Rasa perih saat buang air kecil, keluar cairan yang aneh dari penis, atau muncul benjolan kecil di area intim sering kali para pria anggap sepele. Padahal, keluhan yang dirasakan tersebut bisa menjadi pertanda terkena penyakit kelamin pria. Penyakit ini kerap tidak menimbulkan gejala, hingga seseorang dapat menularkan tanpa sadar.
Apabila tidak ditangani dengan baik, infeksi kelamin dapat menjadi masalah yang lebih serius. Oleh sebab itu, mengenali jenis, gejala, dan pengobatan penyakit kelamin dapat memberikan pandangan untuk mengambil langkah yang tepat.
Apa Itu Penyakit Kelamin?
Istilah lain dari penyakit kelamin adalah Infeksi Menular Seksual (IMS). Infeksi tersebut menular dari satu orang ke orang lain melalui hubungan seksual secara vaginal, anal, maupun oral. Berdasarkan WHO, terdapat 30 jenis bakteri, virus, dan parasit yang bisa menular melalui kontak seksual.
Sedangkan penyakit kelamin pria, artinya infeksi tersebut hanya menyerang organ reproduksi pria, yaitu penis, testis, dan uretra. Penyakit kelamin pun tidak hanya menyebabkan kesehatan fisik terganggu, tetapi juga kesehatan mental dan hubungan dengan pasangan.
Jenis-Jenis Penyakit Kelamin Pria
Jenis penyakit kelamin pria dapat dibedakan berdasarkan patogen penyebabnya, yaitu bakteri, virus, dan parasit. Berikut jenis-jenis penyakit kelamin beserta penyebab utamanya.
Gonore: Penyebabnya bakteri Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra atau saluran kencing. Sehingga penis mengeluarkan cairan nanah disertai rasa perih saat buang air kecil.
Klamidia: Merupakan salah satu penyakit kelamin yang sering menyerang pria. Penyebabnya bakteri Chlamydia trachomatis yang menginfeksi uretra. Jika dibiarkan dapat memicu komplikasi berupa gangguan kesuburan.
Sifilis: Bakteri Treponema pallidum menginfeksi melalui beberapa tahapan. Fase primer atau awal muncul sekitar 10-90 hari berupa luka terbuka kecil. Lalu, fase sekunder muncul setelah luka primer sembuh, tapi timbul ruam kulit. Fase laten tidak ada gejala terlihat, dan terakhir fase berbahaya yang merusak organ vital.
Herpes genital: Herpes Simplex Virus (HSV) tipe 1 atau 2 ini masuk melalui luka kecil di kulit atau selaput lendir. Menyebabkan timbul bintil-bintil yang terasa perih, gatal, dan melepuh di sekitar kelamin.
HIV: Penyebabnya yaitu Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang menyerang pusat komando sistem kekebalan tubuh atau yang disebut sel CD4. Sel ini bertugas untuk mengenali dan melawan infeksi yang masuk. Lalu, HIV menempel pada sel CD4 dan membajaknya agar HIV bisa mereplikasi diri.
Kutil kelamin: Virus Human Papillomavirus (HPV) menular melalui kontak kulit ke kulit saat berhubungan seksual. Jika sudah tertular, bagian penis atau kantung zakar akan tumbuh tonjolan daging kasar seperti kembang kol atau jengger ayam.
Trikomoniasis: Selain bakteri dan virus, penyakit kelamin juga bisa disebabkan oleh organisme bersel satu (protozoa), yaitu parasit Trichomonas vaginalis. Infeksi parasit ini menyerang saluran kemih dan biasanya tidak timbul gejala, namun menyebabkan iritasi dan rasa panas setelah ejakulasi.
Ciri-Ciri dan Gejala Penyakit Kelamin Pria
Banyak IMS tidak menimbulkan gejala, biasanya setelah beberapa minggu atau bulan baru terlihat dan terasa gejalanya. Berikut ciri-ciri dan gejala dari penyakit kelamin pria yang sering terjadi.
Gonore: Rasa terbakar saat buang air kecil, terdapat cairan berwarna putih, kuning, atau hijau yang keluar dari penis, dan testis terasa nyeri atau bengkak.
Klamidia: Ciri-cirinya hampir sama dengan gonore, bedanya klamidia tidak menunjukkan gejala awal, dan warna cairan yang keluar lebih bening, serta nyeri testis tidak separah gonore.
Sifilis: Muncul luka di sekitar penis atau dubur. Jika dibiarkan, gejala dapat terjadi di luar area genital seperti, ruam di area tubuh, demam, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit tenggorokan, sakit kepala, penurunan berat badan, nyeri otot, dan kelelahan.
Trikomoniasis: Sering tidak menunjukkan gejala. Tetapi, jika timbul gejala, penyakit kelamin pria ini dapat berupa gatal atau iritasi di dalam penis, sensasi terbakar setelah buang air kecil atau ejakulasi, dan cairan keluar dari penis.
Herpes Genital: Gejala berupa benjolan, lepuh, atau luka terbuka (ulkus) yang perih di sekitar alat kelamin atau anus. Lepuhan dapat pecah, mengeluarkan cairan, lalu mengering dan membentuk kerak.
HIV: Gejala awal mirip influenza seperti, demam, sakit kepala, ruam, dan sakit tenggorokan. Karena HIV melemahkan sistem kekebalan tubuh, maka timbul gejala lain seperti, pembengkakan kelenjar getah bening, penurunan berat badan, hingga penyakit kronis yang menyerang organ vital.
HPV: Umumnya tidak menimbulkan gejala. Lalu, muncul kutil atau benjolan kasar seperti kembang kol yang tumbuh di kulit. Bahkan kutil dapat berkembang menjadi kanker.
Penyebab dan Cara Penularan
Penyebab dari IMS dapat berupa bakteri, virus, atau parasit. Penularan umumnya terjadi lewat seks vaginal, anal, dan oral dengan orang yang terinfeksi. Sementara, penyakit herpes dan sifilis menular lewat kontak dengan luka. Adanya luka atau robekan pada kulit tersebut juga dapat meningkatkan risiko HIV masuk ke dalam tubuh.
Selain melalui hubungan seksual, cara penularan juga bisa melalui jalur non-seksual. Contohnya, berbagi jarum suntik atau tindik, penggunaan barang seperti handuk atau celana bersama dengan orang yang terinfeksi, serta berbagi alat bantu seks (seks toys).
Cara Diagnosis
Dalam upaya untuk memastikan penyakit kelamin pria, diagnosis awal adalah dengan menjawab pertanyaan langsung dari dokter terkait keluhan, riwayat kesehatan, hingga riwayat hubungan seksual. Selain itu, pemeriksaan fisik di area kelamin juga penting untuk mengetahui apakah terdapat luka, ruam, benjolan atau cairan yang tidak normal.
Untuk memastikan jenis infeksinya adalah dengan cara pemeriksaan laboratorium. Berikut macam-macam pemeriksaan laboratorium.
Tes urine: Menganalisis sampel urine untuk mendeteksi patogen di saluran kemih, seperti bakteri penyebab gonore dan klamidia.
Tes swab (usap) kelamin: Caranya dengan mengambil sampel cairan dari ujung uretra penis atau pada bagian luka yang terbuka. Selanjutnya, diperiksa melalui mikroskop atau kultur untuk mendeteksi jenis bakteri atau parasit.
Tes darah: Analisis pada sampel darah biasanya berfungsi untuk mendeteksi antibodi atau antigen terhadap infeksi sistemik. Contohnya pada infeksi HIV/AIDS, Hepatitis B dan C, serta virus Herpes Genital.
Biopsi jaringan: Jika terdapat kutil kelamin atau pertumbuhan daging abnormal yang mencurigakan di area genital atau anus, dokter akan mengambil sampel jaringan untuk memastikan bukan karena kanker
Pengobatan Penyakit Kelamin Pria
Pengobatan pada penyakit kelamin tergantung dari jenis mikroorganisme yang menjadi penyebabnya. Berikut metode-metode pengobatannya berdasarkan jenis yang menginfeksinya.
Antibiotik: Pemberian antibiotik berguna untuk mengobati infeksi bakteri, baik berupa oral atau suntikan. Dengan pengobatan yang tepat, infeksi bakteri dapat sembuh total.
Antivirus: Pemberian obat antivirus berguna untuk meredakan gejala, mencegah virus berkembang, dan mengurangi risiko penularan. Sebab, infeksi virus umumnya tidak bisa sembuh secara total.
Terapi: Pada penyakit kutil kelamin, dokter akan menghilangkannya dengan cara krioterapi (pembekuan kutil), laser, atau pembedahan. Sedangkan pada HIV/AIDS dengan terapi kombinasi obat antiretroviral selama seumur hidup, untuk menekan perkembangan virus dalam tubuh.
Pengobatan infeksi jamur dan parasit: Dokter dapat meresepkan obat antijamur oral atau obat krim antijamur oles (topikal) seperti pada infeksi jamur penis. Sedangkan pada infeksi parasit dengan obat antiprotozoa.
Cara Pencegahan
Melakukan tindakan pencegahan merupakan langkah yang tepat untuk menekan angka penyebaran penyakit kelamin pria. Terlebih penyakit tersebut bersifat menular. Beberapa langkah pencegahannya antara lain:
Setia kepada satu pasangan: Pria yang sering gonta ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual, sangat rentan terkena penyakit kelamin dan menularkannya ke pasangannya.
Kondom: Gunakan kondom secara konsisten setiap saat berhubungan seks, sebagai pelindung terhadap infeksi.
Sunat: Sunat pada pria secara medis dapat mengurangi risiko penularan infeksi kelamin.
Vaksin: Lakukan vaksinasi sejak usia anak-anak, misal vaksin hepatitis dan vaksin HPV.
Perawatan harian: Cuci penis hingga bersih setiap kali selesai buang air atau berhubungan seksual. Selain itu, gunakan celana berbahan katun dan longgar.
Skrining kesehatan: Lakukan pemeriksaan secara berkala terutama bagi individu yang aktif secara seksual.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter spesialis kulit dan kelamin apabila Anda mengalami gejala mencurigakan dari salah satu jenis penyakit kelamin pria. Terutama jika Anda pernah memiliki riwayat hubungan seksual dengan seseorang yang terdiagnosa infeksi seksual menular.
Untuk memastikan kesehatan reproduksi Anda aman dari penyakit kelamin, lakukan pemeriksaan medis sejak dini agar tidak terjadi masalah yang lebih serius. Anda dapat melakukan tes IMS atau skrining penyakit kelamin secara akurat melalui layanan Bumame, seperti tes anti-HIV, TPHA, HbSAg kualitatif, atau HPV DNA swab.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
CDC. (2024). About Sexually Transmitted Infections (STIs).
Medcare. (2024). Sexually Transmitted Diseases (STDs) in Men: Symptoms, Causes, Treatment & Types
Medline Plus. (2024). Sexually Transmitted Infection (STI) Tests
World Health Organization. (WHO). (2025). Sexually transmitted infections (STIs).
World Health Organization. (WHO). (2025). Chlamydia.
Centers for Disease Control and Prevention. (2025). About Gonorrhea
Centers for Disease Control and Prevention. (2025). About Chlamydia.
Centers for Disease Control and Prevention. (2025). About Syphilis.
World Health Organization. (WHO). (2025). Herpes Simplex Virus.
World Health Organization. (WHO). (2026). HIV and AIDS.
Cleveland Clinic. (2024). HPV (Human Papillomavirus).
Centers for Disease Control and Prevention. (2025). About Trichomoniasis.
Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia
