Mengalami nyeri perut, diare, atau nafsu makan pasti terasa tidak enak dan membuat pilihan makanan menjadi terbatas karena harus lebih berhati-hati. Masalah tersebut biasanya juga muncul pada penderita radang usus. Lantas, apa jenis makanan untuk radang usus yang boleh pasien konsumsi?
Sakit bukan berarti membuat setiap penderita harus menjalani banyak pantangan. Di samping itu, tidak ada satu jenis pola makan yang cocok untuk semua orang dengan penyakit radang usus. Pilihan makanan yang baik untuk radang usus harus tetap disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan nutrisi, serta respons tubuh.
Apa Itu Radang Usus?
Radang usus atau biasa disebut inflammatory bowel disease (IBD) merupakan penyakit yang menyebabkan peradangan kronis pada saluran pencernaan. Dua jenis yang paling umum adalah penyakit Crohn dan kolitis ulseratif.
Penyakit Crohn dapat menyerang berbagai bagian saluran pencernaan, sementara kolitis ulseratif umumnya menyerang usus besar. Keluhannya pun beragam, mulai dari diare, sakit atau kram perut, BAB berdarah, nafsu makan berkurang, kelelahan, hingga adanya penurunan berat badan.
Gejala-gejala tersebut dapat memburuk ketika peradangan sedang aktif atau disebut flare dan kemudian berkurang saat peradangan ini mulai membaik atau disebut remisi.
Perlu Anda pahami, radang usus berbeda dengan irritable bowel syndrome atau IBS. Keduanya memang dapat menimbulkan keluhan yang sama seperti sakit perut dan perubahan pola BAB. Namun, IBS merupakan gangguan interaksi antara usus dan otak, serta tidak menyebabkan kerusakan pada saluran pencernaan seperti pada IBD.
Kenapa Pola Makan Penting bagi Penderita?
Penderita radang usus dapat mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi, terutama ketika penyakit tersebut sedang aktif. Diare, sakit perut, mual, atau berkurangnya nafsu makan dapat membuat seseorang cenderung sulit makan lahap. Pada Crohn, peradangan usus juga dapat mengganggu penyerapan zat gizi tertentu.
Karena itu, tujuan utama mengatur makanan untuk radang usus bukan sekadar untuk menghindari makanan tertentu, tetapi memastikan tubuh tetap mendapatkan energi dan nutrisi cukup. Pola makan yang sehat dan seimbang juga dapat membantu mengurangi risiko kekurangan nutrisi pada tubuh maupun penurunan berat badan.
Meski begitu, respons pada makanan dapat berbeda pada setiap penderita. Ada makanan yang terasa aman bagi satu orang tetapi justru menyebabkan kembung, diare, atau sakit perut pada orang lain. Karena itu, mencatat makanan dan gejala yang muncul setelahnya dapat membantu mengenali mana yang bisa Anda konsumsi.
Makanan yang Dianjurkan untuk Radang Usus
Pada dasarnya, tidak ada daftar makanan untuk radang usus yang berlaku mutlak. Namun, penderita tetap dianjurkan memilih makanan bernutrisi dan menyesuaikan porsinya dengan kondisi sistem pencernaan. Ketika radang sedang aktif, makanan yang lebih lembut mungkin terasa lebih nyaman bagi sebagian orang.
1. Sumber Protein
Pertama adalah protein yang dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh dan mempertahankan jaringan organ. Beberapa pilihan yang termasuk ke dalam menu dengan protein tinggi antara lain ikan, ayam, telur, tahu, dan yogurt jika memang penderita tidak memiliki intoleransi.
Ketika nafsu makan sedang berkurang, penderita dapat mencoba membagi makanan berprotein menjadi beberapa porsi kecil. Tujuannya agar kebutuhan nutrisi tubuh lebih mudah terpenuhi dalam satu hari tersebut.
2. Buah dengan Tekstur yang Lebih Lembut
Buah tetap penting karena menyediakan vitamin, mineral, dan berbagai zat gizi lainnya. Namun, teksturnya dapat disesuaikan dengan kondisi pencernaan. Pisang matang, buah yang sudah dikupas, saus apel, atau buah yang diblender halus dapat menjadi pilihan ketika buah mentah terasa kurang nyaman dikonsumsi.
3. Sayuran yang Dimasak
Jika sayuran mentah menimbulkan keluhan tidak nyaman, penderita dapat mencoba sayuran yang telah dimasak sampai lunak. Contohnya wortel matang, labu, buncis, atau sayuran lain. Jika ingin tekstur yang lebih mudah dimakan, Anda bisa memasak dengan memotong kecil, dan menghaluskan sayuran mentah sampai halus.
Setelah kondisi sistem pencernaan lebih terkendali atau terasa sedikit nyaman, variasi makanan untuk radang usus dapat ditambah secara bertahap. Sehingga, pola makan tetap beragam dan kebutuhan nutrisi tubuh dapat lebih terpenuhi.
4. Sumber Karbohidrat
Nasi, kentang, ubi, oatmeal, roti, dan sumber karbohidrat lainnya dapat membantu memenuhi kebutuhan energi pada penderita radang usus. Ketika mengalami diare atau keluhan pencernaan lain, beberapa orang mungkin lebih senang mengonsumsi makanan dengan tekstur sederhana dan tidak terlalu tinggi serat.
5. Ikan Berlemak
Makanan untuk penderita radang usus yang dianjurkan lainnya adalah ikan berlemak, seperti salmon, tuna, dan makarel. Ketiga ikan ini merupakan sumber protein sekaligus mengandung asam lemak omega-3. Pilihan makanan ini bisa dimasukkan sebagai bagian dari pola makan yang sehat dan seimbang bagi orang dengan radang usus.
6. Cairan yang Cukup
Pada umumnya, diare bisa membuat penderita kehilangan cairan cukup banyak sehingga Anda perlu menjaga asupan minum. Air putih tentunya menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan yang hilang. Sementara cairan lain, seperti kaldu atau larutan rehidrasi oral dapat membantu namun hanya pada kondisi tertentu.
Jika diare berlangsung terus-menerus seharian, tubuh mulai terasa sangat lemas, sulit untuk minum, atau jumlah urine berkurang. Maka, jangan ragu dan segera konsultasikan kondisi tersebut ke dokter atau tenaga medis.
Makanan yang Harus Dihindari
Pada dasarnya, tidak ada satu daftar pantangan yang berlaku. Makanan tertentu lebih tepat disebut sebagai makanan pemicu atau makanan yang dapat memperburuk kondisi sebagian penderita. Karena respons tubuh berbeda, Anda tidak perlu menghindari semua jenis makanan hanya karena dianggap kurang baik.
Beberapa makanan atau minuman yang mungkin perlu penderita batasi jika terbukti memicu keluhan antara lain makanan tinggi lemak seperti gorengan, makanan pedas, alkohol, dan minuman berkafein. Beberapa jenis pemanis buatan dan produk susu laktosa jika memiliki intoleransi terhadap laktosa juga perlu Anda perhatikan.
Selain itu, makanan dengan tekstur kasar atau tinggi serat juga dapat terasa kurang nyaman bagi beberapa penderita radang usus. Namun, pantangan ini tidak selalu harus Anda lakukan dalam waktu lama. Menghilangkan terlalu banyak jenis makanan justru dapat mengurangi variasi asupan dan meningkatkan risiko kekurangan nutrisi.
Karena itu, alangkah baiknya jika Anda bisa mengenali pola gejala daripada membuat daftar pantangan makanan yang terlalu panjang. Jika sulit menentukan makanan yang dapat memperburuk kondisi radang usus, segera konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi untuk mendapatkan pola makan yang lebih sesuai dengan keluhan.
Contoh Menu Harian
Menu harian untuk penderita radang usus perlu menyesuaikan dengan kondisi dan toleransi masing-masing penderita. Contoh berikut memang bukan pola makan wajib, tetapi dapat memberikan gambaran kombinasi makanan untuk radang usus sederhana yang relatif mudah untuk dibuat dan dikonsumsi.
Sarapan
Oatmeal dengan pisang matang
Telur rebus
Air putih
Camilan pagi
Pisang atau buah yang telah dihaluskan
Yogurt jika tidak ada riwayat intoleransi
Makan siang
Nasi
Ikan kukus atau ayam
Wortel dan labu yang dimasak hingga lunak
Air putih
Camilan sore
Roti dengan selai kacang halus
Makan malam
Nasi atau kentang
Ikan, ayam, tahu, atau telur
Sayuran matang
Air putih
Jika nafsu makan sedang berkurang, makan dengan porsi lebih sedikit namun bisa Anda konsumsi seharian dapat menjadi pilihan yang bagus. Anda juga dapat mengubah tekstur makanan dengan memasak, mengupas, memotong kecil, atau menghaluskannya agar terasa lebih mudah masuk ke sistem pencernaan.
Kapan Harus Cek CRP atau Konsultasi Dokter?
Tidak cukup dengan memperhatikan makanan untuk radang usus mengubah pola makan Anda juga dapat melakukan pemeriksaan. Terutama jika diare terjadi terus menerus, BAB berdarah, sakit perut semakin berat, demam, kelelahan berlebih, nafsu makan berkurang, atau berat badan tiba-tiba turun.
Dokter perlu mengevaluasi keluhan tersebut untuk mencari penyebab dan memastikan pemeriksaan lebih lanjut. Salah satu pemeriksaan yang dapat Anda lakukan adalah C-reactive protein atau CRP. Pemeriksaan CRP ini akan mengukur kadar CRP saat terjadi proses inflamasi dalam tubuh penderita.
Hasilnya dapat membantu dokter memperoleh gambaran jelas mengenai peradangan pada usus. Namun, Anda tetap memerlukan penilaian dan pemeriksaan lainnya karena CRP tidak menunjukkan lokasi atau penyebab peradangan secara spesifik.
CRP Kuantitatif Bumame pun dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengukur kadar CRP dalam tubuh melalui sampel darah. Hasil pemeriksaan ini dapat memberikan informasi tambahan mengenai proses peradangan pada usus bersamaan dengan pemeriksaan medis lainnya.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
1. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2020). Definition & Facts of Ulcerative Colitis.
2. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2024). Definition & Facts for Crohn’s Disease.
3. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2024). Eating, Diet, & Nutrition for Crohn’s Disease.
4. Crohn’s & Colitis Foundation. (2026). What Should I Eat with IBD?.
5. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2017). Definition & Facts for Irritable Bowel Syndrome.
6. Crohn’s & Colitis Foundation. (2026). Special IBD Diets.
7. MedlinePlus. (2025). C-Reactive Protein (CRP) Test.
Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan
.jpg&w=3840&q=75)