Saat sedang mengalami diare, sebagian orang mungkin merasa khawatir bahwa makan atau minum akan memperburuk diare. Padahal, asupan cairan dan makanan yang sesuai tetap penting untuk membantu mencegah dehidrasi dan menjaga energi. Artikel ini akan membahas makanan untuk orang diare dan opsi yang sebaiknya dihindari.
Kenapa Pola Makan dan Makanan untuk Orang Diare Sangat Penting
Saat diare, usus bekerja terlalu cepat sehingga tubuh tidak bisa menyerap makanan dan cairan dengan baik. Akibatnya, tubuh akan kehilangan banyak air, garam, dan nutrisi penting dalam waktu yang begitu cepat.
Jika penderitanya memakan makanan tinggi lemak, berminyak, pedas, atau sulit ditoleransi, maka dikhawatirkan akan memperburuk diare. Namun, jika penderita memakan makanan dalam porsi kecil yang rendah lemak dan mudah dicerna, seperti bubur, biasanya lebih mudah diterima oleh saluran pencernaan.
Tujuan utama mengatur pola makan saat diare adalah untuk menjaga asupan energi dan cairan tetap mencukupi. Penderita tidak perlu takut makan hanya karena perut sedang tidak nyaman. Sebaiknya fokus pada memilih makanan yang mudah ditoleransi dan mengonsumsinya dalam porsi kecil setiap 2-3 jam supaya perut tidak terbebani.
Selain itu, penderitanya juga perlu mendengarkan sinyal tubuh dan berhenti makan sejenak apabila perut mulai terasa penuh atau tidak nyaman.
Makanan untuk Orang Diare yang Aman Dikonsumsi
Ketika perut sedang bermasalah, makanan bertekstur lembut dan rendah serat adalah pilihan yang paling aman. Contoh makanan seperti itu adalah nasi putih, bubur, dan kentang rebus yang mudah dicerna dan bisa membantu memadatkan tinja atau feses.
Pisang juga bisa menjadi pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan kalium yang hilang saat diare. Selain itu, roti tawar panggang dan biskuit tawar juga bisa jadi opsi makanan lain karena kedua makanan ini tidak terlalu berat untuk dicerna.
Ketika diare, penderita sering direkomendasikan untuk mengikuti pola makan BRAT yang terdiri dari pisang (banana), nasi (rice), saus apel (applesauce), dan roti panggang (toast). Keempat makanan ini rendah serat dan cenderung tidak membebani usus penderita diare.
Namun, pola makan ini tidak sebaiknya dilakukan dalam waktu lama karena rendah protein, serat, serta beberapa vitamin dan mineral. Saat nafsu makan mulai membaik, penderita diare dapat kembali mengonsumsi makanan yang lebih beragam secara bertahap, sambil tetap memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit.
Apabila ingin mengonsumsi protein saat pemulihan, maka bisa menambahkan ayam rebus tanpa kulit sebagai sumber protein yang ringan. Telur rebus dan ikan kukus juga bisa menjadi pilihan protein lembut yang tetap aman untuk pencernaan saat diare.
Pilih cara memasak yang sederhana, seperti merebus atau mengukus, agar makanannya tidak berminyak. Selain itu, hindari pemakaian bumbu cabai atau santan yang terlalu banyak.
Makanan yang mengandung probiotik, seperti yogurt tawar tanpa gula tambahan, dapat menjadi salah satu pilihan bagi penderita diare yang masih ingin mengonsumsi produk susu. Yogurt umumnya mengandung lebih sedikit laktosa daripada susu, sedangkan kultur bakteri hidup di dalamnya dapat membantu proses pencernaan laktosa dan mendukung keseimbangan mikroorganisme di saluran pencernaan.
Namun, pilih yogurt dengan kultur hidup dan konsumsi dalam jumlah kecil terlebih dahulu. Jika diare, kembung, atau nyeri perut memburuk setelah mengonsumsinya, sebaiknya hentikan sementara.
Untuk membantu mengisi perut di antara waktu makan, penderita diare dapat mengonsumsi camilan ringan seperti biskuit polos atau biskuit asin, selama makanan tersebut dapat ditoleransi. Biskuit asin mengandung sejumlah natrium, tetapi kontribusinya terhadap penggantian elektrolit terbatas dan tidak dapat menggantikan oralit atau larutan rehidrasi oral untuk mencegah dehidrasi akibat diare.
Buah yang Boleh Dimakan saat Diare
Saat mengalami diare, penderita dapat memilih buah yang bertekstur lembut dan lebih mudah ditoleransi. Contoh buah yang cocok sebagai makanan untuk orang diare adalah pisang matang. Pisang juga mengandung kalium yang dapat membantu memenuhi kembali salah satu elektrolit yang hilang selama diare.
Apel yang dikukus, dikupas, atau diolah menjadi saus apel dapat menjadi pilihan lain karena teksturnya lebih lembut dan kandungan serat larutnya dapat membantu memperbaiki konsistensi tinja pada sebagian orang. Pepaya matang juga dapat dicoba dalam porsi kecil jika tidak memperburuk gejala.
Makanan dan Minuman yang Harus Dihindari
Saat mengalami diare, penderita sebaiknya membatasi makanan yang dapat memperburuk gejala atau lebih sulit ditoleransi oleh saluran pencernaan. Beberapa contohnya adalah makanan berlemak, gorengan, makanan bersantan, serta makanan cepat saji. Makanan tersebut cenderung lebih sulit dicerna dan dapat membuat diare, kembung, atau rasa tidak nyaman semakin berat pada beberapa orang.
Makanan pedas dan bercabai juga sebaiknya dihindari sementara, terutama jika memicu rasa perih, mulas, atau peningkatan frekuensi buang air besar. Senyawa capsaicin dalam cabai dapat merangsang saluran pencernaan pada sebagian orang.
Produk susu juga perlu dibatasi jika menimbulkan keluhan. Setelah mengalami diare, sebagian orang dapat mengalami kesulitan sementara dalam mencerna laktosa, bahkan dapat memperburuk diare, kembung, dan nyeri perut. Sebaik, pilih produk susu bebas laktosa sebagai alternatif jika dapat ditoleransi.
Untuk sementara, penderita juga dapat mengurangi makanan tinggi serat tidak larut, seperti sayuran mentah, kulit buah, biji-bijian, dan buah dengan kulit atau biji yang keras. Makanan tersebut dapat lebih sulit ditoleransi ketika saluran pencernaan sedang sensitif. Namun, pembatasan serat sebaiknya disesuaikan dengan respons tubuh, bukan berarti semua buah dan sayuran harus dihindari.
Buah yang terasa sangat asam, seperti jeruk dan nanas, dapat dibatasi apabila memicu nyeri perut, mual, atau rasa perih. Buah dengan kulit, biji, atau serat yang keras sebaiknya dikupas, dimasak, atau dihindari sementara jika memperburuk keluhan.
Minuman berkafein, seperti kopi, teh, dan sebagian minuman bersoda, juga sebaiknya dihindari sementara karena dapat memperburuk diare dan meningkatkan kehilangan cairan. Alkohol perlu dihindari karena dapat mengiritasi saluran pencernaan dan memperburuk dehidrasi.
Pentingnya Cairan Elektrolit saat Diare
Kehilangan cairan dalam jumlah banyak adalah ancaman paling serius saat diare, terutama apabila diare itu berlangsung selama beberapa hari. Akibatnya, tubuh bisa merasa lemas, pusing, dan mulut sangat kering.
Untuk menghadapi masalah ini, minum air putih secara rutin dalam jumlah sedikit kerap dianjurkan supaya tubuh tetap menerima pasokan cairan. Supaya tubuh bisa menyerap air dengan baik, oralit adalah pilihan terbaik karena kandungan garam dan gulanya yang bisa membantu penyerapan cairan.
Selain oralit, kaldu bening dan air kelapa bisa membantu mengembalikan elektrolit seperti kalium yang terbuang. Oralit dapat dikonsumsi selama diare masih berlangsung atau sesuai kebutuhan rehidrasi. Penderita penyakit ginjal, produksi urine yang sangat sedikit, atau kondisi lain yang berisiko menyebabkan kadar kalium tinggi sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi oralit atau minuman tinggi kalium
Perhatikan juga warna dan jumlah urine karena keduanya dapat menjadi petunjuk awal kondisi hidrasi. Urine yang berwarna lebih gelap dan jumlahnya berkurang dapat mengindikasikan kekurangan cairan. Namun, warna urine juga dapat dipengaruhi oleh makanan, obat, dan kondisi medis tertentu.
Contoh Menu Harian saat Diare
Menyusun menu makanan untuk orang diare bisa membantu Anda makan teratur saat pencernaan sedang terasa tidak nyaman. Untuk sarapan, Anda bisa menyantap bubur nasi hangat dengan sedikit garam dan pisang matang.
Untuk menu makan siang, Anda bisa makan nasi putih dengan ayam rebus tanpa kulit dan wortel kukus. Ketika sore tiba, Anda bisa mengganjal perut dengan makan roti tawar panggang atau biskuit tawar sebagai camilan.
Ketika waktu makan malam, makanan untuk orang diare yang cenderung ringan adalah kentang rebus tanpa kulit dan ikan kukus tanpa bumbu pedas atau banyak minyak. Pilih porsi kecil terlebih dahulu dan sesuaikan dengan toleransi tubuh.
Terlepas dari kapan waktunya makan, tetap konsumsi cairan sedikit demi sedikit tetapi sering sepanjang hari untuk membantu mencegah dehidrasi. Jika diare menyebabkan kehilangan banyak cairan, oralit dapat digunakan untuk membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang.
Kapan Harus ke Dokter?
Biasanya, sebagian besar diare akan sembuh dengan sendirinya dalam 2 sampai 3 hari tanpa obat khusus. Namun, Anda perlu segera ke dokter apabila diare tidak kunjung sembuh.
Diare yang berlangsung lama bisa menandakan adanya gejala seperti tipes, tetapi tidak selalu demikian. Tipes biasanya ditandai dengan demam yang berlangsung beberapa hari dan dapat meningkat secara bertahap, disertai lemas, sakit kepala, nyeri perut, penurunan nafsu makan, serta diare atau sembelit.
Apabila diare berlangsung lama, disertai demam, darah dalam tinja, nyeri perut berat, atau tanda dehidrasi, penderita sebaiknya memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Anda juga perlu waspada apabila tinja berwarna hitam pekat yang tidak biasa. Nyeri perut yang hebat serta tanda dehidrasi berat, seperti rasa haus berlebihan, mulut kering, tubuh sangat lemas, pusing, urine berwarna gelap, atau jarang buang air kecil, juga memerlukan perhatian medis segera.
Bayi, anak kecil, lansia, serta orang dengan penyakit kronis lebih rentan mengalami dehidrasi dan komplikasi akibat diare. Jika kelompok tersebut mengalami diare, apalagi jika disertai tanda-tanda lain seperti dijelaskan sebelumnya, segera konsultasikan kepada dokter atau bawa ke fasilitas kesehatan.
Cek Keseimbangan Elektrolit Anda
Diare yang berkepanjangan bisa membuat kadar elektrolit dalam tubuh tidak seimbang. Jika diperlukan, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan elektrolit darah untuk menilai keseimbangan mineral dan membantu menentukan penanganan yang sesuai.
Layanan Pemeriksaan Elektrolit (Na, K, Cl) dari Bumame bisa membantu Anda memantau keseimbangan mineral penting. Hasil pemeriksaan dapat menjadi informasi pendukung saat berdiskusi dengan dokter mengenai kondisi hidrasi, kemungkinan gangguan elektrolit, dan langkah perawatan berikutnya.
Pemeriksaan ini dapat dipertimbangkan terutama jika diare berlangsung lebih lama dari biasanya, terjadi berulang kali, disertai muntah atau tanda dehidrasi, atau dialami oleh orang dengan faktor risiko komplikasi akibat diare.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2024). Eating, Diet, & Nutrition for Diarrhea.
Cleveland Clinic. (2025). Why You Shouldn’t Follow a Strict BRAT Diet When You’re Sick
Cleveland Clinic. (2023). What To Eat When You Have Diarrhea.
Mayo Clinic. (2025). Low-fiber diet: Do's and don'ts.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2024). Treatment of Diarrhea.
Mayo Clinic. (2026). Diarrhea: Symptoms and causes.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2023). Symptoms & Causes of Diarrhea.
Cleveland Clinic. (2026). Typhoid Fever.
Breastcancer.org. (2026). Eating When You Have Diarrhea.
Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri
_(1).jpg&w=3840&q=75)