Merasa sendi terasa nyeri, kaku, dan terasa hangat? Itu bisa jadi tanda rematik. Apa itu rematik? Ini merupakan istilah umum yang berkaitan dengan penyakit yang memengaruhi tubuh, terutama bagian sendi, otot, dan tulang. Jika dibiarkan, dapat menyebabkan peradangan bahkan membuat penderita kesulitan dalam bergerak.
Jenisnya pun beragam, tergantung dari gejala, seperti rheumatoid arthritis, osteoarthritis, gout arthritis, psoriatic arthritis, dan lupus. Karena jenisnya yang beragam, penting untuk mengetahui gejala serta penanganan yang tepat untuk masing-masing jenisnya.
Apa Itu Rematik?
Rematik adalah istilah untuk berbagai penyakit yang mempengaruhi sistem gerak tubuh manusia, seperti sendi, otot, tendon, dan ligamen. Kondisi ini umumnya dapat menyebabkan penderitanya mengalami peradangan, pembengkakan, nyeri, hingga gangguan pada fungsi sendi.
Rheumatoid arthritis (RA) adalah salah satu jenis rematik yang cukup umum, yaitu penyakit autoimun yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sendi. Pada rheumatoid arthritis, selain menyebabkan peradangan dan nyeri, kondisi ini juga dapat menyebabkan pembengkakan.
Selain rheumatoid arthritis, terdapat jenis lain seperti osteoarthritis dan gout. Setiap jenis di atas juga memiliki penyebab, gejala, hingga penanganan yang berbeda. Jadi, diperlukan adanya pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan diagnosis yang tepat.
Jenis-Jenis Rematik
Secara garis besar, rematik memiliki lima jenis, tergantung pada kondisi maupun gejala yang memengaruhi persendian, berikut uraiannya.
1. Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun kronis yang menyebabkan peradangan pada lapisan sendi. Penyakit ini sering menyerang persendian kecil, seperti jari tangan, pergelangan tangan, maupun kaki. Gejala RA biasanya muncul langsung di kedua bagian tubuh, misalnya nyeri dan pembengkakan pada kedua pergelangan tangan atau kaki.
2. Osteoarthritis
Selanjutnya adalah osteoarthritis, yaitu penyakit sendi yang terjadi akibat adanya kerusakan tulang rawan dan jaringan sendi.
Kondisi ini lebih sering terjadi pada orang lanjut usia, tetapi juga dapat terjadi pada remaja maupun orang dewasa, terutama akibat cedera sendi. Bagian tubuh yang sering mengalami osteoarthritis adalah lutut, pinggul, tangan, dan tulang belakang.
3. Gout Arthritis (Asam Urat)
Apa itu rematik gout? Ini adalah jenis rematik yang terjadi akibat penumpukan kristal asam urat. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri yang mendadak, pembengkakan, kemerahan, dan rasa panas pada sendi. Gout paling sering menyerang ujung ibu jari kaki, namun bisa juga terjadi pada pergelangan kaki dan lutut.
4. Psoriatic Arthritis
Jenis rematik keempat adalah psoriatic arthritis, yaitu radang sendi yang berkaitan dengan psoriasis atau penyakit kulit yang menyebabkan bercak kemerahan dan bersisik. Psoriatic arthritis dapat menyebabkan nyeri, peradangan otot, pembengkakan, dan sendi yang terasa kaku.
5. Lupus Eritematosus Sistemik
Lupus eritematosus merupakan penyakit autoimun yang menyerang berbagai organ tubuh, termasuk persendian. Pada sebagian penderita, lupus menyebabkan nyeri dan pembengkakan sendi seperti gejala rematik lainnya. Namun, gejala lupus biasanya terjadi pada kulit, ginjal, dan darah.
Gejala Rematik
Secara umum, gejala rematik dapat berbeda-beda tergantung pada jenis dan persendian yang terdampak. Sebagian orang mengalami keluhan ringan yang muncul sesekali, sedangkan yang lain dapat mengalami keluhan terus-menerus hingga mengganggu aktivitas. Berikut beberapa gejala rematik yang umum ditemukan.
Nyeri sendi
Sendi terasa kaku
Pembengkakan sendi
Sendi terasa hangat atau kemerahan
Kesulitan bergerak
Mudah lelah
Pola dari gejala rematik ini dapat membantu dokter mengenali jenis yang sedang penderita alami. Contohnya, pada rheumatoid arthritis, gejala awalnya biasanya adalah sendi yang tiba-tiba kaku setelah bangun tidur dan berlangsung lebih dari 30 menit.
Sementara pada osteoarthritis, gejalanya biasanya menyebabkan sendi kaku dengan waktu yang lebih singkat daripada rheumatoid arthritis. Hanya saja, gejala dari osteoarthritis seringkali menyebabkan penderitanya mengalami nyeri yang parah saat melakukan aktivitas, entah itu berjalan, berlari, maupun bersepeda.
Penyebab dan Faktor Risiko Rematik
Setiap jenis rematik tidak selalu memiliki penyebab yang sama, tergantung dari kondisi. Ada kondisi yang dipengaruhi gangguan sistem imun, perubahan struktur sendi, maupun penumpukan kristal asam urat. Pada beberapa penyakit, penyebab pastinya bahkan belum diketahui. Berikut faktor yang dapat menjadi risiko penyakit rematik.
1. Gangguan Sistem Kekebalan Tubuh
Gangguan sistem kekebalan tubuh dapat menjadi salah satu penyebab penyakit rematik, seperti rheumatoid arthritis, lupus, dan psoriatic arthritis. Kondisi ini terjadi ketika sistem imun menyerang jaringan atau persendian yang akhirnya menyebabkan peradangan.
2. Faktor Usia
Risiko rematik dapat meningkat seiring bertambahnya usia seseorang. Osteoarthritis sendiri lebih sering dialami orang lanjut usia, sedangkan gout umumnya dialami orang berusia dewasa atau paruh baya. Meski begitu, beberapa jenis penyakit ini juga dapat menyerang remaja.
3. Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga
Faktor genetik atau keturunan juga merupakan salah satu faktor risiko dari apa itu rematik. Seseorang dengan keluarga yang memiliki riwayat rheumatoid arthritis, lupus, gout, atau psoriatic arthritis memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami penyakit ini.
4. Berat Badan Berlebih
Faktor risiko yang keempat adalah berat badan berlebih atau obesitas. Kelebihan berat badan menyebabkan tekanan yang berlebihan pada persendian seperti lutut dan pinggul, sehingga menyebabkan risiko osteoarthritis jadi lebih tinggi.
5. Riwayat Cedera
Riwayat cedera pada persendian merupakan faktor risiko rematik yang kelima. Dalam hal ini, seseorang yang memiliki riwayat cedera sendiri memiliki risiko mengalami osteoarthritis dan psoriatic arthritis.
6. Kebiasaan Merokok
Kebiasaan merokok menjadi salah satu faktor risiko rheumatoid arthritis dan bahkan bisa memperburuk kondisi penderita. Tidak hanya itu, paparan rokok juga diketahui menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan penyakit lupus pada beberapa orang.
7. Pola Makan dan Kadar Asam Urat
Konsumsi makanan tinggi purin, minuman manis, dan alkohol dapat meningkatkan risiko gout. Kondisi ini juga berkaitan dengan tingginya kadar asam urat dalam darah yang dapat membentuk kristal di bagian persendian.
Cara Diagnosis Rematik
Pada dasarnya, diagnosis rematik tidak cukup hanya dengan melihat gejala yang penderita rasakan. Dokter biasanya perlu melakukan pemeriksaan terhadap riwayat kesehatan, kondisi sendi, dan hasil pemeriksaan pendukung lain untuk memastikan jenisnya. Berikut beberapa metode pemeriksaan yang dapat dilakukan.
1. Tanya Jawab dengan Dokter dan Pemeriksaan Fisik
Dokter akan menanyakan keluhan Anda. Mulai dari gejala, lokasi nyeri, durasi kekakuan sendi, dan riwayat kesehatan keluarga.
2. Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah dapat membantu mendeteksi tanda peradangan dan jenis rematik tertentu. Tes seperti rheumatoid factor (RF), anti-CCP, CRP, dan laju endap darah (LED) dapat memeriksa rheumatoid arthritis. Pada dugaan penyakit gout, dokter juga dapat memeriksa kadar asam urat darah.
3. Pemeriksaan Rontgen, USG, atau MRI
Pemeriksaan seperti rontgen, ultrasonografi (USG), atau magnetic resonance imaging (MRI) dapat digunakan untuk melihat kondisi persendian. Hasil pemeriksaan ini membantu dokter menilai kemungkinan peradangan, perubahan struktur, maupun kerusakan sendi yang tidak terlihat lewat pemeriksaan fisik.
4. Pemeriksaan Cairan Sendi
Di beberapa kondisi tertentu, dokter dapat mengambil sampel cairan sendi untuk melakukan pemeriksaan. Tujuannya adalah untuk mendeteksi kristal asam urat atau mengetahui kemungkinan adanya infeksi pada persendian.
Pengobatan dan Penanganan Rematik
Secara umum, pengobatan apa itu rematik dapat disesuaikan berdasarkan jenis penyakit dan kondisi penderita. Tujuannya untuk mengurangi nyeri di persendian, mengontrol risiko peradangan, serta mencegah adanya kerusakan lebih lanjut pada sendi. Beberapa pengobatan dan penanganan yang dapat dilakukan meliputi.
1. Pemberian Obat Sesuai Diagnosis
Dokter dapat memberikan obat pereda nyeri, antiinflamasi, atau obat khusus seperti DMARDs untuk rheumatoid arthritis. Bagaimanapun, penggunaan obat juga harus mengikuti petunjuk dokter karena jenis dan dosisnya berbeda tergantung pada kondisi penderita.
2. Fisioterapi dan Latihan Fisik
Fisioterapi dan olahraga ringan, seperti berjalan kaki, berenang, atau bersepeda sangat dianjurkan. Sebab, aktivitas ini dapat membantu menjaga kekuatan otot dan kelenturan pada sendi.
3. Menjaga Berat Badan Ideal
Menjaga berat badan ideal dapat mengurangi tekanan pada sendi, terutama lutut dan pinggul. Bagi penderita dengan berat badan berlebih atau obesitas, menurunkan berat badan bisa menjadi pengobatan untuk mengurangi gejalanya.
4. Menyesuaikan Aktivitas Sehari-hari
Penderita rematik sebaiknya menghindari aktivitas yang dapat memperburuk nyeri dan segera atur waktu untuk istirahat. Namun, penderita tetap harus melakukan aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki dan bersepeda.
5. Tindakan Operasi pada Kondisi Tertentu
Jika kerusakan sendi sudah parah dan pengobatan lainnya kurang efektif, dokter dapat mempertimbangkan untuk melakukan operasi penggantian sendi. Operasi ini bertujuan untuk mengurangi nyeri dan memperbaiki kemampuan sendi untuk menggerakkan tubuh.
Kapan Harus ke Dokter?
Meski sudah memahami apa itu rematik, jangan mendiagnosis sendiri bahwa nyeri pada sendi berarti merupakan rematik. Namun, jika nyeri lebih sering muncul, bersamaan dengan adanya peradangan atau pembengkakan, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan ke dokter.
Terlebih jika sendi terasa kaku atau sulit digerakkan, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya. Bagaimanapun, pemeriksaan sejak dini penting untuk Anda lakukan demi mencegah kerusakan lebih lanjut pada sendi.
Jika sendi tiba-tiba terasa sangat nyeri, bengkak, panas, atau disertai demam, segera cari pertolongan medis karena kondisi tersebut dapat menandakan adanya infeksi pada persendian. Untuk membantu mengetahui penyebabnya, Anda dapat mempertimbangkan layanan pemeriksaan Bumame.
Anda bisa mencoba Medical Check-Up Plus atau pemeriksaan lebih spesifik seperti Tes Asam Urat. Hasil pemeriksaan pun dapat menjadi informasi pendukung bagi dokter dalam menentukan diagnosis yang tepat dan penanganan lebih optimal.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
References
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (NIAMS). (2025). Arthritis and Rheumatic Diseases.
World Health Organization (WHO). (2023). Rheumatoid Arthritis.
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (NIAMS). (2023). Osteoarthritis.
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (NIAMS). (2023). Gout: Diagnosis, Treatment, and Steps to Take.
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (NIAMS). (2022). Rheumatoid Arthritis.
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (NIAMS). (2022). Rheumatoid Arthritis: Diagnosis, Treatment, and Steps to Take
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). About Physical Activity and Arthritis.
National Health Service (NHS). (2026). Septic Arthritis.
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (NIAMS). (2024). Gout.
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (NIAMS). (2024). Psoriatic Arthritis.
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (NIAMS). (2022). Systemic Lupus Erythematosus (Lupus).
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
.jpg&w=3840&q=75)