Saat melihat ada bercak merah keunguan di kulit, sebagian orang mungkin menganggap ini sebagai memar biasa dan bisa hilang dengan sendirinya. Padahal, bercak seperti ini bisa saja tidak akan hilang dan malah bertambah banyak karena masalah kesehatan tertentu seperti sarkoma Kaposi.
Ini adalah jenis kanker yang ditandai dengan pertumbuhan jaringan abnormal dari sel-sel pembuluh darah sehingga memunculkan bercak hingga benjolan di kulit. Lalu, apa gejala lainnya, penyebabnya, dan cara mengatasinya? Ketahui jawabannya berikut ini.
Apa Itu Sarkoma Kaposi?
Sarkoma Kaposi (Kaposi sarcoma/KS) adalah jenis kanker langka yang tumbuh dari sel-sel pelapis pembuluh darah atau pembuluh getah bening, akibat dari adanya infeksi virus Human Herpesvirus 8 (HHV-8) atau Kaposi Sarcoma Herpes Virus (KSHV).
Penyakit ini umumnya muncul pada orang-orang dengan sistem imun tubuh yang lemah, seperti pengidap HIV/AIDS atau pasien yang telah melakukan transplantasi organ.
Gejala Sarkoma Kaposi yang Perlu Dikenali
Gejala Kaposi sarcoma bisa berbeda-beda di setiap orang, tergantung dari lokasi lesi dan luasnya penyebaran penyakit. Namun, gejala yang muncul biasanya berupa:
Bercak atau benjolan di kulit yang berupa lesi datar atau menonjol berwarna merah, ungu, hingga kecokelatan, terutama jika terjadi di wajah, lengan, dan kaki. Bercak ini bisa membesar atau menyebar ke area kulit lainnya seiring dengan berkembangnya penyakit.
Bengkak di tungkai akibat dari gangguan aliran limfa dan cairan yang menumpuk sehingga kaki atau tungkai menjadi terasa berat, membesar, dan terkadang disertai nyeri, terutama saat digerakkan.
Lesi di dalam mulut yang dalam bentuk bercak atau benjolan kemerahan hingga keunguan di area gusi, lidah, hingga langit-langit mulut. Lesi tersebut bisa membesar dan mudah berdarah, sehingga membuat tidak nyaman saat makan dan menelan.
Mengalami gangguan pencernaan seperti sakit perut, mual, muntah, dan diare terutama jika lesi sudah menyerang saluran pencernaan. Bahkan pada beberapa kasus bisa memunculkan BAB berwarna hitam atau bercampur dengan darah.
Mengalami gangguan pernapasan seperti batuk yang tidak sembuh-sembuh, sesak napas, nyeri dada, hingga batuk berdarah terutama saat sarkoma Kaposi menyerang paru-paru dan saluran pernapasan.
Penurunan berat badan dan mudah lelah, akibat dari peningkatan metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan akibat dari kanker.
Penyebab dan Faktor yang Meningkatkan Risikonya
Penyebab utama sarkoma kaposi adalah adanya infeksi human herpesvirus 8 (HHV-8) atau Kaposi sarcoma-associated herpesvirus (KSHV) yang dikombinasikan dengan sistem imun tubuh yang melemah. Selain itu, beberapa faktor berikut juga bisa meningkatkan risiko sarkoma Kaposi, antara lain:
Menggunakan obat imunosupresan setelah transplantasi organ, karena obat ini bisa menekan respons imun tubuh yang diperlukan untuk mengendalikan HHV-8.
Menderita HIV/AIDS, karena sarkoma Kaposi punya hubungan erat dengan HIV. HIV bisa merusak sel CD4 yang berperan dalam sistem imun tubuh sehingga HHV-8 bisa lebih mudah memicu pertumbuhan sel secara abnormal, terutama saat HIV tidak terkontrol.
Lanjut usia, karena seiring dengan bertambahnya umur, sistem imun tubuh bisa mengalami penurunan fungsi sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi HHV-8 dan perkembangan penyakitnya.
Gaya hidup yang kurang sehat seperti seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan kurang menjaga asupan makanan gizi, karena bisa memengaruhi fungsi sistem imun tubuh atau kemampuan tubuh dalam melawan infeksi.
Berhubungan seksual tanpa perlindungan karena bisa meningkatkan risiko penularan human herpesvirus 8 (HHV-8), terutama saat ada kontak dengan cairan tubuh atau selaput lendir yang terinfeksi.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Sarkoma Kaposi?
Dalam mendiagnosis kanker ini biasanya dilakukan melalui peninjauan riwayat kesehatan dan pengecekan penunjang sesuai gejala yang dialami. Untuk lebih jelasnya, berikut pengecekan yang umum dilakukan untuk mendiagnosis sarkoma Kaposi.
Cek fisik dan riwayat kesehatan, dilakukan dengan menilai bentuk, warna, ukuran, dan persebaran lesi di kulit serta selaput lendir. Selain itu, dokter biasanya juga akan menanyakan riwayat penyakit dan kondisi yang bisa melemahkan sistem imun tubuh, seperti riwayat HIV, transplantasi organ, dan penggunaan obat penekan sistem imun tubuh untuk mengenali penyebabnya.
Biopsi jaringan, dilakukan dengan mengambil sampel jaringan dari lesi yang mencurigakan untuk dicek di laboratorium lalu diidentifikasi karakteristik selnya guna memastikan diagnosis.
Cek darah, umumnya dilakukan untuk menilai kondisi kesehatan termasuk cek jumlah sel CD4 dan jumlah virus HIV dalam darah jika pasien terinfeksi HIV. Untuk cek HIV, Anda bisa coba Paket HIV Bumame.
Cek dengan pencitraan seperti rontgen dada atau CT scan, dilakukan untuk melihat apakah ada lesi di paru-paru atau organ dalam lainnya yang sering muncul di gangguan ini.
Endoskopi atau bronkoskopi, dilakukan dengan memasukkan selang tipis berkamera melalui saluran pencernaan atau saluran pernapasan untuk mengecek kemungkinan lesi sarkoma Kaposi pada organ tersebut.
Pilihan Pengobatan untuk Sarkoma Kaposi
Penanganan gangguan ini umumnya disesuaikan dengan luas dan lokasi lesi, tingkat keparahan penyakit, kondisi sistem imun tubuh, serta status HIV pasien. Berikut beberapa pilihan pengobatannya.
Terapi antiretroviral (ARV), umumnya dilakukan untuk pasien HIV. Tujuan terapi adalah menghambat perkembangbiakan virus HIV sehingga jumlah virus menurun dan fungsi sistem imun tubuh membaik, untuk membantu mengendalikan sarkoma Kaposi.
Kemoterapi, dilakukan dengan memberikan obat antikanker melalui infus atau diminum secara langsung untuk menghancurkan sel kanker serta menghambat penyebarannya, terlebih pada kanker yang berkembang luas, agresif, atau telah menyerang organ dalam.
Krioterapi, dilakukan dengan mengoleskan atau menyemprotkan nitrogen cair pada lesi untuk membekukan dan menghancurkan jaringan abnormalnya.
Eksisi bedah, dilakukan dengan mengangkat lesi menggunakan prosedur operasi kecil, terutama jika lesinya berjumlah sedikit dan ada di lokasi yang memungkinkan untuk diangkat.
Terapi radiasi, dilakukan dengan memanfaatkan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel kanker dan menghambat pertumbuhannya.
Terapi intralesi, dilakukan dengan menyuntikkan obat secara langsung ke dalam lesi untuk menghambat atau menghancurkan sel kanker di area tersebut.
Imunoterapi, dilakukan dengan menggunakan zat-zat tertentu untuk membantu sistem imun tubuh dalam mengenali dan melawan sel kanker.
Selain itu, selama pengobatan, sebaiknya Anda jaga kesehatan sistem imun dengan mengonsumsi makanan sehat bergizi, hindari alkohol dan rokok, serta cek kesehatan secara berkala untuk memantau perkembangan kondisi, mengevaluasi efektivitas pengobatan, dan meningkatkan peluang kesuksesan pengobatan.
Cara Mencegah Sarkoma Kaposi
Tidak ada cara yang bisa menjamin pencegahan sepenuhnya, tapi cara-cara berikut bisa membantu menurunkan risikonya, antara lain:
Menggunakan kondom saat berhubungan seksual dan tidak berbagi jarum suntik untuk mengurangi risiko penularan HIV yang bisa meningkatkan risiko sarkoma Kaposi.
Menjalani tes HIV jika mempunyai faktor risiko HIV agar infeksi bisa diketahui lebih awal dan segera ditangani sesuai dengan anjuran dokter.
Jika terkena HIV, sebaiknya lakukan terapi antiretroviral (ARV) dengan baik untuk menekan perkembangbiakan virus, menjaga fungsi sistem imun tubuh, dan menurunkan risiko sarkoma Kaposi terkait HIV.
Tidak mengubah penggunaan obat imunosupresan sendiri setelah transplantasi organ, karena perubahan dosis tanpa pengawasan dokter bisa meningkatkan risiko gangguan sistem imun yang berefek pada peningkatan risiko kanker ini.
Makan makanan bergizi seimbang dan hindari rokok serta alkohol untuk menjaga sistem imun tetap baik dalam melawan infeksi terutama akibat dari human herpesvirus 8.
Jika ada perubahan pada kulit atau selaput lendir sebaiknya langsung cek ke dokter untuk mendeteksi gangguan sejak awal dan mencegah komplikasi.
Cek kesehatan secara rutin sehingga Anda bisa lebih mengenali kondisi kesehatan tubuh dan mendeteksi lebih dini jika ada faktor risiko terkena kanker ini.
Kapan Perlu Memeriksakan Diri ke Dokter?
Periksa ke dokter sebaiknya Anda lakukan saat melihat ada bercak, benjolan, atau lesi berwarna merah, ungu, cokelat, atau kehitaman pada kulit maupun selaput mulut yang tidak kunjung hilang. Perhatian lebih diperlukan jika lesi tersebut membesar, berubah bentuk atau warna, mudah berdarah, atau menimbulkan rasa tidak nyaman.
Anda juga perlu segera memeriksakan diri bila mengalami pembengkakan pada wajah, kaki, atau area kelamin, terutama jika disertai lesi kulit.
Waspadai Gejalanya, Periksa Kesehatan Sejak Dini
Sarkoma Kaposi adalah jenis kanker langka yang berkaitan dengan infeksi human herpesvirus 8 (HHV-8) dan lebih berisiko terjadi pada orang-orang dengan sistem imun tubuh yang lemah. Gejalanya bisa berupa bercak atau benjolan warna merah keunguan pada kulit, hingga gangguan pernapasan atau pencernaan, khususnya jika kanker sudah menyerang organ dalam.
Untuk itulah, sebaiknya Anda lakukan tindak pencegahan seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, terutama cek HIV sedini mungkin jika Anda punya faktor risikonya, mengingat HIV bisa meningkatkan risiko sarkoma Kaposi. Dalam hal ini, Anda bisa coba cek melalui tes HIV di Bumame untuk mengetahui status HIV Anda.
Hasil tesnya bisa Anda dapatkan dalam 1x24 jam sehingga jika terdeteksi menderita HIV bisa langsung ditangani untuk mencegah komplikasi. Hubungi Bumame sekarang untuk booking layanan!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Cleveland Clinic — Kaposi Sarcoma
Mayo Clinic — Kaposi Sarcoma: Symptoms and Causes
NYU Langone Health — Types of Kaposi Sarcoma
Apollo Hospitals — Kaposi Sarcoma: Early Signs, Risk Factors, Diagnosis, and Treatment Explained
Johns Hopkins Medicine — Kaposi Sarcoma
Robert H. Lurie Comprehensive Cancer Center of Northwestern University — Kaposi Sarcoma Treatment
American Cancer Society — Kaposi Sarcoma Causes, Risk Factors, and Prevention
Harvard Health Publishing — Kaposi Sarcoma
Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia
Frequently Asked Question
Apakah semua orang dengan HIV akan mengalami sarkoma Kaposi?
Tidak. Tidak semua orang dengan HIV mengalami sarkoma Kaposi. Terapi antiretroviral (ARV) yang rutin dapat membantu mengendalikan HIV dan menjaga fungsi sistem kekebalan tubuh.
Apakah sarkoma Kaposi bisa sembuh?
Penanganan sarkoma Kaposi bertujuan mengendalikan perkembangan kanker dan mengurangi gejala. Hasilnya bergantung pada jenis, luas penyebaran, kondisi sistem imun, serta respons terhadap pengobatan.
Apakah sarkoma Kaposi bisa muncul tanpa terlihat pada kulit?
Ya. Sarkoma Kaposi dapat menyerang organ dalam, seperti saluran pencernaan atau paru-paru, tanpa disertai lesi kulit yang terlihat.
Apa perbedaan sarkoma Kaposi dengan kanker kulit lainnya?
Sarkoma Kaposi berasal dari sel yang melapisi pembuluh darah dan pembuluh limfatik, sedangkan kanker kulit lainnya dapat berasal dari jenis sel yang berbeda.
Apa saja gejala sarkoma Kaposi yang perlu diwaspadai?
Gejalanya dapat berupa bercak atau benjolan merah keunguan pada kulit, pembengkakan tungkai, lesi di mulut, gangguan pencernaan, sesak napas, penurunan berat badan, dan kelelahan.
