Punggung yang sering pegal atau celana yang kini terasa lebih panjang biasanya dianggap wajar seiring bertambahnya usia. Jarang ada yang mengaitkannya dengan kekuatan tulang.
Pengeroposan tulang bisa berlangsung bertahun-tahun tanpa rasa sakit. Banyak orang baru mengetahuinya setelah tulang patah karena jatuh ringan.
Memahami penyebab osteoporosis membantu Anda melihat faktor yang masih bisa dikendalikan. Artikel ini membahas penyebab, faktor risiko, gejala, pemeriksaan, hingga pencegahannya.
Apa Itu Osteoporosis?
Osteoporosis adalah penyakit tulang yang terjadi ketika kepadatan dan massa tulang menurun, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Dalam percakapan sehari-hari, kondisi ini disebut tulang keropos.
Tulang adalah jaringan hidup. Tubuh terus mengurai tulang lama dan menggantinya dengan tulang baru, proses yang disebut remodeling tulang. Tulang keropos muncul ketika pembentukan tulang baru tidak mampu mengimbangi hilangnya tulang lama. Kondisi ini sering disebut penyakit senyap karena umumnya tidak bergejala pada tahap awal.
Penyebab Osteoporosis yang Umum Ditemukan
Tulang keropos jarang dipicu satu hal saja. Biasanya beberapa faktor bertemu dan mempercepat hilangnya massa tulang.
1. Penuaan dan Melambatnya Pembentukan Tulang
Saat muda, tubuh membentuk tulang baru lebih cepat daripada mengurai tulang lama. Kebanyakan orang mencapai massa tulang puncak sekitar usia 30 tahun. Setelah itu, tulang lama perlahan hilang lebih cepat daripada yang terbentuk.
Massa tulang yang dibangun di usia muda ikut menentukan risiko di usia lanjut. Semakin tinggi massa tulang puncak, semakin besar cadangan tulang saat usia bertambah.
2. Menopause dan Turunnya Hormon Estrogen
Hormon estrogen berperan menjaga kekuatan tulang perempuan. Kadarnya turun saat menopause, dan penurunan ini termasuk faktor risiko utama tulang keropos. Pengeroposan berlangsung cepat pada beberapa tahun pertama setelah menopause.
Risikonya lebih tinggi bila menopause terjadi sebelum usia 45 tahun atau indung telur pernah diangkat. Pada laki-laki, kadar testosteron yang rendah juga berkaitan dengan pengeroposan tulang.
3. Kekurangan Kalsium dan Vitamin D
Kalsium adalah mineral penyusun tulang. Asupan kalsium yang rendah dalam jangka panjang berperan dalam menurunnya kepadatan tulang, pengeroposan lebih awal, dan risiko patah tulang yang lebih tinggi.
Fungsi vitamin D untuk kesehatan tulang berkaitan erat dengan kalsium, karena vitamin D membantu tubuh menyerapnya dari makanan. Orang yang jarang terkena sinar matahari lebih mudah kekurangan vitamin D, sedangkan pola makan yang kurang beragam bisa membuat asupan keduanya rendah.
4. Kurang Bergerak
Orang yang lebih banyak duduk, misalnya pekerja kantoran yang jarang berolahraga, memiliki risiko osteoporosis lebih tinggi dibanding orang yang aktif.
Aktivitas yang menopang berat badan, seperti jalan kaki, menari, atau angkat beban, membantu tulang tetap kuat. Bila lama tidak aktif karena sakit atau usia, tanyakan kepada dokter jenis latihan yang aman.
5. Merokok dan Minum Alkohol Berlebihan
Rokok diketahui ikut melemahkan tulang, meski cara kerjanya belum sepenuhnya dipahami. Minum alkohol secara rutin dalam jumlah banyak juga meningkatkan risiko tulang keropos. Keduanya termasuk faktor yang bisa diubah, sehingga berhenti merokok dan membatasi alkohol dianjurkan untuk menjaga tulang.
6. Penggunaan Obat Tertentu dalam Jangka Panjang
Obat golongan steroid yang diminum atau disuntikkan dalam jangka panjang bisa mengganggu pembentukan kembali tulang. Obat antikejang, obat asam lambung tertentu, dan terapi hormon untuk kanker payudara atau prostat juga dikaitkan dengan pengeroposan tulang.
Bila Anda memakai obat golongan steroid selama berbulan-bulan, tanyakan kepada dokter tentang pemantauan tulang. Penghentian atau perubahan obat sebaiknya selalu melalui dokter.
7. Penyakit Penyerta yang Memengaruhi Tulang
Beberapa penyakit mengganggu hormon atau penyerapan nutrisi sehingga tulang ikut melemah. Hormon tiroid yang berlebihan bisa menyebabkan hilangnya massa tulang. Gangguan usus seperti penyakit celiac dan radang usus bisa menghambat penyerapan kalsium.
Penyakit ginjal atau hati, kanker tertentu, serta artritis reumatoid atau rematik juga meningkatkan risiko. Bila Anda memiliki salah satunya, tanyakan kepada dokter apakah kesehatan tulang perlu diperiksa.
Faktor Risiko Bawaan yang Tidak Bisa Diubah
Ada juga faktor bawaan yang berada di luar kendali. Mengetahuinya membantu dokter menentukan kapan pemeriksaan perlu dimulai.
Jenis kelamin. Perempuan jauh lebih mungkin mengalami osteoporosis dibanding laki-laki. Risikonya meningkat setelah menopause.
Usia. Risiko naik seiring bertambahnya usia. Lansia perlu memperhatikan kesehatan tulang secara berkala, termasuk mencegah jatuh.
Riwayat keluarga. Risiko meningkat bila orang tua atau saudara kandung memiliki osteoporosis. Riwayat patah tulang panggul pada ayah atau ibu perlu disampaikan saat berkonsultasi.
Ras. Orang kulit putih dan keturunan Asia memiliki risiko lebih tinggi. Massa tulang puncak juga berbeda di tiap kelompok ras.
Ukuran rangka tubuh. Orang dengan rangka tubuh kecil cenderung memiliki cadangan massa tulang lebih sedikit. Cadangan ini lebih cepat menipis seiring usia.
Apakah Osteoporosis Menimbulkan Gejala?
Pada tahap awal, pengeroposan tulang umumnya tidak bergejala. Tanda baru muncul ketika tulang sudah cukup lemah, misalnya:
Tinggi badan berkurang. Ruas tulang belakang yang retak atau menyusut membuat tubuh perlahan lebih pendek. Perubahan ini sering baru disadari saat pakaian terasa lebih panjang.
Punggung membungkuk. Postur makin condong ke depan karena ruas tulang belakang melemah. Perubahan postur yang bertahap layak diperiksakan ke dokter.
Nyeri punggung. Nyeri muncul ketika ruas tulang belakang patah atau kolaps, kadang tanpa didahului jatuh. Nyeri punggung bawah yang muncul mendadak setelah gerakan ringan perlu dievaluasi dokter.
Tulang mudah patah. Tulang bisa patah akibat jatuh ringan, bahkan saat membungkuk atau batuk. Kejadian ini sering menjadi tanda pertama osteoporosis.
Baca Juga: Pengapuran Tulang
Komplikasi Tulang Keropos
Komplikasi utama osteoporosis adalah patah tulang, khususnya di tiga lokasi berikut:
Panggul. Cedera ini sering terjadi akibat jatuh. Kondisi ini bisa menyebabkan disabilitas dan menurunkan kemandirian.
Pergelangan tangan. Cedera ini bisa terjadi saat tangan menahan tubuh ketika jatuh. Selama pemulihan, aktivitas harian seperti menulis atau memasak bisa terganggu.
Tulang belakang. Ruas tulang belakang bisa kolaps meski tanpa jatuh. Akibatnya muncul nyeri punggung, tinggi badan berkurang, dan postur membungkuk.
Mana Faktor Risiko yang Masih Bisa Diubah?
Tabel berikut merangkum faktor risiko beserta langkah yang bisa Anda lakukan.
Ringkasan di atas bersifat umum. Langkah yang tepat untuk Anda tetap perlu dibicarakan dengan dokter.
Kapan Perlu Berkonsultasi dengan Dokter?
Karena tulang keropos jarang bergejala, faktor risiko menjadi dasar untuk berkonsultasi. Temui dokter bila Anda mengalami menopause dini, pernah memakai obat golongan steroid selama beberapa bulan, memiliki orang tua yang pernah patah tulang panggul, atau orang tua maupun saudara kandung Anda mengalami osteoporosis.
Periksakan diri juga bila mengalami patah tulang akibat jatuh ringan, tinggi badan berkurang, atau punggung makin membungkuk. Perempuan setelah menopause dan lansia sebaiknya membahas waktu pemeriksaan kepadatan tulang dengan dokter.
Cara Dokter Mendiagnosis Osteoporosis
Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan, obat yang dikonsumsi, dan riwayat keluarga, lalu melakukan pemeriksaan fisik. Diagnosis ditegakkan dengan pengukuran kepadatan tulang atau densitometri, yang sering disebut DEXA. Pemeriksaan ini memakai sinar-X dosis rendah dan biasanya dilakukan pada panggul serta tulang belakang.
Hasilnya dibandingkan dengan nilai acuan dan bisa menunjukkan kepadatan normal, sedikit menurun atau osteopenia, atau sudah masuk kategori osteoporosis. Ambang diagnosis ditentukan oleh dokter.
Pemeriksaan Kesehatan Tulang di Bumame
Karena pengeroposan tulang berjalan tanpa keluhan dan tanda pertamanya sering berupa patah tulang, pemeriksaan darah dan penilaian dokter bisa menjadi langkah awal untuk melihat faktor yang memengaruhi kekuatan tulang.
Paket MCU Kesehatan Tulang dari Bumame berisi pemeriksaan darah terkait kesehatan tulang, yaitu kadar kalsium dan vitamin D. Hasilnya bisa Anda diskusikan dengan dokter, termasuk perlu tidaknya pemeriksaan kepadatan tulang. Untuk jadwal dan lokasi, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Bagaimana Osteoporosis Ditangani?
Penanganan bertujuan memperlambat pengeroposan dan mencegah patah tulang. Dokter menyesuaikan rencananya dengan hasil pemeriksaan, usia, dan penyebab yang mendasari.
Perawatan bisa meliputi obat untuk memperlambat hilangnya massa tulang atau membantu pembentukan tulang baru, asupan kalsium dan vitamin D yang cukup, latihan fisik yang aman, serta pencegahan jatuh. Bila hasil pemeriksaan menunjukkan kekurangan vitamin D, dokter bisa menyarankan suplemen. Penyakit atau obat yang memicu tulang keropos juga ikut ditangani.
Langkah Mencegah Tulang Keropos Sejak Dini
Kebiasaan sehat bermanfaat bagi tulang di usia berapa pun. Langkah yang bisa dimulai sekarang:
Cukupi kalsium. Sumbernya antara lain susu, sayuran hijau, tahu, dan ikan teri yang dimakan bersama tulangnya. Kebutuhan kalsium perempuan meningkat setelah usia 50 tahun.
Jaga asupan vitamin D. Sinar matahari membantu tubuh membentuk vitamin D, dan sumber lainnya adalah ikan berlemak. Tanyakan kepada dokter bila Anda merasa perlu suplemen.
Rutin bergerak. Olahraga yang menggabungkan latihan kekuatan, aktivitas menopang berat badan, dan latihan keseimbangan membantu menjaga tulang. Manfaatnya tetap ada kapan pun Anda mulai.
Hindari rokok dan batasi alkohol. Kedua kebiasaan ini melemahkan tulang. Menguranginya membantu menjaga kesehatan tulang jangka panjang.
Cegah jatuh. Usahakan lantai rumah tidak licin, penerangan cukup, dan alas kaki pas. Langkah ini penting bagi lansia dan orang dengan tulang keropos.
Mulai Rawat Kekuatan Tulang dari Sekarang
Usia dan riwayat keluarga berada di luar kendali Anda. Asupan kalsium dan vitamin D, aktivitas fisik, serta kebiasaan merokok dan minum alkohol bisa Anda atur mulai hari ini. Kepastian lebih awal memberi lebih banyak pilihan untuk melangkah. Untuk mengatur jadwal cek darah kesehatan tulang, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Osteoporosis pada Usia Produktif. Retrieved 23 September 2026 from https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/pencegahan-infeksi-pada-usia-produktif/osteoporosis-pada-usia-produktif
Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Osteoporosis. Retrieved 23 September 2026 from https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1954/osteoporosis
NHS. Osteoporosis - Causes. Retrieved 23 September 2026 from https://www.nhs.uk/conditions/osteoporosis/causes/
Mayo Clinic. Osteoporosis - Symptoms and causes. Retrieved 23 September 2026 from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/symptoms-causes/syc-20351968
Cleveland Clinic. Osteoporosis: Symptoms, Causes & Treatment. Retrieved 23 September 2026 from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4443-osteoporosis
Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan
