Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Hiperkalemia
Kembali ke Artikel & Berita

Hiperkalemia: Gejala dan Penyebab | Bumame

SBAOthers

Masih banyak orang yang belum memahami hiperkalemia, yaitu kondisi ketika kadar kalium dalam darah terlalu tinggi. Gangguan kesehatan ini bisa berkaitan dengan pola makan atau karena dipengaruhi oleh gangguan fungsi ginjal, obat-obatan, dan masalah kesehatan tertentu.

Artikel ini akan membahas pengertian, gejala, penyebab, penanganan, serta pola makan yang tepat untuk membantu mencegah hiperkalemia sebelum menimbulkan komplikasi. 

Apa itu Hiperkalemia?

Hiperkalemia adalah kondisi di mana seseorang memiliki kadar kalium yang tinggi di dalam darah. Kalium sendiri merupakan elektrolit positif dalam darah yang dalam kadar seimbang bisa sangat membantu tubuh untuk dapat berfungsi dengan baik.

Kalium sangat berguna dalam beberapa fungsi tubuh, seperti membantu otot untuk berkontraksi, membantu saraf dalam mengirim sinyal dari otak, memberi nutrisi dalam sel dan mengeluarkan zat sisa dalam sel, serta menyeimbangkan kadar natrium dalam darah.

Asupan kalium untuk tubuh umumnya berasal dari makanan dan minuman yang dikonsumsi. Organ tubuh yang mengatur jumlah kalium adalah ginjal. Ginjal akan membuang kelebihan kalium dengan cara mengeluarkannya melalui urine. Namun, ada kondisi dimana ginjal gagal mengeluarkan kelebihan kalium yang membuat kadar kalium sangat tinggi.

Ketika ginjal gagal membuang kalium, maka akan mengendap di dalam darah. Kondisi inilah yang sangat berbahaya karena kalium tersebut bisa memengaruhi kinerja jantung, ginjal, dan otot. Di kasus yang berat, seseorang bisa mengalami serangan jantung.

Hiperkalemia Ringan vs Berat

Normalnya, kadar kalium dalam darah adalah sekitar 3,5-5,5 mEq/L untuk orang dewasa, sedangkan untuk bayi adalah 6,5 mEq/L. Untuk menentukan tipe hiperkalemia yang terjadi, pembedanya ada dua, yakni ringan dan berat.

Hiperkalemia ringan terjadi jika kadar kalium di darah mencapai 5,1-7,0 mEq/L dan biasanya tidak ada gejala. Namun, tetap membutuhkan pengecekan rutin untuk mengontrol jumlahnya dalam darah.

Sementara itu, hiperkalemia berat terjadi ketika kadar kalium di tubuh lebih dari 7 mEq/L yang bisa menandakan seseorang mengalami gagal ginjal dan bahkan berdampak pada kematian.

Gejala Hiperkalemia

Seseorang dengan hiperkalemia ringan jarang menunjukkan gejala apapun. Namun, jika seseorang terindikasi menderita kondisi lebih berat, beberapa gejala berikut dapat muncul.

  • Rasa nyeri di area perut yang tidak berkesudahan.

  • Diare.

  • Mual dan muntah.

  • Nyeri di dada.

  • Detak jantung terasa lebih cepat.

  • Aritmia, yaitu ketika ritme detak jantung tidak teratur.

  • Otot melemah dan sendi terasa nyeri.

Beberapa gejala di atas terlihat normal dan bagi sebagian orang gejala tersebut bisa dianggap angin lalu. Namun, hal yang paling penting adalah melakukan deteksi dini penyakit jantung rutin untuk mengetahui kadar kalium di darah dan kapan harus berwaspada.

Penyebab Hiperkalemia

Berikut adalah beberapa penyebab hiperkalemia yang wajib Anda waspadai:

  • Gagal ginjal, yakni kondisi di mana ginjal mengalami masalah dalam menyaring sisa kalium dalam darah sehingga tidak bisa terbuang keluar tubuh dan tetap berada dalam darah. 

  • Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti penghambat ACE (angiotensin-converting enzyme inhibitors), ARB (angiotensin receptor blockers), penghambat beta, dan suplemen penambah kalium terlalu banyak. Obat-obatan tersebut dapat mengurangi pembuangan kalium melalui ginjal atau memengaruhi perpindahan kalium di dalam tubuh.

  • Asupan kalium berlebihan, terutama dari suplemen kalium atau pengganti garam yang mengandung kalium klorida.

  • Penyakit bawaan lain, seperti diabetes dan penyakit jantung yang bisa merusak kinerja ginjal yang akhirnya berdampak gagal ginjal.

  • Penyakit Addison, yaitu gangguan kelenjar adrenal yang menyebabkan tubuh kekurangan hormon tertentu, termasuk hormon yang membantu mengatur keseimbangan natrium dan kalium.

  • Dehidrasi atau kekurangan cairan.

  • Kerusakan jaringan atau sel darah merah, misalnya akibat luka bakar berat dan cedera parah.

Diagnosis Kadar Kalium Darah

Banyak orang yang tidak sadar jika kalium dalam darah mereka tinggi karena tidak merasakan gejala apapun, terutama pada tahap ringan. Salah satu cara untuk mengetahui kadar kalium dalam darah adalah dengan melakukan pengecekan darah.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar kalium yang tinggi atau pasien memiliki faktor risiko tertentu, dokter dapat melakukan elektrokardiogram (EKG) untuk mendeteksi gangguan pada hantaran listrik dan irama jantung yang dapat terjadi akibat peningkatan kadar kalium. Namun, hasil EKG tidak selalu mencerminkan tingkat keparahan kondisi, sehingga tetap perlu diinterpretasikan bersama hasil pemeriksaan darah.

Cara Mengatasi Hiperkalemia

Untuk mengatasi hiperkalemia, seseorang perlu melakukan beberapa penanganan medis sebelum berdampak lebih parah terhadap tubuh. Berikut adalah beberapa penanganannya.

  • Pemberian insulin dan glukosa melalui infus (intravenous/IV) untuk membantu menurunkan kadar kalium dalam darah.

  • Pemberian obat diuretik untuk mengeluarkan kelebihan kalium melalui urine, sehingga seseorang akan lebih sering buang air kecil.

  • Pemberian obat pengikat kalium, biasanya berbentuk bubuk, untuk mengikat kalium di saluran pencernaan sehingga dapat dikeluarkan bersama feses.

  • Penyesuaian obat-obatan tertentu, seperti penggunaan obat untuk tekanan darah tinggi yang dapat meningkatkan kadar kalium. Penyesuaian ini harus dilakukan berdasarkan anjuran dokter.

  • Dialisis untuk menghilangkan kalium berlebih dalam darah. Biasanya penanganan ini dilakukan ketika penanganan lain tidak berhasil dan seseorang mengalami gagal ginjal.

Pencegahan Hiperkalemia Melalui Pola Makan

Hal yang paling mendasar untuk mencegah terjadi hiperkalemia adalah melalui pola makan. Berikut adalah beberapa bahan makanan yang rendah kalium dan tinggi kalium sehingga bisa memilah mana yang baik untuk kesehatan Anda.

1. Karbohidrat

Pilihan yang lebih rendah kalium

Pilihan yang perlu dibatasi

Nasi, pasta, dan sebagian besar biji-bijian.

Kentang, singkong, ketela, ubi, dan umbi-umbian lain.

Sereal tanpa buah kering dan cokelat.

Sereal yang mengandung buah kering, kacang, dan cokelat.

Roti tawar, roti gandum, kulit tortilla.

Roti yang mengandung kacang atau buah kering.

Kentang, singkong, ketela, dan umbi-umbian lain sebaiknya direbus terlebih dahulu dengan banyak air. Air rebusannya perlu dibuang dan tidak digunakan kembali untuk sup atau saus. Porsinya juga perlu dibatasi, misalnya sekitar satu porsi per hari sesuai anjuran ahli gizi.

2. Buah

Buah Rendah Kalium

Porsi

Apel

1 ukuran sedang

Blackberry

125 gram

Blueberry

125 gram

Cherry

125 gram

Anggur

125 gram

Jeruk Mandarin

125 gram

Persik

1 buah kecil

Nanas

125 gram

Stroberi

125 gram

Semangka

250 gram

Sebaiknya dikonsumsi sebanyak 2-3 porsi per hari.

3. Sayuran

Sayuran Rendah Kalium

Porsi

Asparagus

6 buah

Brokoli

125 gram

Kubis

125 gram

Wortel

125 gram

Kembang Kol

125 gram

Seledri

1 tangkai

Timun

125 gram

Terung

125 gram

Bawang Bombay

125 gram

Sama seperti buah-buahan, sebaiknya hanya dikonsumsi 2-3 porsi per hari.

4. Susu dan Produk Olahannya

Pilihan yang lebih rendah kalium

Pilihan yang perlu dibatasi

Susu oat atau susu gandum, dengan memperhatikan label kandungan kalium.

Susu hewani bisa diminum sekitar 300 ml per hari.

Keju dalam jumlah sesuai anjuran.

Yoghurt, puding susu, dan es krim.

5. Daging, Ikan, dan Sumber Protein Lainnya

Pilihan protein rendah kalium

Pilihan protein yang perlu diperhatikan porsinya

Daging sapi, ikan, seafood, semua jenis tahu dan telur.

Biji-bijian dan kacang-kacangan

Bagi vegetarian, kacang lentil merah atau kacang arab dapat menjadi alternatif sumber protein, tetapi porsinya tetap perlu disesuaikan karena beberapa jenis kacang mengandung kalium cukup tinggi.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika seseorang telah didiagnosis mengalami hiperkalemia, pemeriksaan kadar kalium secara berkala diperlukan untuk membantu menjaganya tetap stabil. Namun, jika belum pernah didiagnosis, segera periksakan diri ke dokter apabila muncul beberapa tanda berikut:

  • Diare tidak kunjung mereda.

  • Perut nyeri tak tertahan.

  • Muntah dan mual.

  • Pusing.

  • Kesusahan bernapas.

  • Otot melemah.

  • Gejala serangan jantung seperti dada sakit atau denyut lemah.

Segera menuju rumah sakit terdekat untuk dilakukan pengecekan ginjal dan organ lain lebih lanjut serta mendapatkan penanganan yang sesuai untuk meredakan gejala.

Cegah Hiperkalemia Sejak Dini!

Hiperkalemia sering kali tidak menimbulkan gejala, tetapi kadar kalium yang terlalu tinggi dapat mengganggu fungsi jantung dan menyebabkan komplikasi serius. Lakukan pemeriksaan darah membantu mengetahui kadar kalium sehingga kondisi ini dapat dideteksi dan ditangani lebih awal.

Bumame menyediakan layanan pemeriksaan kadar kalium dalam darah untuk membantu mengevaluasi keseimbangan elektrolit dalam tubuh serta mengetahui kadar kalium dan mengantisipasi risiko hiperkalemia. Biaya pemeriksaannya pun terjangkau, hanya Rp150.000. 

Konsultasikan kebutuhan pemeriksaan selengkapnya dengan menghubungi WhatsApp Bumame.

FAQ Seputar Hiperkalemia

1. Apakah hiperkalemia menular?

Hiperkalemia tidak bisa ditularkan, namun ada beberapa kasus langka penyakit ini dapat diturunkan melalui genetik.

2. Apa yang terjadi jika kadar kalium dalam darah tiba-tiba meningkat?

Banyak orang yang tidak merasakan gejala tertentu tapi ada juga yang merasa tidak enak badan dan lemas.

3. Apakah hiperkalemia dapat menyebabkan komplikasi?

Iya, ginjal yang gagal membuang sisa kalium akan memengaruhi kinerja jantung dan bisa berdampak pada gagal jantung. 

4. Apakah kadar kalium yang tinggi bisa menjadi normal?

Bisa, dengan penanganan yang tepat kadar kalium akan kembali normal.

5. Apa perbedaan hiperkalemia dan hipokalemia

Hiperkalemia adalah kondisi kadar kalium dalam darah terlalu tinggi sedangkan hipokalemia adalah kondisi di mana kadar kalium dalam darah terlalu rendah.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Source:

Cleveland Clinic. (2023). Hyperkalemia (High Potassium).
Med Scape. (2025). Hyperkalemia
Mayo Clinic. (2024). High Potassium (hyperkalemia)
National Kidney Foundation. (2025). High Potassium (hyperkalemia)
UPMC Life Changing Medicine. (2025). Hyperkalemia.
Cambridge University Hospitals. (2025). Potassium lowering dietary advice
National Kidney Foundation. (2022). 40 Low Potassium Fruits and Vegetables to Add to Your Grocery List

Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna

Frequently Asked Question

Apa itu hiperkalemia?
Hiperkalemia adalah kondisi ketika kadar kalium dalam darah terlalu tinggi. Kondisi ini dapat mengganggu fungsi jantung, ginjal, dan otot, terutama jika kadar kalium meningkat secara signifikan. 
Apa saja gejala hiperkalemia?
Hiperkalemia ringan sering tidak menimbulkan gejala. Pada kondisi yang lebih berat, gejalanya dapat berupa nyeri perut, diare, mual dan muntah, nyeri dada, detak jantung cepat atau tidak teratur, serta kelemahan otot. 
Apa penyebab hiperkalemia?
Penyebab hiperkalemia antara lain gagal ginjal, penggunaan obat tertentu, konsumsi suplemen atau asupan kalium berlebihan, diabetes dan penyakit jantung yang memengaruhi fungsi ginjal, penyakit Addison, dehidrasi, serta kerusakan jaringan atau sel darah merah.
Bagaimana cara mengetahui dan mengatasi hiperkalemia?
Hiperkalemia dapat diketahui melalui pemeriksaan darah untuk mengukur kadar kalium, dan dokter dapat melakukan EKG untuk melihat gangguan irama atau hantaran listrik jantung. Penanganannya dapat meliputi insulin dan glukosa, diuretik, obat pengikat kalium, penyesuaian obat tertentu, hingga dialisis pada kondisi tertentu. 
Makanan apa yang perlu diperhatikan saat mengalami hiperkalemia?

Pola makan perlu disesuaikan dengan memilih makanan yang lebih rendah kalium dan membatasi sumber kalium tinggi. Pilihan yang dicantumkan dalam artikel antara lain nasi, pasta, apel, nanas, stroberi, brokoli, kubis, wortel, serta daging dan ikan dengan porsi yang sesuai.