Di Indonesia, penggunaan atap asbes masih sering kita jumpai, karena murah, kuat, dan tahan panas. Namun, ketika asbes dipotong atau rusak, serpihan kecilnya bisa terhirup dan membahayakan pernapasan. Dalam jangka panjang pun dapat menyebabkan asbestosis, dan asbestosis adalah penyakit yang perlu diwaspadai.
Meskipun gejala yang muncul membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun, dampaknya dapat menurunkan fungsi pernapasan secara signifikan. Salah satu ciri-ciri penyakit asbestosis adalah sesak napas. Oleh karenanya, sangat penting untuk memahami penyakit asbestosis agar langkah pencegahan dapat Anda lakukan sedini mungkin.
Apa yang Dimaksud dengan Asbestosis?
Sebelum memahami pengertiannya, Anda perlu mengetahui bagaimana material asbes bisa berbahaya jika berinteraksi dengan organ pernapasan? Asbes merupakan kelompok mineral silikat alami yang memiliki serat-serat kecil yang sangat halus, dan biasa digunakan sebagai bahan bangunan dan komponen industri.
Ketika material berbahan asbes ini rusak, aus, atau sedang dipotong, maka serat-serat mikroskopisnya dapat terlepas ke udara dan mudah sekali terhirup masuk ke dalam paru-paru. Serat yang terhirup ini akan menyebabkan kerusakan paru-paru yang disebut sebagai asbestosis. Bahkan jika parah dapat menimbulkan kanker paru-paru.
Di bagian terdalam organ paru-paru pun terdapat alveoli yang berfungsi sebagai tempat penukaran gas oksigen dan karbondioksida. Ketika serat asbes masuk dan terjebak di alveoli, sel kekebalan tubuh berusaha membersihkannya. Namun, karena serat asbes sangat keras, jaringan paru yang lunak berubah menjadi jaringan parut kaku (fibrosis).
Jadi, asbestosis adalah penyakit paru-paru kronis yang berkembang secara bertahap akibat paparan fisik dari zat toksik, yaitu asbes. Akibat penumpukan serat asbes tersebut, paru-paru mengalami peradangan kronis yang berlangsung bertahun-tahun. Biasanya, gejala muncul sekitar 20-40 tahun setelah paparan pertama.
Berbeda halnya dengan gangguan paru-paru akut seperti pneumonia atau paru-paru basah. Penyakit tersebut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau jamur. Sehingga mudah menular dan dapat sembuh dengan pengobatan medis. Sementara, penyakit asbestosis adalah penyakit non-infeksi (tidak menular) dan sulit sembuh.
Ciri-Ciri Penyakit Asbestosis
Pada tahap awal, seseorang yang pernah terpapar asbes mungin tidak merasakan keluhan sama sekali. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, jaringan parut yang terbentuk karena menggantikan jaringan yang luka, menjadi semakin kaku dan tebal. Akibatnya kemampuan paru-paru dalam menyerap oksigen semakin menurun.
Berikut beberapa ciri-cirinya.
Sesak napas: Awalnya sesak napas muncul saat melakukan aktivitas berat. Lalu, menjadi semakin parah walau hanya melakukan aktivitas ringan atau sedang istirahat.
Batuk berkepanjangan: Biasanya berupa batuk kering yang terus-menerus, tapi dalam beberapa kasus yang parah, penderita dapat mengalami batuk mengeluarkan dahak berdarah.
Nyeri dada: Dada terasa sangat nyeri yang diikuti suara berdecit di dalam dada saat Anda menghirup napas.
Pembengkakan jari: Ujung jari tangan dan kaki tampak lebih lebar dan bulat dari biasanya, serta kuku melengkung ke bawah. Ini terjadi karena pembuluh melebar akibat kekurangan kadar oksigen dalam darah.
Berat badan turun: Nafsu makan yang menurun drastis tanpa alasan yang jelas menyebabkan penurunan berat badan.
Penyebab Paparan Asbes dan Orang yang Rentan Terpapar
Penyebab utama penyakit asbestosis adalah paparan serat asbes di lingkungan kerja atau di sekitar tempat tinggal. Serat-serat asbes mudah sekali melayang di udara, sehingga bisa ikut terhirup saat Anda bernapas. Kejadian ini sering kali tidak disadari, karena ukurannya yang sangat kecil, sehingga tidak dapat terlihat oleh mata telanjang.
Beberapa jenis pekerjaan yang memiliki risiko tinggi terkena asbestosis adalah pekerja di bidang konstruksi atau bangunan, galangan kapal, instalasi pipa, dan pabrik bahan bangunan. Selain itu, anggota keluarga dari para pekerja tersebut juga berisiko mengalami paparan sekunder yang menempel pada pakaian, sepatu, dan alat kerja.
Selain di tempat kerja, masyarakat yang tinggal di bangunan tua dengan atap asbes juga rentan terpapar. Serat asbes yang lama terpakai akan mudah rapuh dan terlepas akibat cuaca ekstrem. Mengetahui bahwa asbestosis merupakan ancaman kesehatan, masyarakat harus lebih hati-hati dalam penggunaan asbes.
Apakah Penyakit Asbestosis Bisa Sembuh?
Dampak dari penyakit asbestosis adalah terbentuk jaringan parut atau fibrosis pada organ paru-paru yang sifatnya permanen, sehingga sulit untuk kembali normal. Ini karena serat asbes yang terperangkap di dalam alveoli (kantung paru-paru) tidak dapat dikeluarkan atau dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh.
Meskipun asbestosis adalah penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan secara total, namun adanya perawatan medis modern dapat membantu mengontrol gejala yang dirasakan. Dengan begitu, kondisi penderita tidak semakin parah. Melalui berbagai terapi pengobatan, fungsi paru-paru yang tersisa masih dapat bekerja optimal.
Diagnosis Lewat MCU Paru
Dokter akan melakukan pemeriksaan medis menyeluruh, guna memastikan seseorang mengalami kerusakan paru-paru akibat asbes atau bukan. Beberapa tahapan diagnosis asbestosis adalah sebagai berikut.
Wawancara: Dokter menanyakan secara detail tentang riwayat pekerjaan, tempat tinggal, dan kondisi lingkungannya, serta keluhan pernapasan yang dialami.
Pemeriksaan fisik: Mengecek bagian bawah paru-paru dengan stetoskop untuk mendengar suara napas, apakah ada bunyi berdecit (mengi) atau tidak.
High-Resolution Computed Tomography (HRCT) / CT Scan resolusi tinggi: Hasil foto scan memperlihatkan gambaran apakah ada jaringan parut di paru-paru, dan perubahan selaput paru (pleura) yang lebih tebal dari ukuran normal.
Spirometri: pasien menarik napas sedalam-dalamnya dan menghembuskan hanya melalui mulut ke corong spirometri. Tujuannya yaitu untuk mengukur kapasitas dan kecepatan udara yang masuk dan keluar dari dan ke paru-paru.
Bagi Anda yang memiliki riwayat sering berada di lingkungan yang berisiko terpapar asbes, sebaiknya periksa kesehatan paru-paru Anda secara berkala. Sebagai langkah pencegahan, Anda dapat memanfaatkan layanan (MCU) paru premium di Bumame, guna memantau fungsi pernapasan dan mendeteksi kelainan jaringan paru sejak awal.
Pengobatan dan Pencegahan Paparan Asbes
Penanganan pada pasien asbestosis berfokus pada bagaimana cara meredakan gejala atau keluhan untuk mencegah timbulnya infeksi sekunder. Pada umumnya, dokter akan menyarankan berbagai terapi pengobatan seperti di bawah ini.
Terapi oksigen: Tujuannya untuk meningkatkan kadar oksigen dalam darah, mengurangi sesak napas, dan mencegah komplikasi organ lain akibat kekurangan oksigen. Caranya dengan mengalirkan oksigen langsung melalui kanul hidung (nassal canula) atau masker khusus dari tabung oksigen.
Obat-obatan dan inhaler: Dokter dapat meresepkan obat untuk mengurangi batuk, serta penggunaan inhaler agar saluran pernapasan menjadi lebih longgar.
Vaksinasi: Pemberian vaksin influenza dan pneumonia juga tidak kalah penting, supaya tidak muncul infeksi pada saluran pernapasan yang dapat memperparah kondisi paru-paru.
Rehabilitasi paru: Melatih teknik pernapasan dan teknik relaksasi, agar paru-paru lebih kuat dan tetap mampu beraktivitas dengan baik.
Transplantasi paru: Merupakan alternatif terakhir pada kasus yang sangat parah, atau apabila tidak ada perubahan sama sekali setelah pengobatan lain.
Selain terapi dan pengobatan di atas, melakukan tindakan pencegahan terhadap asbestosis adalah langkah penting. Demi menghindari atau meminimalkan paparan serat asbes sedari awal. Langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan, antara lain.
Jika di tempat kerja sering terpapar material asbes, gunakan masker respirator untuk menyaring partikel kecil masuk ke dalam tubuh.
Segera cuci tangan dan ganti pakaian setelah selesai kerja, agar serat asbes dan kuman tidak ikut terbawa ke rumah.
Saat renovasi atau merobohkan bangunan tua, gunakan jasa profesional yang dapat menangani material berbahaya.
Jangan membuang limbah asbes sembarangan, harus sesuai aturan yang berlaku.
Sebaiknya jangan gunakan bahan bangunan rumah dari asbes untuk atap, plafon, dinding, maupun pipa.
Jauhi lingkungan yang mudah terpapar asbes, atau gunakan masker saat melewati area tersebut.
Berhenti merokok dan hindari asap rokok, karena asbes dan asap rokok dapat meningkatkan risiko terkena kanker paru-paru.
Kapan Harus ke Dokter Spesialis Paru?
Jika merasakan gangguan pada pernapasan seperti, sesak napas berat, batuk berkepanjangan hingga mengeluarkan darah, atau nyeri dada yang tak kunjung sembuh, segeralah berkonsultasi dengan dokter spesialis paru. Terlebih apabila Anda memiliki riwayat paparan asbes, jangan abaikan gejala-gejala kecil pada pernapasan.
Mengingat bahwa asbestosis adalah penyakit yang gejalanya muncul secara perlahan, konsultasi dini ke dokter spesialis paru akan membantu mencegah penurunan fungsi paru yang lebih parah. Dengan demikian, dokter dapat mempercepat rencana pengobatan yang tepat sebelum kondisi penyakit Anda berkembang ke stadium lanjut.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kemenkes. (2026). Asbes Masih Banyak Digunakan, Apa Bahayanya Bagi Kesehatan?
Mayo Clinic. (2023). Asbestosis: Symptoms & Causes.
National Health Service (NHS UK). (2023). Asbestosis.
American Lung Association. (2023). Asbestos and Lung Health.
Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR) / CDC. (2023). Asbestos ToxFAQs.
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
.jpg&w=3840&q=75)