Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Penyakit Skoliosis: Gejala, Penyebab, dan Harga Cek
Kembali ke Artikel & Berita

Penyakit Skoliosis: Gejala, Penyebab, dan Harga Cek

SBAOthers

Ketidaksimetrisan posisi bahu saat berdiri atau kemiringan pakaian di punggung sering kali dianggap sebatas postur tubuh yang kurang ideal akibat kebiasaan sehari-hari. Namun, kondisi tersebut patut diwaspadai karena bisa menjadi indikasi awal penyakit skoliosis, yakni kelainan berupa lengkungan tidak normal pada tulang belakang. 

Gangguan ini umumnya mulai terdeteksi ketika anak memasuki fase pertumbuhan cepat, khususnya pada masa remaja, meskipun dapat dialami pada berbagai rentang usia. Deteksi yang lebih cepat membuka peluang penanganan yang jauh lebih efektif sebelum kelengkungan tulang belakang berkembang semakin parah.

Apa Itu Skoliosis?

Skoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang menyebabkan tulang belakang melengkung ke samping. Jika dilihat dari belakang, tulang belakang yang normal cenderung tampak lurus. Pada skoliosis, bentuknya dapat menyerupai huruf C atau S.

Lengkungan ini tidak selalu terlihat jelas. Pada kasus ringan, seseorang mungkin tidak merasakan keluhan apa pun dan baru mengetahuinya ketika menjalani pemeriksaan. Sementara itu, pada kondisi yang lebih nyata, perubahan postur dapat terlihat dari posisi bahu, pinggang, atau tulang belikat.

Postur sehari-hari seperti duduk membungkuk memang dapat memengaruhi kenyamanan tubuh, tetapi skoliosis memiliki berbagai penyebab yang berbeda. Hal ini serupa dengan bagaimana gangguan pernapasan seperti PPOK dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang kompleks.

Derajat kelengkungan tulang belakang juga dapat berbeda pada setiap orang. Karena itu, melihat postur tubuh saja belum cukup untuk memastikan seseorang mengalami skoliosis. Dokter biasanya memerlukan pemeriksaan fisik dan, bila diperlukan, pemeriksaan pencitraan seperti rontgen.

Penyebab Penyakit Skoliosis

Tidak semua kasus penyakit skoliosis memiliki penyebab yang sama. Secara umum, penyebabnya dapat dibagi menjadi beberapa kelompok berikut.

1. Skoliosis Idiopatik

Istilah idiopatik berarti penyebabnya belum diketahui secara pasti. Ini merupakan salah satu jenis kasus skoliosis yang paling sering ditemukan, terutama pada anak dan remaja.

Skoliosis idiopatik biasanya mulai terlihat ketika anak mengalami pertumbuhan yang cukup cepat. Kondisi ini dapat diketahui secara tidak sengaja ketika orang tua melihat perubahan pada postur anak atau ketika dokter melakukan pemeriksaan fisik.

Walaupun penyebab pastinya belum diketahui, skoliosis idiopatik bukan berarti muncul karena anak melakukan sesuatu yang salah. Kebiasaan membawa tas, posisi tidur, atau duduk dengan postur tertentu tidak dapat dianggap sebagai penyebabnya.

2. Skoliosis Kongenital

Skoliosis kongenital berkaitan dengan perkembangan tulang belakang sejak berada di dalam kandungan. Pada kondisi ini, terdapat tulang belakang yang tidak berkembang atau terbentuk secara normal.

Kelainan tersebut dapat sudah ada sejak lahir, meskipun tanda-tandanya baru terlihat ketika anak bertambah besar. Pemantauan dokter diperlukan untuk mengetahui bagaimana kondisi tulang belakang berkembang seiring pertumbuhan.

3. Skoliosis Neuromuskular

Skoliosis neuromuskular berkaitan dengan kondisi yang memengaruhi saraf dan otot. Ketika otot atau sistem saraf tidak mampu menopang tubuh dengan baik, keseimbangan dan posisi tulang belakang dapat ikut terpengaruh.

Jenis skoliosis ini dapat ditemukan pada orang dengan kondisi neuromuskular tertentu. Penanganan dan pemantauannya biasanya membutuhkan perhatian medis yang lebih menyeluruh karena dokter juga perlu mempertimbangkan kondisi yang mendasarinya.

Gejala Penyakit Skoliosis yang Perlu Diperhatikan

Salah satu hal yang membuat penyakit skoliosis terkadang terlambat diketahui adalah gejalanya bisa sangat ringan. Bahkan, seseorang dapat tidak merasakan nyeri sama sekali. Beberapa perubahan fisik yang dapat diperhatikan di antaranya sebagai berikut.

1. Tulang Belakang Tampak Melengkung

Ketika dilihat dari belakang, garis tulang belakang tampak tidak lurus. Lengkungannya dapat menyerupai huruf C atau S. Namun, jangan mencoba menentukan sendiri apakah seseorang mengalami skoliosis hanya berdasarkan bentuk punggung. Pemeriksaan profesional tetap diperlukan untuk memastikan kondisi tersebut.

2. Bahu Tidak Simetris

Salah satu bahu dapat terlihat lebih tinggi dibandingkan bahu lainnya. Posisi tulang belikat juga bisa tampak berbeda antara sisi kanan dan kiri. Perbedaan ini lebih mudah terlihat ketika anak berdiri tegak dengan kedua tangan rileks di samping tubuh.

3. Pinggang atau Panggul Terlihat Tidak Seimbang

Pada sebagian orang, garis pinggang atau posisi panggul dapat terlihat lebih tinggi pada salah satu sisi. Kondisi ini membuat tubuh tampak kurang simetris saat berdiri tegak, dan pakaian yang dikenakan juga bisa terlihat miring. Jika terjadi terus-menerus, terutama pada anak dan remaja, sebaiknya periksakan ke tenaga kesehatan.

4. Salah Satu Tulang Belikat Lebih Menonjol

Salah satu tulang belikat dapat terlihat lebih menonjol dibandingkan sisi lainnya akibat perubahan posisi tulang belakang. Perbedaan ini biasanya lebih mudah terlihat ketika seseorang membungkukkan tubuh ke depan. Meski dapat menjadi tanda skoliosis, kondisi tersebut tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan medis.

Perubahan pada tubuh sering kali menjadi indikator awal bagi berbagai kondisi medis tertentu. Prinsip kewaspadaan yang sama juga berlaku saat menghadapi penyakit lainnya, seperti campak.

Faktor Risiko Penyakit Skoliosis, Terutama pada Remaja

Penyakit skoliosis dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, tetapi masa remaja menjadi periode yang penting untuk diperhatikan. Alasannya adalah tulang dan tubuh sedang mengalami pertumbuhan yang pesat.

Pada skoliosis idiopatik, lengkungan tulang belakang dapat menjadi lebih mudah terlihat atau mengalami perubahan selama fase pertumbuhan. Karena itu, orang tua dapat memperhatikan perubahan postur anak secara berkala, terutama ketika anak sedang mengalami pertumbuhan tinggi badan yang cepat.

Faktor lain yang dapat berhubungan dengan risiko skoliosis antara lain:

  • Usia: skoliosis tertentu lebih sering teridentifikasi pada masa pertumbuhan anak dan remaja.

  • Riwayat keluarga: beberapa kasus skoliosis memiliki kecenderungan muncul dalam keluarga.

  • Jenis skoliosis: risiko dan perjalanan kondisi dapat berbeda bergantung pada penyebabnya.

  • Kondisi neuromuskular tertentu: gangguan yang memengaruhi kekuatan otot atau fungsi saraf dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya skoliosis neuromuskular.

  • Kelainan bawaan tulang belakang: kondisi yang sudah berkembang sejak masa janin dapat menyebabkan skoliosis kongenital.

Bagi orang tua, pemeriksaan sederhana di rumah dapat membantu menyadari adanya perubahan postur. Misalnya, perhatikan apakah kedua bahu tampak sejajar atau apakah salah satu sisi punggung terlihat lebih menonjol. 

Meski begitu, pengamatan di rumah hanya menjadi langkah awal, bukan alat diagnosis. Hal serupa juga berlaku pada kondisi kesehatan lainnya seperti kolesterol dan liver yang juga memerlukan perhatian terhadap kondisi tubuh secara berkala.

Diagnosis Penyakit Skoliosis

Ketika dokter mencurigai adanya penyakit skoliosis, pemeriksaan biasanya diawali dengan melihat postur dan kondisi fisik pasien. Dokter dapat meminta pasien berdiri, berjalan, atau membungkukkan tubuh untuk melihat keseimbangan serta bentuk tulang belakang.

Jika diperlukan, dokter dapat merekomendasikan rontgen tulang belakang untuk menunjukkan gambaran struktur tulang sehingga dokter dapat melihat lokasi dan bentuk lengkungan dengan lebih jelas.

Rontgen juga dapat membantu dokter mengukur derajat kelengkungan tulang belakang. Pengukuran tersebut penting untuk menentukan apakah terdapat kelengkungan yang perlu dipantau dan bagaimana tindak lanjut yang sesuai.

Hindari Skoliosis dengan Paket MCU Kesehatan Tulang Bumame

Selain evaluasi tulang belakang sesuai indikasi dokter, menjaga kesehatan tulang secara keseluruhan juga merupakan bagian dari upaya preventif. Salah satu pilihan pemeriksaan yang tersedia adalah Paket MCU Kesehatan Tulang dari Bumame dengan harga mulai dari Rp430.000,00.

Paket ini ditujukan untuk mengevaluasi status vitamin D dan kalsium dalam darah yang berperan dalam mendukung kesehatan tulang. Pemeriksaannya mencakup Vitamin D 25-OH Total dan Kalsium (Ca), dengan pilihan konsultasi dokter baik melalui layanan home care maupun walk in.

Pemeriksaan ini berfungsi untuk mengevaluasi status nutrisi tulang serta bisa digunakan untuk mendeteksi dini potensi penyakit skoliosis. Jika ditemukan indikasi perubahan bentuk tulang belakang, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan penunjang lanjutan seperti rontgen.

Untuk pemeriksaan diperlukan pengambilan sampel darah. Proses pengambilan sampel hanya memakan waktu sekitar 5–10 menit, kemudian hasil pemeriksaan dapat tersedia dalam rentang 1×24 jam setelah pengambilan sampel.

Upaya pemeriksaan kesehatan tulang ini dapat ditempatkan sebagai bagian dari pemantauan kesehatan dan langkah preventif, bukan sebagai pengganti diagnosis dokter terhadap skoliosis.

Kapan Harus ke Dokter Ortopedi?

Tidak semua perubahan postur membutuhkan pemeriksaan darurat. Namun, konsultasi dengan dokter ortopedi, baik secara mandiri maupun dengan BPJS, layak dipertimbangkan. Beberapa kondisi yang sebaiknya tidak diabaikan antara lain:

  • Tulang belakang terlihat semakin melengkung.

  • Bahu atau pinggul tampak tidak sejajar.

  • Salah satu tulang belikat terlihat lebih menonjol.

  • Bentuk punggung berubah dan semakin jelas dari waktu ke waktu.

  • Muncul nyeri punggung yang menetap atau mengganggu aktivitas.

  • Terdapat kesemutan, kelemahan, atau keluhan lain yang menyertai perubahan tulang belakang.

  • Perubahan postur terlihat pada anak atau remaja yang sedang mengalami pertumbuhan cepat, sehingga orang tua juga perlu memerhatikan kondisi pertumbuhan mereka. Kejelian orang tua juga perlu diterapkan dalam memantau risiko masalah kesehatan lain yang kerap mengintai anak, seperti infeksi HFMD (flu singapura) hingga gangguan fungsi tiroid.

Khusus pada anak dan remaja, jangan menunggu sampai kelengkungan terlihat sangat jelas untuk berkonsultasi. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu dokter memahami kondisi tulang belakang dan menentukan apakah perlu dilakukan pemantauan lebih lanjut.

Mulai Perhatikan Perubahan pada Postur Tubuh

Memerhatikan postur tubuh atau cara berdiri sebenarnya sesederhana bagian dari bentuk kepedulian Anda dalam mengenali risiko penyakit skoliosis. Justru, semakin cepat perubahan postur diperhatikan, semakin mudah bagi keluarga untuk mengambil langkah yang tepat. Perhatikan perubahan tubuh, jangan ragu bertanya kepada tenaga kesehatan, dan lakukan pemeriksaan sesuai kebutuhan.

Meski demikian, perlu diingat bahwa tidak semua punggung yang tampak miring berarti skoliosis. Diagnosis membutuhkan penilaian medis dan pemeriksaan seperti rontgen tulang belakang untuk memantau aspek kesehatan tulang tertentu secara preventif.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

References:

  1. National Library of Medicine. (2007). Scoliosis: Review of diagnosis and treatment. 

  2. The Open Orthopaedics Journal. (2016). Adolescent Idiopathic Scoliosis. 

  3. European Journal of Medical Research. (2025). Advances in the diagnosis and treatment of congenital scoliosis. 

  4. Orthopaedics and Trauma Journal. (2025). Neuromuscular scoliosis: the why and the how of diagnosis and treatment. 

  5. Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan. (2025). Deteksi Dini Skoliosis Idiopatik: Upaya Pencegahan Kelainan Tulang Belakang Pada Anak. 

Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Apa itu penyakit skoliosis?
Skoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang menyebabkan tulang belakang melengkung ke samping, menyerupai huruf C atau S. 
Apa saja penyebab penyakit skoliosis?
Skoliosis dapat berupa idiopatik dengan penyebab yang belum diketahui, kongenital akibat perkembangan tulang belakang sejak dalam kandungan, atau neuromuskular yang berkaitan dengan gangguan saraf dan otot. 
Apa saja gejala penyakit skoliosis yang perlu diperhatikan?
Gejalanya dapat berupa tulang belakang melengkung, bahu tidak simetris, pinggang atau panggul tidak seimbang, serta salah satu tulang belikat lebih menonjol. 
Siapa yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami skoliosis?
Skoliosis lebih perlu diperhatikan pada anak dan remaja yang sedang mengalami pertumbuhan pesat. Riwayat keluarga, kondisi neuromuskular tertentu, dan kelainan bawaan tulang belakang juga dapat berkaitan dengan risikonya. 
Kapan perlu memeriksakan skoliosis ke dokter?
Pemeriksaan perlu dipertimbangkan jika tulang belakang semakin melengkung, bahu atau pinggul tidak sejajar, perubahan postur semakin jelas, atau muncul nyeri, kesemutan, dan kelemahan.