Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Penyebab dan Gejala Batu Empedu
Kembali ke Artikel & Berita

Batu Empedu: Penyebab, Gejala, dan Langkah Penanganan yang Tepat

Bumamemedical check up

Pernahkah Anda merasakan nyeri hebat di perut bagian kanan atas secara tiba-tiba kemudian menjalar ke bahu dan membuat warna kulit menguning? Bila pernah, bisa jadi itu adalah batu empedu atau cholelithiasis, salah satu jenis penyakit tidak menular yang sering dialami oleh banyak orang.

Penyakit ini terjadi karena adanya endapan kolesterol yang mengeras hingga membentuk batu. Bila Anda mengalami kondisi ini, sangat penting mengenali lebih dalam tentang cholelithiasis supaya mendapat penanganan medis yang tepat. 

Apa Itu Batu Empedu?

Penyakit ini kerap ditandai dengan nyeri hebat yang muncul secara tiba-tiba di perut bagian kanan atas yang menjalar hingga ke tulang belikat, dada, dan bahu. Pada kondisi yang lebih parah, batu empedu juga dapat menyebabkan mata dan kulit menguning, serta membuat warna urine menjadi lebih gelap.

Sebanyak 50% penderita batu empedu tidak merasakan gejala apapun. Akibatnya, banyak penderita mengira keluhan yang muncul hanyalah sakit maag (karena nyeri terasa di area ulu hati), sehingga mereka mengonsumsi obat maag tapi hasilnya tidak kunjung membaik.

Mereka tidak menyadari masalah yang terjadi ada pada kantung empedu. Kantung empedu yang seharusnya memproduksi sekaligus menyimpan cairan empedu untuk proses pencernaan malah tersumbat oleh batu yang berasal dari endapan kolesterol dan bilirubin. 

Endapan tersebut menumpuk di dalam kantung empedu hingga akhirnya mengeras dan membentuk batu. Penumpukan tersebut terjadi karena cairan empedu tidak lagi mampu melarutkan bilirubin atau kolesterol yang dihasilkan oleh hati. 

Selain itu, kondisi ini terjadi ketika kantung empedu tidak bisa melakukan pengosongan empedu secara sempurna, sehingga menimbulkan kristal kecil yang berkembang menjadi batu sebesar kerikil maupun butiran pasir. 

Apabila tidak segera ditangani dengan perawatan yang tepat, batu tersebut dapat menimbulkan radang dan infeksi pada kantung empedu maupun saluran lain. Terlebih jika batu tersebut berukuran kecil yang berpotensi berpindah ke organ lain dan menimbulkan masalah lain. 

Penyebab Batu Empedu

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, batu empedu terbentuk akibat penumpukan kolesterol, bilirubin, garam empedu, protein, kalsium hingga asam lemak di dalam kantung empedu. Lambat laun, endapan tersebut akan mengeras dan akhirnya membentuk batu. 

Kondisi ini juga terjadi karena kantung empedu tidak mampu lagi melakukan pengosongan sempurna sehingga sisa-sisa cairan mengendap membentuk kristal-kristal kecil yang terjebak dalam lendir kantong empedu, membentuk lumpur empedu, dan akhirnya berkembang menjadi batu. 

Penyebab lain dari batu empedu bisa juga akibat penyempitan atau adanya neoplasma (pertumbuhan sel/jaringan baru abnormal). Kondisi semacam ini dapat menghambat kerja kantung empedu yang bertugas menyimpan cairan empedu untuk kemudian dialirkan menuju usus halus.

Umumnya, hanya ada satu jenis batu yang terbentuk sehingga menimbulkan gejala ringan yang tidak membutuhkan penanganan serius di rumah sakit. Namun pada beberapa kasus, ditemukan lebih dari satu jenis batu yang terbentuk sekaligus.

Gejala Batu Empedu

Gejala umum yang sering dirasakan penderita adalah nyeri hebat di perut bagian kanan atas secara tiba-tiba, disertai mual dan muntah. Kondisi ini yang kerap dipahami sebagai penyakit maag, padahal yang bermasalah adalah kantung empedu.

Nah, untuk membedakan nyeri batu empedu dengan sakit maag, Anda perlu memperhatikan tingkat frekuensi nyeri dan titik penjalaran. 

Frekuensi sakit maag cenderung pelan-pelan hingga menimbulkan nyeri hebat di bagian dekat ulu hati ke kiri. 

Sementara itu, penyakit batu empedu terjadi secara tiba-tiba dengan rasa sakit yang intens kemudian bisa hilang begitu saja. Titik sakitnya berada di bagian bawah tulang iga agak sedikit ke kanan dan bisa menjalar sampai ke pinggang dan bahu kanan. 

Selain itu, pada kondisi parah, penyakit empedu ini bisa menimbulkan beberapa gejala sebagai berikut:

  • Penyakit kuning pada mata dan warna kulit akibat sumbatan kronis;

  • Tinja dan air seni berubah menjadi kecoklatan;

  • Munculnya bercak hitam atau tahi lalat di muka;

  • Munculnya liver spot atau bercak hitam di tangan;

  • Lidah tampak pecah;

  • Ada lapisan putih atau kuning di pangkal lidah;

  • Napas bau tidak sedap dan sering sendawa.

Jenis Batu Empedu

Adapun jenis batu yang terbentuk dalam kantung empedu antara lain:

1. Batu Kolesterol

Batu empedu kolesterol adalah jenis paling umum yang terbentuk dari kolesterol alias lemak dengan ciri berwarna kuning atau hijau berdiameter 1,25 cm sehingga cukup besar untuk menutup saluran empedu.

Batu ini terbentuk dari proses pembuangan kelebihan kolesterol oleh hati yang tidak larut sempurna. Sederhananya, ketika hati membuang lebihan kolesterol melalui empedu, sebagian lemak tersebut tidak ikut terlarut sehingga menempel pada kantung empedu dan membentuk partikel kemudian berubah menjadi batu. 

Kondisi ini seringkali muncul apabila seseorang suka mengonsumsi makanan yang banyak mengandung lemak jenuh.

2. Batu Pigmen

Meski persentase penyakit batu empedu di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, tidak sebanyak di negara barat, kondisi ini tetap perlu mendapat perhatian. Banyaknya penderita batu empedu disebabkan oleh perubahan pola hidup yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit tersebut. 

Salah satu jenis batu paling banyak di Asia Tenggara adalah pigmen. Pigmen ini merupakan sampah dari hemoglobin di dalam sel darah merah dan diubah menjadi zat lain bernama bilirubin yang nantinya diproses oleh hati kemudian disimpan dalam empedu. 

Seperti halnya lemak, karakteristik pigmen itu susah larut dan cenderung lengket satu sama lain. Dari situ, batu pigmen akan terbentuk apabila tidak menyatu dalam empedu dan terjadi proses pengendapan sehingga membentuk batu berwarna hitam kecokelatan. 

3. Batu Campuran

Batu ini terdiri dari campuran lemak dan pigmen yang berasal dari pemecahan lemak. Batu campuran adalah jenis yang paling umum dan dapat berkembang secara bersamaan dengan ukuran lebih kecil. 

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Cholelithiasis ringan umumnya tidak membutuhkan penanganan di rumah sakit. Namun, apabila Anda mulai merasakan gejalanya, melakukan konsultasi medis sejak awal adalah langkah tepat, terutama jika muncul nyeri hebat selama beberapa hari, muntah terus menerus, demam tinggi, sampai muncul perubahan warna mata dan kulit. 

Anda bisa mendatangi dokter spesialis penyakit dalam untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti tes darah, USG, hingga tindakan operasi untuk mencegah terjadinya komplikasi. 

Medical Check Up Bumame: Solusi Deteksi Dini Batu Empedu

Medical check up secara rutin menjadi salah satu langkah preventif untuk mendeteksi berbagai penyakit dalam tubuh Anda sejak dini, termasuk batu empedu. 

Anda bisa memanfaatkan layanan Medical Check Up Basic dari Bumame sebagai titik awal pemeriksaan yang tepat. Layanan ini akan mengajak Anda melakukan pemeriksaan dasar yang paling dibutuhkan, seperti fungsi ginjal, fungsi hati (SGOT dan SGPT), kondisi kolesterol lengkap, hingga kadar gula darah. 

Keempat pemeriksaan dasar tersebut adalah indikator utama untuk mengetahui adanya batu empedu sebelum benar-benar berkembang. Semua tahapan pemeriksaan tersedia dalam satu paket praktis yang dibanderol dengan harga terjangkau, yaitu Rp1.042.000.

Untuk mengetahui kondisi kesehatan lebih mendalam, Anda bisa melanjutkan pemeriksaan dengan mengambil paket komplit Medical Check Up General Plus Bumame. Sebab tidak hanya kolesterol lengkap yang akan dicek, tetapi asam urat, rontgen-thorax, tes hematologi lengkap, pemeriksaan fungsi hati (SGPT/ALT) dan (SGOT/AST), sampai tes urine.

Jenis Penanganan dan Pemeriksaan

Penanganan batu empedu tentu perlu disesuaikan dengan perkembangan batu dan dampaknya terhadap pasien. Pada kondisi ringan, dokter akan memberikan obat untuk mengurangi gejala dan melarutkan batu dalam empedu. 

Namun, dokter akan mempertimbangkan tindakan operasi apabila Anda membutuhkan penanganan lebih lanjut. Tujuannya untuk mengangkat batu agar tidak menyumbat saluran empedu. 

Sementara itu, pasien juga perlu melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan. Salah satunya adalah tindakan USG, CT scan perut, pemindaian radionuklida gallbladder, tes darah, sampai Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography alias ERCP sebagai alternatif yang bisa mengeluarkan batu empedu tanpa melalui operasi.

Siapa Saja yang Rentan Terkena?

Penyakit ini rentan dialami oleh orang dewasa yang mengalami masalah kelebihan berat badan (obesitas) dan kolesterol. Penyakit ini juga berkaitan erat dengan kadar lemak dalam tubuh yang tidak terkontrol. 

Artinya, riwayat kolesterol tinggi yang tidak terkontrol ditambah kondisi berat badan berlebih adalah pemicu utama terjadinya cholelithiasis. 

Selain itu, faktor usia juga turut berperan memicu terjadinya penyakit ini. Berdasarkan data, prevalensi penderita cholelithiasis empat sampai sepuluh kali lebih sering ditemukan pada orang dewasa ketimbang anak muda, terutama perempuan lansia.

Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh gaya hidup tidak sehat yang suka mengonsumsi makanan cepat saji maupun berlemak. Makanan cepat saji memicu terjadinya obesitas yang membuat lemak tubuh semakin menumpuk.

Faktor genetik juga meningkatkan peluang terkena penyakit batu empedu. Dengan kata lain, jika keluarga inti Anda ada yang mempunyai riwayat penyakit ini, maka Anda berpeluang 1 1⁄2 kali lebih mungkin mengalami hal sama.

Tips Mencegah Munculnya Batu Empedu

Supaya kondisi kesehatan Anda tetap terjaga secara menyeluruh, penting untuk mengubah pola hidup sehat sebagai berikut.

1. Mengatur Pola Makan Sehat

Langkah pertama adalah mengatur pola makan sehat. Kesehatan tubuh sangat bergantung pada asupan harian Anda. Jadi, Anda perlu mengevaluasi ulang apakah dalam satu hari Anda lebih sering mengonsumsi makanan bergizi atau justru mengandung banyak lemak.

Pasalnya, kolesterol dalam tubuh adalah salah satu faktor utama terbentuknya batu dalam empedu. Lemak yang dimaksud adalah lemak jahat yang berasal dari gorengan, jeroan, dan sebagainya.

Namun, ini bukan berarti Anda dilarang mengonsumsi lemak sepenuhnya. Anda tetap bisa mengonsumsi lemak jenis tak jenuh seperti minyak ikan, alpukat, dan minyak zaitun.

2. Menjaga Berat Badan Tetap Ideal

Mengonsumsi makanan mengandung lemak terlalu banyak bisa memicu obesitas atau berat badan berlebih. Obesitas dapat membuat kantung empedu sulit mengosongkan cairan, sehingga mengendap dan lama kelamaan mengeras menjadi batu.

Sayangi Fungsi Empedu dengan Rutin Medical Check Up

Empedu adalah salah satu organ penting dalam sistem pencernaan manusia yang berfungsi menyerap vitamin larut lemak dan membuang racun dalam tubuh. Oleh karena itu, kesehatan empedu perlu dijaga supaya tidak ada gumpalan lemak yang akhirnya membentuk batu empedu. 

Salah satu yang bisa Anda lakukan adalah rutin melakukan medical check up, terutama pada bagian organ vital dalam tubuh. Yuk konsultasikan kesehatan Anda bersama dokter profesional secara berkala!

Lokasi Klinik Bumame

1. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

4. Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

Referensi:

  1. Kemenkes Direktorat Jenderal Lanjutan. (2023). Penyakit Batu Empedu

  2. Jurnal Keluarga Sehat Sejahtera Vol. 13 (26) Des. 2015. Mengenal Penyakit Batu Empedu.

  3. Repository STIKes RSPAD Gatot Subroto. (2023). Asuhan Keperawatan TN.T dengan Perawatan Luka Pasca Laparoscopy di Lantai IV Paviliun Eri Soedewo RSPAD Gatot Subroto.

  4. Info Sehat FKUI. (2023). Mengenal Batu Empedu yang Dipicu Kolesterol dan Diabetes.

  5. Jurnal Kesehatan Saintika Meditory. (2025). Karakteristik Pasien Kolelitiasis di Rumah Sakit Siti Rahmah Padang Pada Tahun 2022.

  6. Jurnal Biologi Tropis. (2024). Choledocholithiasis: A Literature Review.

  7. Faculty of Medicine Universitas Muhammadiyah Surakarta. (2025). Batu Empedu.

  8. Kemenkes Direktorat Jenderal Lanjutan. (2024). Apa Itu Batu Empedu.

Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila

Frequently Asked Question

Apa itu batu empedu?

Batu empedu adalah kondisi ketika terbentuk endapan yang mengeras di dalam kantung empedu. Batu ini berasal dari penumpukan kolesterol, bilirubin, atau zat lain dalam cairan empedu sehingga dapat menyumbat aliran empedu dan menimbulkan berbagai keluhan.

Apa penyebab batu empedu?

Batu empedu dapat terbentuk akibat penumpukan kolesterol, bilirubin, garam empedu, protein, kalsium, dan asam lemak yang mengeras di kantung empedu. Kondisi ini juga dapat dipicu oleh pengosongan kantung empedu yang tidak sempurna, penyempitan saluran empedu, atau pertumbuhan jaringan abnormal yang menghambat aliran empedu.

Apa saja gejala batu empedu?

Gejala yang sering muncul meliputi nyeri hebat yang datang tiba-tiba di perut kanan atas, mual, muntah, serta nyeri yang dapat menjalar ke bahu, dada, atau pinggang kanan. Pada kondisi yang lebih berat, dapat muncul mata dan kulit menguning, perubahan warna tinja dan urine, lidah pecah, lapisan putih atau kuning pada pangkal lidah, napas tidak sedap, dan sering sendawa.

Kapan harus segera ke dokter jika mengalami batu empedu?

Segera periksakan diri apabila mengalami nyeri hebat selama beberapa hari, muntah terus-menerus, demam tinggi, atau perubahan warna mata dan kulit menjadi kuning. Dokter dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Bagaimana batu empedu didiagnosis?

Diagnosis dapat dilakukan melalui pemeriksaan medis seperti tes darah, USG, CT scan perut, pemindaian radionuklida kantung empedu, serta Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP) sesuai dengan kondisi pasien.

Bagaimana penanganan batu empedu?

Penanganan disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisi. Pada kasus ringan, dokter dapat memberikan obat untuk membantu mengurangi gejala dan melarutkan batu. Jika diperlukan, dokter dapat mempertimbangkan tindakan operasi untuk mengangkat batu atau melakukan ERCP sebagai alternatif tanpa operasi.

Siapa yang lebih berisiko mengalami batu empedu?

Batu empedu lebih sering terjadi pada orang dengan obesitas, kadar kolesterol tinggi, usia yang lebih tua, terutama perempuan lansia, memiliki pola makan tinggi lemak, serta memiliki riwayat keluarga dengan batu empedu.

Bagaimana cara membantu mencegah batu empedu?

Upaya pencegahan yang dianjurkan meliputi menerapkan pola makan sehat dengan membatasi lemak jenuh, tetap mengonsumsi lemak tak jenuh dalam jumlah yang sesuai, menjaga berat badan tetap ideal, serta rutin menjalani medical check-up untuk memantau kondisi kesehatan.