Pernah merasa lebih haus setelah menyantap makanan asin seperti mi instan atau keripik? Hal tersebut sebenarnya berkaitan dengan peran natrium dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh. Lalu, apa itu natrium dan mengapa tubuh sangat membutuhkan zat ini? Berikut penjelasannya!
Apa Itu Natrium (Sodium) dan Fungsinya bagi Tubuh?
Natrium, atau dalam tabel periodik kimia memiliki simbol (Na), merupakan salah satu mineral yang termasuk dalam kelompok elektrolit. Elektrolit merupakan mineral yang memiliki muatan listrik dan berperan dalam berbagai proses penting di dalam tubuh.
Sebagian besar natrium tubuh berada di dalam cairan di luar sel. Salah satu tugas utamanya adalah membantu menjaga keseimbangan antara jumlah cairan di dalam dan di luar sel. Keseimbangan ini penting agar sel dapat bekerja sebagaimana mestinya.
Selain memahami apa itu natrium, penting juga untuk mengetahui bahwa peran natrium sangat penting bagi tubuh utamanya untuk:
mendukung kerja saraf (karena natrium membantu penghantaran sinyal listrik antarsel saraf sehingga tubuh dapat menerima dan merespons rangsangan),
membantu kerja otot (termasuk otot yang berperan penting dalam aktivitas jantung),
menjaga keseimbangan cairan tubuh (karena natrium membantu tubuh mengatur seberapa banyak cairan yang berada di dalam maupun di luar sel),
mendukung keseimbangan elektrolit (karena natrium bekerja bersama elektrolit lain, seperti kalium dan klorida, untuk menjaga fungsi tubuh), dan
membantu proses penyerapan glukosa di saluran pencernaan.
Jadi, tubuh memang membutuhkan natrium. Yang perlu diperhatikan adalah jumlahnya. Terlalu sedikit atau terlalu banyak dapat membuat keseimbangan tubuh terganggu.
Sumber Makanan Tinggi Natrium
Sebagian besar natrium yang kita konsumsi berasal dari makanan. Garam dapur atau natrium klorida merupakan salah satu sumber utamanya. Tanpa disadari, asupan natrium juga bisa datang dari makanan yang rasanya tidak selalu terasa sangat asin. Beberapa contoh makanan yang relatif tinggi natrium antara lain:
Mie instan dan makanan instan lainnya, seperti bubur instan, pasta instan, dan bihun instan.
Keripik dan makanan ringan kemasan, seperti keripik singkong, kacang asin, dan popcorn kemasan.
Daging olahan, seperti sosis, nugget, dan kornet.
Makanan kaleng, seperti ikan sarden kalengan, kornet sapi kaleng, dan sup jamur kalengan.
Acar, seperti acar mentimun, acar cabai, dan acar bawang.
Saus, kecap, dan bumbu siap pakai.
Makanan cepat saji, seperti burger, ayam goreng tepung, dan kentang goreng.
Keju dan mentega asin.
Kaldu bubuk, kaldu blok, dan penyedap rasa instan.
Makanan yang diawetkan, seperti ikan asin, telur asin, dan daging dendeng.
Karena itu, selain memahami apa itu natrium, memerhatikan label kandungan produk pada kemasan bisa menjadi kebiasaan sederhana yang bermanfaat.
Meski demikian, bukan berarti harus menghilangkan garam sepenuhnya dari makanan. Tubuh tetap membutuhkan natrium. Fokusnya adalah menjaga konsumsi agar tidak berlebihan dan membiasakan pola makan yang lebih seimbang.
Dampak Kekurangan Natrium (Hiponatremia)
Ketika membahas tentang apa itu natrium, kita juga perlu mengenali kondisi ketika kadarnya dalam darah terlalu rendah, yang disebut hiponatremia. Secara umum, hiponatremia terjadi ketika kadar natrium darah berada di bawah 135 mEq/L.
Kondisi ini tidak selalu berarti seseorang kekurangan garam dari makanan. Hiponatremia juga dapat terjadi karena jumlah cairan dalam tubuh terlalu banyak dibandingkan dengan natrium, kehilangan natrium dalam jumlah besar, atau kondisi medis tertentu.
Beberapa hal yang dapat berkontribusi terhadap turunnya kadar natrium antara lain:
Minum cairan dalam jumlah berlebihan pada kondisi tertentu.
Keringat berlebihan.
Diare atau muntah berkepanjangan.
Penggunaan obat tertentu, termasuk beberapa jenis diuretik.
Gangguan hormon yang mengatur keseimbangan cairan.
Gangguan pada ginjal, jantung, atau organ tertentu.
Gejalanya dapat berbeda-beda, tergantung seberapa rendah kadar natrium dan seberapa cepat penurunannya. Keluhan yang mungkin muncul antara lain:
Sakit kepala.
Mual dan muntah.
Tubuh terasa lemah atau mudah lelah.
Mengantuk.
Kram atau kelemahan otot.
Gelisah atau merasa tidak nyaman.
Kebingungan.
Pada kondisi yang berat, hiponatremia dapat memengaruhi fungsi otak karena terjadi perubahan keseimbangan cairan di dalam tubuh.
Karena penyebabnya beragam, kekurangan natrium sebaiknya tidak ditangani dengan cara menambah garam atau mengonsumsi minuman tertentu secara asal. Penanganannya perlu disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing orang.
Dampak Kelebihan Natrium
Selain memahami apa itu natrium, kita juga perlu tahu bahwa kelebihan mineral ini dengan kadar di atas 145 mEq/L bukanlah sesuatu yang baik. Konsumsi natrium yang berlebihan dapat membuat tubuh menahan lebih banyak cairan dan pada sebagian orang menyebabkan peningkatan tekanan darah.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, konsumsi natrium yang berlebihan dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, terutama hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
Asupan makanan tinggi natrium perlu diperhatikan, sebab sering kali dikonsumsi berlebihan tanpa disadari. Misalnya, seseorang mungkin tidak banyak menambahkan garam ketika memasak, tetapi cukup sering mengonsumsi makanan kemasan, makanan cepat saji, mie instan, atau makanan olahan yang sudah mengandung natrium.
Karena itu, menjaga konsumsi natrium bukan berarti harus takut pada garam. Lebih tepatnya, kita perlu mengetahui dari mana natrium berasal dan membatasi sumber yang berlebihan.
Perlu dibedakan antara asupan natrium yang tinggi dan hipernatremia, yaitu kondisi ketika kadar natrium dalam darah terlalu tinggi. Hipernatremia biasanya berkaitan erat dengan ketidakseimbangan antara natrium dan cairan tubuh, misalnya ketika tubuh kehilangan terlalu banyak air.
Gejala hipernatremia dapat meliputi rasa haus yang berlebihan, dehidrasi, kelemahan, perubahan kesadaran, atau gangguan fungsi saraf pada kondisi berat. Jika mengalami keluhan yang mengkhawatirkan, pemeriksaan dan evaluasi medis diperlukan untuk mencari penyebabnya.
Kebutuhan Natrium Harian yang Dianjurkan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi natrium kurang dari 2.000 mg per hari untuk orang dewasa, yang setara dengan kurang dari sekitar 5 gram garam dapur per hari. Jumlah ini sudah mencakup natrium dari seluruh makanan dan minuman yang dikonsumsi.
Angka tersebut bukan berarti semua orang harus mengonsumsi natrium dalam jumlah yang sama. Kebutuhan dan anjuran dapat berbeda berdasarkan usia, kondisi kesehatan, aktivitas, serta rekomendasi tenaga kesehatan.
Karena itu, selain memerhatikan penggunaan garam saat memasak, cobalah perhatikan juga konsumsi makanan kemasan dan makanan olahan. Membaca informasi nilai gizi pada label kemasan dapat membantu Anda mengetahui berapa banyak natrium yang masuk ke tubuh dalam sekali konsumsi.
Perlu diketahui juga, jangan mengubah konsumsi garam secara ekstrem hanya berdasarkan perkiraan sendiri, terutama jika Anda memiliki penyakit tertentu atau sedang mengonsumsi obat yang dapat memengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit.
Cek Kadar Natrium dengan Pemeriksaan Natrium Bumame
Mengetahui apa itu natrium dan menjaga asupannya memang penting. Namun, ada kalanya kita membutuhkan informasi yang lebih objektif mengenai kondisi tubuh. Salah satunya melalui pemeriksaan kadar natrium dalam darah.
Untuk mendukung hal tersebut, Bumame menyediakan pemeriksaan untuk mengukur kadar natrium sebagai salah satu elektrolit utama tubuh. Pemeriksaan ini dapat membantu memberikan gambaran mengenai keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh dengan harga layanan mulai dari Rp150.000,00.
Layanan ini tersedia dalam pilihan home care maupun walk in, sehingga pemeriksaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Pemeriksaan ini dapat dipertimbangkan, terutama jika seseorang mengalami gejala yang berkaitan dengan ketidakseimbangan natrium, seperti sakit kepala, mual dan muntah, tubuh terasa lemah, kram otot, dehidrasi, atau perubahan kesadaran.
Namun, gejala saja tidak cukup untuk memastikan apakah kadar natrium terlalu rendah atau terlalu tinggi. Hasil pemeriksaan tetap perlu dilihat bersama kondisi kesehatan lain dan, bila diperlukan, dievaluasi oleh dokter.
Kapan Perlu Cek Kadar Natrium Darah?
Sebagai bagian dari pemahaman mengenai apa itu natrium, tidak semua orang perlu melakukan pemeriksaan mineral ini secara rutin. Pemeriksaan biasanya lebih relevan ketika ada gejala, kondisi kesehatan, atau penggunaan obat tertentu yang dapat memengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit.
Anda dapat mempertimbangkan berkonsultasi dengan dokter mengenai pemeriksaan natrium jika mengalami keluhan yang tidak biasa, terutama setelah muntah atau diare berkepanjangan, kehilangan banyak cairan, atau ketika sedang menjalani pengobatan yang dapat memengaruhi kadar elektrolit.
Pemeriksaan juga dapat menjadi bagian dari evaluasi kondisi tertentu, misalnya ketika dokter perlu menilai keseimbangan elektrolit atau memantau kondisi pasien dengan masalah kesehatan tertentu.
Sebagai gambaran umum, kadar natrium normal dalam darah berada pada kisaran 135–145 mEq/L. Kadar di bawah 135 mEq/L umumnya disebut hiponatremia, sedangkan kadar di atas 145 mEq/L disebut hipernatremia. Namun, hasil laboratorium tetap perlu diinterpretasikan sesuai rentang rujukan laboratorium dan kondisi individu.
Yang terpenting, jangan langsung panik ketika melihat hasil pemeriksaan yang berada di luar rentang normal. Nilai tersebut merupakan informasi yang perlu dipahami bersama faktor lain. Dokter dapat membantu mencari penyebab dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan atau penanganan lanjutan.
Mulai Menjaga Natrium agar Tetap Seimbang
Melalui pemahaman tentang apa itu natrium, kita tahu bahwa mineral ini bukanlah sesuatu yang harus sepenuhnya dihindari. Tubuh membutuhkannya untuk menjaga keseimbangan cairan serta mendukung fungsi saraf dan otot, sehingga kuncinya terletak pada pengaturan asupan yang seimbang.
Mulailah dari hal sederhana seperti perhatikan konsumsi makanan olahan, baca label kandungan natrium, dan gunakan garam secukupnya. Selain itu, jangan melakukan pembatasan atau penambahan natrium secara berlebihan tanpa alasan yang jelas.
Jika muncul gejala yang mengarah pada gangguan keseimbangan natrium atau Anda memiliki kondisi yang membuat kadar elektrolit perlu dipantau, jangan menebak kondisi tubuh berdasarkan gejala. Pemeriksaan kadar natrium dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu tenaga kesehatan menentukan langkah berikutnya.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
References:
National Library of Medicine. (2023). Dietary Sodium and Human Health.
MDPI. (2024). Sodium and Human Health: What Can Be Done to Improve Sodium Balance beyond Food Processing?.
National Library of Medicine. (2012). Examples of sodium content in various foods and food groups.
World Health Organization. (2012). Guideline: sodium intake for adults and children.
American Academy of Family Physicians. (2023. Diagnosis and Management of Sodium Disorders: Hyponatremia and Hypernatremia.
Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani
_(1).jpg&w=3840&q=75)