Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Bruntusan: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi
Kembali ke Artikel & Berita

Bruntusan: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

SBATips Kesehatan

Pernah merasa kulit wajah tiba-tiba terasa kasar ketika disentuh? Jika dilihat dari jauh padahal tampak biasa saja, tapi saat bercermin lebih dekat ternyata tampak banyak bintil-bintil kecil di beberapa area wajah. Hal semacam ini sering disebut bruntusan dalam percakapan sehari-hari.

Istilah bruntusan umumnya merujuk pada bintil kecil pada wajah berkaitan dengan komedo, jerawat inflamasi, iritasi, atau masalah kulit lain yang secara tampilan tampak hampir serupa. Untuk tahu sebab pastinya, perlu sekali mengenali cirinya sebelum mencoba berbagai produk perawatan.

Apa Itu Bruntusan?

Bruntusan adalah istilah umum yang biasanya digunakan untuk menggambarkan kumpulan bintil-bintil kecil pada permukaan kulit. Karakteristik bintil bisa berwarna seperti kulit atau kemerahan, terasa kasar, dan kadang disertai rasa gatal.

Bintil kecil itu bisa berupa komedo tertutup atau papula. Dikatakan komedo tertutup jika bintil yang muncul berupa benjolan kecil berwarna putih atau menyerupai warna kulit dan kerap terjadi ketika pori tersumbat. Dikatakan papula jika benjolan kecil itu meradang dan biasanya tampak kemerahan.

Jadi, tidak semua kondisi yang disebut bruntusan memiliki penyebab yang sama. Perlu diamati dulu tampilannya, bentuk, rasa, serta perubahan kulit dari waktu ke waktu.

Penyebab Bruntusan pada Wajah

Berikut beberapa faktor yang menyebabkan bruntusan pada kulit.

1. Produksi Minyak Berlebih

Produksi sebum atau minyak alami kulit sangat dibutuhkan untuk menjaga kelembapan alami serta melindungi permukaan kulit. Namun, produksi sebum yang berlebihan, dan bercampur dengan debu maupun sel kulit mati, dapat menyumbat folikel rambut dan memicu timbulnya komedo atau jerawat.

2. Penumpukan Sel Kulit

Sel kulit yang menumpuk di kulit dapat bercampur dengan sebum dan menyumbat folikel rambut. Jika tidak diatasi, sering kali bisa memicu timbulnya komedo serta bintil-bintil kecil di permukaan kulit.

3. Produk Kosmetik atau Perawatan Tertentu

Beberapa produk rambut, kosmetik, atau skincare dapat menyumbat pori-pori pada orang yang kulitnya rentan berjerawat. Selain itu, produk rambut tertentu yang mengandung minyak juga dapat memicu munculnya bintil kecil di sekitar garis rambut dan dahi.

4. Iritasi Akibat Perawatan yang Terlalu Agresif

Saat menggosok wajah terlalu keras, terlalu sering melakukan eksfoliasi, atau kerap memencet bintil bisa menyebabkan kulit lebih mudah iritasi. Untuk itu, disarankan untuk melakukan perawatan kulit secara lembut agar tidak mudah iritasi yang dapat memperburuk kondisi kulit.

5. Faktor Hormonal dan Kondisi Tubuh

Perubahan hormonal juga bisa jadi salah satu sebab munculnya jerawat. Namun, munculnya bruntusan belum tentu disebabkan karena gangguan hormon.

Gejala dan Ciri-Ciri Bruntusan

Bruntusan bisa tampak berbeda antara satu orang dan lainnya. Beberapa ciri yang sering dirasakan atau terlihat meliputi:

  • Banyak bintil kecil yang muncul berkelompok.

  • Permukaan kulit terasa tidak rata atau kasar.

  • Bintil dapat menyerupai warna kulit atau tampak kemerahan.

  • Sebagian bintil tidak terasa sakit.

  • Sebagian lainnya dapat terasa gatal, perih, atau meradang.

  • Area yang sering mengalami keluhan antara lain dahi, pipi, dagu, dan sekitar garis rambut.

Jika bintil berubah menjadi benjolan besar, terasa nyeri, mengeluarkan nanah, atau meninggalkan bekas, kondisi tersebut mungkin lebih sesuai dengan bentuk jerawat tertentu dan sebaiknya tidak hanya dianggap sebagai bruntusan biasa.

Perbedaan Bruntusan dengan Jerawat

Bruntusan merupakan istilah awam, sedangkan jerawat atau acne vulgaris merupakan kondisi dermatologis yang memiliki karakteristik klinis tertentu.

Bruntusan biasanya digunakan untuk menggambarkan tampilan kulit yang dipenuhi bintil kecil tanpa menyebutkan jenis kelainannya secara spesifik. Sedangkan jerawat adalah bintil kecil yang memiliki ciri dan jenis kelainan lebih spesifik. 

Selain itu, jerawat juga bisa timbul dalam wujud komedo terbuka (tampak sebagai titik hitam), komedo tertutup (benjolan berwarna putih atau serupa kulit), papula (benjolan merah tanpa nanah), pustula (seperti papula tapi bernanah), nodul (terasa keras), maupun kista (benjolan dalam berisi cairan dan terasa nyeri). Jadi, bila keluhan sulit dikenali, konsultasikan langsung kepada dokter kulit.

Cara Mengatasi Bruntusan

Langkah pertama dalam mengatasi bruntusan adalah menghindari kebiasaan yang dapat memperburuk iritasi. Anda bisa menggunakan pembersih wajah yang lembut dan hindari menggosok kulit terlalu keras. 

Selain itu, jangan memencet atau mengorek bintil karena tindakan tersebut dapat memperburuk peradangan dan meningkatkan risiko bekas pada kulit.

Jika bruntusan berkaitan dengan jerawat, bahan aktif tertentu seperti salicylic acid, benzoyl peroxide, retinoid topikal, atau azelaic acid dapat digunakan sesuai kondisi dan toleransi kulit. 

Retinoid sendiri dapat membantu mencegah penyumbatan folikel. Sementara benzoyl peroxide merupakan salah satu terapi yang direkomendasikan dalam perawatan jerawat.

Namun, semakin banyak bahan aktif tidak selalu berarti semakin cepat kulit membaik. Produk baru sebaiknya diperkenalkan secara bertahap untuk melihat toleransi kulit.

Untuk beberapa terapi topikal, disarankan penggunaan secara berselang atau waktu kontak yang lebih singkat pada tahap awal jika diperlukan untuk mengurangi risiko iritasi, kemudian ditingkatkan sesuai toleransi.

Sebagai catatan, retinoid topikal tidak dianjurkan selama kehamilan. Jika sedang hamil, merencanakan kehamilan, atau memiliki kondisi medis tertentu, konsultasikan terlebih dahulu sebelum menggunakan obat jerawat.

Perawatan Wajah yang Disarankan

Perawatan kulit sehari-hari dapat dibuat sederhana, yakni dengan melakukan hal berikut:

  • Bersihkan wajah secara lembut, terutama setelah berkeringat.

  • Gunakan pelembap yang sesuai dengan kondisi kulit dan tidak mudah menyumbat pori.

  • Gunakan sunscreen pada pagi dan siang hari.

  • Hindari scrub kasar atau eksfoliasi berlebihan ketika kulit sedang iritasi.

  • Perhatikan produk rambut dan kosmetik yang menyentuh wajah, terutama jika bintil banyak muncul di dahi atau garis rambut.

  • Jangan terlalu sering mengganti produk skincare. Berikan waktu yang cukup untuk melihat respons kulit.

  • Jika menggunakan obat jerawat, ikuti petunjuk penggunaan dan jangan meningkatkan frekuensi pemakaian hanya karena ingin hasil lebih cepat.

Perawatan kulit membantu menjaga kondisi permukaan kulit, tetapi tidak selalu dapat menjelaskan mengapa keluhan muncul berulang. Pada kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan faktor lain berdasarkan riwayat kesehatan dan pemeriksaan.

Kapan Perlu Konsultasi Dokter Kulit?

Konsultasi dengan dokter kulit sebaiknya dipertimbangkan apabila bruntusan pada kulit tidak membaik setelah perawatan yang tepat, sering kambuh, terasa nyeri, meradang cukup berat, atau mulai meninggalkan bekas.

Konsultasi juga penting apabila Anda tidak yakin apakah yang dialami benar-benar jerawat. Hal itu karena beberapa jenis masalah kulit dapat sulit dibedakan secara kasatmata dan dokter kulit dapat membantu menentukan jenis kelainannya.

Jerawat yang lebih berat dan berlangsung lama juga memiliki risiko jaringan parut yang lebih tinggi, sehingga evaluasi dan penanganan yang sesuai sangat diperlukan.

Dokter juga perlu menilai apakah diperlukan pemeriksaan tambahan. Pemeriksaan laboratorium tidak otomatis diperlukan hanya karena seseorang mengalami bruntusan. Keputusan pemeriksaan sebaiknya didasarkan pada gejala, riwayat kesehatan, faktor risiko, serta hasil evaluasi klinis.

Kenali Kondisi Kulit, Rawat dengan Tepat

Bruntusan memang dapat membuat tekstur kulit terasa mengganggu, tetapi tidak semua bintil kecil memiliki penyebab yang sama. Perawatan yang tepat dimulai dari mengenali karakteristik kulit, menghindari iritasi, menggunakan produk secara bijak, dan mencari bantuan profesional jika keluhan menetap atau memburuk.

Bila ingin mengevaluasi kondisi kesehatan yang mungkin berkaitan dengan kesehatan kulit secara lebih menyeluruh, MCU Skin Panel (Core) dari Bumame dengan harga mulai dari Rp1.420.000,00 layak jadi pilihan.

Layanan ini menggabungkan 6 pemeriksaan darah, yaitu:

  • Glukosa Puasa, untuk mengukur kadar gula darah setelah berpuasa.

  • HbA1c, untuk memberikan gambaran rata-rata kadar gula darah selama sekitar 2–3 bulan terakhir.

  • Vitamin D 25-OH Total, untuk menilai kadar vitamin D dalam tubuh.

  • Zn Serum, untuk mengukur kadar zinc dalam sampel darah.

  • hs-CRP, sebagai salah satu parameter yang dapat memberikan informasi mengenai proses inflamasi.

  • Protein Total, untuk mengukur jumlah keseluruhan protein, termasuk albumin dan globulin.

Kombinasi pemeriksaan tersebut membantu mengevaluasi beberapa aspek metabolik, nutrisi, inflamasi, dan kondisi kesehatan sistemik yang dapat menjadi bagian dari gambaran kesehatan secara keseluruhan.

Meski demikian, pemeriksaan ini sebaiknya dipandang sebagai bagian dari evaluasi kesehatan, bukan sebagai pengganti diagnosis dokter kulit. Jika bruntusan menetap, meradang, terasa nyeri, atau menimbulkan bekas, konsultasi dengan dokter spesialis kulit tetap merupakan langkah yang tepat.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

References:

  1. National Library of Medicine. (2025). Facial skin pores: a multiethnic study.

  2. National Library of Medicine. (2016). Facial Pores: Definition, Causes, and Treatment Options.

  3. Medical News Today. (2020). How to clear and prevent clogged pores.

  4. National Library of Medicine. (2023). The efficacy and adverse effects of treatment options for facial pores: A review article.

  5. Prevention. (2023). Clogged Pore Causes, Treatments, and Prevention, According to Dermatologists.

  6. Biosciences Biotechnology Research Asia. (2025). Emerging Formulations and Clinical Applications of Topical Salicylic Acid in Acne management.

Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila

Frequently Asked Question

Apa itu bruntusan?
Bruntusan adalah istilah umum untuk kumpulan bintil kecil pada permukaan kulit yang dapat berwarna seperti kulit atau kemerahan, terasa kasar, dan terkadang gatal.
Apa penyebab bruntusan pada wajah?
Bruntusan dapat disebabkan oleh produksi minyak berlebih, penumpukan sel kulit, produk kosmetik atau perawatan tertentu, iritasi akibat perawatan yang terlalu agresif, serta faktor hormonal dan kondisi tubuh.
Apa saja ciri-ciri bruntusan?
Ciri-cirinya antara lain banyak bintil kecil yang berkelompok, permukaan kulit terasa kasar atau tidak rata, serta bintil yang menyerupai warna kulit atau tampak kemerahan. Sebagian bintil juga dapat terasa gatal, perih, atau meradang.
Bagaimana cara mengatasi bruntusan?
Cara mengatasinya antara lain menggunakan pembersih wajah yang lembut, menghindari menggosok atau memencet bintil, serta menggunakan bahan aktif seperti salicylic acid, benzoyl peroxide, retinoid topikal, atau azelaic acid sesuai kondisi dan toleransi kulit.
Kapan bruntusan perlu diperiksakan ke dokter kulit?
Konsultasi dengan dokter kulit sebaiknya dipertimbangkan jika bruntusan tidak membaik, sering kambuh, terasa nyeri, meradang cukup berat, meninggalkan bekas, atau sulit dipastikan apakah merupakan jerawat.