Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Erbs Palsy: Kenali Gejala, Penyebab, dan Penanganannya
Kembali ke Artikel & Berita

Erbs Palsy: Kenali Gejala, Penyebab, dan Penanganannya

SBATips Kesehatan

Ketika bayi baru lahir, orang tua biasanya akan memperhatikan gerakan kedua tangan untuk memastikan si kecil nyaman dan aktif. Tapi, bagaimana jika satu lengannya tampak lemas bahkan sulit digerakkan? Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah Erbs palsy.

Masalah ini sering terjadi pada bayi dan biasanya dapat sembuh dalam beberapa bulan atau tahun, terutama jika perawatannya tepat. Namun, ada pula kasus di mana Erb palsy tidak sembuh dan memengaruhi hidup anak dalam jangka panjang. Lantas, apa saja gejalanya? Bagaimana penangannya? Simak selengkapnya di sini! 

Apa Itu Erbs Palsy?

Erb palsy adalah gangguan fungsi saraf yang memengaruhi gerakan dan juga kekuatan bahu serta lengan. Kondisi ini bisa terjadi akibat cedera pada bagian atas jaringan saraf yang disebut pleksus brakialis, yaitu kumpulan saraf yang menghubungkan sumsum tulang belakang dengan bahu, lengan, dan juga tangan.

Dalam dunia medis, gangguan ini juga dikenal sebagai Erb-Duchenne palsy atau brachial plexus palsy. Erb palsy juga sering dikaitkan dengan cedera saat persalinan, tapi cedera serupa juga bisa saja terjadi akibat kecelakaan ataupun trauma pada anak yang lebih besar maupun orang dewasa. 

Tingkat keparahannya sendiri bergantung pada jenis dan juga luas kerusakan saraf. Sebagian kasus bisa membaik dengan adanya pemantauan dan juga terapi, sedangkan cedera yang lebih berat mungkin bisa saja membutuhkan tindakan operasi.

Gejala Erbs Palsy

Gejala bisa terlihat sejak bayi lahir ataupun setelah terjadi cedera pada bahu dan leher. Tanda yang muncul akan bergantung pada saraf yang terdampak dan juga tingkat kerusakannya. Beberapa gejala Erbs palsy adalah sebagai berikut.

  • Salah Satu Lengan Tampak Lemas

Bayi biasanya tampak kurang menggerakkan salah satu lengan dibandingkan lengan lainnya. Lengannya bisa menggantung di sisi tubuh dan sulit diangkat, terutama pada bagian bahu. Selain itu, jari-jari tangan akan terlihat menekuk ke dalam.

  • Kesulitan Menggerakkan Bahu atau Menekuk Siku

Cedera saraf bisa membuat bayi kesulitan mengangkat lengan ataupun menekuk siku. Posisi lengan, siku, dan pergelangan tangan juga bisa tampak berbeda dari biasanya. Pada cedera lebih berat, biasanya kemampuan gerak dan juga sensasi pada lengan akan sangat berkurang.

  • Perbedaan Kekuatan

Pada anak yang lebih besar ataupun orang dewasa, gejalanya bisa berupa kelemahan, berkurangnya sensasi, ataupun kesulitan menggunakan lengan setelah mengalami trauma. Rasa sakit dan sensasi terbakar juga bisa muncul.

Jika cedera terjadi di bagian saraf dekat leher, maka penderita bisa menunjukkan tanda sindrom Horner.

  • Pupil mata pada sisi bahu yang terdampak mengecil.

  • Kelopak mata dan tangan di satu sisi terkulai.

  • Wajah dan bahu pada sisi yang terdampak tidak berkeringat.

Penyebab Erbs Palsy dan Faktor Risikonya

Erb palsy akan terjadi ketika saraf bagian atas pleksus brakialis mengalami peregangan ataupun kerusakan. Penyebabnya bisa berbeda-beda menurut usia dan juga situasi saat cedera terjadi, sehingga riwayat persalinan ataupun kejadian traumatis perlu dievaluasi.

1. Cedera Saat Persalinan

Pada sebagian kasus, saraf bisa mengalami peregangan ketika bahu bayi kesulitan melewati jalan lahir setelah kepala keluar. Situasi ini biasanya dikenal sebagai shoulder dystocia. Namun, cedera tidak selalu terjadi pada setiap persalinan yang sulit, dan Erb palsy tidak bisa dipastikan hanya dari cara bayi lahir.

2. Faktor yang Berkaitan dengan Persalinan

Beberapa kondisi, seperti ukuran bayi yang besar, diabetes pada ibu, posisi bayi tertentu, ataupun persalinan yang mengalami komplikasi, bisa saja berkaitan dengan meningkatnya risiko Erbs palsy. Tapi, faktor risiko ini bukan berarti cedera pasti terjadi, dan kondisi ini juga bisa muncul tanpa faktor risiko yang jelas.

3. Kecelakaan atau Trauma

Pada anak yang lebih besar dan juga orang dewasa, cedera pleksus brakialis bisa terjadi akibat kecelakaan kendaraan, jatuh, olahraga kontak, ataupun trauma yang memberi tarikan kuat pada leher dan juga bahu. Tingkat kerusakan saraf pun masih perlu dinilai melalui pemeriksaan medis.

4. Kesalahan Monitoring

Pemantauan pada ibu dan bayi selama masa kehamilan sangat penting, salah satu tujuannya untuk mencegah berbagai jenis risiko. Jika sampai salah memperkirakan dan mengenali tanda bahaya, maka cedera bisa terjadi. Misalnya tidak menyadari posisi bayi yang tidak normal sebelum persalinan.

Selain itu, kesalahan seperti tidak melakukan C-section tepat pada waktunya juga bisa memperburuk risiko cedera. Terutama jika bayi terlalu besar untuk lahir normal dan persalinan yang terlalu lama.

Diagnosis Erbs Palsy dan Pemeriksaan yang Diperlukan

Diagnosis dilakukan dengan menilai riwayat cedera, kekuatan otot, gerakan, dan juga sensasi pada lengan. Dokter akan menentukan apakah pemeriksaan tambahan diperlukan untuk bisa mengetahui tingkat kerusakan saraf ataupun menyingkirkan cedera lain.

1. Pemeriksaan Fisik

Dokter akan membandingkan gerakan kedua lengan, memeriksa refleks, serta menilai kemampuan menggerakkan bahu, siku, pergelangan tangan, dan juga jari. Pada bayi baru lahir, dokter juga akan memeriksa kemungkinan cedera lain, seperti adanya patah tulang selangka, yang kadang menyertai cedera saat persalinan.

2. Pemeriksaan Penunjang

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, dokter bisa menyarankan pemeriksaan seperti elektromiografi (EMG) untuk bisa mengevaluasi aktivitas otot dan fungsi saraf, pemeriksaan konduksi saraf, ataupun pencitraan tertentu. 

Rontgen juga bisa digunakan bila dicurigai adanya patah tulang, sedangkan MRI bisa dipertimbangkan pada kasus tertentu. Tapi tidak semua pasien akan memerlukan seluruh pemeriksaan ini.

Bumame juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan umum melalui medical check up. Tapi, MCU bukanlah pemeriksaan khusus yang bisa mendiagnosis Erb palsy. Jika memang bayi ataupun anggota keluarga mengalami kelemahan lengan, konsultasi pemeriksaan saraf dan juga rehabilitasi tetap dianjurkan.

Penanganan dan Perawatan Erbs Palsy

Penanganannya bergantung pada tingkat kerusakan saraf dan perkembangan fungsi lengan dari waktu ke waktu. Tujuannya untuk membantu mempertahankan gerakan sendi, mendukung pemulihan fungsi, dan mencegah kekakuan. Rencana perawatan pun perlu disusun oleh tenaga kesehatan sesuai kondisi pasien.

1. Fisioterapi dan Terapi Okupasi

Pada banyak kasus, dokter akan merekomendasikan fisioterapi ataupun terapi okupasi untuk bisa menjaga rentang gerak bahu, siku, pergelangan tangan, dan jari. Orang tua juga bisa diajarkan latihan gerak lembut untuk bisa dilakukan di rumah sesuai arahan terapis. 

Jangan memaksakan gerakan ataupun melakukan latihan sendiri tanpa adanya panduan, karena penanganan perlu menyesuaikan jenis cedera.

2. Pemantauan Perkembangan

Pemulihan Erbs palsy membutuhkan waktu dan tidak sama pada setiap orang. Dokter akan memantau perubahan kekuatan serta gerakan lengan secara berkala. Jika fungsi lengan tidak menunjukkan adanya perbaikan yang diharapkan, maka pasien mungkin perlu untuk menjalani evaluasi lebih lanjut oleh tim spesialis.

3. Operasi pada Cedera Tertentu

Operasi bisa dipertimbangkan jika kerusakan saraf berat ataupun pemulihan tidak memadai setelah adanya pemantauan dan terapi. Tindakannya sendiri bergantung pada kondisi saraf, usia pasien, serta fungsi yang masih tersisa. Keputusan operasi perlu dibahas dengan dokter spesialis yang menangani cedera pleksus brakialis. 

Cara Mengurangi Risiko Komplikasi Erbs Palsy

Tidak semua cedera pleksus brakialis ini bisa Anda cegah. Tapi, penilaian medis yang tepat dan tindak lanjut sesuai anjuran bisa membantu mendukung pemulihan serta mengurangi risiko kekakuan sendi. 

  • Ikuti Program Latihan yang Direkomendasikan: Lakukan latihan gerak sesuai instruksi dokter ataupun terapis. Latihan yang sesuai bisa membantu menjaga kelenturan sendi selama proses pemulihan saraf. Hindari menarik ataupun sampai mengangkat lengan bayi secara paksa ketika memegang atau memindahkannya.

  • Pantau Perkembangan Gerakan Lengan: Perhatikan apakah gerakan lengannya semakin baik ataupun justru malah memburuk. Catat perubahan yang terlihat dan juga sampaikan saat kontrol.

  • Lakukan Kontrol Sesuai Jadwal: Kontrol berkala akan membantu dokter menilai perkembangan fungsi lengan dan juga menentukan apakah rencana perawatan perlu disesuaikan.

Selain itu, untuk ibu hamil, sebaiknya lakukan evaluasi lebih lanjut jika memiliki berat badan berlebih (obesitas), menderita diabetes, ada riwayat Erb palsy pada kehamilan sebelumnya, hamil kembar, dan posisi bayi sungsang.

Sedangkan untuk anak yang lebih besar atau orang dewasa, gunakan perlengkapan pelindung memadai jika melakukan aktivitas fisik atau mengendarai motor. 

Kapan Perlu Berkonsultasi dengan Dokter?

Segera minta penilaian medis jika bayi menunjukkan gejala Erbs palsy. Meliputi tidak menggerakkan salah satu lengan, tampak lemas di satu sisi, atau menunjukkan perbedaan gerakan. Pemeriksaan juga akan sangat diperlukan jika anak maupun orang dewasa mengalami kelemahan, mati rasa, atau sulit menggerakkan lengan.

Jika kelemahan muncul mendadak, apalagi setelah trauma berat, jangan terus menunda. Pemeriksaan dini akan membantu Anda memahami apakah memang terjadi cedera saraf, patah tulang, ataupun masalah lain yang membutuhkan penanganan. Semakin cepat penangananya, semakin besar peluang pulihnya!

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Cleveland Clinic — Erb’s Palsy: What Is It, Symptoms, Causes & Treatment

  2. Children’s National Hospital — Pediatric Brachial Plexus Palsy

  3. Children’s Health — Pediatric Brachial Plexus Birth Injuries

  4. MedlinePlus Medical Encyclopedia — Brachial Plexopathy

  5. American Academy of Pediatrics, HealthyChildren.org — Brachial Plexus Injuries in Children

  6. Kemenkes — ERB Palsy

  7. Cerebral Palsy Guide — Erb's Palsy

  8. Bisht, Supriya; Daley, Sharon F.; Madhani, Neal B. — Erb Palsy

Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila

Frequently Asked Question

Apakah Erb palsy bisa sembuh?

Sebagian kasus Erb palsy dapat membaik seiring pemulihan saraf dan terapi, terutama jika cedera hanya berupa peregangan ringan. Namun, cedera saraf yang lebih berat dapat menyebabkan kelemahan atau keterbatasan gerak jangka panjang. Pemantauan dan penanganan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mengevaluasi perkembangan pemulihan.

Apakah Erb palsy hanya terjadi pada bayi?

Tidak. Erb palsy sering dikaitkan dengan cedera saraf saat persalinan, tetapi cedera pleksus brakialis juga dapat terjadi pada anak yang lebih besar maupun orang dewasa akibat kecelakaan, jatuh, olahraga kontak, atau trauma yang menarik area leher dan bahu.

Apakah semua kasus Erb palsy membutuhkan operasi?

Tidak. Sebagian pasien dapat ditangani dengan pemantauan berkala, fisioterapi, dan terapi okupasi untuk menjaga rentang gerak sendi. Operasi dapat dipertimbangkan jika kerusakan saraf tergolong berat atau pemulihan tidak memadai setelah pemantauan dan terapi.

Apa saja gejala Erb palsy pada bayi?

Gejala Erb palsy pada bayi dapat berupa salah satu lengan yang tampak lemas, jarang digerakkan, sulit diangkat pada bagian bahu, atau sulit menekuk siku. Posisi lengan dan pergelangan tangan juga dapat terlihat berbeda. Jika bayi menunjukkan tanda tersebut, segera minta penilaian dokter.

Bagaimana Erb palsy didiagnosis dan ditangani?

Dokter menilai riwayat cedera, kekuatan otot, gerakan, refleks, dan sensasi pada lengan. Jika diperlukan, pemeriksaan tambahan dapat mencakup elektromiografi (EMG), tes konduksi saraf, rontgen, atau MRI. Penanganan disesuaikan dengan tingkat cedera dan dapat meliputi fisioterapi, terapi okupasi, pemantauan, atau operasi pada kasus tertentu.