Tubuh Mudah Lelah Belum Tentu Hanya Kurang Istirahat. Kenali Perawatan Anemia yang Sesuai dengan Penyebabnya.
Merasa cepat lelah, sering pusing, atau sulit berkonsentrasi sering kali dianggap sebagai akibat kurang tidur atau terlalu banyak bekerja. Tidak sedikit orang yang langsung membeli suplemen penambah darah ketika mengalami keluhan tersebut dengan harapan tubuh kembali bugar dalam waktu singkat.
Padahal, tidak semua anemia dapat diatasi hanya dengan mengonsumsi tablet tambah darah. Pada beberapa kasus, anemia justru disebabkan oleh kekurangan vitamin tertentu, penyakit kronis, hingga gangguan pada sumsum tulang. Jika penyebabnya berbeda, penanganannya pun tentu tidak bisa disamakan.
Menurut World Health Organization (WHO), anemia merupakan kondisi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin di dalam darah lebih rendah dari normal sehingga kemampuan darah membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi berkurang.[1]
Karena itulah, mengetahui penyebab anemia (hyperlink anemia blog) menjadi langkah penting sebelum menentukan perawatan yang tepat.
Anemia Bukan Sekadar Kurang Darah
Istilah "kurang darah" masih sering digunakan masyarakat untuk menggambarkan anemia. Padahal, kondisi ini tidak selalu berarti tubuh kekurangan darah.
Hemoglobin di dalam sel darah merah memiliki tugas membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Ketika kadar hemoglobin menurun, organ tubuh tidak mendapatkan oksigen dalam jumlah yang cukup. Akibatnya, muncul berbagai keluhan seperti tubuh mudah lelah, wajah terlihat pucat, jantung berdebar, hingga sesak napas saat beraktivitas.
Pada tahap awal, gejalanya sering kali ringan sehingga banyak orang tidak menyadari dirinya mengalami anemia. Tidak sedikit pula yang baru mengetahui kondisinya setelah menjalani pemeriksaan kesehatan rutin atau medical check up.
Mengapa Perawatan Anemia Tidak Bisa Disamakan?
Banyak orang beranggapan bahwa semua anemia dapat diatasi dengan suplemen zat besi. Padahal, anggapan tersebut tidak selalu benar.
Anemia memiliki berbagai penyebab. Ada yang terjadi karena tubuh kekurangan zat besi, ada yang disebabkan kekurangan vitamin B12 atau asam folat, dan ada pula yang berkaitan dengan penyakit kronis maupun gangguan pada sumsum tulang.
Jika penyebabnya tidak diketahui, pengobatan yang dilakukan berisiko tidak memberikan hasil yang optimal.
Misalnya, seseorang yang mengalami anemia akibat kekurangan vitamin B12 belum tentu membaik hanya dengan mengonsumsi suplemen zat besi. Sebaliknya, orang dengan anemia defisiensi besi memerlukan penanganan yang berbeda agar kadar hemoglobin dapat kembali normal.
Karena itu, pemeriksaan laboratorium sering kali diperlukan untuk mengetahui jenis anemia yang dialami sebelum menentukan langkah pengobatan yang paling sesuai.
Jenis Anemia Menentukan Cara Perawatannya
Tidak semua perawatan anemia ditangani dengan cara yang sama. Berikut beberapa jenis anemia yang paling sering ditemukan.
Anemia Defisiensi Besi
Ini merupakan jenis anemia yang paling umum terjadi.
Kondisi ini muncul ketika tubuh kekurangan zat besi sehingga tidak mampu memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang cukup.
Perawatannya biasanya meliputi:
meningkatkan konsumsi makanan kaya zat besi,
mengonsumsi suplemen zat besi sesuai anjuran dokter,
mencari penyebab kekurangan zat besi, misalnya akibat perdarahan atau pola makan yang kurang seimbang.
Anemia Defisiensi Vitamin B12 atau Asam Folat
Tubuh memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk membentuk sel darah merah yang sehat.
Jika kedua nutrisi tersebut tidak tercukupi, produksi sel darah merah menjadi terganggu sehingga muncul anemia.
Perawatan umumnya dilakukan dengan memperbaiki pola makan atau memberikan suplemen sesuai kebutuhan pasien.
Anemia Akibat Penyakit Kronis
Beberapa penyakit kronis, seperti gangguan ginjal, penyakit autoimun, atau infeksi tertentu dapat memengaruhi produksi sel darah merah.
Pada kondisi ini, fokus utama perawatan bukan hanya meningkatkan kadar hemoglobin, tetapi juga mengendalikan penyakit yang menjadi penyebabnya.
Anemia Aplastik
Anemia aplastik merupakan kondisi yang lebih jarang terjadi dan disebabkan oleh gangguan pada sumsum tulang sehingga produksi sel darah menjadi berkurang.
Penanganannya memerlukan evaluasi dan terapi khusus oleh dokter sesuai tingkat keparahan penyakit.
Apakah Semua Anemia Memiliki Gejala yang Sama?
Meskipun penyebabnya berbeda-beda, sebagian besar jenis anemia memiliki gejala yang hampir serupa. Hal inilah yang membuat banyak orang sulit membedakan apakah keluhan yang dialaminya disebabkan oleh anemia atau kondisi kesehatan lainnya.
Beberapa gejala yang paling sering muncul antara lain:
Tubuh mudah lelah meski aktivitas tidak terlalu berat.
Wajah terlihat lebih pucat.
Sering merasa pusing atau berkunang-kunang.
Jantung berdebar.
Sulit berkonsentrasi.
Sesak napas saat melakukan aktivitas.
Pada kondisi yang lebih berat, anemia juga dapat menyebabkan tubuh terasa sangat lemas hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Namun, gejala-gejala tersebut tidak bisa dijadikan dasar untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan laboratorium tetap diperlukan agar penyebab anemia dapat diketahui secara pasti.
Mengapa Pemeriksaan Penting Sebelum Menentukan Perawatan?
Tidak sedikit orang yang langsung mengonsumsi tablet tambah darah ketika merasa tubuhnya mudah lelah. Padahal, tanpa mengetahui penyebab anemia, pengobatan yang dilakukan bisa saja tidak memberikan hasil yang diharapkan.
Karena itu, pemeriksaan laboratorium memiliki peran penting untuk mengetahui penyebab utama anemia sekaligus membantu dokter menentukan penanganan yang sesuai.
Salah satu pemeriksaan yang paling sering dilakukan adalah Complete Blood Count (CBC) atau hitung darah lengkap. Pemeriksaan ini memberikan gambaran mengenai kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah, hingga karakteristik sel darah yang dapat membantu mengarah pada jenis anemia tertentu.
Apabila diperlukan, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan kadar zat besi, ferritin, vitamin B12, atau asam folat untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.
Bisakah Anemia Dicegah?
Tidak semua jenis anemia dapat dicegah. Namun, beberapa kebiasaan sehari-hari dapat membantu menurunkan risiko, terutama anemia akibat kekurangan nutrisi.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Mengonsumsi makanan yang kaya zat besi, seperti daging merah, hati, ikan, dan sayuran hijau.
Memenuhi kebutuhan vitamin B12 dan asam folat dari makanan maupun suplemen sesuai anjuran dokter.
Mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi.
Menghindari konsumsi teh atau kopi bersamaan dengan makanan utama karena dapat mengurangi penyerapan zat besi.
Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi ibu hamil, wanita dengan menstruasi yang banyak, atau individu yang memiliki riwayat anemia.
Pencegahan akan lebih efektif apabila dilakukan sesuai dengan faktor risiko yang dimiliki setiap individu.
Periksakan Kondisi Anemia Lebih Awal di Bumame
Anemia yang tidak ditangani dengan tepat dapat memengaruhi kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari. Karena penyebabnya sangat beragam, pemeriksaan menjadi langkah penting untuk mengetahui jenis anemia yang dialami sebelum menentukan perawatan yang sesuai.
Di Bumame, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter serta melakukan pemeriksaan laboratorium untuk membantu mengetahui penyebab anemia berdasarkan kondisi kesehatan Anda. Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan yang lebih tepat.
Masih sering merasa mudah lelah, pucat, atau pusing tanpa penyebab yang jelas? Konsultasikan keluhan Anda dengan tim medis Bumame melalui WhatsApp untuk mendapatkan informasi mengenai layanan pemeriksaan yang sesuai. Klik di sini untuk chat WhatsApp Bumame.
Perawatan Anemia Dimulai dengan Mengetahui Penyebabnya
Anemia bukanlah satu jenis penyakit dengan satu cara pengobatan. Setiap jenis anemia memiliki penyebab yang berbeda sehingga memerlukan penanganan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Karena itu, jangan terburu-buru mengonsumsi suplemen penambah darah tanpa mengetahui penyebab keluhan yang dialami. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu memastikan jenis anemia sekaligus menentukan langkah perawatan yang paling tepat.
Sumber
1. World Health Organization. Anaemia. Geneva: World Health Organization.
Lokasi Klinik Bumame
Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10160Klinik Bumame TB Simatupang
1, Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12550Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kec. Serpong, Tangerang, Banten 15310Klinik Bumame Puri Indah
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23, Kembangan, Jakarta Barat 11610
Ditinjau oleh: dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
FAQ
Apakah semua anemia bisa diatasi dengan tablet tambah darah?
Apakah semua anemia bisa diatasi dengan tablet tambah darah?
Tidak. Tablet tambah darah umumnya digunakan untuk anemia akibat kekurangan zat besi. Jika anemia disebabkan oleh kekurangan vitamin B12, penyakit kronis, atau gangguan sumsum tulang, penanganannya akan berbeda sesuai penyebabnya.
Makanan apa yang baik untuk penderita anemia?
Makanan apa yang baik untuk penderita anemia?
Makanan yang kaya zat besi, seperti daging merah, hati, ikan, bayam, kacang-kacangan, dan sayuran hijau dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi. Konsumsi vitamin C juga dapat membantu meningkatkan penyerapannya.
Apakah anemia bisa sembuh total?
Apakah anemia bisa sembuh total?
Banyak kasus anemia dapat membaik apabila penyebabnya diketahui dan ditangani dengan tepat. Karena itu, pemeriksaan menjadi langkah penting sebelum memulai pengobatan.
Kapan saya perlu memeriksakan diri jika merasa mengalami anemia?
Kapan saya perlu memeriksakan diri jika merasa mengalami anemia?
Segera lakukan pemeriksaan apabila Anda sering merasa lelah tanpa sebab yang jelas, wajah terlihat pucat, sering pusing, jantung berdebar, atau mengalami sesak napas saat beraktivitas.
Apakah anemia hanya dialami oleh wanita?
Apakah anemia hanya dialami oleh wanita?
Tidak. Anemia dapat dialami oleh siapa saja, termasuk pria dan anak-anak. Namun, wanita usia subur dan ibu hamil memiliki risiko yang lebih tinggi karena kehilangan darah saat menstruasi maupun meningkatnya kebutuhan zat besi selama kehamilan.
