Pernah merasa napas terasa lebih pendek dari biasanya setelah beraktivitas ringan, kemudian disertai batuk yang tidak kunjung membaik? Keluhan semacam ini bisa terjadi karena banyak kondisi. Memahami ciri paru-paru basah bisa membantu Anda dalam menentukan kapan kesehatan paru harus diperiksa secara lebih lanjut.
Sebenarnya istilah paru-paru basah sendiri cukup sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Padahal, istilah tersebut bisa merujuk ke pneumonia, sebuah infeksi yang mengakibatkan kantung udara paru terisi nanah atau cairan, maupun efusi pleura, penumpukan cairan di ruang antara dingin dada dan paru-paru.
Apa Itu Paru-paru Basah?
Dalam istilah medis yang dijelaskan Centers for Disease Control and Prevention, “paru-paru basah” bukan sebuah nama diagnosis tertentu. Ini adalah istilah yang kerap dipakai masyarakat untuk menggambarkan gangguan paru yang berhubungan dengan infeksi, cairan, atau peradangan.
Pneumonia adalah infeksi yang menyerang salah satu atau kedua paru-paru. Ketika infeksi terjadi, sistem kekebalan tubuh akan memberi respons peradangan pada alveoli (kantung udara kecil yang menjadi tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida).
Akibatnya, alveoli bisa terisi cairan atau nanah yang membuat pertukaran oksigen terganggu. Sementara efusi pleura merupakan kondisi saat cairan terkumpul secara berlebihan di dalam pleural space (rongga pleura), sebuah ruang tipis di antara 2 lapisan pleura yang melapisi paru serta bagian dalam dinding dada.
Pada kondisi normal, ruang tersebut mempunyai sedikit cairan agar membantu paru bergerak secara lancar ketika bernapas. Masalah terjadi saat jumlah cairannya meningkat secara tidak normal.
Maka dari itu, efusi pleura dan pneumonia tidak bisa dianggap sebagai masalah kesehatan yang sama. Pneumonia adalah infeksi yang terjadi pada jaringan paru, sementara efusi pleura adalah penumpukan cairan di sekitar paru. Meski begitu, pneumonia bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya efusi pleura.
Penyebab Paru-paru Basah
Penyebabnya bergantung pada kondisi yang dimaksud. Pemicu pneumonia umumnya adalah infeksi, sementara efusi pleura terjadi karena gangguan pada jantung, paru, ginjal, hati, maupun kondisi lainnya.
1. Infeksi Virus, Bakteri, atau Jamur
Pneumonia paling sering terjadi saat mikroorganisme masuk ke saluran pernapasan serta berhasil mencapai paru-paru. Virus, bakteri, dan jamur adalah beberapa jenis mikroorganisme yang bisa menyebabkan infeksi tersebut.
Saat tubuh melawan mikroorganisme, terjadi respons peradangan yang bisa mengakibatkan alveoli dipenuhi oleh nanah atau cairan. Kondisi inilah yang selanjutnya bisa menjadikan seseorang mengalami demam, batuk, sesak napas, dan penurunan kadar oksigen.
2. Cairan Menumpuk di Rongga Pleura
Pada efusi pleura, permasalahan utama bukan cairan yang ada di dalam alveoli, tetapi cairan yang berkumpul di rongga pleura. Penumpukan tersebut bisa terjadi saat keseimbangan kadar protein di dalam darah atau pembuluh darah terganggu.
Gagal jantung adalah salah satu yang menjadi penyebab tersering efusi pleura. Selain itu, tumor, infeksi, gangguan ginjal dan hati, serta cedera dada juga bisa mengakibatkan cairan berkumpul pada sekitar paru-paru.
3. Pneumonia yang Berkembang Menjadi Komplikasi
Infeksi pneumonia yang cukup berat bisa memicu peradangan pada jaringan di sekitar paru serta mengakibatkan cairan masuk ke rongga pleura. Cairan tersebut di kondisi tertentu bisa terinfeksi serta berubah menjadi nanah yang kemudian dinamakan empyema (kumpulan nanah di rongga pleura).
Maka dari itu, pneumonia tidak selalu hanya berkaitan dengan infeksi paru. Dokter juga harus memperhatikan kemungkinan komplikasi ketika keluhan semakin berat maupun tidak membaik sesuai dengan perjalanan penyakit.
4. Gagal Jantung dan Gangguan Organ Lain
Efusi pleura juga bisa terjadi saat tubuh mengalami gangguan dalam mengatur cairan. Pada penyakit gagal jantung contohnya, perubahan tekanan pada pembuluh darah bisa mengakibatkan cairan merembes serta terkumpul di dalam rongga pleura.
Gangguan ginjal dan hati juga bisa berperan karena kedua organ tersebut berhubungan dengan pengaturan cairan serta protein di dalam tubuh. Itu artinya, cairan yang ada di sekitar paru tidak selalu mengindikasikan adanya infeksi paru.
5. Kanker atau Kondisi Lain
Tumor di paru atau penyebaran kanker pada area pleura bisa mengakibatkan efusi pleura. Cedera dada, peradangan tertentu, serta pembekuan darah di pembuluh paru juga termasuk penyebab gejala kanker paru-paru yang perlu menjadi pertimbangan dokter.
Gejala dan Ciri Paru-paru Basah
Gejala bisa berbeda antara efusi pleura dan pneumonia. Bahkan, sebagian orang yang mengalami efusi pleura dalam jumlah yang sedikit bisa tidak merasakan keluhan apa pun. Meski begitu, terdapat beberapa ciri paru-paru basah yang harus diperhatikan seperti berikut ini.
1. Sesak Napas
Sesak napas bisa muncul saat paru tidak dapat bekerja optimal dalam memasukkan oksigen ke tubuh. Pada kasus pneumonia, peradangan serta cairan di alveoli bisa mengganggu proses pertukaran gas.
Sementara pada efusi pleura, cairan yang jumlahnya semakin banyak tidak bisa memberi tekanan dari luar. Kondisi ini membuat paru cenderung lebih sulit mengembang ketika menarik panas. Akibatnya, Anda bisa merasa napas pendek, khususnya saat melakukan aktivitas.
2. Batuk
Batuk adalah keluhan yang umum dialami penderita pneumonia. Kondisi ini ada yang disertai dengan lendir atau tidak, tergantung dari penyebab infeksinya.
Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute, pada kondisi yang berhubungan dengan pleura, batuk juga bisa terjadi karena adanya iritasi maupun tekanan di sekitar paru. Meski begitu, karena batuk bisa diakibatkan oleh banyak penyakit, keberadaannya masih belum cukup untuk dijadikan dasar bahwa seseorang mengalami ciri paru-paru basah.
3. Nyeri Dada
Nyeri dada bisa terjadi ketika peradangan berlangsung di sekitar paru. Rasa sakit tertentu bisa menjadi lebih terasa ketika Anda menarik napas dalam atau batuk, yang dikenal sebagai pleuritik pain, nyeri karena iritasi maupun peradangan pleura.
Namun, keluhan ini sebaiknya tidak dijadikan indikasi seseorang mengalami masalah paru. Nyeri pada dada juga bisa berhubungan dengan beragam kondisi kesehatan lain sehingga perlu adanya pemeriksaan dokter, khususnya saat nyeri terasa berat atau tiba-tiba muncul.
4. Demam dan Menggigil
Demam dan menggigil kerap dikaitkan dengan pneumonia karena infeksi. Respons sistem imun tubuh terhadap mikroorganisme bisa meningkatkan suhu tubuh sebagai bagian dari proses tubuh dalam melawan infeksi.
Akan tetapi, tidak semua orang yang menderita pneumonia mengalami demam tinggi. Untuk lansia atau seseorang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, gejala khas bisa lebih samar, bahkan suhu tubuh bisa saja tidak meningkat seperti yang diperkirakan.
5. Tubuh Terasa Lemas
Infeksi paru bisa membuat tubuh lebih mudah lelah karena energi digunakan untuk merespons infeksi. Gangguan saat pertukaran oksigen juga bisa menyebabkan aktivitas sehari-hari Anda terasa lebih berat.
Melansir MSD Manual, kelelahan bisa muncul bersama dengan demam, batuk, atau sesak napas yang sebaiknya tidak Anda abaikan ketika berlangsung secara terus-menerus atau semakin berat.
6. Kadar Oksigen Menurun
Pneumonia yang cukup berat bisa mengakibatkan kadar oksigen di dalam darah menurun. Kondisi seperti ini bisa diperiksa dengan menggunakan pulse oximeter, alat kecil yang biasa dipasang pada ujung jari agar bisa memperkirakan saturasi oksigen.
Selain itu, penurunan oksigen juga tidak selalu bisa dirasakan dengan jelas. Maka dari itu, seseorang dengan gejala yang cenderung mengarah ke gangguan paru, dokter bisa melakukan pengecekan saturasi sebagai bagian dari penilaian kondisi.
Faktor Risiko Paru-paru Basah
Tidak semua orang mempunyai kemungkinan yang sama ketika menderita pneumonia maupun komplikasi berkaitan dengan paru. Terdapat beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risikonya.
1. Usia
Usia adalah salah satu faktor penting. Anak-anak kecil dan orang dewasa dengan usia 65 tahun ke atas mempunyai risiko lebih tinggi terkena pneumonia serta komplikasi yang lebih serius.
2. Kebiasaan Merokok
Merokok juga bisa meningkatkan risiko karena asap rokok menyebabkan terganggunya kemampuan saluran pernapasan dalam membersihkan lendir serta partikel asing. Paparan polusi udara serta asap berbahaya juga bisa memberi tekanan tambahan terhadap sistem pernapasan.
3. Penyakit Kronis
Penyakit seperti diabetes, asma, gagal jantung, penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK, dan penyakit ginjal dan hati juga bisa meningkatkan risiko efusi pleura atau pneumonia. Kondisi yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menjadi lemah harus mendapatkan perhatian khusus.
Hal ini karena kemampuan tubuh dalam melawan infeksi bisa menurun sehingga mengakibatkan Anda rentan mengalami gangguan kesehatan yang lebih kompleks.
4. Gangguan Menelan atau Infeksi Batuk
Kondisi ini juga bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami pneumonia aspirasi. Minuman, makanan, air liur, maupun muntahan yang masuk ke saluran pernapasan, bukan ke kerongkongan, bisa membawa mikroorganisme atau mengakibatkan iritasi paru. Risiko ini bisa meningkat pada seseorang dengan demensia, stroke, Parkinson, atau gangguan saraf tertentu.
Diagnosis Paru-paru Basah
Diagnosis tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan gejala. Biasanya, dokter menilai riwayat kesehatan, melakukan pemeriksaan fisik, kemudian menggunakan pemeriksaan penunjang untuk memastikan kondisi paru.
Rontgen dada merupakan pemeriksaan awal yang biasa dilakukan untuk mengecek adanya peradangan di paru karena pneumonia atau cairan di sekitar paru pada penderita efusi pleura. Jika dibutuhkan gambar secara lebih detail, dokter bisa merekomendasikan CT scan dada.
Pemeriksaan tersebut bisa menunjukkan jumlah cairan, kondisi paru, dan kemungkinan komplikasi maupun penyebab lain. Sementara untuk efusi pleura, dokter bisa melakukan thoracentesis atau pengambilan sampel cairan dari rongga pleura.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui penyebab terjadinya penumpukan cairan. Selain itu, pemeriksaan saturasi oksigen dan darah bisa menjadi opsi tambahan sesuai dengan kondisi pasien.
Skrining Paru Komprehensif untuk Cegah Komplikasi
Menjaga kesehatan paru-paru bukan hanya dilakukan saat gejala sudah terasa. Seseorang yang memiliki faktor risiko tertentu sebaiknya melakukan pemeriksaan kesehatan dan menjadikannya sebagai salah satu cara untuk memperoleh gambaran tentang kondisi tubuh lebih awal.
Salah satu pilihan yang tersedia yaitu Skrining Kanker LUNGClear dari Bumame. Pemeriksaan ini adalah tes darah molekuler yang memakai teknologi microRNA untuk menilai risiko kanker paru-paru. Pemeriksaan dilakukan secara non-invasif sesuai prosedur, seperti pengambilan darah pada umumnya.
Selain itu, Bumame juga menyediakan Paket MCU Plus yang mencakup beragam pemeriksaan darah, seperti fungsi hati, hematologi lengkap, fungsi ginjal, gula darah, profil lipid, vitamin D, dan HbA1c. Pemeriksaan ini bisa menjadi bagian dari pemantauan kesehatan secara menyeluruh, khususnya bagi orang yang ingin tahu kondisi tubuhnya secara berkala.
Kapan Harus ke Dokter?
Sesak napas sesekali atau batuk belum tentu ciri paru-paru basah. Akan tetapi, sebaiknya pemeriksaan dipertimbangkan ketika sesak semakin sering muncul pada aktivitas ringan, batuk tidak kunjung membaik, nyeri dada saat bernapas atau batuk, serta disertai demam maupun tubuh yang terasa sangat lemah.
Kenali Ciri Paru-Paru Basah, Jangan Hanya Berdasarkan Gejala
Istilah paru-paru basah bisa mengarah ke efusi pleura maupun pneumonia, dua kondisi yang mempunyai mekanisme berbeda. Batuk, nyeri dada, sesak napas, demam, serta tubuh terasa lemas memang tergolong keluhan yang harus menjadi perhatikan, tetapi gejala tersebut belum cukup digunakan untuk menentukan diagnosis.
Maka dari itu, ketika keluhan semakin berat atau menetap, jangan hanya berpatokan pada perkiraan dari gejala. Anda perlu melakukan pemeriksaan medis seperti rontgen dada, pemeriksaan darah, CT scan, pengukuran oksigen, maupun analisis cairan pleura.
Tujuannya untuk membantu dokter dalam menemukan penyebab. Dengan begitu, tindakan medis bisa dilakukan secara lebih tepat.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
Frequently Asked Question
Apa yang dimaksud dengan paru-paru basah?
Apa saja penyebab paru-paru basah?
Apa saja ciri paru-paru basah yang perlu diperhatikan?
Ciri yang dapat muncul meliputi sesak napas, batuk, nyeri dada, demam dan menggigil, tubuh terasa lemas, serta penurunan kadar oksigen. Namun, gejala tersebut tidak cukup untuk memastikan diagnosis karena dapat terjadi pada kondisi lain.
Siapa yang lebih berisiko mengalami paru-paru basah?
Risiko lebih tinggi pada anak kecil, orang berusia 65 tahun ke atas, perokok, serta orang dengan penyakit kronis seperti diabetes, asma, gagal jantung, PPOK, atau gangguan ginjal dan hati. Gangguan menelan yang menyebabkan makanan atau cairan masuk ke saluran pernapasan juga dapat meningkatkan risiko pneumonia aspirasi.
_(1).jpg&w=3840&q=75)