Mudah lelah, sering merasa kedinginan, atau berat badan yang naik tanpa ada penyebabnya mungkin terdengar seperti keluhan biasa. Namun, jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus disertai kulit kering, rambut rontok, dan sembelit, ada kemungkinan fungsi kelenjar tiroid sedang bermasalah atau penyakit Hashimoto.
Ini adalah gangguan autoimun yang membuat sistem imun tubuh menyerang kelenjar tiroid. Serangan ini dapat berlangsung secara perlahan dan mengurangi fungsi tiroid dalam menghasilkan hormon. Mari kenali gejala, penyebab, hingga pengobatannya!
Apa Itu Penyakit Hashimoto?
Tiroiditis Hashimoto atau penyakit Hashimoto adalah penyakit autoimun kronis yang menyerang kelenjar tiroid. Kelenjar berbentuk seperti kupu-kupu ini berada di bagian depan leher dan memiliki tugas untuk menghasilkan hormon yang mengatur penggunaan energi, suhu tubuh, kerja jantung, serta beberapa fungsi tubuh lainnya.
Pada penyakit ini, sistem imun tubuh menyerang jaringan tiroid secara perlahan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan peradangan dan membuat kelenjar tiroid sulit menghasilkan hormon dalam jumlah yang cukup. Karena berlangsung perlahan, beberapa penderita mungkin tidak merasakan gejala di tahap awal.
Selain itu, penyakit tiroid ini juga dikenal dengan sebutan Hashimoto's thyroiditis, chronic lymphocytic thyroiditis, atau autoimmune thyroiditis. Di dunia medis, penyakit tiroiditis hashimoto merupakan salah satu penyebab kondisi hipotiroid yang paling umum.
Gejala Penyakit Hashimoto
Gejala dari Hashimoto sering berkembang secara bertahap. Pada tahap awal, seseorang bisa tidak merasakan keluhan sama sekali. Gejala biasanya mulai lebih jelas saat kerusakan pada kelenjar tiroid menyebabkan produksi hormon menurun. Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:
gampang lelah,
berat badan naik tanpa ada penyebabnya,
sering merasa kedinginan atau menggigil,
sembelit,
kulit kering,
rambut kering dan bahkan mudah rontok,
nyeri pada otot ataupun sendi,
detak jantung yang terasa lebih lambat,
sulit berkonsentrasi atau hilang fokus,
menstruasi lebih sering atau bahkan tidak teratur, dan
adanya gangguan kesuburan pada sebagian penderita.
Pada sebagian penderita Hashimoto, kelenjar tiroid dapat membesar sehingga bagian depan leher tampak membengkak. Kondisi ini disebut gondok atau goiter. Pembengkakan biasanya tidak terasa sakit, tetapi sebagian orang dapat merasakan tekanan atau rasa penuh di tenggorokan.
Selain itu, pada tahap awal, sebagian kecil penderita dapat mengalami peningkatan hormon tiroid untuk sementara. Kondisi ini dapat menimbulkan keluhan seperti jantung berdebar, mudah berkeringat, atau merasa lebih panas dari biasanya. Seiring waktu, fungsi tiroid dapat menurun sehingga produksi hormonnya menjadi lebih rendah.
Penyebab dan Faktor Risiko
Hashimoto adalah penyakit yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan tiroid. Kondisi ini termasuk penyakit autoimun, yaitu saat sistem kekebalan tubuh menyerang sel atau jaringan tubuh sendiri. Hingga kini, penyebab pasti mengapa penyakit ini bisa terjadi masih belum diketahui sepenuhnya.
Faktor genetik pun diduga ikut berperan. Risiko sendiri cenderung lebih tinggi pada orang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit tiroid atau gangguan autoimun. Selain faktor genetik, para peneliti juga masih mempelajari peran faktor lingkungan dan infeksi tertentu sebagai penyebab Hashimoto.
Risiko juga lebih tinggi pada perempuan dan sering muncul di usia dewasa. Risikonya pun meningkat pada orang yang memiliki penyakit autoimun lain, seperti diabetes tipe 1, celiac, rheumatoid arthritis, lupus, atau sindrom Sjögren. Meski begitu, memiliki riwayat penyakit tersebut tidak berarti seseorang pasti akan mengalami Hashimoto.
Penyakit Tiroiditis Hashimoto vs Hipotiroid
Penyakit Hashimoto dan hipotiroid bukan kondisi yang sama, karena keduanya memiliki penjelasan yang berbeda. Hashimoto merupakan masalah autoimun yang menyerang kelenjar tiroid, sedangkan hipotiroid adalah kondisi ketika kelenjar tiroid tidak menghasilkan hormon dalam jumlah yang cukup.
Dengan kata lain, Hashimoto merupakan salah satu penyebab kondisi hipotiroid. Seseorang dapat mengalami Hashimoto ketika kadar hormon tiroidnya masih berada dalam rentang normal. Namun, seiring berjalannya waktu, kerusakan kelenjar tiroid dapat berkembang dan menyebabkan hipotiroid pada sebagian penderita.
Namun, Hashimoto juga tidak selalu menjadi penyebab hipotiroid. Kondisi ini dapat terjadi akibat penyebab lain, seperti penggunaan obat-obatan tertentu, operasi tiroid, pengobatan radioiodin, atau gangguan lain yang memengaruhi produksi hormon tiroid.
Diagnosis Lewat Tes Hormon Tiroid
Dokter biasanya memulai pemeriksaan penyakit Hashimoto dengan menanyakan gejala dan riwayat kesehatan, lalu memeriksa bagian leher untuk melihat apakah kelenjar tiroid membesar. Setelah itu, pemeriksaan darah dapat dilakukan untuk menilai fungsi tiroid dan membantu mencari penyebab gangguannya.
Salah satu pemeriksaan utama adalah TSH (thyroid-stimulating hormone). Pada hipotiroid primer, kadar TSH umumnya meningkat karena tubuh berusaha merangsang kelenjar tiroid agar menghasilkan lebih banyak hormon. Hasil TSH biasanya dinilai bersama Free T4 untuk mendapatkan gambaran fungsi tiroid lebih lengkap.
Selain itu, dokter juga dapat memeriksa antibodi tiroid, terutama antibodi TPO, untuk membantu menilai apakah gangguan pada tiroid berkaitan dengan sistem autoimun atau tidak. Pada kondisi tertentu, dokter dapat melakukan USG tiroid untuk melihat bentuk, ukuran, dan kondisi kelenjar tiroid secara lebih jelas.
Untuk menilai fungsi tiroid, Pemeriksaan Hormon Tiroid Bumame dapat menjadi pilihan pemeriksaan darah yang mengukur TSHs dan Free T4. Hasil pemeriksaan ini membantu dokter menilai fungsi kelenjar tiroid bersama gejala dan riwayat kesehatan penderita.
Pengobatan
Penanganan penyakit Hashimoto bergantung pada kondisi fungsi tiroid. Jika seseorang memiliki Hashimoto tetapi kadar hormon tiroidnya masih normal dan tidak mengalami hipotiroid, dokter dapat memilih untuk memantau gejala dan kadar hormon secara berkala tanpa langsung memberikan pengobatan hormon.
Jika sudah menyebabkan hipotiroid, dokter biasanya memberikan levotiroksin, yaitu obat hormon tiroid buatan yang berfungsi untuk menggantikan hormon T4 yang kurang diproduksi oleh tubuh. Dokter akan menentukan dosis berdasarkan kondisi penderita dan hasil pemeriksaan TSH.
Dokter biasanya juga melakukan pemantauan kadar hormon melalui pemeriksaan darah setelah pengobatan dimulai atau ketika dosis obat berubah. Penderita juga perlu memperhatikan waktu konsumsi levotiroksin karena zat besi dan kalsium dapat mengganggu penyerapannya jika diminum dalam waktu yang berdekatan.
Apakah Bisa Sembuh?
Hashimoto adalah penyakit autoimun kronis yang hingga kini belum memiliki pengobatan yang dapat menyembuhkannya secara permanen. Meski begitu, penderita tetap dapat mengontrol kondisi. Jika Hashimoto sudah menyebabkan hipotiroid, kadar hormon tiroid dapat dikontrol dengan pengobatan pengganti hormon.
Sebagian penderita mungkin juga memerlukan pengobatan hormon dalam jangka panjang, seperti levotiroksin. Dosis obat ini dapat disesuaikan berdasarkan hasil pemeriksaan darah agar kadar hormon tetap berada dalam rentang yang sesuai, tidak lebih maupun tidak kurang.
Jadi, meskipun penyakit tiroid tidak bisa dianggap sembuh total, gejalanya tetap dapat Anda kendalikan dengan pengobatan dan pemeriksaan yang tepat. Kontrol rutin juga dapat membantu dokter memastikan pengobatan jangka panjang yang sesuai dengan kondisi penderita.
Periksakan Diri Sekarang dan Hindari Komplikasi Lebih Serius!
Penyakit Hashimoto adalah kondisi yang progresnya sangat pelan, namun dapat menyebabkan komplikasi jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Oleh karena itu, Anda harus dapat mengenali gejalanya dan jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika sudah mulai merasakan hal yang mengganggu.
Anda juga dapat melakukan medical check up rutin untuk mendapatkan diagnosis lebih awal meski belum merasakan gejala dan evaluasi lebih lanjut. Sehingga, tenaga medis dapat menyarankan pengobatan terbaik untuk kenyamanan dan kesehatan tubuh!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
References
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2021). Hashimoto's Disease. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases.
Ragusa, F., Fallahi, P., Elia, G., et al. (2019). Hashimotos' thyroiditis: Epidemiology, pathogenesis, clinic, and therapy. Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism, 33(6), 101367.
National Library of Medicine. (2024). Chronic thyroiditis (Hashimoto disease). MedlinePlus Medical Encyclopedia.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2017). Thyroid Tests. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases.
American Thyroid Association. (Diakses 2026). Hashimoto's Thyroiditis. American Thyroid Association.
National Library of Medicine. (2024). TSH (Thyroid-stimulating hormone) Test. MedlinePlus.
Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan
.jpg&w=3840&q=75)