Pasien dengan masalah neurologi seperti kejang, gangguan kesadaran, sampai tumor otak akan menjalani pemeriksaan menggunakan alat bernama Elektroensefalografi (EEG). Alat ini nantinya membantu dokter memantau aktivitas listrik di otak dengan menempelkan sensor khusus yang dihubungkan ke komputer.
Apa Itu Elektroensefalografi (EEG)?
Elektroensefalografi (EEG) menjadi alat diagnosa penting di bidang neurologi karena mampu merekam aktivitas “listrik” yang dihasilkan oleh otak secara real time, terutama pada kondisi kritis.
Alat ini dirancang menggunakan sensor khusus dengan menempelkan elektroda (sejenis logam kecil) di kulit kepala pasien, kemudian dihubungkan ke komputer untuk mendeteksi aktivitas otak. Hasilnya, dokter bisa melihat perubahan aktivitas di otak dalam bentuk garis gelombang yang menunjukkan masalah tertentu pada otak, seperti:
Kejang pada anak (epilepsi);
Demensia, alias penurunan daya ingat;
Gangguan kesadaran akibat masalah sistem saraf;
Insomnia dan narkolepsi atau gangguan tidur kronis yang membuat pasien tiba-tiba tidur di mana saja; serta
Kematian otak.
Metode pemeriksaan EEG pertama digunakan pada tahun 1924 oleh ahli fisiologi bernama Hans Berger untuk merekam otak manusia. Kemudian, alat ini semakin mendapat perhatian di tahun 1930-an dan menjadi salah satu alat penting dalam mendiagnosis epilepsi dan mendeteksi kelainan pada fungsi otak.
Dalam perkembangannya, para ahli semakin banyak melakukan penelitian setelah presiden Amerika Serikat, George H.W, menyebut bahwa tahun 1990-1999 adalah masa “Decade of The Brain”. Mulanya, alat ini menggunakan teknik pen yang mencetaknya langsung di atas kertas.
Akan tetapi, alat ini semakin canggih karena mampu terhubung dengan komputer yang mana data listriknya bisa diolah langsung, sehingga memungkinkan disusun dalam berbagai teknik dalam waktu bersamaan.
Untuk melihat cara kerjanya, Anda bisa membayangkan otak mempunyai miliaran neuron yang saling berkomunikasi satu sama lain menggunakan sinyal kecil. Sinyal inilah yang menghasilkan aliran listrik, sehingga apabila antar neuron semakin banyak melakukan komunikasi, artinya aktivitas otak sedang tinggi.
Ketika sekelompok neuron menyala bersamaan, sinyal-sinyal ini bisa terdeteksi dari luar menggunakan sensor kecil yang ditempatkan di kulit kepala pasien menggunakan alat bernama elektroensefalografi. Dengan metode non-invasif, EEG bisa mempelajari perubahan dan respons otak atas rangsangan berbeda.
Perbedaan Elektroensefalografi dan MRI
Secara fungsi dan alat yang digunakan, elektroensefalografi berbeda dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI). EEG adalah sebuah alat yang digunakan untuk merekam perubahan aktivitas otak dengan menangkap sinyal listrik dari ribuan neuron aktif, bukan melihat struktur otak pasien.
Sementara MRI merupakan metode pencitraan menggunakan magnet dan gelombang radio untuk menggambarkan struktur anatomi otak secara mendetail. Medan magnet tersebut akan berinteraksi dengan atom hidrogen dalam tubuh dan memancarkan gelombang radio secara singkat.
Gelombang ini kemudian berinteraksi dengan atom dan membuatnya berubah arah. Karena gelombang ini diberikan dalam waktu singkat, atom bisa kembali ke kondisi semula dan di saat ini proton dalam atom melepaskan energi yang dideteksi oleh sensor mesin MRI.
Mesin itu akan menghasilkan gambar jaringan otak, saraf, maupun kelainan kecil dengan tingkat detail yang jauh lebih tinggi. Dalam konteks keluhan, MRI lebih cocok digunakan untuk melihat jaringan lunak, mendeteksi sindrom Cauda Equina akibat gangguan saraf tulang belakang, sampai tumor yang membutuhkan gambar beresolusi tinggi.
Misalnya, ketika pasien mengalami kejang atau menunjukkan gerakan tak terkendali, tes MRI bisa saja menunjukkan hasil normal. Oleh karena itu, dokter membutuhkan elektroensefalografi karena masalah utamanya adalah cara kerja “listrik” di otak yang abnormal, bukan strukturnya.
Fungsi dan Tujuan Elektroensefalografi
Fungsi utama dari elektroensefalografi adalah merekam perubahan elektris yang terjadi di otak akibat aktivitas neutron yang saling terhubung. Selain itu, alat ini juga berfungsi untuk kebutuhan medis berikut ini.
1. Diagnosis Epilepsi
Kemampuan merekam aktivitas listrik di otak sangat diperlukan tim dokter untuk mengidentifikasi pola abnormal yang menjadi penyebab kejang. Melalui tes ini, dokter dapat membedakan apakah pasien mengalami epilepsi fokal (terbatas di satu area otak) atau umum (melibatkan seluruh otak) dan menentukan perawatan yang tepat.
2. Diagnosis Kematian Otak
Kematian otak merujuk pada hilangnya fungsi seluruh otak dan tidak bisa kembali seperti semula (koma ireversibel). Metode EEG sudah digunakan di Korea Selatan sebagai cara untuk menemukan adanya potensial listrik di otak, baik secara spontan maupun dipicu rangsangan fisiologis dengan menunjukkan rekaman datar pada layar.
3. Eksplorasi Neurosains Kognitif
Alat ini telah berkembang hingga bisa membantu para ahli mengeksplorasi kemampuan kognitif manusia. Hal ini karena elektroensefalografi mempunyai resolusi temporal yang tinggi sehingga bisa mengukur aktivitas otak sampai milidetik.
Kemampuan ini sangat penting untuk memahami kecepatan seseorang dalam memproses informasi, pengambilan keputusan, ingatan, menyelesaikan pekerjaan, membuat keputusan sepersekian detik, memproses kata, dan mengenali wajah.
4. Mengamati Kreativitas
Kreativitas membutuhkan proses kompleks yang melibatkan banyak sel pada otak. Elektroensefalografi mampu mengamati dinamika saraf yang terjadi selama otak menjalankan proses kreatif. Dari sini, para ahli akan tahu apa yang dilakukan otak ketika seseorang menghasilkan ide-ide kreatif.
5. Pemeriksaan Demensia
Demensia adalah gangguan kognitif yang membuat penderitanya mengalami penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir akibat rusaknya jaringan komunikasi di otak. Alat EEG mampu mendeteksi adanya perubahan pola gelombang otak dan melihat seberapa lambat aktivitas listrik yang terjadi.
6. Diagnosis Norkolepsi
Penderita narkolepsi biasanya menjalani tes elektroensefalografi untuk mendapatkan diagnosa gangguan tidur secara akurat. Alat ini akan membantu tim medis dalam mendeteksi aktivitas listrik ketika pasien tidur selama pemeriksaan, kemudian menganalisisnya melalui gelombang EEG.
Prosedur Pemeriksaan Elektroensefalografi
Berikut adalah prosedur yang pasien jalani sebelum dan sesudah pemeriksaan.
1. Sebelum Pemeriksaan
Persiapan sebelum pemeriksaan aktivitas otak bisa dilakukan sehari sebelum datang ke rumah sakit, mulai dari:
Mencuci rambut sampai bersih;
Hindari penggunaan minyak rambut supaya tidak mengganggu proses pemeriksaan; dan
Pastikan rambut kering saat datang ke rumah sakit.
2. Tahapan Pemeriksaan
Kemudian, dokter akan melakukan tahapan-tahapan berikut ini.
Dokter akan membersihkan kulit kepala menggunakan kapas beralkohol.
Kepala pasien akan ditandai titik-titik menggunakan pensil khusus berjumlah 20-25 titik. Tujuannya untuk menentukan pemasangan elektroda.
Dokter memasang elektroda menggunakan gel konduktif sebanyak 10-20 buah.
Satu elektroda akan ditempel ke lengan atau dada untuk mendeteksi detak jantung.
Dokter akan menyambungkan semua kabel ke komputer untuk merekam otak dan menampilkan dalam bentuk grafik.
3. Setelah Pemeriksaan
Setelah pemeriksaan dinyatakan selesai, dokter akan melepas semua elektroda dan membersihkan kepala pasien. Pemeriksaan umumnya selesai tanpa ada pantangan atau pembatasan aktivitas.
Cara Membaca Hasil Elektroensefalografi
Pemeriksaan ini akan melihat kondisi beberapa gelombang, seperti alpha, delta, theta, beta, dan gamma yang berbentuk garis-garis bergulir dari kanan ke kiri secara real time. Setiap gelombang memiliki frekuensi (Hz) yang berbeda.
Frekuensi tersebut tentu berasal dari campuran yang terjadi bersamaan dan semuanya berlapis-lapis, sehingga terlihat sangat kacau. Rentang frekuensi inilah yang berhubungan dengan kondisi otak, seperti:
Delta: 0,5–4 Hz, artinya pasien tidur nyenyak dan tidak sadar.
Theta: 4–8 Hz, artinya otak sedang berada di ritme sedang-lambat yang berarti pasien merasa ngantuk, sedang meditasi ringan, atau melamun.
Alfa: 8–13 Hz, artinya otak berada di ritme halus dan menonjol yang berarti pasien dalam kondisi rileks.
Beta: 13–30 Hz, artinya ritme otak relatif cepat dan sedikit tidak beraturan yang berarti pasien sedang berpikir aktif, berkonsentrasi, atau memecahkan masalah.
Gamma: 30–100 Hz, ritme sangat cepat yang berarti pasien sedang dalam kognisi tingkat tinggi.
Nah, untuk kasus kematian otak, garis pada EEG berbentuk datar yang berarti tidak adanya aktivitas sama sekali.
Lengkapi Pemeriksaan EEG dengan Medical Check Up
Pemeriksaan elektroensefalografi menjadi prosedur penting bagi tim medis untuk melihat kondisi “listrik” pada otak pasien dengan penyakit tertentu. Selain menjalani tes EEG, pasien bisa menambah tindakan penunjang dengan menjalani pemeriksaan kesehatan rutin melalui layanan Medical Check Up Plus dari Bumame.
Pemeriksaan ini akan membantu Anda mendapatkan gambaran kesehatan secara komprehensif dengan mengecek berbagai kondisi, seperti kolesterol, gula darah, diabetes, asam urat, tekanan darah, fungsi hati dan ginjal, hingga kadar vitamin D dalam tubuh.
Anda juga bisa memilih Paket MCU General Basic apabila membutuhkan rontgen Thorax untuk melihat kondisi organ dalam seperti paru-paru. Sementara itu, untuk pemeriksaan jantung, sebaiknya pilihlah Paket Jantung Basic untuk mengevaluasi kondisi sekaligus faktor risiko penyakit kardiovaskular secara menyeluruh.
Semua layanan Bumame ini sangat cocok bagi Anda dan keluarga di segala macam usia, ditambah fleksibilitas dari fasilitas home care yang tersedia. Yuk, sayangi tubuh Anda dengan pemeriksaan bersama Bumame!
Kapan Harus ke Dokter?
Datang ke layanan medis sangat dianjurkan apabila kondisi kejang atau gangguan saraf pada otak semakin parah. Sebab, Anda membutuhkan tindakan tepat, salah satunya pengecekan aktivitas otak menggunakan elektroensefalografi dan mendapat pengobatan sesuai keluhan.
Pahami Tes EEG dan Jalani Pemeriksaan Rutin
Dalam perkembangannya, tes elektroensefalografi memiliki banyak manfaat. Salah satunya mendiagnosis kejang akibat terganggunya saraf pada otak, depresi, maupun pemantauan terkait neurosains kognitif manusia. Tes ini juga relatif aman bahkan tanpa efek samping sehingga membantu Anda mendapatkan rekam medis yang akurat.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Ayo Sehat Kementerian Kesehatan. (2026). Pemeriksaan EEG (Electroencephalography).
RSUD Gambiran Kota Kediri. (.n.d). EEG (Electroencephalography).
Preopotif: Jurnal Kesehatan Masyarakat. (2024). Peran Elektroensefalografi (EEG) dalam Diagnostik Epilepsi: Tinjauan Efektivitas terhadap Deteksi Awal dan Pemantauan.
Journal of Neurology Research. (2020). Electroencephalography During the Acute Phase of Encephalitis: A Brief Review.
Journal Elsevier. (2016). Electroencephalography after a single unprovoked seizure.
Journal of Neurophysiological Monitoring. (2023). Electroencephalography (EEG) in Psychiatry: A Review Article.
Annals of Clinical Neurophysiology. (2017). Electroencephalography for the Diagnosis of Brain Death.
Neurosity. (2026). Cara Membaca EEG.
My Narcolepsy Team. (2023). EEG for Diagnosing Narcolepsy: What to Expect.
Emotiv. (2025). Cara Memilih Sistem EEG untuk Neurosains Kognitif.
Buletin Psikologi Universitas Gadjah Mada. (2021). Dasar-Dasar Electroencephalography (EEG) bagi Riset Psikologi.
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
_(1).jpg&w=3840&q=75)