Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Cacar Api Adalah Herpes Zoster, Kenali Gejala dan Cara Mengobatinya
Kembali ke Artikel & Berita

Cacar Api Adalah Herpes Zoster, Kenali Gejala dan Cara Mengobatinya

Redaksi Bumame

Ruam Melepuh dan Nyeri di Satu Sisi Tubuh? Waspadai Gejala Cacar Api

Ruam pada kulit tidak selalu disebabkan oleh alergi atau iritasi. Jika ruam berbentuk lepuhan muncul pada satu sisi tubuh dan disertai rasa nyeri, terbakar, atau kesemutan, kondisi tersebut dapat mengarah pada cacar api atau herpes zoster.
Cacar api terjadi akibat aktifnya kembali virus varicella-zoster, yaitu virus yang sama dengan penyebab cacar air. Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus tidak sepenuhnya hilang dari tubuh dan dapat kembali aktif bertahun-tahun kemudian.
Meski dapat dialami siapa saja yang pernah terkena cacar air, risikonya meningkat seiring bertambahnya usia dan pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Mengenal Cacar Api atau Herpes Zoster

Cacar api adalah penyakit yang dikenal secara medis sebagai herpes zoster atau shingles. Penyakit ini merupakan infeksi akibat reaktivasi virus varicella-zoster (VZV).
World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus varicella-zoster tetap berada dalam tubuh dalam keadaan tidak aktif. Virus tersebut kemudian dapat aktif kembali dan menyebabkan herpes zoster.
Ruam cacar api biasanya muncul sebagai kumpulan lepuhan pada satu sisi tubuh. Lokasinya paling sering ditemukan di area badan, tetapi dapat pula muncul pada wajah.
Inilah yang menjadi salah satu perbedaan dengan cacar air. Cacar air merupakan infeksi pertama oleh VZV, sedangkan cacar api terjadi ketika virus yang sudah berada di dalam tubuh kembali aktif.

Penyebab dan Pemicu Cacar Api

Penyebab cacar api adalah reaktivasi virus varicella-zoster.
Ketika seseorang pertama kali terinfeksi virus tersebut, penyakit yang muncul adalah cacar air. Setelah sembuh, virus tetap berada dalam sistem saraf dalam kondisi tidak aktif.
Bertahun-tahun kemudian, virus dapat aktif kembali dan bergerak melalui jalur saraf menuju kulit hingga menimbulkan ruam khas herpes zoster.
Tidak semua orang yang pernah mengalami cacar air pasti terkena cacar api. Namun, beberapa kondisi dapat meningkatkan risikonya.

Faktor Risiko Cacar Api

Menurut WHO, herpes zoster lebih sering terjadi pada orang berusia di atas 50 tahun. Risiko juga meningkat pada orang dengan sistem imun yang melemah.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko antara lain:
  • Bertambahnya usia
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah
  • Penyakit atau kondisi tertentu yang memengaruhi imunitas
  • Penggunaan obat yang menekan sistem imun
  • Riwayat cacar air sebelumnya
WHO juga menyebut kondisi tertentu seperti diabetes, penyakit ginjal kronis, dan penyakit paru dapat meningkatkan risiko herpes zoster.

Gejala Cacar Api yang Perlu Dikenali

Gejala cacar api tidak selalu langsung dimulai dengan munculnya ruam.
CDC menjelaskan bahwa rasa nyeri, gatal, atau kesemutan dapat muncul pada area kulit beberapa hari sebelum ruam berkembang.
Gejala yang dapat terjadi antara lain:
  • Nyeri, rasa terbakar, atau kesemutan pada kulit
  • Kulit lebih sensitif ketika disentuh
  • Ruam kemerahan
  • Lepuhan berisi cairan
  • Gatal
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Tubuh terasa lelah
Salah satu karakteristik yang cukup khas adalah ruam yang muncul pada satu sisi tubuh dan biasanya tidak melewati garis tengah tubuh.
Beberapa jenis herpes memang sama-sama dapat menyebabkan lepuhan pada kulit. Karena itu, mengenali ciri-ciri herpes dapat membantu memahami perbedaan pola gejala, tetapi diagnosis tetap perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Tahapan Perkembangan Cacar Api

Perjalanan cacar api dapat dimulai bahkan sebelum ruam terlihat.
Pada tahap awal, seseorang dapat mengalami nyeri, kesemutan, rasa terbakar, atau gatal pada area tertentu. Keluhan tersebut kemudian diikuti munculnya ruam.
Ruam berkembang menjadi kelompok lepuhan berisi cairan. Menurut CDC, lepuhan baru dapat terus terbentuk selama sekitar 3–5 hari sebelum akhirnya mengering dan membentuk keropeng.
WHO menyebut ruam cacar api umumnya berupa satu jalur atau kelompok lepuhan pada salah satu sisi tubuh.
Pada sebagian orang, rasa nyeri dapat bertahan bahkan setelah kondisi kulit membaik. Hal inilah yang perlu diperhatikan karena dapat menandakan terjadinya komplikasi pada saraf.

Penularan Cacar Api dan Risiko Penyebarannya

Cacar api memiliki pola penularan yang berbeda dengan cacar air.
Seseorang tidak tertular cacar api secara langsung dari penderita cacar api. Namun, penderita dapat menularkan virus varicella-zoster kepada seseorang yang belum pernah mengalami cacar air atau belum mendapatkan vaksin cacar air.
Jika terjadi penularan tersebut, orang yang tertular akan mengalami cacar air, bukan langsung mengalami cacar api.
Virus terutama dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan dari lepuhan.
Untuk mengurangi risiko penularan:
  • Tutup area ruam jika memungkinkan
  • Hindari menyentuh atau menggaruk lepuhan
  • Cuci tangan secara rutin
  • Hindari kontak langsung dengan orang yang rentan
Perhatian khusus diperlukan ketika berada di sekitar ibu hamil yang belum memiliki kekebalan terhadap cacar air, bayi baru lahir, serta orang dengan sistem imun lemah.

Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Cacar Api

Cacar api biasanya dapat dikenali dari riwayat keluhan serta karakteristik ruamnya.
Pola berupa lepuhan yang muncul pada satu sisi tubuh disertai nyeri dapat menjadi petunjuk kuat herpes zoster. WHO menyebut pola khas ruam sering kali cukup membantu dalam menegakkan diagnosis.
Namun, beberapa kondisi kulit lain dapat memiliki penampilan yang menyerupai herpes zoster.
Karena itu, dokter akan mempertimbangkan lokasi ruam, bentuk lepuhan, karakter nyeri, riwayat cacar air, serta kondisi kesehatan pasien.
Memahami ciri-ciri herpes dapat membantu mengenali keluhan awal, tetapi sebaiknya tidak digunakan untuk melakukan diagnosis sendiri.
Pada kasus yang meragukan, pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan. CDC menyebut PCR sebagai pemeriksaan laboratorium yang paling membantu untuk mengonfirmasi infeksi VZV.

Pilihan Pengobatan Cacar Api

Pengobatan cacar api bertujuan mempercepat pemulihan, mengurangi keparahan gejala, serta menurunkan risiko komplikasi.

Obat Antivirus

Obat antivirus merupakan salah satu terapi utama herpes zoster.
CDC menyebut beberapa antivirus yang digunakan dalam penanganan awal herpes zoster antara lain acyclovir, valacyclovir, dan famciclovir. Terapi antivirus dapat membantu mempercepat penyembuhan lesi, mengurangi pembentukan lesi baru, serta mengurangi tingkat nyeri akut.
Pengobatan juga paling efektif apabila dimulai sedini mungkin. WHO menyebut antivirus dapat mengurangi tingkat keparahan dan durasi penyakit, terutama jika diberikan lebih awal.
Karena obat antivirus memerlukan penilaian kondisi pasien dan resep dokter, hindari menggunakannya tanpa konsultasi tenaga kesehatan.

Penanganan Nyeri

Rasa nyeri akibat herpes zoster dapat cukup berat pada sebagian orang.
Dokter dapat memberikan obat untuk membantu mengendalikan nyeri berdasarkan tingkat keparahan dan kondisi kesehatan pasien.
Perawatan kulit juga perlu dilakukan agar lepuhan tetap bersih serta mengurangi risiko terjadinya infeksi sekunder.

Komplikasi Cacar Api yang Perlu Diwaspadai

Komplikasi yang paling umum dari herpes zoster adalah postherpetic neuralgia atau neuralgia pascaherpes.
Kondisi ini menyebabkan nyeri saraf yang tetap terasa setelah ruam dan lepuhan sudah sembuh. Nyeri dapat berlangsung selama berbulan-bulan bahkan lebih lama pada sebagian pasien.
Komplikasi lain dapat berupa:
  • Infeksi bakteri pada lepuhan
  • Bekas luka
  • Gangguan pada mata dan penglihatan
  • Gangguan pendengaran
  • Pneumonia
  • Ensefalitis
Risiko komplikasi lebih tinggi pada lansia dan orang dengan sistem imun yang lemah.

Bagaimana Cara Mencegah Cacar Api?

Vaksinasi merupakan salah satu cara untuk mengurangi risiko herpes zoster dan komplikasinya.
WHO menyebut vaksin herpes zoster yang aman dan efektif tersedia untuk membantu mencegah penyakit ini. Vaksinasi secara signifikan dapat mengurangi risiko herpes zoster dan neuralgia pascaherpes.
Bumame juga memasukkan vaksin herpes zoster dalam panduan vaksinasi dewasa 2026. Dalam panduan tersebut, vaksin diberikan dalam dua dosis dan disebut direkomendasikan terutama untuk kelompok usia dewasa tertentu serta individu dengan kondisi imunokompromi sesuai indikasi.
Karena kebutuhan vaksinasi dapat berbeda berdasarkan usia, riwayat penyakit, dan kondisi kesehatan, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui vaksinasi yang sesuai.

Apa Perbedaan Cacar Api dan Cacar Air?

Meskipun disebabkan oleh virus yang sama, cacar api dan cacar air bukan kondisi yang sama.
Cacar air merupakan penyakit yang muncul ketika seseorang pertama kali terinfeksi varicella-zoster virus. Setelah sembuh, virus dapat menetap dalam tubuh dalam keadaan tidak aktif.
Cacar api terjadi ketika virus tersebut aktif kembali di kemudian hari.
Perbedaan lainnya terlihat pada pola ruam. Cacar api umumnya menimbulkan lepuhan yang terkonsentrasi pada satu sisi tubuh mengikuti area saraf tertentu, sedangkan ruam cacar air biasanya lebih menyebar.
Untuk memahami karakteristik infeksi pertamanya, kamu dapat membaca lebih lanjut mengenai perbedaan dengan cacar air.

Kenali Gejala Cacar Api Sejak Awal

Cacar api adalah infeksi akibat aktifnya kembali virus varicella-zoster setelah sebelumnya menetap di dalam tubuh. Kondisi ini biasanya menyebabkan nyeri atau kesemutan yang kemudian diikuti ruam dan lepuhan pada salah satu sisi tubuh.
Meski ruam dapat sembuh, sebagian penderita dapat mengalami nyeri saraf berkepanjangan. Karena itu, mengenali gejala, mendapatkan penanganan sejak awal, dan mempertimbangkan vaksinasi sesuai rekomendasi dapat membantu mengurangi risiko komplikasi.
Jika muncul ruam lepuh yang terasa nyeri, terbakar, atau hanya terjadi pada satu sisi tubuh dan membuat kamu khawatir, kamu dapat chat gratis dengan dokter untuk konsultasi agar keluhan dapat dievaluasi dan kamu mendapatkan rekomendasi langkah selanjutnya.

Sumber: World Health Organization (WHO), Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Mayo Clinic

Lokasi Klinik Bumame

Klinik Bumame Cideng JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10160
Klinik Bumame TB Simatupang 1, Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12550
Klinik Bumame BSD Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kec. Serpong, Tangerang, Banten 15310 Klinik Bumame Puri Indah Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23, Kembangan, Jakarta Barat 11610

Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing

Frequently Asked Question

Cacar api adalah penyakit apa?
Cacar api atau herpes zoster adalah infeksi yang terjadi akibat aktifnya kembali virus varicella-zoster, yaitu virus yang juga menyebabkan cacar air.
Apakah cacar api sama dengan herpes?
Cacar api termasuk penyakit akibat kelompok virus herpes dan dikenal sebagai herpes zoster. Namun, virus penyebabnya berbeda dari herpes simplex virus yang dapat menyebabkan herpes oral atau genital.

Apakah cacar api bisa sembuh?
Ruam cacar api umumnya dapat sembuh. Namun, sebagian penderita dapat mengalami komplikasi berupa nyeri saraf yang bertahan setelah ruam menghilang.
Apakah cacar api menular?
Cacar api tidak menular menjadi cacar api pada orang lain. Namun, virus dari lepuhan dapat menyebabkan cacar air pada seseorang yang belum memiliki kekebalan terhadap virus varicella-zoster.
Berapa lama cacar api sembuh?
CDC menyebut ruam herpes zoster umumnya sembuh dalam waktu sekitar 2–4 minggu, meskipun durasinya dapat berbeda pada setiap orang.
Apakah orang yang pernah cacar air bisa terkena cacar api?
Bisa. Justru cacar api terjadi karena virus penyebab cacar air yang tetap berada dalam tubuh kembali aktif di kemudian hari.
Apakah cacar api bisa muncul lagi?
Bisa. Seseorang yang pernah mengalami herpes zoster tetap dapat mengalaminya kembali, meskipun kekambuhan tidak terjadi pada semua orang.