Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Beser: Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Kembali ke Artikel & Berita

Beser: Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

SBAOthers

Bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil pasti akan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, apalagi jika terjadi saat bekerja, bepergian, atau beristirahat. Tapi, kondisi ini sering dialami banyak orang dan umumnya disebut dengan beser. Beser adalah kondisi saat tubuh lebih sering buang air kecil daripada normalnya atau sulit untuk menahan keinginan untuk berkemih. 

Penyebab beser cukup beragam, mulai dari kebiasaan minum terlalu banyak, konsumsi minuman berkafein, hingga ada gangguan kesehatan tertentu. Lantas, bagaimana cara mengatasinya dan kapan kondisi ini perlu cek ke dokter? Ketahui jawabannya di artikel ini.

Apa Itu Beser?

Beser adalah kondisi saat tubuh lebih sering buang air kecil dari normalnya atau terus-menerus mengalami dorongan berkemih yang susah untuk ditahan. Kondisi ini bisa terjadi di siang ataupun malam hari dan terkadang disertai keluarnya urine tanpa disengaja.

Penyebabnya pun beragam, salah satunya kandung kemih overaktif, tapi juga bisa saja terjadi karena konsumsi kafein terlalu banyak, atau ada infeksi saluran kemih dan diabetes.

Gejala Beser

Secara umum, beser ditandai dengan frekuensi dan dorongan buang air kecil yang lebih tinggi dari normalnya, terjadi secara mendadak dan susah ditahan, bahkan frekuensinya bisa lebih dari 8 kali dalam 24 jam.

Selain itu, beser bisa saja disertai dengan gejala lainnya, tergantung dari sebab yang mendasarinya. Gejala-gejala tersebut meliputi:

  • Nyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil, yang bisa jadi tanda infeksi saluran kemih.

  • Urine keruh atau berdarah, yang bisa jadi alarm bahwa ada infeksi hingga batu saluran kemih.

  • Aliran urine lemah yang bisa jadi sinyal ada gangguan pengosongan di kandung kemih.

  • Demam atau menggigil disertai nyeri pinggang, yang mana bisa jadi tanda infeksi saluran kemih yang lebih serius.

Penyebab dan Faktor Risiko Beser

Beser bisa terjadi karena berbagai faktor, mulai dari kebiasaan sehari-hari hingga masalah kesehatan tertentu yang butuh penanganan medis. Adapun penyebab beser adalah:

  • Kandung kemih overaktif (overactive bladder), yaitu kondisi saat otot kandung kemih berkontraksi tak terkendali sehingga muncul dorongan yang kuat dan mendadak untuk buang air kecil bahkan sebelum urine belum banyak terkumpul di kandung kemih.

  • Infeksi saluran kemih (ISK), karena bisa menyebabkan peradangan dan iritasi yang akhirnya memicu keinginan buang air kecil berulang.

  • Diabetes, yaitu kondisi saat kadar gula darah di tubuh tinggi sehingga membuat ginjal harus buang kelebihan glukosa dari urine yang pada akhirnya membuat produksi urine pun naik.

  • Gangguan saraf seperti stroke, penyakit Parkinson, atau cedera sumsum tulang belakang, karena kondisi ini bisa mengganggu sinyal antara otak dan kandung kemih sehingga kontrol untuk berkemih pun jadi abnormal.

  • Batu kandung kemih, karena kondisi ini bisa mengiritasi dinding kandung kemih dan mengganggu pengosongannya sehingga bisa membuat Anda lebih sering ingin buang air kecil.

  • Efek samping obat-obatan, seperti diuretik (obat pelancar urine) karena bisa meningkatkan produksi urine.

Selain itu, ada beberapa kondisi atau kebiasaan yang bisa meningkatkan kemungkinan Anda mengalami beser, antara lain:

  • Terlalu banyak minum.

  • Konsumsi kafein, karena pada sebagian orang, ini bisa menaikkan produksi urine atau merangsang kandung kemih.

  • Stres dan kecemasan, karena bisa memengaruhi respons sistem saraf dan perkuat sensasi ingin buang air kecil.

  • Sedang hamil, karena perubahan hormon selama kehamilan bisa menaikkan aliran darah ke ginjal dan rahim yang membesar bisa menekan kandung kemih sehingga frekuensi berkemih pun naik.

  • Menopause, karena pada fase ini kadar estrogen tubuh menurun, yang bisa memengaruhi jaringan saluran kemih dan fungsi kandung kemih.

Bagaimana Keluhan Beser Didiagnosis?

Dalam mendiagnosis gangguan ini, dokter biasanya akan mulai dengan wawancara medis, kemudian diikuti dengan cek fisik, dan merekomendasikan pengecekan lanjutan sesuai kondisi, yang meliputi:

  • Tes urine (urinalysis), dilakukan dengan mengambil sampel urine penderita, kemudian dicek di laboratorium untuk melihat tanda-tanda infeksi hingga kandungan glukosanya. Selain itu, dokter mungkin juga akan melakukan kultur urine untuk mengidentifikasi jenis bakteri jika infeksi terjadi.

  • Tes darah, dilakukan dengan mengambil sampel darah pasien untuk kemudian dicek kadar gula darah serta kadar elektrolitnya. Hasilnya bisa membantu identifikasi kemungkinan penyebab beser, seperti diabetes atau gangguan fungsi ginjal, yang tidak bisa dipastikan hanya dengan tes urine. Untuk tes darah dan urine bisa dilakukan di layanan Medical Check Up Basic Bumame.

  • USG, dilakukan untuk melihat kondisi ginjal, kandung kemih, atau prostat, dan menentukan apakah ada kelainan struktural yang menjadi penyebab beser.

  • Pengecekan urodinamik, dilakukan dengan mengukur tekanan di dalam kandung kemih dan aliran urine, untuk menilai kemampuan dari kandung kemih dalam menyimpan dan mengeluarkan urine, terutama jika dokter mencurigai adanya kandung kemih overaktif atau gangguan pengosongan di dalamnya.

  • Sistoskopi, dilakukan dengan memasukkan alat tipis berbentuk selang yang dilengkapi kamera melalui uretra untuk melihat kondisi bagian dalam kandung kemih dan mencari kelainan, seperti batu, peradangan, atau pertumbuhan jaringan abnormal, yang menjadi penyebab beser.

Cara Mengobati Beser 

Cara mengatasi beser umumnya disesuaikan dengan penyebabnya, tapi biasanya pilihan pengobatan beser adalah:

  • Latihan otot dasar panggul (Kegel), dilakukan untuk membantu memperkuat otot-otot panggul guna menyokong fungsi kandung kemih dan mengontrol pengeluaran urine.

  • Melatih kandung kemih dengan mengatur jadwal buang air kecil dan secara bertahap memperpanjang jeda antar waktu berkemih demi melatih dorongan yang sering muncul mendadak untuk buang air kecil.

  • Mengobati infeksi saluran kemih, jika memang beser disebabkan oleh infeksi bakteri, yang biasanya dilakukan dengan konsumsi antibiotik seperti nitrofurantoin, amoxicillin, cephalexin, atau ceftriaxone, sesuai anjuran dokter.

  • Mengendalikan diabetes, terutama jika produksi urine meningkat karena gula darah yang tinggi. Caranya bisa dengan konsumsi obat-obatan, mengatur pola makan, hingga meningkatkan aktivitas fisik tertentu.

  • Mengobati kandung kemih overaktif, umumnya dilakukan dengan meresepkan obat, seperti antimuskarinik atau agonis beta-3, untuk kurangi kontraksi kandung kemih yang tak terkendali.

  • Terapi estrogen lokal pada perempuan setelah menopause terutama jika ada perubahan jaringan saluran kemih akibat dari estrogen yang turun.

  • Merubah gaya hidup dengan mengatur asupan cairan dan menghindari kafein dan alkohol serta minuman-minuman yang memicu keluhan.

  • Melakukan suntikan toksin botulinum ke otot kandung kemih jika diperlukan, untuk menstimulasi saraf guna mengatur fungsi kandung kemih. 

  • Operasi jika diperlukan, terutama jika penyebab beser adalah adanya masalah struktural atau saluran kemih yang tersumbat dan tidak bisa diatasi hanya dengan obat-obatan atau terapi fisik.

  • Cek kesehatan rutin untuk mengevaluasi hasil pengobatan dan mendeteksi jika ada komplikasi dengan lebih cepat, sehingga pengobatan pun bisa maksimal.

Strategi Mencegah Beser

Tidak semua penyebab beser memang bisa dicegah. Tapi, beberapa kebiasaan sehari-hari ini bisa membantu mengurangi frekuensi buang air kecil dan menjaga kesehatan saluran kemih, seperti:

  • Atur asupan cairan sehari-hari dengan minum air putih secukupnya sesuai kebutuhan tubuh. Hindari membatasi cairan secara berlebihan, karena hal ini justru dapat menyebabkan dehidrasi.

  • Batasi kafein dan alkohol, terutama jika setelah meminumnya akan membuat frekuensi buang air kecil meningkat.

  • Batasi minuman berkarbonasi serta makanan pedas atau asam karena ini bisa memunculkan keluhan beser pada sebagian orang.

  • Lakukan latihan otot dasar panggul (Kegel) secara rutin untuk memperkuat otot-otot yang bisa mendukung kontrol berkemih.

  • Hindari merokok, karena bisa meningkatkan risiko kanker kandung kemih, yang bisa menimbulkan gejala beser.

  • Jaga kebersihan area intim untuk mencegah infeksi yang menaikkan risiko beser.

  • Kelola stres dan kecemasan dengan istirahat yang cukup, melakukan relaksasi seperti yoga, atau melakukan hobi.

  • Cek kesehatan rutin untuk memantau kondisi tubuh dan jika ada masalah seperti beser bisa langsung diatasi agar tidak muncul komplikasi.

Kapan Beser Perlu Diperiksakan ke Dokter?

Beser yang muncul sesekali sehabis meminum banyak cairan belum tentu jadi tanda ada gangguan kesehatan. Tapi, jika frekuensi buang air kecil meningkat tanpa alasan yang jelas dan berlangsung terus-menerus, maka sebaiknya langsung cek ke dokter. 

Apalagi jika disertai nyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil, urine keruh atau berdarah, hingga demam hingga menggigil, maka pengecekan sebaiknya tidak ditunda, karena ini pertanda komplikasi yang butuh penanganan medis segera.

Beser Terus-Menerus? Saatnya Memeriksa Kesehatan Anda 

Beser adalah kondisi saat seseorang sulit menahan keinginan untuk berkemih, dan bisa jadi tanda adanya gangguan kesehatan tertentu seperti infeksi saluran kemih, kandung kemih overaktif, dan diabetes. Untuk itu, alangkah lebih baik jika Anda menerapkan cara pencegahannya serta melakukan cek kesehatan rutin.

Cek kesehatan rutin ini tidak hanya akan mendeteksi gangguan beser, tapi juga berbagai gangguan kesehatan lainnya lebih dini, sehingga risiko komplikasi bisa dicegah. Salah satu layanan yang bisa dipertimbangkan yaitu Medical Check Up Basic Bumame. 

Dalam satu layanan ini sudah mencakup cek profil darah dan urine lengkap untuk membantu menilai kondisi kesehatan secara menyeluruh, termasuk risiko beser jika ada. 

Hubungi Bumame untuk booking layanan pemeriksaannya!

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. CHAM (Community Health Assessment and Management) — Overactive Bladder

  2. Siloam Hospitals — Mengatasi Overactive Bladder (Beser) dengan Urodinamik

  3. Mandaya Hospital Group — Beser & Ngompol Bisa Diatasi dengan Botox oleh dr. Andika di RS Mandaya Royal Puri

  4. Apollo Hospitals — Frequent Urination

  5. Hermina Hospitals — Kenali Penyebab Sering Buang Air Kecil

  6. Cleveland Clinic — Urinary Urgency

  7. RS Pondok Indah — Kandung Kemih Sehat, Bebas Infeksi

  8. Poltekkes Kaltara — Tips Mencegah Beser dalam Perjalanan Mudik, Hindari Makanan dan Minuman Ini

  9. RS Darmo — Sering Buang Air Kecil? Ini Cara Bedakan Normal atau Gangguan Kemih

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Berapa kali buang air kecil yang normal dalam sehari?

Frekuensi buang air kecil umumnya sekitar 6–8 kali sehari, tetapi dapat berbeda bergantung pada asupan cairan dan kondisi tubuh. Frekuensi yang meningkat terus-menerus perlu dievaluasi jika tidak memiliki penyebab yang jelas.

Apakah beser bisa sembuh?

Beser dapat membaik atau terkendali, bergantung pada penyebabnya. Penanganan dapat berupa perubahan gaya hidup, latihan kandung kemih, obat-obatan, atau terapi medis sesuai diagnosis dokter.

Apakah beser perlu diperiksa meskipun tidak terasa sakit?

Ya. Beser yang berlangsung terus-menerus tetap perlu diperiksa meskipun tidak disertai nyeri, karena dapat berkaitan dengan kandung kemih overaktif, diabetes, atau kondisi kesehatan lainnya.

Bagaimana membedakan beser akibat infeksi saluran kemih dan kandung kemih overaktif?

Infeksi saluran kemih sering disertai nyeri atau sensasi terbakar saat berkemih, urine keruh, dan terkadang demam. Kandung kemih overaktif umumnya ditandai dorongan berkemih yang mendadak dan sulit ditahan. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Kapan beser perlu diperiksakan ke dokter?

Periksakan diri jika beser berlangsung terus-menerus tanpa alasan yang jelas, terutama jika disertai nyeri saat berkemih, urine keruh atau berdarah, demam, menggigil, atau nyeri pinggang.