Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Penyebab Kolesistitis dan Pengobatannya
Kembali ke Artikel & Berita

Kolesistitis Adalah: Gejala, Penyebab, Pengobatan

SBAOthers

Nyeri perut setelah makan mungkin terasa seperti keluhan biasa. Namun, jika nyeri muncul di bagian kanan atas perut dan berlangsung cukup lama, kondisi ini bisa berkaitan dengan kolesistitis. Lantas, apa itu kolesistitis? Bagaimana cara mengobatinya? Mari ketahui selengkapnya melalui penjelasan berikut!

Kolesistitis Adalah

Cholecystitis atau kolesistitis adalah peradangan pada kantung empedu, yaitu organ kecil yang terletak di bawah hati. Kantung empedu sendiri berfungsi untuk menyimpan cairan empedu yang membantu tubuh mencerna lemak dari makanan.

Kondisi ini paling sering terjadi ketika aliran cairan empedu terhambat, misalnya karena batu empedu. Akibatnya, cairan empedu menumpuk di dalam kantung dan memicu peradangan. Kolesistitis juga dapat menyebabkan nyeri di perut bagian kanan atas, terutama setelah makan, serta keluhan lain seperti mual, muntah, atau demam.

Risiko penyakit ini juga cenderung meningkat seiring bertambahnya usia karena batu empedu lebih sering ditemukan pada orang yang lebih tua. Meski begitu, usia bukan satu-satunya faktor yang berperan. Kondisi kesehatan dan kebiasaan tertentu juga dapat memengaruhi risiko terjadinya masalah pada kantung empedu.

Gejala Kolesistitis

Gejala kolesistitis paling umum adalah nyeri di perut bagian kanan atas. Nyeri bisa berlangsung cukup lama dan terasa lebih berat setelah makan makanan berlemak. Selain nyeri, beberapa gejala lain yang dapat muncul adalah sebagai berikut:

  • sakit perut bagian kanan atas atau tengah;

  • rasa sakit yang menjalar ke bahu atau punggung;

  • perut terasa kembung dan nyeri saat ditekan;

  • mual dan muntah;

  • demam;

  • mata dan kulit menguning (jaundice);

  • feses berwarna pucat dan lunak.

Penyebab Kolesistitis (Batu Empedu)

Penyebab kolesistitis adalah tersumbatnya saluran empedu. Berikut penjelasan berbagai penyebab lain yang perlu Anda evaluasi lebih lanjut.

  • Batu empedu: Batu yang terbentuk dari endapan dalam cairan empedu dapat menyumbat saluran keluar dari kantung empedu.

  • Infeksi bakteri: Bakteri yang menginfeksi saluran empedu dapat memicu peradangan pada kantung empedu.

  • Tumor pankreas atau hati: Tumor di area tersebut dapat menekan atau menghambat aliran empedu.

  • Aliran darah yang berkurang: Kondisi tertentu, termasuk diabetes, dapat memengaruhi aliran darah ke kantung empedu sehingga meningkatkan risiko peradangan.

  • Struktur empedu: Penyempitan pada saluran empedu dapat menghambat aliran cairan empedu.

Beberapa orang juga memiliki risiko yang lebih tinggi, terutama wanita, ibu hamil, orang dengan obesitas atau diabetes, serta mereka yang memiliki kolesterol tinggi. Risiko juga dapat meningkat pada orang berusia di atas 40 tahun atau yang mengalami penurunan berat badan secara drastis.

Perbedaan Kolelitiasis dan Kolesistitis

Kolelitiasis dan kolesistitis sama-sama berkaitan dengan kantung empedu, tetapi keduanya merupakan kondisi yang berbeda. Kolelitiasis adalah kondisi ketika batu empedu terbentuk dan berada di dalam kantung empedu. Batu ini bisa berjumlah satu atau lebih, dengan ukuran yang berbeda-beda, dan tidak selalu menimbulkan gejala.

Sementara itu, cholecystitis adalah peradangan pada kantung empedu. Kondisi ini sering terjadi ketika batu empedu menyumbat saluran keluar kantung empedu. Akibatnya, cairan empedu menumpuk dan dapat menyebabkan iritasi serta peradangan.

Diagnosis dan Pemeriksaan

Untuk memastikan kolesistitis, dokter biasanya tidak hanya mengandalkan satu pemeriksaan. Dokter akan melihat keluhan dan melakukan pemeriksaan fisik, kemudian dilanjutkan dengan tes darah atau pemeriksaan pencitraan untuk mengetahui kondisi kantung empedu secara lebih jelas. Berikut diagnosis dan pemeriksaan tersebut.

  • Tes Laboratorium: Tes darah dapat membantu melihat tanda-tanda peradangan atau infeksi dalam tubuh. Dokter juga dapat memeriksa enzim hati untuk mengetahui apakah terdapat gangguan pada saluran empedu atau organ di sekitarnya.

  • USG Perut: Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran kantung empedu. USG dapat membantu dokter melihat adanya batu empedu, penebalan dinding kantung empedu, atau tanda lain yang mengarah pada peradangan.

  • CT Scan: Pemeriksaan ini menghasilkan gambaran yang lebih detail mengenai kantung empedu dan jaringan di sekitarnya. CT scan dapat membantu dokter melihat peradangan sekaligus mencari kemungkinan komplikasi.

  • HIDA Scan: Pemeriksaan ini menggunakan zat pelacak khusus untuk melihat bagaimana cairan empedu mengalir dari hati ke kantung empedu dan usus. HIDA scan dapat membantu mengetahui apakah terdapat sumbatan pada saluran empedu.

Jika ingin melakukan pemeriksaan dengan cakupan yang luas, Paket MCU Premium dapat menjadi pilihan. Hasil pemeriksaan akan dipahami bersama dokter agar dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan Anda.

Namun, perlu Anda ingat, medical check-up bukan pemeriksaan khusus untuk memastikan kolesistitis. Jika mengalami nyeri perut yang menetap, demam, muntah, atau kulit dan mata menguning, konsultasikan keluhan kepada dokter agar dapat ditentukan pemeriksaan lanjutan yang sesuai.

Pengobatan Kolesistitis

Pengobatan kolesistitis bergantung pada penyebab dan kondisi pasien. Pada kolesistitis yang cukup berat, dokter dapat menyarankan rawat inap agar kondisi pasien dan peradangan pada kantung empedu dapat dipantau. Selama perawatan, beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi.

  • Puasa untuk sementara, agar kantung empedu tidak bekerja terlalu keras dan peradangan dapat lebih terkendali.

  • Pemberian cairan melalui infus, terutama jika pasien belum dapat makan atau minum dengan cukup.

  • Antibiotik, jika terdapat infeksi bakteri yang menyertai kolesistitis.

  • Obat pereda nyeri, untuk membantu mengurangi rasa sakit selama proses pemulihan.

  • ERCP, yaitu prosedur menggunakan endoskop untuk membantu mengatasi batu yang menyumbat saluran empedu.

  • Drainase kantung empedu, yaitu tindakan untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk ketika operasi belum dapat dilakukan atau kondisi tertentu memerlukannya.

Pada sebagian orang, penyakit ini dapat kembali terjadi setelah gejalanya membaik. Karena itu, dokter mungkin menyarankan kolesistektomi, yaitu operasi untuk mengangkat kantung empedu, terutama jika batu empedu menjadi penyebabnya atau risiko kambuh cukup tinggi.

Pencegahan Kolesistitis

Anda dapat membantu menurunkan risiko kolesistitis dengan menjaga pola makan dan berat badan tetap sehat. Beberapa kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan sehari-hari antara lain.

  • Turunkan berat badan secara perlahan. Jika Anda sedang menjalani program penurunan berat badan, hindari cara yang terlalu cepat karena dapat meningkatkan risiko batu empedu.

  • Pertahankan berat badan yang sehat. Anda bisa mencapainya dengan mengatur asupan kalori, rutin beraktivitas fisik, dan menerapkan pola makan seimbang.

  • Pilih makanan bergizi. Perbanyak konsumsi buah, sayuran, dan biji-bijian utuh, serta batasi makanan yang tinggi lemak.

Kapan Harus ke Dokter?

Mengenali gejala kolesistitis dapat membantu Anda lebih peka terhadap perubahan pada tubuh. Jika nyeri perut sering muncul atau disertai keluhan lain, pemeriksaan kesehatan dapat membantu memberikan gambaran mengenai kondisi tubuh Anda.

Namun, nyeri perut tidak selalu berarti kolesistitis. Anda bisa langsung memeriksakan diri jika nyeri terasa cukup berat, menetap, atau disertai gejala lain. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan mencegah kondisi yang lebih serius. Cari pertolongan medis jika Anda mengalami hal berikut.

  • Nyeri perut sangat hebat atau tidak kunjung mereda: Nyeri akibat kolesistitis biasanya terasa di perut bagian kanan atas dan dapat berlangsung selama beberapa jam. Jika nyeri semakin berat atau tidak membaik, sebaiknya segera diperiksa.

  • Nyeri yang menjalar ke bahu kanan atau punggung:  Keluhan ini dapat terjadi ketika peradangan pada kantung empedu menimbulkan rasa sakit yang terasa hingga area tubuh lainnya.

  • Demam tinggi, terutama jika disertai menggigil: Demam dapat menjadi tanda adanya peradangan atau infeksi yang membutuhkan penanganan medis.

  • Mata atau kulit menguning (jaundice): Kondisi ini dapat terjadi ketika aliran empedu terganggu sehingga bilirubin menumpuk di dalam tubuh. Gejala ini perlu segera diperiksa karena dapat berkaitan dengan masalah pada saluran empedu.

  • Mual dan muntah yang terus-menerus: Mual dan muntah yang tidak kunjung membaik dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan dan juga menjadi tanda bahwa kondisi yang mendasarinya perlu ditangani.

  • Perut terasa sangat nyeri saat disentuh: Nyeri atau rasa sakit yang semakin kuat ketika perut ditekan dapat menunjukkan adanya peradangan dan perlu dievaluasi oleh dokter.

Kenali Nyeri Perut sebagai Sinyal untuk Lebih Peduli pada Tubuh!

Nyeri di perut bagian kanan atas dapat menjadi salah satu tanda kolesistitis, terutama jika disertai mual, muntah, atau demam. Namun, gejalanya dapat berbeda pada setiap orang.

Jika nyeri semakin berat atau tidak kunjung mereda, segera periksakan diri ke dokter. Hindari mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan lokasi nyeri karena kondisi lain juga dapat menimbulkan keluhan serupa.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2024). Mengenal Penyakit Kolesistitis.  

  2. Eka Hospital. (2026). Kolesistitis: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi.  

  3. UFC Health. (2025). Cholelithiasis vs Cholecystitis: What is The Difference?.  

  4. Rumah Sakit Royal Progress. (2025). Mengenal Penyakit Kolesistitis: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya.  

  5. Siloam Hospital. (2025). Kolesistitis – Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya. 

  6. Mayo Clinic. (2024). Kolesistitis.

Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing

Frequently Asked Question

Apa itu kolesistitis?
Kolesistitis adalah peradangan pada kantung empedu yang paling sering terjadi akibat tersumbatnya saluran keluar kantung empedu oleh batu empedu.
Apa saja gejala kolesistitis?
Gejala kolesistitis dapat berupa nyeri di perut bagian kanan atas, mual, muntah, demam, hingga nyeri yang menjalar ke bahu kanan atau punggung.
Apakah kolesistitis bisa sembuh tanpa operasi?
Penanganan kolesistitis bergantung pada penyebab dan kondisi. Dokter dapat memberikan obat, cairan melalui infus, atau tindakan tertentu. Pada beberapa kasus, operasi pengangkatan kantung empedu dapat disarankan untuk mencegah kolesistitis kambuh.
Kapan kolesistitis harus diperiksakan ke dokter?
Kapan kolesistitis harus diperiksakan ke dokter?
Bagaimana cara mencegah kolesistitis?
Risiko kolesistitis dapat dikurangi dengan menjaga berat badan tetap sehat, menurunkan berat badan secara perlahan, rutin beraktivitas fisik, menerapkan pola makan seimbang, serta membatasi makanan tinggi lemak.