Sleep apnea

Sleep Apnea: Penyebab, Gejala, Pemeriksaan, dan Cara Mengatasinya

30/07/2026Bumame

Pernah dengar orang mendengkur yang sangat keras saat tidur, kemudian tiba-tiba diam beberapa detik, lalu kembali bernafas lagi dengan suara tersengal? Atau mungkin Anda sedang merasakannya? Bagi banyak orang ini dianggap normal. Padahal, ini bisa jadi tanda sleep apnea

Apa itu? Ini adalah gangguan tidur yang tidak hanya berefek pada kualitas tidur, tetapi juga pada kesehatan jantung hingga aktivitas sehari-hari. Lebih lengkapnya seputar gangguan ini akan dibahas pada artikel ini. 

Apa Itu Sleep Apnea?

Sleep apnea adalah jenis gangguan tidur yang dicirikan dengan henti napas atau berkurangnya aliran napas selama beberapa detik secara berulang ketika tidur. 

Gangguan ini bisa dibagi menjadi dua jenis, yaitu Obstructive Sleep Apnea (OSA) karena penyumbatan saluran napas bagian atas, dan Central Sleep Apnea (CSA) yang terjadi karena gangguan sinyal dari otak yang mengatur pernapasan.

Penyebab Sleep Apnea

Penyebab gangguan ini berbeda-beda tergantung dari jenisnya, berikut uraiannya. 

1. Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Pada dasarnya, OSA terjadi karena saluran pernapasan bagian atas Anda tersumbat saat tidur akibat dari beberapa hal berikut.

  • Penumpukan lemak yang banyak di leher;

  • Amandel yang membesar;

  • Struktur rahang yang sempit;

  • Uvula atau anak tekak yang memanjang;

  • Otot saluran napas yang lemah; dan

  • Posisi tidur yang telentang.

Risiko gangguan tidur yang dirasakan akan semakin besar jika Anda berada di fase-fase berikut.

  • Berumur 60-70 tahun, karena risiko sleep apnea akan semakin besar seiring bertambahnya usia akibat dari perubahan jaringan di bagian leher.

  • Obesitas atau berat badan berlebihan karena berdampak pada penumpukan lemak di bagian leher yang menjadi penyebab utama dari gangguan tidur ini.

  • Punya riwayat keluarga atau ada faktor genetik struktur saluran pernapasan, bentuk tengkorak, dan wajah yang tidak normal.

  • Menderita penyakit tertentu, seperti gagal jantung atau gagal ginjal karena kedua penyakit ini bisa menyebabkan banyak cairan di leher.

  • Punya kebiasaan merokok, minum alkohol, dan konsumsi obat penenang yang ketiganya bisa mempersempit saluran pernapasan.

  • Sedang hamil, karena pada fase ini akan terjadi perubahan hormon, berat badan yang meningkat, dan pembengkakan jaringan di saluran pernapasan.

2. Central Sleep Apnea (CSA)

CSA umumnya terjadi karena otak tidak bisa mengirim sinyal dengan baik ke otot-otot pernapasan, akibat dari adanya:

  • Gangguan di sistem saraf atau otak;

  • Adanya kelainan di jantung;

  • Mengonsumsi obat opioid dalam jangka panjang;

  • Gangguan hormon; hingga

  • Ketidakstabilan ventilasi, yaitu fase dimana otak Anda bereaksi berlebihan terhadap perubahan kecil dari kandungan oksigen dan karbon dioksida di dalam darah sehingga berefek pada pola nafas yang tidak teratur.

Risiko penyebab gangguan tersebut akan semakin besar jika Anda berada di kondisi-kondisi berikut.

  • Berusia diatas 65 tahun saat kemampuan fungsi otak mulai menurun;

  • Mengidap penyakit tertentu, seperti gagal jantung, stroke, cedera, atau infeksi pada batang otak yang semuanya dapat memengaruhi pusat pengaturan nafas di otak;

  • Gangguan hormonal;

  • Mengonsumsi obat opioid dalam jangka panjang. Obat ini bisa mengganggu kemampuan otak untuk mengontrol napas saat tidur;

  • Adanya riwayat keluarga dan faktor genetik yang mengalami hal serupa;

  • Gaya hidup yang kurang baik, seperti mengonsumsi alkohol dan merokok. Keduanya bisa memengaruhi fungsi otak;

  • Tinggal di daerah dataran tinggi yang cenderung memiliki kadar oksigen lebih rendah sehingga memicu gangguan pernafasan;

  • Lahir prematur atau lahir sebelum usia 37 minggu. Kondisi semacam ini memiliki risiko gangguan pernapasan yang lebih besar daripada bayi yang lahir normal.

Gejala Sleep Apnea

Gejala gangguan ini bisa Anda rasakan baik ketika tidur maupun saat beraktivitas di siang hari.

Gejala saat tidur mencakup:

  • Mendengkur dengan sangat keras dan terus-menerus;

  • Napas berhenti sementara saat tidur;

  • Tiba-tiba bangun seperti tersedak, serta dibarengi dengan napas yang terengah-engah dan batuk;

  • Tidur sangat gelisah dan bahkan sering bangun tanpa alasan di malam hari;

  • Muncul keringat yang banyak saat tidur.

Sedangkan gejala saat beraktivitas atau saat di kondisi terjaga mencakup:

  • Terus-terusan mengantuk dan mudah tertidur saat beraktivitas di siang harinya;

  • Sakit kepala saat bangun tidur;

  • Mulut jadi lebih kering atau merasakan sakit tenggorokan saat bangun tidur;

  • Sulit untuk konsentrasi, mudah lupa, hingga kesulitan untuk fokus saat bekerja maupun belajar di siang hari;

  • Lebih mudah marah, cemas, hingga murung setiap harinya.

Kapan Harus ke Dokter?

Gangguan tidur ini seringkali dianggap normal oleh masyarakat, padahal tetap perlu penanganan dokter untuk mencegah adanya komplikasi. Jadi, jika Anda sudah merasakan beberapa gejala yang sudah disebutkan sebelumnya dan berlangsung lama, sebaiknya langsung konsultasi ke dokter. 

Ini karena semakin cepat sleep apnea didiagnosis dan ditangani, maka akan semakin besar juga peluang untuk Anda mencegah kemungkinan komplikasi yang lebih serius, seperti diabetes tipe 2, sakit jantung, hingga penurunan kualitas hidup.

Jenis Pemeriksaan untuk Diagnosis Sleep Apnea

Untuk mendiagnosis apakah Anda mengalami gangguan ini atau tidak, dokter biasanya akan melakukan beberapa tes berikut.

  • Polisomnografi atau sleep study, yaitu pemeriksaan dengan membuat Anda tidur semalaman di sebuah laboratorium, untuk kemudian dokter akan memantau berbagai fungsi tubuh Anda selama tidur seperti aktivitas otak, pola dan aliran pernapasan, kadar oksigen dalam darah, detak dan irama jantung, hingga gerakan tubuh dan tahapan tidur Anda.

  • Home Sleep Apnea Test (HSAT), tes tidur yang dilakukan di rumah dengan memakai alat khusus untuk menilai pola pernapasan, aliran udara, dan kadar oksigen selama tidur.

  • Apnea-Hypopnea Index (AHI), merupakan tahap pengecekan terakhir yang melibatkan proses perhitungan jumlah episode henti napas dan penurunan aliran napas setiap jam selama tidur dari hasil tes polisomnografi atau HSAT. Nilai ini akan digunakan untuk menentukan tingkat keparahannya. Misalnya 5–14 kejadian per jam termasuk ringan, 15–29 kejadian per jam termasuk sedang, dan lebih dari 30 kejadian per jam akan dinilai berat/parah.

Tips Mencegah Sleep Apnea

Walaupun gangguan tidur ini sulit dicegah, Anda bisa melakukan beberapa hal berikut untuk menurunkan risikonya.

  • Selalu jaga berat badan Anda tetap ideal, dan hindari penumpukan lemak di leher. Misalnya dengan olahraga teratur dan atur pola makan Anda, seperti memperbanyak makan buah, sayur, dan biji-bijian utuh serta makanan berprotein tanpa lemak. 

  • Sebaiknya tidur dengan posisi menyamping, karena posisi ini baik untuk menjaga saluran napas tetap terbuka dan menurunkan risiko gangguan tidur ini. 

  • Buat jadwal tidur yang baik dan taati aturan tersebut untuk menjaga kualitas tidur Anda.

  • Gunakan humidifier, terutama jika udara di kamar Anda kering, karena ini bisa menjaga saluran pernapasan agar tidak mudah teriritasi dan tidur juga terasa lebih nyaman.

  • Lakukan peregangan atau aktivitas aerobik ringan untuk menjaga fungsi jantung dan pernapasan Anda. Bila perlu, lakukan yoga, karena ini tidak hanya akan melatih pernapasan tetapi juga bisa membantu tubuh Anda lebih rileks.

  • Batasi atau kurangi rokok dan konsumsi alkohol, karena kedua hal ini bisa meningkatkan peradangan dan menyumbatkan saluran napas Anda. 

  • Lakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur, terutama berkaitan dengan jantung, karena gagal jantung adalah salah satu faktor penyebab gangguan ini.

Paket MCU General Premium Bumame: Cara Terbaik Deteksi Faktor Risiko Sleep Apnea

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, faktor risiko gangguan tidur ini akan lebih tinggi pada penderita penyakit jantung, gagal ginjal, dan obesitas. Untuk itulah, pemeriksaan tubuh secara menyeluruh sangat Anda perlukan sebagai langkah cerdas untuk mencegahnya.  

Salah satu yang bisa Anda pilih adalah Paket MCU General Premium Bumame. Kenapa harus pilih layanan ini? Hanya dalam satu produk tes kesehatan ini, Anda bisa mendapatkan banyak layanan mulai dari:

  • Konsultasi dokter dan cek fisik untuk mendapatkan evaluasi terkait struktur leher dan berat badan mengingat faktor risiko dari munculnya gangguan tidur ini adalah adanya pembengkakan di leher oleh air atau lemak dan kelebihan berat badan atau obesitas;

  • Rontgen dada untuk memantau kesehatan paru-paru dan mendeteksi ada tidaknya gangguan pernapasan melalui pemantauan struktur paru-paru. 

  • EKG dan tes treadmill untuk memantau kesehatan jantung; sampai

  • Cek fungsi ginjal dan tes urine untuk menilai kinerja ginjal.

Nah, dengan semua tes tersebut, Anda tentu bisa tahu kondisi tubuh dengan maksimal, sehingga gangguan seperti sleep apnea ini bisa Anda cegah.

Di dalam paket MCU General Premium ini juga masih tersedia beragam jenis pemeriksaan lainnya yang berguna untuk memantau kesehatan organ tubuh yang lain.

Cara Mengatasi Sleep Apnea

Jika Anda sudah mengalami gangguan tidur ini, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menanganinya, antara lain: 

  • Melakukan terapi Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), yang merupakan terapi dengan mengalirkan udara bertekanan melalui masker ketika Anda tidur sehingga saluran napas pun bisa tetap terbuka dan gangguan ini bisa teratasi;

  • Menggunakan Oral Appliance (Mandibular Advancement Device/MAD), yaitu alat yang  dipasang di dalam mulut yang bertujuan untuk membantu  rahang bawah Anda bergeser sedikit ke depan sehingga membuat saluran napas tetap terbuka selama tidur dan aliran udara pun bisa menjadi lebih lancar;

  • Merubah gaya hidup lebih sehat, seperti diet sehat untuk turunkan berat badan serta menjauhi alkohol dan rokok;

  • Mengubah posisi tidur sesuai anjuran dokter;

  • Jika dibutuhkan, Anda bisa melakukan operasi seperti pengangkatan jaringan yang menghalangi saluran napas, operasi hidung, hingga operasi rahang untuk memperlebar saluran napas Anda;

  • Selalu konsultasikan tahapan perkembangan pengobatan sleep apnea Anda pada dokter ahli untuk hasil yang lebih baik.

Sudah Siap Mendapatkan Kualitas Tidur Terbaik? 

Sleep apnea adalah masalah tidur yang disebabkan napas berhenti berulang kali ketika tidur sehingga berisiko mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari Anda. Untuk itu, tindakan pencegahan sangat direkomendasikan, khususnya dengan melakukan pemeriksaan kesehatan sedini mungkin. 

Anda bisa melakukan medical check-up dengan cakupan layanan pemeriksaan menyeluruh, atau jika ingin fokus untuk menjaga kesehatan jantung, maka Paket Tes Kesehatan Jantung Bumame bisa dicoba. Dalam satu paket tes kesehatan jantung ini, Anda sudah bisa mendapatkan pemeriksaan jantung lengkap melalui cek EKG, treadmill, hingga penanda kesehatan jantung.

Ingin mencari saran pemeriksaan lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan, hubungi WhatsApp Bumame untuk konsultasi!

Lokasi Klinik Bumame

Referensi:

  1. Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat. (2025). Apa itu Sleep Apnea?.

  2. Audy Dental. (2026). Sleep Apnea: Penyebab, Dampak dan Peran Kesehatan Gigi Dalam Perawatannya.

  3. National Heart, Lung, and Blood Institute. (2025). Causes and Risk Factors.

  4. By Sleep Doctor. (2026). What Is Sleep Apnea?.

  5. Majalah Kedokteran Sriwijaya. (2014). Obstroctuvie Sleep Apnea dalam Kehamilan.  

  6. Nobel Medical. (2026). Apa itu sleep apnea?.

  7. Rumah Sakit Pondok Indah (2025). Sleep Apnea: Mendengkur Bukan Berarti Tidur Pulas Melainkan Sumbatan Jalan Napas.

  8. Sakra World Hospital (2024). Apakah Anda mengantuk sepanjang hari? Mungkin Anda mengalami sleep apnea?.

  9. Kemenkes Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2024). Sleep Apnea dan Kematian Jantung Mendadak.

Ditinjau oleh: dr. Talitha Amalia

FAQ Seputar Sleep Apnea

Apa itu sleep apnea?

Sleep apnea adalah gangguan tidur yang ditandai dengan henti napas atau berkurangnya aliran napas secara berulang selama beberapa detik saat tidur. Kondisi ini terdiri dari dua jenis, yaitu Obstructive Sleep Apnea (OSA) akibat sumbatan saluran napas dan Central Sleep Apnea (CSA) akibat gangguan sinyal dari otak yang mengatur pernapasan.

Apa penyebab sleep apnea?

Penyebab sleep apnea bergantung pada jenisnya. OSA umumnya disebabkan oleh penyumbatan saluran napas, misalnya karena penumpukan lemak di leher, amandel membesar, struktur rahang yang sempit, atau posisi tidur telentang. Sementara itu, CSA terjadi karena gangguan pada sistem saraf, penyakit jantung, penggunaan obat opioid jangka panjang, gangguan hormon, atau kondisi lain yang memengaruhi pengaturan napas oleh otak.

Apa saja gejala sleep apnea?

Gejala saat tidur meliputi mendengkur keras, napas berhenti sementara, terbangun sambil terengah-engah, tidur gelisah, dan berkeringat berlebihan. Saat terjaga, penderitanya dapat mengalami kantuk berlebihan di siang hari, sakit kepala saat bangun, mulut kering atau sakit tenggorokan, sulit berkonsentrasi, mudah lupa, serta perubahan suasana hati.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Segera berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami gejala sleep apnea yang berlangsung terus-menerus, seperti mendengkur keras disertai henti napas saat tidur atau kantuk berlebihan di siang hari. Penanganan dini penting untuk membantu mengurangi risiko komplikasi seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan penurunan kualitas hidup.

Bagaimana sleep apnea didiagnosis?

Dokter dapat mendiagnosis sleep apnea melalui pemeriksaan polisomnografi (sleep study), Home Sleep Apnea Test (HSAT), dan penilaian Apnea-Hypopnea Index (AHI) untuk mengetahui tingkat keparahan gangguan berdasarkan jumlah episode henti napas atau penurunan aliran napas selama tidur.

Siapa yang berisiko mengalami sleep apnea?

Risiko sleep apnea lebih tinggi pada orang dengan obesitas, usia lanjut, riwayat keluarga, perokok, konsumsi alkohol atau obat penenang, ibu hamil, penderita penyakit jantung atau ginjal, serta individu dengan gangguan saraf atau kondisi lain yang memengaruhi sistem pernapasan.

Bagaimana cara membantu mencegah sleep apnea?

Risiko sleep apnea dapat dikurangi dengan menjaga berat badan ideal, tidur dalam posisi menyamping, menerapkan jadwal tidur yang teratur, menggunakan humidifier bila diperlukan, rutin berolahraga, mengurangi konsumsi rokok dan alkohol, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Bagaimana cara mengatasi sleep apnea?

Penanganan sleep apnea dapat meliputi terapi Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), penggunaan alat bantu mulut (Mandibular Advancement Device/MAD), perubahan gaya hidup yang lebih sehat, mengubah posisi tidur sesuai anjuran dokter, hingga tindakan operasi pada kondisi tertentu.