Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Hiperkalsemia: Penyebab, Gejala, dan Terapi yang Tepat
Kembali ke Artikel & Berita

Hiperkalsemia: Penyebab, Gejala, dan Terapi yang Tepat

SBAOthers

Saat melakukan kegiatan, apakah pernah tiba-tiba merasa lelah dengan cepat hingga mengganggu kegiatan sehari-hari? Hal ini tentu dapat menimbulkan kekhawatiran, terutama jika berlangsung terus-menerus. Salah satu penyebabnya bisa jadi karena hiperkalsemia, yaitu kadar kalsium dalam darah yang melebihi batas normal. 

Pahami tanda-tanda, faktor penyebab, dan opsi pengobatannya agar Anda lebih memahami keadaan ini.

Mengenal Apa Itu Hiperkalsemia dan Pengaruhnya bagi Tubuh

Arti hiperkalsemia adalah kondisi ketika kadar kalsium dalam darah melebihi batas normal. Sebenarnya, tubuh memerlukan kalsium untuk mempertahankan kekuatan tulang dan gigi, mendukung aktivitas otot, serta membantu fungsi sistem saraf. Apabila kadarnya berlebihan, keseimbangan tubuh dapat terpengaruh.

Umumnya, hiperkalsemia ditandai dengan kadar kalsium total di atas 10,5 mg/dL. Meski begitu, dokter tetap perlu mempertimbangkan hasil tes, riwayat kesehatan, dan kondisi pasien untuk mengonfirmasi diagnosisnya. Kondisi ini tidak dapat dipastikan hanya dari gejala fisik tanpa pemeriksaan yang tepat.

Tubuh mengontrol kadar kalsium melalui kerja tulang, ginjal, saluran pencernaan, dan hormon paratiroid. Ketika proses ini terhambat, jumlah kalsium dapat meningkat. Oleh karena itu, pengujian darah penting untuk membantu dokter dalam menilai keadaan serta mencari sumber masalahnya.

Tanda-Tanda Kadar Kalsium Darah yang Tinggi

Hiperkalsemia tidak selalu menunjukkan tanda-tanda yang terlihat. Beberapa orang mungkin baru menyadari adanya kondisi ini saat mereka menjalani tes darah rutin. 

Namun, peningkatan tingkat kalsium dalam darah dapat menyebabkan sejumlah gejala dan bisa bervariasi antarindividu, tergantung pada kadar kalsium dalam darah dan seberapa cepat peningkatannya terjadi.

Inilah beberapa tanda gangguan kalsium darah yang harus Anda waspadai.

1. Mudah Lelah dan Lemas

Tubuh dapat merasakan keletihan lebih cepat walaupun tidak melakukan tugas-tugas berat. Tingginya kadar kalsium dapat berdampak pada fungsi otot sehingga tubuh menjadi lemah dan kegiatan sehari-hari menjadi tidak nyaman.

2. Mual, Muntah, dan Sembelit

Hiperkalsemia bisa memengaruhi sistem pencernaan. Penderita dapat merasakan mual, muntah, penurunan nafsu makan, atau kesulitan dalam buang air besar. Segera pergi ke dokter apabila gejalanya makin parah.

3. Sering Haus dan Buang Air Kecil

Tingginya kadar kalsium dapat merusak kemampuan ginjal untuk mengonsentrasikan urine. Akibatnya, bisa menyebabkan sering buang air kecil dan merasa haus berlebihan. Jika kehilangan cairan tubuh tidak segera diganti, hal ini bisa berujung pada dehidrasi.

4. Nyeri pada Tulang

Beberapa individu mungkin mengalami rasa sakit pada tulang, khususnya apabila peningkatan kadar kalsium berkaitan dengan kondisi yang berpengaruh pada tulang. Meskipun demikian, nyeri tulang tidak selalu menjadi indikasi gangguan kadar kalsium darah, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebabnya oleh dokter.

5. Kesulitan Berkonsentrasi atau Kebingungan

Apabila kadar kalsium naik cukup signifikan, kondisi ini bisa berdampak pada fungsi otak. Anda mungkin mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi, rasa mengantuk yang berlebihan, atau bahkan kebingungan. Jika kebingungan tiba-tiba muncul atau terjadi penurunan tingkat kesadaran, segera minta bantuan medis.

6. Gangguan pada Irama Jantung

Dalam situasi yang parah, gangguan ini bisa memengaruhi aktivitas listrik jantung sehingga menyebabkan gangguan irama jantung. Jika mengalami palpitasi (sensasi jantung berdebar kencang) yang disertai rasa sakit di dada, sesak napas, atau pingsan, segera cari bantuan medis.

Penyebab Hiperkalsemia dan Faktor yang Meningkatkan Risikonya

Kadar kalsium dalam darah bisa meningkat karena berbagai hal, mulai dari gangguan hormon hingga efek samping obat. Oleh karena itu, hiperkalsemia tidak selalu disebabkan oleh konsumsi makanan yang mengandung banyak kalsium. Berikut ini beberapa hal yang bisa memengaruhi jumlah kalsium dalam darah.

1. Gangguan Kelenjar Paratiroid

Kelenjar paratiroid berfungsi untuk mengendalikan level kalsium dalam aliran darah dengan bantuan hormon paratiroid. Apabila kelenjar ini beroperasi secara berlebihan, hormon paratiroid yang diproduksi meningkat dan mendorong pelepasan kalsium dari tulang ke dalam darah. 

Hormon ini juga membantu ginjal menyerap kembali kalsium serta meningkatkan penyerapan kalsium dari makanan di usus melalui aktivasi vitamin D. Ini dapat menyebabkan level kalsium dalam darah melebihi nilai normal.

2. Penyakit dan Kondisi Medis Tertentu

Beberapa tipe kanker bisa meningkatkan level kalsium dengan cara memengaruhi pengaturan kalsium atau akibat dari penyebaran sel kanker ke jaringan tulang. Selain itu, jenis penyakit lain yang dapat memengaruhi keseimbangan mineral dalam tubuh juga dapat menjadi faktor penyebab hiperkalsemia.

3. Konsumsi Suplemen Kalsium dan Vitamin D Berlebihan

Vitamin D berperan dalam membantu tubuh menyerap kalsium yang diperoleh dari makanan, sehingga dosis suplemen harus disesuaikan dengan kebutuhan serta rekomendasi dari tenaga kesehatan agar tidak berlebihan.

4. Kekurangan Cairan atau Dehidrasi

Dehidrasi dapat menyebabkan kadar kalsium dalam darah lebih tinggi karena tubuh kehilangan banyak cairan. Saat cairan berkurang, volume darah menurun dan ginjal menjadi lebih efisien menyerap kembali kalsium untuk menjaga keseimbangan cairan. Ini berakibat pengeluaran kalsium melalui urine jadi berkurang, yang pada akhirnya dapat memperburuk hiperkalsemia yang sudah ada.

5. Penggunaan Obat Tertentu

Kadar kalsium dalam tubuh bisa berubah karena pengaruh beberapa jenis obat, seperti diuretik yang berupa lithium dan tiazid. Obat-obatan tersebut dapat memengaruhi cara ginjal mengatur kalsium sehingga kadarnya berpotensi meningkat. 

Bagaimana Dokter Mendiagnosis Hiperkalsemia?

Untuk keperluan diagnosa, dokter tidak hanya mengevaluasi tanda-tanda hiperkalsemia yang dialami, tetapi juga melakukan analisis terhadap kadar kalsium di dalam darah. Inilah beberapa jenis pemeriksaan tambahan apa yang mungkin diperlukan.

1. Tes Kalsium Darah

Dokter perlu akan memeriksa kalsium total (kalsium yang ada dalam sirkulasi bebas di dalam darah) atau kalsium terionisasi (kalsium yang terdapat di dalam darah).

2. Pemeriksaan Hormon Paratiroid (PTH)

Dokter bisa memeriksa kadar albumin dan hormon paratiroid (PTH) untuk mengetahui dari mana peningkatan kalsium dalam darah berasal. Albumin adalah protein yang membantu dalam mengetahui hasil total kalsium, sedangkan PTH digunakan untuk mengecek kemungkinan masalah pada kelenjar paratiroid. 

Untuk memperkuat analisis tersebut, Bumame menawarkan Tes Albumin sebagai salah satu pemeriksaan laboratorium yang bisa dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan.

3. Tes Fungsi Ginjal

Dokter dapat meminta pemeriksaan kreatinin untuk menilai fungsi ginjal dan mengetahui apakah ada masalah yang berkaitan dengan hiperkalsemia. Pemeriksaan ini juga membantu dokter menentukan pemeriksaan lanjutan yang diperlukan, karena ginjal berperan penting dalam menjaga keseimbangan mineral tubuh, termasuk kalsium.

4. Pemeriksaan Vitamin D

Dokter dapat memeriksa kadar vitamin D untuk menemukan penyebab peningkatan kalsium, terutama jika ada dugaan konsumsi suplemen berlebihan, karena vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium dari makanan.

Pilihan Terapi untuk Menormalkan Kadar Kalsium

Jenis pengobatan atau terapi hiperkalsemia bergantung pada kadar kalsium dalam darah, keparahan gejala, dan penyebab yang mendasarinya. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter akan menentukan terapi yang paling sesuai dengan kondisi.

Berikut beberapa pilihan terapi yang dapat dilakukan untuk membantu menurunkan kadar kalsium kembali ke batas normal.

1. Mencukupi Kebutuhan Cairan

Dokter mungkin menyarankan pasien untuk minum air secukupnya agar bisa menghindari risiko dehidrasi. Apabila kondisinya lebih berat, pasien mungkin perlu menerima cairan melalui infus di rumah sakit.

2. Menyesuaikan Penggunaan Obat dan Suplemen

Dokter dapat mengevaluasi penggunaan suplemen atau obat tertentu dan menyesuaikan dosis jika terkait dengan peningkatan kalsium, atau mengganti jenis obatnya bila diperlukan. Jangan menghentikan atau mengubah dosis obat resep sendiri tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

3. Menggunakan Obat Penurun Kalsium

Dokter bisa memberikan obat jenis bifosfonat agar kadar kalsium dalam tubuh bisa berkurang. Salah satu obatnya adalah asam zoledronat, yang dilaporkan dapat membantu mengatasi hiperkalsemia pada empat bayi yang mengalami nekrosis lemak di bawah kulit. 

Meski demikian, pemilihan obat tetap perlu disesuaikan dengan penyebab serta kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.

4. Menjalani Terapi Lanjutan untuk Kondisi Berat

Jika kondisi sudah berat, disertai gangguan ginjal, atau tidak merespons penanganan lain, maka dokter bisa mempertimbangkan dialisis untuk membuang kelebihan kalsium di darah. Namun, keputusan ini tetap bergantung pada kondisi pasien dan hasil evaluasi medis oleh dokter.

Langkah-Langkah untuk Mengurangi Risiko Hiperkalsemia

Walaupun tidak semua kasus dapat dicegah, mengikuti beberapa kebiasaan sehat berikut dapat membantu Anda menjaga keseimbangan kalsium dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

  • Minum air yang cukup sehingga kadar air terpenuhi.

  • Hindari mengonsumsi kalsium dan vitamin D secara berlebihan.

  • Periksakan segera ke dokter jika memiliki masalah ginjal yang memengaruhi kadar kalsium.

  • Pantau selalu kadar kalsium pada masa pemulihan penyakit tertentu.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Mempertahankan keseimbangan kalsium sangat penting agar tubuh tetap sehat. Oleh karena itu, jangan mengabaikan keluhan yang terus muncul dan jangan mengonsumsi suplemen secara berlebihan tanpa petunjuk dari tenaga medis. 

Secepatnya konsultasikan dengan dokter jika Anda merasa ada gejala hiperkalsemia yang mengganggu, agar dapat diatasi dengan tepat.

Pemeriksaan kadar kalsium sejak dini juga perlu dipertimbangkan. Lakukan Tes Kalsium dari Bumame guna membantu mengukur kadar kalsium dalam darah sebagai bagian dari evaluasi kesehatan tulang, kelenjar paratiroid, dan keseimbangan mineral tubuh. 

Pemeriksaan ini juga dapat membantu menilai mineral, vitamin, atau penanda metabolisme tulang yang berperan dalam kekuatan tulang.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. Jurnal PREPOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat

  2. Journal of Noncommunicable Diseases Prevention and Control

  3. Cureus — The Hidden Dangers of Hypercalcemia: A Case Report of Undiagnosed Symptoms Leading to Complications

  4. StatPearls Publishing — Hypercalcemia

  5. Kuzmova, M., Marciniak, C., Gobert, M., Chetboun, M., Baud, G., Caiazzo, R., & Pattou, F. — Risk Factors for Hypercalcemia Induced by Active Vitamin D Derivatives During Supplementation for Post-Total Thyroidectomy Hypoparathyroidism

  6. Cureus — A Case of Severe Hypercalcemia in a Patient Taking Tirzepatide: Potential Risk Factors

  7. Goltzman, D. — Approach to Hypercalcemia

  8. Zhu, S., Chen, L., Ying, J., Ye, H., & Huang, J. — Hypercalcemia and Acute Kidney Injury Caused by Occupational Inhalation of Vitamin D3: A Case Report

  9. Journal of Veterinary Internal Medicine

  10. Kotthurthi, K., et al. — Zoledronic Acid as a Therapeutic Option for Hypercalcemia in Subcutaneous Fat Necrosis: Series of Four Infants

  11. Rahil, A. I. A., El-Bardissy, A., Osman, A. E., et al. — Severe Resistant Hypercalcemia Complicating Rhabdomyolysis: A Case Report and Review of the Literature

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Apakah hiperkalsemia berbahaya?

Ya. Hiperkalsemia yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk gangguan fungsi ginjal dan irama jantung.

Apa yang menyebabkan hiperkalsemia terjadi?

Hiperkalsemia dapat disebabkan oleh kelenjar paratiroid yang terlalu aktif, penyakit tertentu seperti kanker, dehidrasi, serta penggunaan obat atau suplemen yang memengaruhi kadar kalsium darah.

Bagaimana cara mengobati hiperkalsemia?

Penanganan hiperkalsemia bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Dokter dapat menyarankan pemenuhan cairan, penyesuaian obat atau suplemen, pemberian obat penurun kalsium, hingga dialisis pada kondisi tertentu. Jangan mengubah obat resep atau mengonsumsi suplemen tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Apa saja gejala hiperkalsemia yang perlu dikenali?

Gejala hiperkalsemia dapat berupa mudah lelah, lemas, mual, muntah, sembelit, sering haus, sering buang air kecil, nyeri tulang, dan kesulitan berkonsentrasi. Pada kondisi berat, hiperkalsemia juga dapat menyebabkan kebingungan dan gangguan irama jantung.

Pemeriksaan apa yang diperlukan untuk mendiagnosis hiperkalsemia?

Diagnosis hiperkalsemia dapat melibatkan tes kalsium darah, pemeriksaan albumin dan hormon paratiroid (PTH), tes fungsi ginjal, serta pemeriksaan vitamin D. Dokter menentukan pemeriksaan sesuai gejala dan kondisi pasien.