Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Penyakit AIDS: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan
Kembali ke Artikel & Berita

Penyakit AIDS: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

SBAOthers

Penyakit AIDS masih menjadi salah satu tantangan kesehatan di Indonesia, bahkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat ada 63.297 kasus baru HIV/AIDS di Indonesia pada tahun 2025 (1). AIDS sendiri merupakan tahap paling lanjut dari infeksi HIV yang terjadi saat sistem imun tubuh turun secara signifikan. 

Lalu, apa sebenarnya penyebab AIDS? Bagaimana gejalanya dan cara mengobatinya? Artikel ini akan membahas mulai dari pengertian AIDS, penyebab, gejala, cara penularan, hingga pengobatannya yang bisa Anda lakukan untuk membantu mengendalikan penyakit ini.

Apa Itu AIDS dan Bedanya dengan HIV?

Penyakit AIDS atau Acquired Immunodeficiency Syndrome adalah kondisi tahap lanjut dari infeksi HIV, yang mana sistem imun tubuh sudah benar-benar mengalami kerusakan akibat dari serangan ini. 

HIV atau Human Immunodeficiency Virus sendiri adalah sejenis virus yang menyerang sistem imun tubuh sehingga membuat turunnya kemampuan tubuh dalam melawan infeksi atau penyakit.

Jadi, bisa dikatakan bahwa HIV adalah virus penyebab infeksi, sedangkan AIDS merupakan penyakit hasil dari perkembangan infeksi HIV karena tidak ditangani dengan baik. Adapun pada orang dewasa dan remaja, AIDS bisa didiagnosis jika jumlah sel CD4 tubuh kurang dari 200 sel/mm³ atau gejala tertentu yang menjadi penanda AIDS.

Penyebab dan Cara Penularan AIDS

Pada dasarnya, penyakit AIDS disebabkan karena adanya infeksi HIV yang tidak ditangani dengan baik termasuk karena keterlambatan diagnosis atau tidak menjalani pengobatan yang teratur.  Adapun penyakit ini bisa menular lewat darah, air mani, cairan vagina, cairan rektal hingga ASI. 

Ada beberapa kondisi dan aktivitas yang bisa menaikkan risiko tertular infeksi ini, berikut di antaranya.

  • Melakukan hubungan seksual tanpa kondom, terutama jika dilakukan secara anal maupun vaginal dengan orang-orang penderita HIV yang belum kekuatan virusnya belum ditekan

  • Punya banyak pasangan seksual, terutama jika status HIV pasangan tidak diketahui. 

  • Menderita infeksi menular seksual (IMS), seperti sifilis, herpes genital, gonore, dan klamidia. Ini bisa memunculkan luka atau peradangan di area genital sehingga risiko penularan HIV tinggi.

  • Sering berbagi jarum suntik, seperti saat konsumsi narkoba, karena jarum ini bisa saja terkontaminasi darah yang berisi virus.

  • Ibu dengan HIV yang menularkan ke bayinya, yang bisa terjadi selama hamil, persalinan, atau pun menyusui.

  • Memakai alat-alat yang tidak steril dalam pembuatan tato, tindik, atau tindakan medis yang melibatkan peralatan yang terkontaminasi darah.

  • Transfusi darah dengan yang terkontaminasi HIV.

  • Paparan darah saat bekerja, terutama bagi nakes, misalnya tertusuk jarum bekas atau terkena darah yang mengandung HIV.

Gejala dan Tahapan AIDS

Secara umum, tanda atau gejala terinfeksi HIV berbeda-beda di setiap penderitanya, tergantung dari level infeksinya. Tapi, jika sudah di tahap AIDS, maka akan sangat berat, berikut penjelasannya.

1. Tahap Akut (Infeksi Awal HIV)

Ini adalah tahapan saat baru beberapa minggu terinfeksi HIV dan gejala yang muncul seperti:

  • demam dan menggigil,

  • kelelahan dan nyeri otot,

  • sakit tenggorokan,

  • ruam kulit,

  • kelenjar getah bening membengkak, dan

  • sariawan.

2. Tahap Kronis (Masa Laten Klinis)

Pada tahap ini, HIV masih aktif di dalam tubuh, tapi perkembangbiakannya berlangsung secara perlahan. Tanpa pengobatan, berikut gejala yang dapat muncul.

  • Bengkak yang berkepanjangan di kelenjar getah bening.

  • Mudah lelah dan keringat malam.

  • Berat badan turun tanpa sebab jelas.

  • Diare berkepanjangan.

  • Demam berulang.

  • Menderita infeksi herpes zoster.

3. Tahap AIDS 

Ini adalah tahapan paling lanjut dari infeksi HIV, dan gejala yang ditimbulkan sudah cukup berat.

  • Berat badan turun drastis dan nafsu makan turun.

  • Demam berkepanjangan

  • Keringat malam berlebihan dan kelelahan ekstrem.

  • Diare kronis yang berlangsung berminggu-minggu.

  • Bengkak di kelenjar getah bening seperti leher, ketiak, atau selangkangan.

  • Mengalami infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis (TBC), pneumonia akibat Pneumocystis jirovecii, hingga infeksi cytomegalovirus (CMV).

  • Muncul luka atau bercak putih di mulut, tenggorokan, anus, hingga alat kelamin akibat dari infeksi oportunistik, seperti infeksi jamur yang lebih mudah terjadi saat sistem imun tubuh turun.

  • Bercak merah, cokelat, pink, hingga ungu di kulit atau selaput lendir, yang bisa muncul karena ada infeksi saat sistem imun turun.

  • Gangguan neurologis, seperti sulit konsentrasi, sering lupa dan bingung.  

Cara Diagnosis AIDS: Tes HIV

Untuk mendiagnosis penyakit AIDS bisa dilakukan dengan tes HIV seperti tes antibodi, tes antigen/antibodi, dan tes asam nukleat serta pengecekan sel CD4. Berikut penjelasannya.

  • Tes antibodi: Dilakukan dengan deteksi antibodi yang dibentuk tubuh sebagai respons terhadap HIV dari sampel darah atau cairan mulut penderita. Pengecekan ini bisa menunjukkan adanya infeksi, tapi hasilnya bisa saja negatif walaupun terinfeksi HIV, jika Anda lakukan terlalu dini. 

  • Tes antigen/antibodi: Caranya dengan deteksi antibodi sekaligus antigen p24, yaitu bagian dari virus HIV, melalui sampel darah. Karena itu, metode ini umumnya bisa mendeteksi HIV lebih awal daripada dengan tes antibodi. 

  • Tes asam nukleat (NAT): Mendeteksi materi genetik HIV dalam darah. Secara umum, tes ini bisa untuk membantu mendeteksi infeksi lebih awal, terutama jika dicurigai ada paparan baru. 

  • Pengecekan jumlah sel CD4: Tes darah untuk tahu kondisi sistem imun tubuh, yang mana jika jumlahnya di bawah 200 sel/mm³ berarti ada risiko AIDS pada orang dengan HIV.

Pengobatan dan Penanganan AIDS

Secara umum, pengobatan penyakit AIDS bisa dilakukan melalui terapi antiretroviral (ARV), yaitu obat yang menekan perkembangbiakan HIV di dalam tubuh. Walaupun memang tidak bisa membasmi virusnya sepenuhnya, obat ini bisa mengendalikan fungsi sistem imun tubuh tetap baik dan mencegah infeksi berkembang lebih parah.

Selain itu, dalam proses pengobatan infeksi ini, sebaiknya pasien juga melakukan beberapa hal untuk menyokong proses penanganan.

  • Cek kesehatan secara rutin, termasuk monitoring jumlah virus (viral load) dan sel CD4, untuk mengevaluasi respons tubuh terhadap pengobatan.

  • Mengatasi infeksi penyertanya, seperti TBC atau infeksi jamur, sesuai dengan anjuran dokter.

  • Menjaga asupan nutrisi dan kebersihan makanan tetap baik, serta istirahat yang cukup untuk mendukung proses pengobatan. 

  • Hindari menghentikan atau merubah dosis ARV tanpa arahan dokter, karena bisa mengurangi efektivitas pengobatan.

  • Mendapatkan dukungan psikologis, baik dari tenaga ahli maupun orang-orang terpercaya, untuk membantu menghadapi tekanan atau masalah psikologis selama proses pengobatan HIV.

Cara Pencegahan

Secara umum, mencegah penyakit AIDS bisa Anda lakukan dengan mencegah tertularnya virus HIV itu sendiri dan memastikan jika terjadi infeksi HIV tidak sampai berkembang menjadi AIDS. Berikut cara yang bisa Anda lakukan.

  • Melakukan tes HIV secara berkala, terutama jika Anda punya faktor risiko terpapar HIV untuk tahu status HIV dan mencegahnya berkembang lebih parah. 

  • Memakai kondom atau pengaman dengan baik setiap kali Anda berhubungan seksual dengan pasangan untuk kurangi risiko penularan infeksi.

  • Menghindari perilaku seksual berisiko, seperti hubungan seks bebas atau gonta ganti pasangan. 

  • Pertimbangkan profilaksis pra pajanan (PrEP) atau obat pencegahan HIV untuk orang yang belum terinfeksi, terutama jika ada resiko tinggi terinfeksi virus ini.

  • Hindari narkoba terutama dengan jarum suntik.

  • Pastikan alat untuk tato, tindik dan tindakan medis selalu steril. 

  • Usahakan skrining sebelum transplantasi darah/organ.

Kapan Harus Tes HIV?

Tes HIV sebaiknya Anda lakukan jika merasa pernah atau sedang mengalami situasi yang bisa berpotensi memunculkan infeksi HIV.

  • Punya pasangan dengan status HIV.

  • Pernah berhubungan seksual dengan penderita HIV.

  • Menderita IMS.

  • Seorang pria yang pernah hubungan seks dengan pria lain.

  • Punya lebih dari satu pasangan.

  • Mengonsumsi narkoba, terutama lewat jarum suntik.

Selain itu, jika saat ini Anda sedang hamil, sebaiknya coba tes HIV untuk cegah penularan ke anak. Adapun jika ada kemungkinan paparan HIV, waktu pengecekan perlu Anda sesuaikan dengan jenis tes, misalnya tes antibodi, sebaiknya lakukan dalam waktu 23–90 hari setelah paparan, sehingga bisa lebih akurat.

Cek HIV Segera untuk Kurangi Resiko AIDS!

Penyakit AIDS adalah tahap lanjut dari infeksi HIV yang mana sistem imun tubuh sudah mengalami kerusakan berat. Adapun gejala yang muncul seperti berat badan turun drastis, diare kronis, hingga gangguan neurologis. 

Karena itu, sebaiknya Anda melakukan tindakan pencegahan dengan tes HIV sedini mungkin terutama jika punya faktor risikonya. Salah satunya melalui paket HIV Bumame. 

Cukup dengan biaya mulai dari Rp515.000, Anda bisa tes HIV dengan pilihan walk in atau home care, sehingga lebih praktis dan nyaman untuk Anda yang punya kesibukan. Hubungi tim Bumame untuk booking layanan!

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Badan Pusat Statistik. (2026). Kasus Penyakit Menurut Provinsi dan Jenis Penyakit, 2025. 

  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Mengenal HIV dan AIDS serta Tanda-tanda Gejalanya. 

  3. Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Buleleng. (2020). Tidaklah Sama, Pahami Perbedaan HIV dan AIDS Ini. 

  4. National HIV Curriculum, University of Washington. (2026). Initial Evaluation. 

  5. Rumah Sakit Pondok Indah. (2024). Waspada Faktor Risiko HIV dan AIDS, Pahami Cara Pencegahannya!. 

  6. International Association of Providers of AIDS Care. (2025). Ways HIV Is Transmitted. 

  7. HIV.gov. (2026). Acute and Chronic HIV and AIDS. 

  8. Centers for Disease Control and Prevention. (2026). Getting Tested for HIV. 

  9. National Institutes of Health. (2025). HIV Testing. 

  10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pencegahan, Pemeriksaan, dan Pengobatan HIV untuk Kesehatan Optimal.

  11. World Health Organization Regional Office for Africa. (2017). Treatment and Care (HIV/AIDS).

  12. National Institutes of Health. (2026). The Basics of HIV Prevention. 

  13. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Kenali Window Periode pada Pemeriksaan HIV.

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Apa perbedaan HIV dan AIDS?
HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS merupakan tahap paling lanjut dari infeksi HIV ketika sistem imun mengalami kerusakan berat.
Apa penyebab dan cara penularan AIDS?
AIDS berkembang dari infeksi HIV yang tidak ditangani dengan baik. HIV dapat menular melalui darah, air mani, cairan vagina, cairan rektal, dan ASI, termasuk melalui hubungan seksual berisiko, berbagi jarum suntik, atau dari ibu ke bayi.
Apa saja gejala AIDS yang perlu dikenali?
Gejala AIDS dapat berupa penurunan berat badan drastis, demam berkepanjangan, keringat malam berlebihan, kelelahan ekstrem, diare kronis, pembengkakan kelenjar getah bening, infeksi oportunistik, bercak pada kulit, serta gangguan konsentrasi atau daya ingat.
Apakah AIDS bisa disembuhkan?
Belum ada pengobatan yang dapat menghilangkan HIV sepenuhnya. Namun, terapi antiretroviral (ARV) dapat menekan perkembangbiakan virus, membantu menjaga fungsi sistem imun, dan mengurangi risiko perkembangan penyakit yang lebih parah.
Kapan seseorang perlu melakukan tes HIV?
Tes HIV perlu dipertimbangkan jika pernah melakukan hubungan seksual berisiko, memiliki pasangan dengan HIV, mengalami infeksi menular seksual, berbagi jarum suntik, atau sedang hamil. Waktu pemeriksaan perlu disesuaikan dengan jenis tes dan waktu paparan.