Redaksi Bumame
Pap Smear Bisa Mendeteksi Perubahan Sel Serviks Sejak Dini, Kapan Perlu Melakukannya?
Kanker serviks dapat berkembang dari perubahan sel abnormal pada leher rahim atau serviks. Perubahan tersebut sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal sehingga skrining memiliki peran penting dalam menemukan kelainan sebelum berkembang menjadi kanker.
Salah satu metode skrining yang dikenal luas adalah pap smear atau Pap test. Pemeriksaan dilakukan dengan mengambil sampel sel dari serviks untuk kemudian diperiksa di laboratorium.
Selain pap smear, skrining kanker serviks juga dapat dilakukan melalui pemeriksaan HPV untuk mendeteksi infeksi human papillomavirus (HPV) risiko tinggi yang menjadi penyebab utama kanker serviks.
Mengenal Pap Smear sebagai Skrining Kanker Serviks
Pap smear adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan mengambil sampel sel dari permukaan serviks untuk mencari perubahan sel yang dapat berkembang menjadi kanker serviks.
Menurut National Cancer Institute (NCI), Pap test digunakan untuk mengumpulkan sel dari permukaan serviks dan area di sekitarnya. Sel tersebut kemudian diperiksa untuk menemukan perubahan yang dapat berkembang menjadi kanker serviks.
Tujuan utama pap smear bukan untuk memastikan seseorang sudah mengalami kanker, tetapi sebagai pemeriksaan skrining untuk menemukan perubahan sel serviks sedini mungkin.
Skrining juga penting karena lesi prakanker serviks biasanya tidak menimbulkan gejala. World Health Organization (WHO) menyebut kanker serviks yang ditemukan pada tahap awal dapat ditangani dengan lebih efektif.
Karena itu, jangan menunggu munculnya gejala kanker serviks untuk mulai memperhatikan skrining.
Tujuan Pap Smear untuk Deteksi Dini Perubahan Sel Serviks
Pap smear bertujuan mendeteksi perubahan abnormal pada sel serviks yang berpotensi berkembang menjadi kanker apabila tidak ditangani.
Dengan menemukan perubahan tersebut lebih awal, dokter dapat menentukan apakah seseorang membutuhkan pemantauan atau pemeriksaan lanjutan.
Pap smear juga berbeda dengan pemeriksaan untuk mendeteksi HPV. Pap smear mencari perubahan pada sel serviks, sedangkan tes HPV mencari infeksi HPV risiko tinggi yang dapat menyebabkan perubahan sel tersebut.
Itulah sebabnya metode skrining yang digunakan dapat berbeda berdasarkan usia, riwayat pemeriksaan, hasil sebelumnya, dan rekomendasi tenaga kesehatan.
Waktu dan Kondisi yang Tepat untuk Melakukan Pap Smear
Kebutuhan skrining kanker serviks tidak sama untuk setiap orang.
Rekomendasi dapat mempertimbangkan usia, hasil skrining sebelumnya, riwayat kesehatan, status imun, hingga metode pemeriksaan yang digunakan.
WHO merekomendasikan penggunaan tes HPV berkinerja tinggi sebagai metode utama skrining kanker serviks. Untuk populasi umum, skrining berbasis HPV direkomendasikan mulai usia 30 tahun dengan interval 5–10 tahun, sedangkan pada perempuan yang hidup dengan HIV dimulai lebih awal dan dilakukan lebih sering.
Sementara itu, rekomendasi berbasis pap smear dapat berbeda tergantung pedoman klinis yang digunakan di suatu negara atau fasilitas kesehatan.
Karena itu, jadwal ideal pap smear sebaiknya ditentukan berdasarkan usia, metode skrining, hasil pemeriksaan sebelumnya, dan rekomendasi dokter.
Orang dengan riwayat hasil skrining abnormal, kondisi imun tertentu, atau faktor risiko khusus dapat membutuhkan jadwal yang berbeda.
Tahapan Prosedur Pap Smear
Pap smear dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan mengambil sampel sel dari serviks.
Pasien biasanya diminta berbaring di meja pemeriksaan dengan posisi yang memungkinkan dokter melihat area vagina dan serviks.
Secara umum, prosedurnya meliputi:
- Spekulum dimasukkan secara perlahan ke vagina agar serviks dapat terlihat.
- Sampel sel diambil dari area serviks menggunakan sikat atau alat khusus.
- Sampel ditempatkan dalam wadah pemeriksaan.
- Sampel dikirim ke laboratorium untuk dianalisis.
Proses pengambilan sampel umumnya berlangsung singkat. Sebagian orang dapat merasakan tekanan atau rasa tidak nyaman selama pemeriksaan.
Setelah prosedur, bercak darah ringan dapat terjadi pada sebagian orang. Namun, perdarahan yang banyak atau keluhan berat setelah pemeriksaan perlu dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.
Persiapan Sebelum Menjalani Pap Smear
Persiapan yang tepat dapat membantu memastikan sampel yang diperoleh dapat diperiksa dengan baik.
National Cancer Institute menyarankan untuk menghindari hubungan seksual, penggunaan douche, serta obat atau krim vagina selama sekitar dua hari sebelum Pap test karena dapat memengaruhi hasil pemeriksaan.
Pemeriksaan juga sebaiknya tidak dijadwalkan ketika sedang mengalami menstruasi apabila memungkinkan.
Sebelum pemeriksaan, beri tahu tenaga kesehatan apabila sedang hamil, mengalami keluhan pada area reproduksi, pernah mendapatkan hasil skrining abnormal, atau memiliki riwayat tindakan pada serviks.
Bagaimana Cara Membaca Hasil Pap Smear?
Hasil pap smear secara umum dapat menunjukkan apakah ditemukan perubahan pada sel serviks.
Hasil Normal
Hasil normal berarti tidak ditemukan sel serviks abnormal pada sampel yang diperiksa.
Skrining berikutnya dapat dilakukan sesuai interval yang direkomendasikan berdasarkan usia, metode pemeriksaan, dan riwayat kesehatan.
Hasil Abnormal
Hasil pap smear abnormal tidak otomatis berarti kanker serviks.
Perubahan sel dapat memiliki berbagai tingkat keparahan dan membutuhkan evaluasi lebih lanjut. Berdasarkan hasil tersebut, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan HPV, pap smear ulang, kolposkopi, biopsi, atau pemeriksaan lainnya.
Karena itu, hasil abnormal sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter agar tindak lanjut dapat ditentukan berdasarkan jenis perubahan sel yang ditemukan.
Apa Perbedaan Pap Smear dan Tes HPV DNA?
Pap smear dan tes HPV DNA sama-sama digunakan dalam konteks skrining kanker serviks, tetapi keduanya mencari hal yang berbeda.
| Perbandingan | Pap Smear | Tes HPV DNA |
| Fokus pemeriksaan | Melihat perubahan atau kelainan pada sel serviks | Mendeteksi HPV risiko tinggi yang berkaitan dengan kanker serviks |
| Apa yang dideteksi | Sel serviks yang mengalami perubahan atau abnormal | Infeksi HPV risiko tinggi |
| Cara pemeriksaan | Sampel sel diambil dari serviks untuk diperiksa | Sampel sel dari area serviks diperiksa untuk mendeteksi HPV |
| Hasil pemeriksaan | Menunjukkan ada atau tidaknya perubahan sel abnormal | Menunjukkan terdeteksi atau tidaknya HPV risiko tinggi |
| Peran dalam skrining | Membantu mendeteksi perubahan sel serviks sejak dini | Membantu mengetahui keberadaan HPV risiko tinggi yang dapat meningkatkan risiko kanker serviks |
Infeksi persisten oleh HPV risiko tinggi merupakan penyebab utama kanker serviks. WHO menyebut hampir seluruh kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi HPV onkogenik.
Karena perannya berbeda, memahami perbedaan pap smear dan tes HPV DNA dapat membantu menentukan pertanyaan yang perlu didiskusikan dengan dokter sebelum memilih metode skrining.
Pilihan skrining juga terus berkembang. WHO saat ini merekomendasikan HPV DNA testing sebagai metode skrining primer karena memiliki performa yang baik dalam mendeteksi individu yang berisiko mengalami lesi prakanker serviks.
Untuk mengetahui pilihan metode yang tersedia, kamu juga dapat melihat perbandingan metode skrining kanker serviks.
Efek Samping yang Dapat Terjadi setelah Pap Smear
Pap smear umumnya merupakan prosedur yang singkat dan aman.
Sebagian orang dapat mengalami rasa tidak nyaman atau tekanan ketika spekulum dimasukkan. Bercak darah ringan setelah pengambilan sampel juga dapat terjadi.
Efek tersebut biasanya bersifat sementara.
Jika setelah pemeriksaan muncul perdarahan yang banyak, nyeri berat, demam, atau keluhan lain yang tidak biasa, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Langkah untuk Mengurangi Risiko Kanker Serviks
Skrining merupakan salah satu bagian dari pencegahan kanker serviks, tetapi bukan satu-satunya.
WHO menempatkan vaksinasi HPV dan skrining sebagai komponen penting dalam strategi pencegahan kanker serviks. Vaksin HPV membantu melindungi dari tipe HPV yang paling sering menyebabkan kanker, sedangkan skrining membantu menemukan perubahan prakanker agar dapat ditangani sebelum berkembang lebih lanjut.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:
- Mendapatkan vaksin HPV sesuai rekomendasi usia dan kondisi.
- Menjalani skrining kanker serviks sesuai jadwal.
- Menindaklanjuti hasil skrining abnormal.
- Tidak merokok.
- Memperhatikan kesehatan seksual dan faktor risiko infeksi HPV.
Informasi mengenai cara melindungi diri dari kanker serviks juga dapat membantu memahami pencegahan secara lebih menyeluruh.
Pilihan Skrining HPV di Bumame
Bumame menyediakan pemeriksaan tes HPV DNA untuk membantu mendeteksi HPV risiko tinggi maupun tipe HPV lainnya.
Pemeriksaan HPV DNA Swab 21 Tipe di Bumame mencakup deteksi 14 tipe HPV risiko tinggi dan 7 tipe risiko rendah. Sampel diambil menggunakan swab dari serviks oleh tenaga medis.
Pemeriksaan tersebut berbeda dari pap smear karena yang dicari adalah materi genetik HPV, bukan perubahan bentuk sel serviks.
Pemilihan jenis skrining sebaiknya tetap disesuaikan dengan usia, riwayat pemeriksaan, kondisi kesehatan, serta rekomendasi dokter.
Lakukan Skrining Kanker Serviks Tanpa Menunggu Gejala
Pap smear adalah metode skrining yang digunakan untuk menemukan perubahan abnormal pada sel serviks sebelum berkembang menjadi kanker. Pemeriksaan ini berbeda dengan HPV DNA yang bertujuan mendeteksi keberadaan HPV risiko tinggi.
Karena perubahan prakanker dapat terjadi tanpa menimbulkan keluhan, skrining sebaiknya tidak baru dilakukan ketika gejala muncul.
Bagi yang ingin melakukan skrining berbasis HPV, skrining HPV DNA 21 tipe di Bumame dapat membantu mendeteksi berbagai tipe HPV melalui pemeriksaan sampel serviks.
Kamu juga dapat mempelajari lebih lanjut mengenai skrining HPV DNA 21 tipe sebelum menentukan pemeriksaan yang sesuai.
Jika masih bingung menentukan pap smear, HPV DNA, atau metode skrining kanker serviks yang sesuai, kamu dapat chat gratis dengan dokter untuk konsultasi agar kondisi dan riwayat kesehatan dapat dievaluasi serta kamu mendapatkan rekomendasi langkah selanjutnya.
Sumber: World Health Organization (WHO), National Cancer Institute (NCI), Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Bumame
Lokasi Klinik Bumame
Klinik Bumame CidengJAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10160
Klinik Bumame TB Simatupang1, Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12550
Klinik Bumame BSDRuko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kec. Serpong, Tangerang, Banten 15310Klinik Bumame Puri IndahRuko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23, Kembangan, Jakarta Barat 11610
Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri
Frequently Asked Question
Pap smear adalah pemeriksaan apa?
Pap smear adalah pemeriksaan skrining yang mengambil sampel sel dari serviks untuk mendeteksi perubahan sel abnormal yang berpotensi berkembang menjadi kanker serviks.
Apakah pap smear sama dengan tes HPV?
Tidak. Pap smear mencari perubahan pada sel serviks, sedangkan tes HPV mendeteksi infeksi HPV risiko tinggi yang dapat menyebabkan perubahan tersebut.
Apakah pap smear sakit?
Sebagian orang dapat merasakan tekanan atau rasa tidak nyaman ketika spekulum dimasukkan dan sampel diambil. Prosedurnya biasanya berlangsung singkat.
Apakah hasil pap smear abnormal berarti kanker?
Tidak. Hasil abnormal menunjukkan adanya perubahan pada sel serviks yang perlu dievaluasi lebih lanjut. Banyak perubahan sel bukan kanker dan sebagian dapat kembali normal atau ditangani sebelum berkembang menjadi kanker.
Apakah pap smear boleh dilakukan saat menstruasi?
Jika memungkinkan, pemeriksaan sebaiknya dijadwalkan ketika tidak sedang menstruasi karena darah dapat memengaruhi kualitas sampel.
Apakah sudah vaksin HPV masih perlu skrining kanker serviks?
Ya. Vaksin HPV memberikan perlindungan yang sangat penting, tetapi tidak melindungi terhadap seluruh tipe HPV penyebab kanker. Skrining tetap perlu dilakukan sesuai rekomendasi usia dan kondisi kesehatan.
