Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Gejala Narcolepsy dan Penyebabnya
Kembali ke Artikel & Berita

Narcolepsy Adalah: Gejala dan Penyebabnya

SBAOthers

Rasa kantuk di siang hari memang bisa terjadi setelah kurang tidur atau terlalu lelah. Namun, jika rasa kantuk terasa berlebihan dan sering muncul meski sudah tidur cukup, kondisi ini bisa berkaitan dengan narcolepsy. Lantas, apa itu narcolepsy? Apa saja gejala serta penyebabnya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Mengenal Narcolepsy 

Narcolepsy adalah gangguan tidur yang membuat seseorang merasa sangat mengantuk di siang hari. Rasa kantuk ini bisa muncul secara tiba-tiba hingga menyebabkan serangan tidur, yaitu kondisi ketika seseorang tertidur tanpa bisa mengendalikan rasa kantuknya, bahkan saat sedang melakukan aktivitas sehari-hari.

Kondisi ini berkaitan dengan gangguan pada otak dalam mengatur waktu tidur dan terjaga. Gejala yang muncul juga dapat berbeda pada setiap orang, sehingga rasa kantuk berlebihan tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang mengalami narkolepsi.

Narcolepsy juga termasuk kondisi jangka panjang yang belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Meski begitu, penanganan yang tepat dan perubahan kebiasaan sehari-hari dapat membantu mengurangi gejala sehingga aktivitas sehari-hari tetap bisa berjalan normal.

Gejala Narcolepsy

Gejala narkolepsi tidak selalu sama pada setiap orang. Selain rasa kantuk yang berlebihan, kondisi ini juga dapat menimbulkan gangguan saat tidur maupun ketika sedang terjaga. Berikut sejumlah gejala yang dapat muncul.

1. Rasa Kantuk Berlebihan di Siang Hari

Gejala paling umum adalah rasa kantuk yang sulit ditahan pada siang hari, meski sudah tidur cukup pada malam hari. Akibatnya, seseorang bisa kesulitan berkonsentrasi atau tetap terjaga saat melakukan aktivitas sehari-hari.

2. Tubuh Tiba-Tiba Melemah

Selain rasa kantuk, narcolepsy juga dapat menyebabkan tubuh tiba-tiba terasa lemah. Kondisi ini biasanya muncul saat mengalami emosi yang kuat, seperti tertawa, terkejut, atau marah. Bagian tubuh yang terkena dapat berbeda, mulai dari wajah hingga seluruh tubuh. 

Jika tubuh sering terasa tidak nyaman atau muncul keluhan lain seperti badan sakit semua, sebaiknya perhatikan gejala yang menyertainya dan konsultasikan dengan dokter.

3. Halusinasi

Seseorang yang menderita narkolepsi dapat mengalami halusinasi ketika mulai tertidur atau sesaat setelah bangun. Misalnya, melihat, mendengar, atau bahkan merasa ada sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Hal tersebut juga dapat terasa sangat nyata meski hanya berlangsung sementara.

4. Tidak Bisa Bergerak saat Tidur atau Bangun

Narcolepsy juga dapat disertai kelumpuhan tidur. Dalam kondisi ini, seseorang sudah sadar tetapi tidak dapat bergerak atau berbicara untuk sementara waktu. Pada umumnya, kondisi tersebut berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit.

5. Tidur Malam Sering Terganggu

Selain sering mengantuk pada siang hari, tidur malam pada orang dengan narkolepsi juga bisa terganggu. Penderita mungkin sering terbangun, mengalami mimpi yang terasa sangat nyata, mengalami masalah pernapasan, atau banyak bergerak saat tidur.

Penyebab Narcolepsy

Penyebab narkolepsi belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga berkaitan dengan rendahnya kadar hipokretin atau orexin di otak, yaitu zat yang membantu mengatur waktu tubuh untuk tetap terjaga dan tidur.

Rendahnya kadar hipokretin diduga dapat berkaitan dengan reaksi autoimun, ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel tubuhnya sendiri. Selain itu, faktor keturunan juga dapat berperan, meski risikonya tergolong rendah. Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko narkolepsi antara lain.

  • Usia, terutama 10–30 tahun.

  • Memiliki keluarga dengan riwayat narkolepsi.

  • Perubahan hormon, seperti saat pubertas atau menopause.

  • Stres berat.

  • Kondisi tertentu, seperti stroke, cedera kepala, atau sarkoidosis.

Beda Narcolepsy dan Microsleep

Narcolepsy dan microsleep sama-sama dapat menyebabkan seseorang tertidur secara tiba-tiba, tetapi keduanya memiliki penyebab yang berbeda. Narkolepsi merupakan gangguan tidur kronis yang membuat seseorang lebih sulit mengendalikan rasa kantuk dan waktu tidurnya.

Pada narkolepsi, rasa kantuk berlebihan dan serangan tidur juga dapat muncul meski seseorang sedang beraktivitas. Selain itu, kondisi ini dapat disertai tubuh yang tiba-tiba lemas, kelumpuhan tidur, atau halusinasi.

Sementara itu, microsleep biasanya terjadi ketika seseorang sangat mengantuk atau kelelahan, dan berlangsung hanya selama beberapa detik. Kondisi ini dapat membuat seseorang kehilangan fokus, tidak menyadari kejadian di sekitarnya, atau tiba-tiba tertunduk.

Diagnosis Narcolepsy

Untuk mengetahui apakah keluhan yang dialami berkaitan dengan narkolepsi, dokter biasanya akan melakukan beberapa pemeriksaan. Pemeriksaan ini akan membantu melihat pola tidur dan mengetahui apakah terdapat gangguan pada siklus tidur.

1. Riwayat tidur

Dokter akan menanyakan rasa kantuk, pola tidur, serta gejala lain yang dialami. Biasanya, informasi tentang kebiasaan tidur selama beberapa minggu terakhir juga diperlukan.

2. Polisomnogram (PSG)

Pemeriksaan ini dilakukan semalaman di klinik atau laboratorium tidur. Selama tidur, beberapa hal akan dipantau untuk melihat pola dan siklus tidur, termasuk kapan tubuh mulai memasuki fase tidur REM (Rapid Eye Movement).

3. Multiple Sleep Latency Test (MSLT)

Tes ini dilakukan pada siang hari untuk melihat seberapa cepat seseorang tertidur ketika diberi kesempatan untuk tidur. Hasilnya dapat membantu dokter menilai apakah seseorang memiliki kecenderungan tidur secara berlebihan pada siang hari.

Pengobatan dan Penanganan

Pengobatan narcolepsy bertujuan untuk mengurangi rasa kantuk di siang hari, membantu seseorang tetap terjaga, serta mencegah gejala seperti katapleksi berulang. Penanganannya dapat disesuaikan dengan kondisi dan gejala yang pasien alami.

1. Obat-Obatan

Dokter dapat memberikan obat untuk membantu mengurangi rasa kantuk berlebihan pada siang hari, seperti modafinil dan armodafinil. Sementara itu, obat lain dapat digunakan untuk membantu mengendalikan katapleksi, yaitu kondisi ketika tubuh tiba-tiba melemah akibat emosi yang kuat.

2. Tidur Siang Terjadwal

Selain obat, tidur siang secara teratur dapat membantu mengendalikan rasa kantuk di siang hari. Tidur siang biasanya dilakukan dalam waktu singkat dan dijadwalkan dua hingga tiga kali sehari. Kebiasaan ini dapat membantu tubuh terasa lebih segar, sehingga rasa kantuk tidak terlalu mengganggu aktivitas.

3. Menerapkan Pola Hidup Sehat

Menjaga pola hidup sehat juga dapat membantu mengelola gejala narcolepsy. Usahakan memiliki jadwal tidur dan bangun yang teratur, mengonsumsi makanan bergizi, serta rutin berolahraga sesuai kemampuan. 

Kebiasaan tersebut dapat membantu menjaga kualitas tidur dan membuat tubuh lebih siap menjalani aktivitas sepanjang hari.

4. Terapi Perilaku

Terapi dapat membantu seseorang mengelola stres atau kecemasan yang mungkin muncul selama menghadapi kondisi ini. Penanganan narkolepsi sebaiknya harus sesuai dengan saran dokter. Kombinasi beberapa metode dapat digunakan agar gejala lebih terkendali dan aktivitas sehari-hari tetap berjalan dengan baik.

Kapan Harus ke Dokter Spesialis Tidur?

Narcolepsy yang tidak tertangani juga dapat memengaruhi pekerjaan, sekolah, hubungan sosial, serta aktivitas sehari-hari. Karena itu, sebaiknya Anda periksakan ke dokter spesialis tidur jika rasa kantuk berlebihan sering muncul dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Misalnya, Anda sering tertidur tanpa sengaja saat bekerja, belajar, berbicara, atau melakukan kegiatan lainnya, meski sudah tidur cukup pada malam hari.

Pemeriksaan juga penting jika keluhan disertai gejala lain, seperti tubuh yang tiba-tiba lemas saat tertawa atau terkejut, tidak bisa bergerak sesaat setelah bangun, atau mengalami halusinasi ketika mulai tidur. Dokter dapat menilai gejala dan pola tidur untuk menentukan pemeriksaan yang sesuai.

Selain itu, pemeriksaan penting dilakukan jika rasa kantuk membuat Anda kesulitan berkonsentrasi atau meningkatkan risiko saat melakukan aktivitas tertentu, terutama ketika berkendara. 

Sebagai langkah awal untuk mengetahui kondisi kesehatan secara umum, Anda juga dapat melakukan pemeriksaan melalui Paket MCU Basic dari Bumame. Paket ini mencakup pemeriksaan darah dan urine, termasuk fungsi hati dan ginjal, gula darah, kolesterol, asam urat, serta pemeriksaan darah lengkap. 

Pemeriksaan ini bukan untuk mendiagnosis narkolepsi, tetapi dapat membantu memberikan gambaran umum mengenai kondisi tubuh sebelum mendapatkan evaluasi lebih lanjut dari dokter spesialis.

Kenali Rasa Kantuk Berlebih sebagai Sinyal untuk Lebih Peduli pada Tubuh!

Rasa kantuk berlebihan di siang hari dapat menjadi salah satu tanda narcolepsy, terutama jika disertai tidur secara tiba-tiba, tubuh mendadak lemas, atau kelumpuhan tidur. Namun, gejala narkolepsi dapat berbeda pada setiap orang.

Jika rasa kantuk sering muncul hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Hindari mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan rasa kantuk karena keluhan serupa juga dapat disebabkan oleh kurang tidur, kelelahan, atau kondisi lainnya.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2023). Mengenal Narkolepsi, Gangguan Tidur Mendadak dan Kantuk Berlebihan di Siang Hari.  

  2. Cleveland Clinic. (2025). Narcolepsy.  

  3. Siloam Hospitals. (2024). Mengenal Penyebab Narkolepsi, Gejala, dan Pengobatannya.  

  4. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2022). Mengenal Narkolepsi.  

  5. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2022). Mengenal Microsleep dan Gejalanya. 

  6. Health University of Utah. (2024). Narcolepsy.

Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing

Frequently Asked Question

Apa itu narcolepsy?
Narcolepsy adalah gangguan tidur yang menyebabkan rasa kantuk berlebihan di siang hari dan dapat membuat seseorang tertidur secara tiba-tiba.
Apa saja gejala narcolepsy?
Gejalanya dapat berupa kantuk berlebihan, tidur tiba-tiba, tubuh mendadak lemas, halusinasi, kelumpuhan tidur, dan gangguan tidur malam.
Apa penyebab narcolepsy?
Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi diduga berkaitan dengan rendahnya kadar hipokretin di otak, faktor keturunan, dan kondisi tertentu.
Bagaimana cara mendiagnosis narcolepsy?
Diagnosis dapat dilakukan melalui riwayat tidur, polisomnogram (PSG), dan Multiple Sleep Latency Test (MSLT) untuk menilai pola serta siklus tidur.
Kapan harus memeriksakan narcolepsy ke dokter?
Periksakan diri jika rasa kantuk berlebihan sering muncul, sulit dikendalikan, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.