Rasa lelah yang tetap ada setelah tidur semalaman sering dianggap akibat pekerjaan yang menumpuk. Wajah pucat dan napas yang cepat terengah pun kerap dianggap tanda kurang olahraga.
Pada sebagian orang, keluhan ini merupakan tanda anemia defisiensi besi. WHO mencatat anemia banyak dialami anak kecil, remaja putri, perempuan usia subur, dan ibu hamil, dengan kekurangan zat besi sebagai salah satu penyebab yang umum.
Kondisi ini bisa dikenali sejak awal dan umumnya bisa diatasi. Artikel ini membahas penyebab, gejala, pemeriksaan, hingga pengobatan dan pencegahannya.
Apa Itu Anemia Defisiensi Besi?
Anemia adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin lebih rendah dari normal. Hemoglobin adalah protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Pada anemia defisiensi besi, tubuh kekurangan zat besi, bahan utama pembentuk hemoglobin. Kebutuhan harian zat besi berbeda menurut usia dan kondisi seseorang. Cadangannya disimpan sebagai feritin, yaitu protein penyimpan zat besi. Bila asupan kurang atau kehilangan zat besi berlangsung lama, cadangan ini menipis lebih dulu, lalu kadar hemoglobin ikut turun.
Penyebab Tubuh Kekurangan Zat Besi
Kekurangan zat besi terjadi saat asupan tidak sebanding dengan yang keluar atau dibutuhkan. Penyebabnya terbagi menjadi empat:
Asupan kurang. Menu harian jarang memuat sumber zat besi seperti daging, ikan, telur, atau kacang-kacangan. Lama-kelamaan, cadangan zat besi tubuh terkuras.
Kehilangan darah. Darah yang keluar ikut membawa zat besi. Haid berat menguras cadangan setiap bulan, sementara perdarahan perlahan di saluran cerna, misalnya dari luka lambung atau efek obat antinyeri yang dipakai lama, sering tidak disadari.
Gangguan penyerapan. Zat besi diserap di usus halus. Penyakit celiac, yaitu gangguan usus halus yang dipicu gluten, atau riwayat operasi usus bisa menghambat penyerapan walau asupannya cukup.
Kebutuhan meningkat. Ibu hamil memerlukan zat besi untuk volume darah yang bertambah dan pertumbuhan janin. Bayi, anak, dan remaja yang tumbuh pesat juga butuh lebih banyak.
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalaminya?
Kelompok berikut lebih rentan kekurangan zat besi:
Perempuan dengan haid berat. Haid yang banyak atau lama menguras cadangan zat besi setiap bulan. Mengenali ciri siklus menstruasi normal membantu Anda menyadari bila pola haid berubah.
Ibu hamil. Kebutuhan zat besi naik untuk ibu dan janin. Tanpa suplemen sebagai bagian dari perawatan kehamilan, kekurangan zat besi banyak dialami ibu hamil.
Bayi, anak, dan remaja putri. Bayi yang lahir prematur (sebelum waktunya) atau dengan berat badan lahir rendah, serta anak yang tumbuh pesat, lebih rentan bila asupan zat besinya kurang. Remaja putri mulai haid saat kebutuhan pertumbuhannya masih tinggi.
Vegetarian dan vegan. Zat besi dari daging lebih mudah diserap dibanding zat besi nabati. Kebutuhan tetap bisa tercukupi lewat kacang-kacangan, olahan kedelai, dan sayuran hijau tua.
Orang dengan gangguan saluran cerna. Gangguan penyerapan atau perdarahan kronis di saluran cerna membuat zat besi sulit tercukupi. Cek darah berkala bisa dibicarakan dengan dokter.
Gejala Anemia Defisiensi Besi yang Sering Muncul
Pada tahap ringan, keluhan bisa belum terasa. Gejala biasanya muncul perlahan, sehingga ciri-ciri anemia sering dianggap kelelahan biasa.
1. Lelah dan Lemas Berkepanjangan
Rasa lelah muncul walau aktivitas ringan dan tidur sudah cukup. Keluhan ini layak diperiksakan bila berlangsung berminggu-minggu tanpa sebab yang jelas.
2. Kulit dan Kelopak Mata Tampak Pucat
Kadar hemoglobin yang rendah membuat warna kemerahan kulit berkurang. Pucat lebih mudah terlihat di kelopak mata bagian dalam, bibir, dan kuku, kadang disertai tangan dan kaki yang terasa dingin.
3. Napas Pendek dan Jantung Berdebar
Jantung dan paru bekerja lebih keras untuk mengimbangi kurangnya oksigen, sehingga napas cepat terengah dan jantung berdebar saat naik tangga. Nyeri dada atau sesak saat istirahat perlu segera diperiksakan.
4. Pusing dan Sulit Berkonsentrasi
Pasokan oksigen yang berkurang bisa memicu pusing, sakit kepala, kepala terasa ringan saat berdiri, dan sulit fokus. Pada anak dan remaja, keluhan ini bisa tampak sebagai prestasi belajar yang menurun.
5. Kuku Rapuh dan Lidah Terasa Nyeri
Saat kekurangan makin berat, kuku bisa rapuh atau cekung seperti sendok, rambut mudah rontok, dan lidah terasa nyeri. Perubahan ini perlu dikonfirmasi lewat pemeriksaan karena bisa berasal dari kondisi lain.
6. Ingin Mengunyah Es atau Benda Bukan Makanan
Sebagian orang ingin terus mengunyah es batu, tanah, atau tepung mentah, kondisi yang disebut pika. Pada bayi dan anak, nafsu makan yang menurun juga perlu diperhatikan.
Dampaknya bagi Jantung, Kehamilan, dan Tumbuh Kembang Anak
Bila dibiarkan lama, kondisi ini bisa menimbulkan komplikasi berikut:
Gangguan jantung. Jantung memompa lebih keras untuk menutupi kurangnya oksigen. Lama-kelamaan detak jantung bisa cepat atau tidak teratur, hingga jantung membesar atau mengalami gagal jantung.
Masalah kehamilan. Anemia defisiensi besi yang berat pada ibu hamil berkaitan dengan kelahiran prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah. Suplemen zat besi dalam perawatan kehamilan membantu menekan risiko ini.
Daya tahan dan tumbuh kembang. Kekurangan zat besi bisa membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi. Pada anak, kondisi yang berat bisa memperlambat pertumbuhan dan perkembangan.
Kabar baiknya, dampak ini bisa dicegah bila kondisinya dikenali dan ditangani sejak awal.
Apa Bedanya dengan Jenis Anemia Lain?
Anemia punya banyak penyebab. WHO menyebut kekurangan folat dan vitamin B12, kelainan hemoglobin bawaan, serta infeksi juga bisa memicunya, dan penanganan tiap jenis berbeda.
Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.
Karena itu, perawatan anemia sesuai jenisnya dimulai dari pemeriksaan penyebab, termasuk menelusuri riwayat keluarga bila dicurigai ada kelainan bawaan seperti talasemia.
Kapan Perlu Berkonsultasi dengan Dokter?
Periksakan diri bila lelah, pucat, atau napas pendek berlangsung lama dan mengganggu aktivitas. Konsultasi juga dianjurkan bila haid jauh lebih banyak dari biasanya, saat hamil atau merencanakan kehamilan, dan bila anak tampak pucat atau kurang nafsu makan.
Hindari minum suplemen zat besi sendiri sebelum diperiksa, karena zat besi berlebih bisa merusak hati. BAB berdarah, nyeri dada, sesak berat, atau pingsan membutuhkan pertolongan medis segera.
Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?
Dokter menanyakan keluhan, pola makan, riwayat haid atau kehamilan, dan tanda perdarahan. Setelah pemeriksaan fisik, cek darah dilakukan untuk menilai hal berikut:
Hitung darah lengkap. Pemeriksaan ini mengukur kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah, serta ukuran dan warnanya. Hasilnya membantu menilai ada tidaknya anemia dan jenisnya.
Status zat besi. Pemeriksaan ini menilai kadar zat besi dalam darah, cadangannya, dan kemampuan darah mengikat zat besi. Hasilnya menunjukkan apakah cadangan memang menipis.
Pencarian penyebab. Bila sumbernya belum jelas, dokter bisa menyarankan tes darah samar pada tinja, endoskopi, atau kolonoskopi. Endoskopi dan kolonoskopi memakai selang berkamera untuk melihat saluran cerna.
Nilai normal hemoglobin berbeda menurut usia, jenis kelamin, dan kehamilan. Karena itu, ambang diagnosis ditentukan oleh dokter.
Cek Anemia dan Kadar Zat Besi di Bumame
Karena gejalanya mirip kelelahan biasa, pemeriksaan darah menjadi cara untuk mengetahui apakah kadar hemoglobin dan zat besi benar-benar rendah. Paket Anemia dari Bumame adalah paket pemeriksaan darah untuk menilai anemia serta kadar dan daya ikat zat besi. Hasilnya bisa Anda diskusikan dengan dokter.
Untuk jadwal dan lokasi klinik, silakan hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Cara Mengatasi Anemia Defisiensi Besi
Pengobatan bertujuan mengisi ulang cadangan zat besi dan menangani penyebabnya. Dokter biasanya meresepkan suplemen zat besi dengan jenis, jumlah, dan lama konsumsi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Suplemen bisa memicu mual, sembelit, atau BAB berwarna gelap, dan keluhan ini perlu disampaikan ke dokter bila mengganggu.
Bila suplemen yang diminum tidak cocok, zat besi bisa diberikan lewat suntikan atau infus. Sumber perdarahan juga ditangani, lalu cek darah ulang dilakukan untuk memantau hasil. Beberapa cara menaikkan kadar hemoglobin lewat makanan bisa dijalankan berdampingan dengan pengobatan.
Langkah Sederhana untuk Mencegahnya
Risiko kekurangan zat besi bisa dikurangi dengan langkah berikut:
Pilih makanan kaya zat besi. Sumbernya antara lain daging merah, hati, ikan, telur, kacang-kacangan, olahan kedelai, dan bayam. Variasi makanan untuk anemia membantu menu harian tetap cukup zat besi.
Padukan dengan vitamin C. Vitamin C membantu tubuh menyerap zat besi. Sajikan jeruk, tomat, brokoli, atau stroberi bersama makanan utama.
Beri jarak untuk teh dan kopi. Keduanya bisa menghambat penyerapan zat besi bila diminum bersamaan dengan makanan atau suplemen zat besi. Minumlah di antara waktu makan.
Perhatikan remaja putri dan ibu hamil. Kemenkes menganjurkan keduanya minum tablet tambah darah sesuai arahan tenaga kesehatan. Pemeriksaan kehamilan juga menjadi kesempatan membahas vitamin ibu hamil setiap trimester.
Cukupi zat besi bayi dan anak. Bayi mendapat zat besi dari ASI atau susu formula yang diperkaya zat besi. Saat mulai makanan pendamping, pilih daging halus atau sereal yang diperkaya zat besi.
Tubuh Bertenaga Dimulai dari Zat Besi yang Cukup
Dengan menu kaya zat besi, pemeriksaan tepat waktu, dan pengobatan sesuai arahan dokter, anemia defisiensi besi umumnya bisa diatasi dengan baik. Makin awal diketahui, makin banyak pilihan penanganan yang tersedia. Untuk jadwal pemeriksaan, Anda bisa chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Kekurangan Zat Besi. Retrieved 23 September 2026 from https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/defisiensi-nutrisi/kekurangan-zat-besi
Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Anemia. Retrieved 23 September 2026 from https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/defisiensi-nutrisi/anemia
World Health Organization. Anaemia. Retrieved 23 September 2026 from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/anaemia
NHS. Iron deficiency anaemia. Retrieved 23 September 2026 from https://www.nhs.uk/conditions/iron-deficiency-anaemia
Mayo Clinic. Iron deficiency anemia - Symptoms & causes. Retrieved 23 September 2026 from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/iron-deficiency-anemia/symptoms-causes/syc-20355034
MedlinePlus. Iron deficiency anemia. Retrieved 23 September 2026 from https://medlineplus.gov/ency/article/000584.html
Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri
