Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Kenali Gejala Sirosis Hati dan Cara Penanganan yang Tepat
Kembali ke Artikel & Berita

Kenali Gejala Sirosis Hati dan Cara Penanganan yang Tepat

Bumame Health Team

Banyak yang beranggapan bahwa rasa lelah yang berkepanjangan, kulit terasa gatal, atau perut yang terlihat mulai membesar merupakan kondisi normal. Padahal, di dalam beberapa kondisi, keluhan semacam ini bisa termasuk gejala sirosis hati yang harus memperoleh penanganan lebih lanjut.

Sirosis hati memang berkembang secara perlahan dan kerap tidak menimbulkan masalah pada tahap awal. Saat gejala mulai muncul, biasanya kerusakan hati sudah terjadi cukup lama. Untuk itu, mengenali berbagai gejalanya sejak dini bisa membantu Anda mendapatkan diagnosis serta penanganan secara tepat.

Apa Itu Sirosis Hati?

Sirosis hati merupakan kondisi saat jaringan hati yang sehat perlahan digantikan oleh fibrosis atau jaringan parut. Jaringan ini terbentuk karena kerusakan organ hati yang berlangsung dalam waktu lama, sehingga dapat mengurangi kemampuan hati dalam menjalankan fungsinya dengan normal.

Dalam kondisi normal, hati berperan untuk membantu proses pencernaan lewat produksi empedu, menyaring racun yang berasal dari darah, menyimpan energi (dalam bentuk glikogen), dan menghasilkan beragam protein yang diperlukan tubuh. Namun saat sirosis berkembang, semua fungsi tersebut mulai terganggu. Kondisi ini mengakibatkan tubuh tidak bisa bekerja secara optimal sebagaimana mestinya.

Baca Juga: Penjelasan Lengkap Sirosis Hati

Berbagai Kondisi yang Memicu Kerusakan Jaringan Hati

Terjadinya sirosis hati bukan tanpa sebab. Beragam kondisi yang berlangsung dalam jangka waktu lama bisa mengakibatkan rusaknya organ hati secara bertahap yang pada akhirnya menyebabkan pembentukan jaringan parut permanen. Beberapa kondisi penyebab masalah tersebut adalah sebagai berikut.

1. Hepatitis C dan Hepatitis B Kronis

Infeksi hepatitis C dan hepatitis B kronis menjadi penyebab utama sirosis hati di banyak negara. Peradangan kronis ini apabila dialami selama bertahun-tahun maka bisa merusak sel-sel hati. Maka dari itu, deteksi dini serta pengobatan hepatitis sangat diperlukan untuk mencegah perkembangannya menjadi penyakit sirosis.

2. Konsumsi Alkohol Berlebihan

Mengonsumsi alkohol secara berlebihan selama bertahun-tahun bisa merusak sel-sel hati serta mengakibatkan terbentuknya jaringan parut. Risiko penyakit kerusakan hati bisa semakin meningkat ketika konsumsi alkohol juga disertai faktor yang lain, seperti gangguan metabolik.

3. Perlemakan Hati

Perlemakan hati atau fatty liver adalah kondisi penumpukan lemak yang biasanya terjadi tanpa gejala. Kondisi ini banyak yang mengaitkannya dengan diabetes tipe 2, obesitas, kolesterol tinggi, serta sindrom metabolik. Terjadinya penumpukan lemak dalam hati ini bisa memicu peradangan kronis.

Kenali fatty liver sejak dini karena masalah ini bisa mengakibatkan peradangan kronis yang berakibat pada kerusakan jaringan hati secara bertahap ketika tidak mendapatkan penanganan lewat gaya hidup serta pengobatan yang sesuai.

4. Penyakit Liver

Liver atau hati adalah organ yang bekerja paling efektif dalam tubuh. Setiap hari, organ tersebut akan membantu menyaring beragam zat yang masuk ke tubuh, mengelola nutrisi, menyimpan energi, sampai mendukung beragam proses metabolisme yang sangat penting bagi kesehatan.

Salah satu tantangan ketika mendapati organ hati sedang bermasalah adalah gejalanya yang kerap tidak spesifik. Munculnya gejala biasanya ditandai dengan beberapa keluhan antara lain:

  • mudah lelah,

  • ketidaknyamanan di area perut,

  • nafsu makan menurun, dan

  • penurunan energi tanpa ada penyebab yang jelas.

Karena penyakit liver kerap terjadi tanpa gejala yang jelas, perlu adanya pemeriksaan kesehatan agar bisa mengevaluasi kondisi organ tersebut.

Gejala Sirosis Hati

Gejala sirosis hati bisa dibagi ke dalam dua aspek, yaitu gejala awal dan tingkat lanjut.

1. Gejala Awal

Pada tahap awal, penyakit ini  tidak jarang dianggap gangguan kesehatan biasa. Keluhan yang paling terasa adalah ketika tubuh mudah lelah, penurunan berat badan, mual, berkurangnya nafsu makan tanpa ada sebab yang jelas. 

Sebagian orang juga merasa tidak nyaman atau mengalami nyeri ringan pada bagian atas perut kanan. Akan tetapi, keluhan tersebut tidak sering muncul di setiap penderita.

Bukan hanya itu, beberapa penderita sirosis hati juga ada yang mudah mengantuk, mengalami pelemahan otot, maupun sulit berkonsentrasi. Gejala ini terjadi karena hati sudah mulai kehilangan kemampuannya untuk mengelola nutrisi serta membuang zat sisa dari metabolisme. 

Meskipun terkesan ringan, tetapi keluhan yang dirasakan terus-menerus sebaiknya jangan diabaikan, khususnya ketika disertai dengan riwayat penyakit hati maupun faktor risiko lainnya.

2. Gejala Tahap Lanjut

Ketika efek sirosis hati sudah semakin luas, gejalanya semakin jelas dan aktivitas akan terganggu. Tanda yang paling mudah untuk Anda kenali yaitu bagian putih mata dan kulit yang berubah menjadi kekuningan atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai ikterus.

Ikterus terjadi akibat penumpukan bilirubin dalam darah karena hati sudah tidak bisa memproses zat tersebut dengan optimal. 

Selain itu, ada penderita yang mengalami pembengkakan di pergelangan kaki dan tungkai serta adanya penumpukan cairan di dalam rongga perut, atau asites, sehingga perut terlihat lebih besar.

Gejala lain yang juga bisa muncul yaitu gusi berdarah, mudah memar, gatal di area tetap, atau mimisan yang terjadi karena penurunan produksi faktor pembekuan darah yang dilakukan oleh hati. 

Jika fungsi hati terus menurun, racun seperti amonia bisa menumpuk di dalam darah. Apabila racun sudah sampai ke otak, penderita bisa mengalami perubahan perilaku, gangguan konsentrasi, mudah mengantuk, sampai penurunan kesadaran. Kondisi ini dinamakan ensefalopati hepatik serta tergolong komplikasi serius yang harus mendapatkan penanganan segera.

Risiko Komplikasi yang Perlu Diwaspadai

Jika tidak mendapatkan penanganan dengan baik, penyakit sirosis hati bisa mengakibatkan beragam komplikasi yang berbahaya bagi kesehatan. Salah satu contoh komplikasi yang kerap terjadi yaitu hipertensi portal atau adanya peningkatan tekanan darah di pembuluh darah yang bertugas membawa darah menuju ke hati.

Masalah kesehatan ini akan mengakibatkan pelebaran pembuluh darah atau varises di lambung maupun kerongkongan. Ketika varises pecah, penderita bisa mengalami muntah darah maupun feses yang berwarna hitam karena perdarahan pada saluran cerna.

Komplikasi lainnya yang juga cukup sering ditemukan yaitu asites atau kondisi penumpukan cairan di rongga perut yang membuat penderita merasa sesak. 

Asites juga bisa meningkatkan risiko infeksi yang dinamakan SBP atau spontaneous bacterial peritonitis. Infeksi tersebut bisa berkembang secara cepat serta memerlukan pengobatan antibiotik dan pemantauan intensif.

Sirosis hati juga bisa mengakibatkan ensefalopati hepatik atau gangguan fungsi otak karena penumpukan zat beracun yang tidak lagi bisa dibersihkan oleh hati. Biasanya para penderita akan mengalami masalah seperti sulit berkonsentrasi, gangguan daya ingat, perubahan perilaku, sampai koma ketika tidak mendapatkan penanganan secepat mungkin.

Metode Pemeriksaan Medis untuk Diagnosis Sirosis Hati 

Diagnosis terhadap sirosis hati tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat gejala. Dokter akan menggabungkan pemeriksaan fisik, wawancara medis, dan beragam pemeriksaan penunjang agar bisa memastikan penyebab serta tingkat keparahan penyakit.

1. Tes Fungsi Hati

Tes fungsi hati dengan sampel darah adalah salah satu tes yang sering dilakukan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai kadar bilirubin, enzim hati, albumin, dan faktor pembekuan darah.

Hasil tes dapat menunjukkan kualitas hati dan membantu dokter untuk menentukan pemeriksaan lanjutan, apabila diperlukan. Meski begitu, hasil tes normal tidak selalu mengindikasikan tidak adanya sirosis hati, sehingga interpretasinya perlu disesuaikan dengan melihat kondisi klinis pasien.

2. USG Hati

USG atau ultrasonografi adalah pemeriksaan pencitraan yang banyak digunakan untuk melihat bentuk, ukuran, dan struktur hati. Lewat USG, dokter dapat mencari berbagai tanda yang menunjukkan seseorang mungkin menderita sirosis, antara lain, pembesaran limpa, permukaan hati yang tidak rata, penumpukan cairan di dalam rongga perut, atau perubahan lainnya.

Untuk beberapa fasilitas kesehatan, elastografi juga bisa dilakukan dengan cara mengukur tingkat kekakuan jaringan hati yang menjadi indikator fibrosis tanpa membutuhkan tindakan invasif.

3. Biopsi Hati

Pada beberapa kondisi, dokter bisa menyarankan biopsi hati ketika hasil pemeriksaan lain masih belum memberi kepastian diagnosis. Langkah ini dilakukan dengan cara mengambil sedikit sampel jaringan hati dengan menggunakan jaringan khusus, lalu diperiksa di laboratorium.

Pemeriksaan tersebut mungkin dapat membantu menentukan penyebab penyakit, tingkat kerusakan jaringan, dan tingkat fibrosis. Akan tetapi, karena sifatnya invasif, biasanya biopsi tidak selalu dibutuhkan untuk semua pasien, khususnya ketika diagnosis sudah bisa ditegakkan lewat pemeriksaan klinis serta pencitraan.

Tidak hanya itu, parameter seperti tes SGOT (serum glutamic oxalacetic transaminase) dan SGPT (serum glutamic pyruvic transaminase) juga sering digunakan untuk menilai apakah ada perubahan yang perlu dievaluasi lebih lanjut.

Kapan Harus Berkonsultasi dan Menjalani Penanganan Medis?

Ketika mengalami gejala sirosis hati berupa perut yang semakin membesar, kulit menguning, muntah darah, tinja berwarna hitam, penurunan kesadaran, dan pembengkakan kaki, lakukan pemeriksaan kesehatan. Melakukan pemeriksaan sejak dini akan membantu dokter dalam mengetahui penyebab keluhan.

Dokter akan melakukan diagnosis dan menentukan tindakan medis yang tepat sebelum komplikasi menjadi semakin berat. Meski belum ada keluhan, pemeriksaan secara berkala juga penting untuk orang yang memiliki riwayat diabetes, hepatitis, penyakit hati, atau obesitas di keluarga.

Dengan demikian, gangguan fungsi hati dapat diketahui sejak dini dan sekaligus menjadi peluang untuk memperlambat penyakit agar tidak semakin parah.

Langkah Pencegahan Sirosis Hati

Meskipun ada beberapa yang tidak bisa dihindari, namun ada banyak faktor risiko sirosis hati yang dapat diatasi dengan berhati-hati dalam mengelola tubuh dan melakukan pemeriksaan rutin. 

Langkah pencegahan yang paling penting yaitu menjaga berat badan, menghindari konsumsi alkohol, rutin berolahraga, dan mengonsumsi makanan bergizi.

Pencegahan juga bisa dengan pemberian vaksin hepatitis B untuk mengurangi risiko infeksi. Untuk orang yang sudah terdiagnosis terkena hepatitis kronis maupun penyakit hati lainnya, penting untuk melakukan pengobatan sesuai dengan anjuran dokter agar bisa menghambat perkembangan kerusakan hati. 

Pentingnya Deteksi Gejala Sirosis Hati Sejak Dini

Gejala sirosis hati sering terjadi dan berkembang secara perlahan-lahan sehingga mungkin disalahartikan sebagai keluhan biasa. Semua gejala tersebut seharusnya tidak boleh diabaikan, termasuk hilang nafsu makan, rasa lelah, kulit menguning, hingga pembengkakan di tungkai dan perut.

Salah satu pemeriksaan yang bisa menjadi pilihan adalah tes fungsi hati di Bumame, pemeriksaan laboratorium yang membantu dalam memberi gambaran tentang kondisi serta fungsi liver. Setiap pemeriksaan di Bumame juga sudah dilengkapi konsultasi gratis sehingga Anda bisa mendapatkan informasi lengkap tentang kondisi terkini Anda.

Melalui hasil pemeriksaan kesehatan tersebut, dokter bisa menentukan seperti apa langkah penanganan yang tepat dengan menyesuaikan dengan kondisi Anda. Konsultasikan pula kebutuhan kesehatan untuk mendapatkan saran penanganan gratis yang tepat serta aman dengan menghubungi nomor WhatsApp Bumame selama jam operasional.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

Referensi: 

[1]  StatPearls Publishing. (2022). Hepatic Cirrhosis. NCBI Bookshelf.

[2] National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2023). Cirrhosis.

[3] MedlinePlus. (2024). Cirrhosis. U.S. National Library of Medicine.

[4] Hepatology. (2024). AASLD Practice Guidance on Acute-on-chronic liver failure and the management of critically ill patients with cirrhosis.

[5] National Health Service. (2025). Cirrhosis.

[6] Cleveland Clinic. (2025). Cirrhosis of the Liver.

[7] World Health Organization. (2024). Hepatitis B.

[8] National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2021). Nonalcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) & NASH.

Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani

Frequently Asked Question

Apa itu sirosis hati?

Sirosis hati adalah kondisi ketika jaringan hati yang sehat berubah menjadi jaringan parut sehingga fungsi hati menurun.

Apa penyebab sirosis hati?

Penyebab yang umum meliputi hepatitis B atau C kronis, konsumsi alkohol berlebihan, dan perlemakan hati.

Apa saja gejala sirosis hati?

Gejalanya meliputi mudah lelah, mual, nafsu makan menurun, kulit dan mata menguning, perut membesar, serta pembengkakan pada kaki.

Bagaimana sirosis hati didiagnosis?
Dokter dapat melakukan tes fungsi hati, USG hati, dan biopsi hati bila diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Bagaimana cara mencegah sirosis hati?

Pencegahan dilakukan dengan menjaga berat badan ideal, menghindari alkohol, berolahraga, menjalani vaksin hepatitis B, dan mengelola penyakit hati sejak dini.