes mencatat biduran muncul lebih sering pada anak-anak, dan orang dengan riwayat alergi memiliki risiko lebih tinggi. MedlinePlus juga menyebut orang yang memiliki alergi lain lebih mudah mengalami biduran. Karena itu, biduran yang sering muncul pada anak dengan rinitis alergi atau alergi debu perlu dibicarakan dengan dokter. Biduran Ringan yang Tetap Perlu Diperiksakan ke Dokter Biduran tanpa tanda darurat umumnya bisa dirawat di rumah. NHS menyarankan konsultasi ke dokter dalam waktu dekat bila bentol tidak membaik setelah 2 hari, terus menyebar, atau sering kambuh, karena pola kambuhan bisa menandakan alergi terhadap sesuatu. Periksakan juga anak yang demam tinggi dan tampak tidak sehat, atau yang mengalami bengkak di bawah kulit, yaitu angioedema, misalnya di tangan atau kaki. Ruam yang menyertai demam bisa berasal dari infeksi, dan perbedaan campak dan alergi sering ditanyakan orang tua pada situasi ini. Bagaimana Dokter Menelusuri Penyebabnya? Kemenkes menjelaskan diagnosis biduran dimulai dari wawancara medis dan pemeriksaan fisik, lalu pemeriksaan penunjang bila diperlukan. Dokter biasanya menanyakan kapan bentol muncul, apa yang dimakan sebelumnya, obat yang sedang dipakai, dan riwayat alergi anak. Menurut AAP, pada sebagian besar kasus tidak ada tes yang bisa memastikan penyebab biduran anak. Tes dipertimbangkan bila biduran muncul sebagai bagian dari reaksi alergi, dan dokter bisa merujuk anak ke dokter spesialis alergi. Pilihannya antara lain uji tusuk kulit, yaitu kulit ditusuk ringan dan diberi sedikit alergen atau zat pemicu alergi untuk melihat reaksinya, atau tes alergi lewat darah. MedlinePlus menyebut tes darah kadang dipilih karena tes kulit bisa terasa kurang nyaman bagi anak kecil. Tes Alergi Darah bila Dokter Mencurigai Pemicu Alergi Bila biduran diduga berkaitan dengan alergi, tes darah membantu dokter melihat kadar antibodi imunoglobulin E atau IgE terhadap alergen tertentu. Kadar IgE yang tinggi berarti anak mungkin alergi terhadap zat tersebut, tetapi tidak menggambarkan berat reaksinya, jadi hasilnya dibaca bersama riwayat gejala. Bila dokter menilai perlu, Panel Alergi Anak di Bumame memeriksa sampel darah anak usia 0 sampai 15 tahun. Menurut halaman produknya, panel ini mendeteksi alergen dari kelompok makanan, serbuk sari, debu, tungau, dan hewan, tanpa puasa khusus, dengan hasil dalam 5 sampai 7 hari kerja dan pembacaan hasil bersama dokter. Obat anti-alergi yang sedang diminum anak perlu didiskusikan dengan dokter sebelum pemeriksaan. Meredakan Gatal Biduran di Rumah Menurut AAP, biduran ringan yang tidak gatal tidak memerlukan pengobatan. Untuk bentol yang gatal, langkah berikut membantu anak lebih nyaman: Kompres atau mandi air sejuk. AAP menyebut keduanya bisa memberi rasa nyaman, dan IDAI menyatakan anak tetap boleh mandi dengan air biasa. Kemenkes mengingatkan kompres dingin tidak dipakai bila biduran dipicu oleh suhu dingin. Pakaian longgar yang menyerap keringat. Kemenkes menyarankan pakaian yang nyaman dan menghindari bahan wol. Pakaian ketat juga bisa menekan kulit dan memicu bentol baru. Produk tanpa pewangi. Sabun, pelembap, atau losion berpewangi bisa mengiritasi kulit yang sedang gatal. Kemenkes juga menyarankan anak tidak berjemur di bawah terik matahari selama biduran berlangsung. Bila gatal mengganggu, dokter bisa meresepkan obat golongan antihistamin sesuai kebutuhan anak. NHS mengingatkan obat ini belum tentu cocok untuk anak kecil, jadi berikan hanya sesuai petunjuk dokter. Biduran yang tidak membaik dengan pengobatan bisa dirujuk ke dokter spesialis kulit. Cara Mengurangi Peluang Biduran Kambuh NHS menyebut biduran tidak selalu bisa dicegah. Langkah yang membantu adalah mengenali lalu menghindari pemicunya, seperti dianjurkan IDAI. Buat catatan harian. Tulis makanan, obat, aktivitas, dan kondisi anak setiap kali bentol muncul, lalu foto bentolnya karena bentol sering sudah hilang saat anak diperiksa. Catatan beberapa minggu memudahkan upaya menelusuri pemicu alergi bersama dokter. Hindari pemicu yang sudah diketahui. Kemenkes menyebut langkah ini pendekatan utama penanganan biduran. Untuk anak dengan alergi yang sering kambuh, beri tahu pengasuh dan guru tentang makanan atau bahan yang perlu dihindari. Dampingi Anak dengan Tenang dan Catat Pemicunya Sebagian besar biduran pada anak ringan dan hilang sendiri. Orang tua cukup memantau tanda darurat, mencatat pola kemunculan, dan merawat kulit anak dengan lembut. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan bila biduran sering kambuh. Untuk pertanyaan seputar pemeriksaan, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp. Lokasi Klinik Bumame 1. Klinik Bumame BSD Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310 2. Klinik Bumame TB Simatupang Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550 3.Klinik Bumame Puri Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610 4. Klinik Bumame Cideng JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160 5. Klinik Bumame Kelapa Gading Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240 Referensi Ikatan Dokter Anak Indonesia — Seputar Kaligata pada Anak Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI — Kenali Gejala dan Penanganan Urtikaria Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI — Penyebab Biduran dan Cara Mengatasinya American Academy of Pediatrics, HealthyChildren.org — Hives (Urticaria) in Children, Causes, Symptoms and Treatment NHS — Hives NHS — Anaphylaxis MedlinePlus, National Library of Medicine — Hives MedlinePlus, National Library of Medicine — Allergy Blood Test


Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. Ikatan Dokter Anak Indonesia — Seputar Kaligata pada Anak

  2. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI — Kenali Gejala dan Penanganan Urtikaria

  3. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI — Penyebab Biduran dan Cara Mengatasinya

  4. American Academy of Pediatrics, HealthyChildren.org — Hives (Urticaria) in Children, Causes, Symptoms and Treatment

  5. NHS — Hives

  6. NHS — Anaphylaxis

  7. MedlinePlus, National Library of Medicine — Hives

  8. MedlinePlus, National Library of Medicine — Allergy Blood Test

Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Apa penyebab biduran pada anak yang sering ditemukan?

Infeksi virus termasuk penyebab yang sering pada anak kecil, selain makanan, obat, gigitan serangga, serta panas, dingin, atau tekanan pada kulit. Pada banyak kasus, pemicunya tidak diketahui.

Kapan anak dengan biduran harus dibawa ke IGD?

Segera bawa anak ke IGD jika biduran disertai bengkak pada bibir, lidah, atau wajah, kesulitan bernapas atau menelan, muntah, pusing, atau tubuh lemas hingga pingsan.

Berapa lama biduran pada anak biasanya hilang?

Satu bentol biasanya memudar dalam hitungan jam, tetapi bentol baru bisa muncul di bagian tubuh lain selama beberapa hari. Pada sebagian besar anak, episode biduran selesai dalam beberapa minggu.

Apakah anak yang biduran boleh mandi?

Boleh. Anak tetap bisa mandi dengan air biasa. Mandi atau kompres air sejuk dapat membantu meredakan gatal, kecuali jika biduran dipicu oleh suhu dingin.

Apakah biduran pada anak selalu perlu tes alergi?

Tidak selalu. Pada sebagian besar kasus, tidak ada tes yang bisa memastikan penyebab biduran. Dokter dapat mempertimbangkan tes alergi jika biduran diduga berkaitan dengan reaksi terhadap makanan, obat, atau alergen lain.