Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Skizofrenia
Kembali ke Artikel & Berita

Skizofrenia: Gejala, Penyebab, dan Jenisnya

SBAOthers

Mungkin Anda pernah mendengar cerita tentang seseorang yang tiba-tiba berbicara sendiri, mendengar suara yang tidak ada, atau meyakini hal-hal yang sulit dinalar orang lain. Reaksi pertama banyak orang biasanya bingung, takut, atau justru buru-buru menghakimi.

Itu adalah contoh gejala skizofrenia, sebuah gangguan mental kronis yang sayangnya masih menerima begitu banyak stigma buruk sekarang ini, termasuk di Indonesia. Padahal seperti gangguan lainnya, penderita tetap dapat pulih dan kembali beraktivitas dengan baik.

Apa Itu Skizofrenia?

Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku. Penderita gangguan mental ini sering kesulitan membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya ada di pikirannya.

Walaupun jumlah kasusnya tidak sebanyak gangguan kesehatan mental lain, kondisi ini termasuk salah satu pemicu disabilitas terbesar secara global. Gangguan ini mengena sekitar satu persen populasi global dan biasanya mulai bermanifestasi sejak akhir remaja hingga awal dua puluhan.

Jika penderitanya adalah pria, gejalanya cenderung muncul lebih awal dibandingkan dengan perempuan, yang biasanya baru timbul setelah beberapa tahun.

Penting untuk dipahami bahwa skizofrenia bukanlah dampak dari kelemahan karakter atau kesalahan pola asuh. Ini merupakan gangguan medis kompleks yang berakar dari perubahan cara kerja otak, sama halnya dengan penyakit fisik lainnya.

Tapi karena banyak film dan cerita yang tidak mengetahui cara kerja gangguan ini, banyak orang sekarang beranggapan bahwa skizofrenia sama dengan kepribadian ganda. Miskonsepsi ini memperparah stigma di masyarakat, yang pada akhirnya menyulitkan penderita untuk mengakses penanganan medis secara optimal.

Penyebab Skizofrenia

Sampai hari ini, penyebab pasti skizofrenia belum sepenuhnya dipahami oleh para ahli. Yang cukup jelas, kondisi ini muncul dari kombinasi beberapa faktor yang saling berkaitan. Berikut adalah faktor-faktor yang paling sering dikaitkan dengan munculnya skizofrenia.

1. Faktor Genetik

Riwayat keluarga punya peran yang cukup besar dalam meningkatkan risiko skizofrenia. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dekat dengan masalah kesehatan mental ini berisiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Meski begitu, faktor genetik bukan satu-satunya penentu.

Banyak orang yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi ini justru tidak pernah mengalaminya. Gen memang dapat meningkatkan kerentanan seseorang, tetapi tidak serta-merta menjadi satu-satunya penyebab munculnya kondisi ini.

2. Tidak Seimbangnya Susunan Kimia Otak

Otak menggunakan zat kimia bernama neurotransmiter untuk mengantar sinyal ke sesama sel saraf. Skizofrenia diperkirakan terjadi karena tidak adanya keseimbangan zat kimia seperti dopamin dan glutamat.

Perbedaan pada struktur dan cara kerja otak penderita juga para ahli perkirakan sebagai salah satu penyebabnya.

3. Faktor Lingkungan

Lingkungan dan pengalaman hidup seseorang juga bisa meningkatkan risiko munculnya kondisi kejiwaan ini. Stres berat, trauma, paparan virus tertentu saat dalam kandungan, hingga penggunaan narkoba terutama pada usia remaja juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko berkembangnya gangguan tersebut.

Gejala Skizofrenia yang Perlu Dikenali

Setiap penderita bisa mengalami gejala yang berbeda dan gejala-gejala itu bisa berkembang secara bertahap. Pada umumnya, gejala-gejala yang muncul adalah sebagai berikut.

  • Halusinasi adalah salah satu gejala yang paling terkenal. Mereka yang menderita halusinasi bisa mendengar suara, melihat, atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

  • Munculnya delusi atau waham, yaitu keyakinan kuat yang bertolak belakang dengan kenyataan. Contohnya adalah merasa diawasi, diikuti, atau memiliki kekuatan istimewa yang tidak masuk akal.

  • Sering mengalami kekacauan saat sedang berbicara atau berpikir. Ucapannya bisa melompat-lompat, sulit dipahami, atau tidak nyambung dengan topik pembicaraan.

  • Gangguan emosi kerap muncul, seperti ekspresi wajah yang datar atau reaksi emosional yang tidak sesuai. 

Perlu diingat, penderita tidak sedang berpura-pura atau mencari perhatian. Semua gejala-gejala tadi terasa begitu nyata bagi penderita dan bisa sangat mengganggu kehidupannya serta orang di sekitarnya. Mereka hanya membutuhkan dukungan tanpa perlu dihakimi sedikit pun.

Jenis-Jenis Gejala Skizofrenia 

Para ahli membagi gejala skizofrenia menjadi tiga kategori utama. Para ahli membagi gejala skizofrenia menjadi tiga kategori utama.

1. Gejala Positif

Istilah "positif" di sini bukan berarti baik, tapi merujuk pada munculnya persepsi atau perilaku baru yang tidak dimiliki orang sehat pada umumnya. Kategori ini mencakup halusinasi, delusi, serta gangguan dalam berpikir dan berkomunikasi. Gejala positif inilah yang paling sering dianggap sebagai ciri khas skizofrenia oleh masyarakat awam.

2. Gejala Negatif

Sebaliknya, gejala negatif berarti hilangnya atau berkurangnya sesuatu yang normalnya ada. Contohnya adalah kehilangan minat, menarik diri dari pergaulan, dan ekspresi emosi yang datar.

Penderita juga bisa kehilangan motivasi untuk beraktivitas atau menjaga kebersihan diri. Gejala negatif sering berkembang perlahan dan kadang sudah bermanifestasi jauh sebelum munculnya gejala positif.

3. Gejala Kognitif

Kelompok terakhir berkaitan dengan kemampuan berpikir dan mengolah informasi. Penderita bisa kesulitan berkonsentrasi, mengingat sesuatu, atau membuat keputusan sederhana.

Gejala kognitif ini sering luput dari perhatian, padahal dampaknya besar pada kemandirian penderita. Kesulitan ini bisa membuat penderita kewalahan menjalani rutinitas hariannya.

Hal yang Meningkatkan Risiko Terjadinya Skizofrenia

Ada beberapa kondisi yang bisa meningkatkan peluang seseorang mengalami gangguan mental ini.

Riwayat keluarga dengan skizofrenia adalah faktor risiko yang paling besar. Komplikasi saat kehamilan atau kelahiran, seperti kekurangan gizi janin, juga bisa meningkatkan risiko itu. Seseorang juga bisa menderita gangguan ini akibat penggunaan zat psikoaktif atau narkoba pada usia muda.

Stres psikologis yang berat dan berkepanjangan juga bisa memicu kerentanan menderita gangguan ini. Beban mental telah lama diketahui dapat memengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan, sehingga penting untuk memahami cara mengelola stres dengan cerdas sejak dini.

Perlu diketahui, sebagian penderita skizofrenia juga bisa mengalami gangguan mental lain secara bersamaan, seperti depresi.

Diagnosis dan Penanganan Awal

Dokter tidak bisa menyimpulkan bahwa seseorang menderita skizofrenia setelah melakukan pemeriksaan sekali. Biasanya, dokter akan menggali riwayat kesehatan, gejala yang dialami, serta melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik ini penting untuk menghapus kemungkinan kondisi medis lain yang gejalanya mirip.

Penanganan gangguan mental ini umumnya menggabungkan pengobatan dengan terapi psikologis dan dukungan sosial. Pemberian obat antipsikotik biasanya membantu meredakan gejala positif dalam waktu beberapa minggu. Selain obat, terapi psikologis juga bisa membantu penderita beradaptasi dan kembali beraktivitas secara mandiri.

Yang tidak kalah penting, dukungan penuh dari keluarga sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Jika penderitanya mengikuti penanganan tersebut secara konsisten, maka bukan tidak mungkin bahwa mereka bisa sembuh. Sebagian besar penderita bisa menunjukkan perbaikan yang berarti setelah menjalani pengobatan secara teratur. 

Jika berhenti minum obat tanpa arahan dokter, gejalanya bisa jadi justru semakin parah. Karena itu, kunci utama untuk mencapai kesembuhan dari skizofrenia adalah kesabaran dan pendampingan jangka panjang oleh semua pihak.

Cek Kesehatan dan Konsultasi Bersama Bumame

Menghadapi berbagai gejala kesehatan mental memang tidak mudah, apalagi jika gejala itu muncul bersama gejala gangguan fisik lainnya. Sekarang Anda bisa dengan mudah mencari paket pemeriksaan kesehatan yang bisa mengecek keduanya.

Bumame menghadirkan paket Medical Check Up Basic untuk membantu Anda memantau kondisi kesehatan secara umum. Pemeriksaan ini mencakup berbagai tes dasar untuk menilai fungsi tubuh Anda secara keseluruhan.

Lewat hasil pemeriksaan yang jelas, dokter bisa membantu memastikan bahwa gejala yang dialami tidak dipicu oleh gangguan medis lain di dalam tubuh.

Namun, perlu diingat bahwa pemeriksaan ini bukanlah pengganti diagnosis atau terapi kesehatan mental. Pemeriksaan ini adalah langkah awal untuk mengenali kondisi tubuh Anda secara lebih menyeluruh.

Bila Anda atau keluarga mengalami tekanan mental, jangan ragu berkonsultasi dengan profesional. Di saat yang sama, Anda juga bisa menerapkan cara meningkatkan kesehatan mental sehari-hari. Penting juga mengenali depresi mayor jika kesedihan mendalam mulai mengganggu aktivitas harian.

Setelah gejala depresi dan kecemasan teratasi, dokter bisa langsung memberikan penanganan yang lebih tepat yang bisa membantu pemulihan ke depannya.

Kapan Keluarga Harus Mencari Bantuan Profesional?

Sebagai orang terdekat, keluarga penderita adalah orang-orang yang biasanya pertama kali menyadari munculnya skizofrenia. Dengan lebih cepat mengenali gejala gangguan mental ini, keluarga bisa membantu penderita segera mendapatkan perawatan.

Segera cari bantuan profesional bila muncul halusinasi, delusi, atau perilaku yang membahayakan diri penderita. Muncul perubahan perilaku drastis, menarik diri total, atau bicara yang kacau juga perlu diwaspadai.

Jangan tunda mencari pertolongan bila ada tanda-tanda keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Kondisi ini termasuk situasi darurat yang membutuhkan penanganan medis secepat mungkin.

Segera Tangani Skizofrenia Sedini Mungkin!

Perlu diingat, semakin cepat dokter menangani gangguan mental ini, semakin baik peluang pemulihannya. Tapi yang juga tidak kalah penting adalah penanganan tanpa adanya rasa menghakimi untuk para penderita skizofrenia.

Semua orang berhak sembuh ketika sedang sakit, termasuk mereka yang mengalami gangguan mental ini. Hubungi Bumame untuk konsultasi jika Anda atau orang tercinta mulai menunjukkan gejala sakit.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

World Health Organization. (2022). Schizophrenia. 

MSD Manual Versi Konsumen. (2025). Skizofrenia. 

National Institute of Mental Health. (2024). Schizophrenia. 

Hany, M., et al. (2024). Schizophrenia. StatPearls Publishing. 

Kementerian Kesehatan RI. (2024). Kesehatan Jiwa: Masalah Yang Sering Disepelekan Dan Dianggap Tidak Penting.  


Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Apa itu skizofrenia?
Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku, termasuk kesulitan membedakan kenyataan dan pikirannya. 
Apa saja penyebab skizofrenia?
Penyebab pasti skizofrenia belum sepenuhnya diketahui, tetapi dapat berkaitan dengan faktor genetik, perubahan kimia dan struktur otak, serta lingkungan. 
Apa saja gejala skizofrenia?
Gejalanya dapat berupa halusinasi, delusi, gangguan berpikir atau berbicara, ekspresi emosi yang datar, kehilangan minat, serta kesulitan berkonsentrasi. 
Bagaimana skizofrenia ditangani?
Penanganan umumnya menggabungkan obat antipsikotik, terapi psikologis, dan dukungan sosial dari keluarga. Pengobatan yang konsisten dapat membantu penderita mengalami perbaikan dan kembali beraktivitas. 
Kapan keluarga perlu mencari bantuan profesional?
Bantuan profesional perlu segera dicari jika muncul halusinasi, delusi, perubahan perilaku drastis, perilaku membahayakan, atau keinginan menyakiti diri sendiri.