Ketika mendengar osteoporosis, sebagian besar orang langsung mengaitkannya dengan orang lanjut usia (lansia) yang mengalami penuaan, sehingga wajar jika tulang mereka ikut melemah. Namun sebenarnya, penyakit tulang ini juga berpotensi menyerang sekelompok orang muda atau yang termasuk usia produktif akibat gaya hidup yang tidak sehat atau kondisi tertentu.
Maka dari itu, masyarakat perlu membangun kesadaran tentang penyakit ini sejak dini, mulai dari penyebab, gejala, hingga tindakan pencegahan. Hal ini guna mendapatkan tulang yang sehat dan kuat sampai masa tua, sehingga Anda tetap bisa aktif bergerak dengan risiko patah tulang minimal.
Apa Itu Osteoporosis?
Secara etimologis, istilah osteoporosis berasal dari kata osteo (artinya tulang) dan porous (artinya berlubang-lubang/keropos). Dengan demikian, osteoporosis dapat dijelaskan sebagai masalah tulang keropos atau berkurangnya massa (kepadatan) tulang akibat tubuh kesulitan mengatur kandungan mineral dalam tulang.
Selain itu, kerusakan mikroarsitektur tulang juga menyebabkan kekuatan tulang menurun dan menimbulkan kerapuhan. Alhasil, penderita penyakit tulang ini rentan mengalami patah atau fraktur. Utamanya pada tulang pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan.
Jenis-Jenis Osteoporosis
Terdapat dua jenis masalah tulang keropos, yakni primer dan sekunder. Memahami penjelasan setiap jenisnya membantu Anda memperoleh gambaran mengenai penyakit tulang yang diderita apakah akibat pertambahan usia atau kondisi kesehatan tertentu.
1. Primer
Osteoporosis primer adalah kasus yang paling umum terjadi seiring bertambahnya usia. Terdapat dua subtipe, yakni tipe 1 dan tipe 2. Pada tipe 1, penderitanya kebanyakan berasal dari kalangan wanita berusia 50–70 tahun yang mengalami menopause.
Dalam kurun waktu 5-7 tahun pertama setelah menopause, massa tulang dapat berkurang 1-3%. Selain itu, menopause juga menyebabkan penurunan kadar hormon estrogen yang fungsinya dapat memperlambat penurunan massa tulang. Efek perlindungan estrogen yang memudar inilah yang menyebabkan penderita tipe 1 rentan mengalami fraktur pergelangan tangan dan tulang belakang.
Sementara itu, tipe 2 adalah masalah tulang keropos yang berkembang setelah usia 70 tahun. Pada tahapan ini, kepadatan tulang telah menurun sehingga rentan terkena patah tulang pinggul dan tulang belakang.
2. Sekunder
Masalah tulang keropos sekunder terjadi bukan karena faktor penuaan, melainkan karena kondisi kesehatan seseorang atau efek samping konsumsi obat-obatan tertentu. Individu yang memiliki riwayat penyakit seperti gagal ginjal, leukemia, autoimun, dan penyakit tiroid berisiko tinggi terkena pengeroposan tulang.
Kemudian, konsumsi obat-obatan kortikosteroid, anti kejang, sebagian obat kanker payudara, dan depot medroxyprogesterone acetate juga dapat menyebabkan osteoporosis. Baik laki-laki maupun wanita sama-sama berpotensi mengalami jenis masalah tulang satu ini.
Penyebab Seseorang Mengalami Osteoporosis
Perlu Anda ketahui bahwa faktor risiko osteoporosis terbagi menjadi faktor risiko yang bisa dikendalikan dan yang di luar kendali. Contoh yang di luar kendali adalah usia tua, jenis kelamin wanita, dan riwayat penyakit tulang keropos dalam keluarga. Sementara itu, penyebab yang bisa dikendalikan misalnya minum alkohol secara berlebihan atau gaya hidup yang tidak sehat. Berikut penjelasan lengkapnya.
1. Perubahan Hormon
Hormon estrogen pada wanita dan testosteron pada pria sama-sama berfungsi menjaga kepadatan tulang. Namun, ketika kedua hormon tersebut berkurang, misalnya karena menopause pada wanita, kepadatan tulang lama-kelamaan akan mengalami penurunan sehingga menjadi lebih rapuh.
2. Kekurangan Asupan Vitamin D dan Kalsium
Vitamin D dan kalsium berperan penting dalam pembentukan tulang. Jika pola makan harian Anda jarang melibatkan kedua kandungan ini, risiko tulang mengeropos dan patah tulang akan meningkat.
3. Gaya Hidup yang Tidak Sehat
Kebiasaan buruk seperti jarang bergerak atau berolahraga dalam jangka panjang dapat membuat Anda kehilangan massa tulang. Selain itu, mengonsumsi alkohol dan merokok secara berlebihan juga meningkatkan risiko terkena osteoporosis.
4. Ukuran Tubuh
Selain jenis kelamin, postur tubuh seseorang juga memengaruhi tingkat risiko tulang keropos. Selama ini, sebagian besar orang mengincar tubuh yang ramping dan kecil. Padahal, mereka sebenarnya menyimpan risiko yang lebih tinggi untuk mengalami osteoporosis karena massa tulangnya lebih rendah daripada mereka yang bertulang lebih besar.
Contoh Gejala yang Biasa Muncul
Berbeda dari penyakit lainnya, penyakit tulang keropos ini jarang atau bahkan tidak memunculkan gejala yang jelas. Seseorang bisa jadi baru terungkap menderita penyakit ini ketika mengalami patah tulang mendadak akibat jatuh ringan yang normalnya tidak menyebabkan patah.
Kemudian, tanda lainnya yang dapat Anda jadikan sebagai sinyal peringatan adalah penurunan tinggi badan. Seseorang akan mencapai tinggi badan maksimal saat dewasa. Seiring bertambahnya usia, tinggi tersebut akan berkurang secara bertahap karena tulang yang mulai melemah dan kurang padat.
Perubahan fisik lainnya yang mengindikasikan osteoporosis adalah postur tubuh mulai membungkuk atau condong ke depan. Selain itu, sebagian orang mungkin akan merasakan nyeri punggung yang tambah sakit saat berdiri atau berjalan.
Kapan Harus Pergi ke Dokter?
Kehilangan massa tulang akibat proses penuaan adalah hal yang normal. Namun, jika kehilangan terlalu banyak, dikhawatirkan akan mengalami osteoporosis yang menyebabkan tulang menjadi rapuh. Apalagi, penyakit tulang keropos ini tidak diketahui pasti kapan menyerang seseorang hingga tiba-tiba pengidapnya mengalami patah tulang.
Maka dari itu, jika Anda mulai merasakan tanda-tanda pengeroposan tulang, seperti berkurangnya tinggi badan, nyeri punggung, atau perubahan postur, jangan tunda untuk segera menemui dokter. Bisa jadi, Anda baru di tahap osteopenia, yakni hilangnya sebagian kecil kepadatan tulang, tetapi belum sebanyak osteoporosis. Jadi, Anda masih bisa mengambil langkah-langkah preventif untuk mengobatinya.
Pantau Kesehatan Tulang Melalui Pemeriksaan secara Berkala
Memantau kesehatan tulang sejak dini adalah bentuk investasi jangka panjang untuk melindungi kualitas hidup di masa tua. Melalui pemeriksaan berkala, Anda bisa mendeteksi osteoporosis sebelum penyakit tersebut menyebabkan patah tulang.
Bagi lansia berumur lebih dari 50 tahun, dokter mungkin akan menyarankan untuk melakukan tes kepadatan tulang secara teratur. Begitu pula untuk Anda yang keluarganya memiliki riwayat osteoporosis serta bagi wanita yang sedang memasuki masa pascamenopause.
Menjawab kebutuhan tersebut, Bumame menyediakan Paket MCU Kesehatan Tulang yang terdiri dari pemeriksaan vitamin D dan kalsium dalam darah. Di dalam pemeriksaan ini terdapat layanan deteksi kelainan tulang sekaligus penentuan langkah preventif yang tepat sasaran. Berikut informasi lebih lengkap terkait tesnya.
1. Tes Vitamin D 25-OH
Korelasi antara vitamin D dan penyakit tulang keropos sangat erat. Vitamin D berperan besar dalam penyerapan kalsium dan menjaga kesehatan tulang. Jika seseorang memiliki kadar vitamin D yang terlalu rendah, ia berisiko mengalami osteoporosis atau kelemahan tulang.
Maka dari itu, tes vitamin D 25-OH ini bertujuan untuk mengetahui kadar vitamin D dalam tubuh seseorang, apakah terlalu tinggi atau rendah. Prosedur pemeriksaannya cukup sederhana. Dokter akan mengambil sampel darah Anda dan menganalisisnya di laboratorium.
2. Cek Kalsium
Sekitar 1% kalsium tersimpan di dalam darah, sedangkan sisanya ada di tulang dan gigi. Anda mungkin akan diminta untuk mengukur kadar kalsium dalam darah sebagai bagian dari skrining kesehatan. Kadar kalsium yang terlalu tinggi atau rendah ini dapat menjadi sinyal kondisi medis tertentu, termasuk penyakit tulang.
Akan tetapi, tes ini sifatnya sebagai penunjang dan tidak dapat mendiagnosis osteoporosis secara langsung. Anda tetap membutuhkan tes kepadatan tulang dengan Dual-energy X-ray Absorptiometry (DXA) scan.
Selain kedua tes tersebut, Bumame juga menyediakan Paket MCU Lansia untuk memantau kondisi kesehatan hati, diabetes, jantung, hingga kadar vitamin D. Tes ini direkomendasikan untuk individu berusia 50 tahun ke atas yang ingin mendapatkan pemeriksaan secara menyeluruh dalam satu sesi sekaligus.
Mengingat masalah tulang keropos rawan terjadi seiring proses penuaan pada wanita yang menopause atau pria tua, rajin skrining dapat membantu mendeteksi potensi penyakit sejak awal dan menghindarkan risiko kehilangan kepadatan tulang yang menyebabkan patah tulang.
Mempunyai tulang yang sehat akan berpengaruh pada kualitas hidup dan kemampuan fisik individu. Periksakan kesehatan tulang di MCU Kesehatan Tulang karena hasil dari pemeriksaan ini juga mencakup bisa dipakai sebagai bahan deteksi penyakit tulang lain diluar osteoporosis, misalnya osteopenia, hipokalsemia, hingga masalah metabolik tulang lainnya.
Bagaimana Pengobatan Osteoporosis?
Dokter mungkin akan meresepkan sejumlah obat-obatan yang dapat membantu memperlambat pengeroposan tulang. Contohnya seperti obat golongan bisfosfonat yang meliputi aledronat, ibandronat, risedronat, dan asam zoledronat. Selain itu, ada abaloparatide dan teriparatide, kalsitonin, hingga denosumab sebagai pilihan obat lainnya.
Kemudian, Anda juga bisa olahraga untuk meningkatkan kekuatan otot tulang belakang, paha, dan betis dengan latihan angkat beban atau berjalan kaki. Kombinasikan juga dengan latihan keseimbangan tubuh seperti yoga supaya Anda tidak mudah jatuh yang menjadi penyebab patah tulang.
Upaya Pencegahan Penyakit Osteoporosis
Kehilangan kepadatan tulang memang bukan sesuatu yang bisa Anda cegah secara total karena sebagian faktor terjadi secara alami sebagai konsekuensi dari proses penuaan. Namun, Anda tetap dapat mengupayakan sejumlah tindakan pencegahan sejak usia muda untuk menjaga kesehatan tulang dalam jangka panjang.
1. Mencukupkan Asupan Kalsium dan Vitamin D
Kebutuhan kalsium orang dewasa di atas 50 tahun adalah 1.200 mg/hari. Anda bisa mendapatkannya dari konsumsi makanan sehat seperti susu dan sayuran hijau.
Sementara itu, rekomendasi vitamin D per harinya adalah 400-800 IU. Asupan ini dapat Anda raih dengan berjemur di matahari pagi atau mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin D seperti ikan berminyak.
2. Berhenti Merokok
Penyebab osteoporosis salah satunya karena kebiasaan merokok. Merokok dapat menghambat kerja hormon estrogen di dalam tubuh. Maka dari itu, menghentikan kebiasaan ini akan membantu menurunkan risiko kehilangan massa tulang dan patah tulang.
3. Mengurangi Konsumsi Soda
Beberapa penelitian menunjukkan minuman ringan berkarbonasi dapat menyebabkan pengeroposan tulang. Mulai batasi asupan soda ini menjadi 2-3 cangkir per hari atau menggantinya dengan minuman lain seperti susu yang kaya kalsium sehingga baik untuk kesehatan tulang.
Pencegahan penyakit tulang keropos sebaiknya dimulai sejak dini. Sebab, bukan hanya lansia yang dapat mengalaminya, tapi juga menyasar ke kelompok usia produktif.
Jika ingin memastikan diagnosis mengenai kondisi kepadatan tulang, kunjungi klinik Bumame. Semakin cepat diagnosis, semakin sigap langkah penanganan sebelum patah tulang. Hubungi kontak WhatsApp Bumame untuk konsultasi gratis.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
4. Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
Referensi:
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI. (2024). Apa Saja Jenis Osteoporosis dan Cara Mencegahnya?
My Osto Team. (2026). Types of Osteoporosis.
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI. (2024). Peran Estrogen pada Remodeling Tulang.
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases. Osteoporosis.
Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Tulang Keropos atau Osteoporosis.
WebMD. (2024). Osteoporosis: Everything You Need to Know.
Cleveland Clinic. (2025). Osteoporosis.
Verywell Health. (2026). Can Height Loss Be a Symptom of Osteoporosis?
Healthline. (2024). 25-Hydroxy Vitamin D Test.
Medline Plus. Calcium Blood Test.
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI. (2025). Cara Mencegah Osteoporosis Sejak Dini.
WebMD. (2024). Osteoporosis Prevention: What You Need to Know.
Ditinjau oleh: dr. Aimee Wineyna
FAQ Seputar Osteoporosis
Apa itu osteoporosis?
Apa itu osteoporosis?
Osteoporosis adalah kondisi ketika massa atau kepadatan tulang berkurang sehingga tulang menjadi keropos, rapuh, dan lebih mudah mengalami patah tulang. Kondisi ini juga disertai kerusakan mikroarsitektur tulang yang menyebabkan kekuatan tulang menurun.
Apa saja jenis osteoporosis?
Apa saja jenis osteoporosis?
Osteoporosis dibagi menjadi dua jenis, yaitu osteoporosis primer dan sekunder. Osteoporosis primer umumnya terjadi akibat proses penuaan dan menopause, sedangkan osteoporosis sekunder dipicu oleh kondisi kesehatan tertentu atau efek samping penggunaan obat-obatan.
Apa penyebab dan faktor risiko osteoporosis?
Apa penyebab dan faktor risiko osteoporosis?
Osteoporosis dapat dipengaruhi oleh perubahan hormon, kekurangan vitamin D dan kalsium, gaya hidup yang kurang sehat, ukuran tubuh yang kecil, usia lanjut, jenis kelamin wanita, serta riwayat keluarga dengan osteoporosis. Konsumsi alkohol berlebihan dan kebiasaan merokok juga dapat meningkatkan risikonya.
Apa saja gejala osteoporosis?
Apa saja gejala osteoporosis?
Osteoporosis sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Kondisi ini baru diketahui setelah terjadi patah tulang akibat benturan ringan. Tanda lain yang dapat muncul meliputi berkurangnya tinggi badan, perubahan postur menjadi membungkuk, dan nyeri punggung yang semakin terasa saat berdiri atau berjalan.
Kapan sebaiknya berkonsultasi ke dokter?
Kapan sebaiknya berkonsultasi ke dokter?
Segera periksakan diri apabila mulai mengalami penurunan tinggi badan, nyeri punggung, perubahan postur tubuh, atau memiliki faktor risiko osteoporosis. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu mendeteksi osteopenia maupun osteoporosis sebelum terjadi patah tulang.
Bagaimana osteoporosis didiagnosis?
Bagaimana osteoporosis didiagnosis?
Untuk memantau kesehatan tulang, dokter dapat menyarankan pemeriksaan kadar vitamin D dan kalsium sebagai bagian dari skrining. Namun, diagnosis osteoporosis tetap memerlukan pemeriksaan kepadatan tulang menggunakan Dual-energy X-ray Absorptiometry (DXA) scan.
Bagaimana pengobatan osteoporosis?
Bagaimana pengobatan osteoporosis?
Penanganan osteoporosis dapat meliputi pemberian obat sesuai pertimbangan dokter untuk memperlambat pengeroposan tulang. Selain itu, latihan fisik seperti berjalan kaki, latihan beban, dan latihan keseimbangan juga dianjurkan untuk membantu menjaga kekuatan tulang dan mengurangi risiko jatuh.
Bagaimana cara membantu mencegah osteoporosis?
Bagaimana cara membantu mencegah osteoporosis?
Pencegahan dapat dilakukan dengan mencukupi kebutuhan kalsium dan vitamin D, berhenti merokok, membatasi konsumsi soda, serta menerapkan pola hidup sehat sejak usia muda untuk membantu menjaga kepadatan tulang dalam jangka panjang.
