Demam dan sakit kepala memang kerap muncul ketika tubuh sedang tidak fit. Akan tetapi, saat keluhan tersebut juga disertai dengan kejang, perubahan perilaku, kebingungan, atau penurunan kesadaran, bisa jadi ini memerlukan perhatian medis lebih serius karena berhubungan dengan radang otak.
Peradangan otak bukan hanya sakit kepala biasa. Masalah ini terjadi saat jaringan otak mengalami peradangan serta bisa berpengaruh terhadap fungsi tubuh, mulai dari kemampuan bergerak, berpikir, sampai kesadaran. Penyebabnya pun beragam, sehingga pemeriksaan medis dibutuhkan agar diketahui pemicunya secara tepat.
Apa Itu Radang Otak (Ensefalitis)?
Radang otak, yang dalam bahasa medis ensefalitis, adalah kondisi saat jaringan otak mengalami peradangan. Istilah ensefalitis berasal dari sebuah kata yang merujuk pada peradangan otak serta termasuk kelompok penyakit neurologis yang bisa berkembang menjadi lebih serius.
Menurut WHO, ensefalitis adalah kondisi neurologis yang serius serta berpotensi mengancam nyawa. Peradangan tersebut bisa mengganggu beragam fungsi otak.
Dampaknya tidak selalu sama bagi setiap orang karena bergantung pada penyebab, tingkat peradangan, usia, bagian otak yang terdampak, dan seberapa cepat kondisi didiagnosis serta ditangani. Pada kasus tertentu, penderita bisa mengalami gangguan kemampuan berbicara, ingatan, penglihatan, gerakan, pendengaran, dan kesadaran.
Peradangan otak tidak sama dengan meningitis atau peradangan di selaput yang melindungi otak serta sumsum tulang belakang. Keduanya memang bisa muncul secara bersamaan, tetapi bagian tubuh yang terkena peradangan relatif berbeda.
Penyebab Radang Otak
Secara umum, penyebab radang otak bisa Anda kelompokkan menjadi infeksi serta gangguan sistem daya tahan tubuh. Melansir Mayo Clinic, penyebab pastinya tidak bisa ditemukan pada beberapa kasus meski sudah mendapatkan penanganan medis.
1. Infeksi Virus
Virus adalah salah satu pemicu utama ensefalitis. Beberapa virus bisa mencapai sistem saraf pusat serta mengakibatkan peradangan di jaringan otak. Misalnya, herpes simplex virus (HSV) yang terkenal sebagai penyebab peradangan otak serta bisa mengakibatkan kerusakan otak berat ketika tidak segera dikenali.
Bukan hanya HSV, beberapa virus lain juga bisa mengakibatkan peradangan otak, termasuk varicella-zoster virus yang mengakibatkan cacar api dan cacar air. Ada juga virus yang penularannya melalui kutu atau nyamuk, seperti virus yang menyebabkan Japanese encephalitis.
2. Infeksi Jamur, Bakteri, atau Parasit
Meskipun lebih jarang dibandingkan dengan infeksi virus; bakteri, jamur, dan parasit juga bisa berkaitan dengan peradangan otak. Infeksi tersebut bisa menyerang sistem saraf pusat secara langsung atau berkembang menjadi sebuah komplikasi dari infeksi pada bagian tubuh yang lain.
Karena penyebabnya cenderung tidak sama, dokter tidak bisa menentukan jenis infeksi hanya berdasarkan gejala. Pemeriksaan cairan serebrospinal, darah, atau tes laboratorium lainnya mungkin perlu untuk mengetahui mikroorganisme penyebabnya.
3. Reaksi Autoimun
Penyebab radang otak tidak selalu mikroorganisme. Pada ensefalitis autoimun (autoimmune encephalitis), sistem kekebalan tubuh justru salah menyerang protein, sel, atau reseptor tertentu di otak sehingga bisa memicu terjadinya peradangan dan mengganggu fungsi sistem saraf.
Gejala ensefalitis autoimun juga bisa berbeda dari infeksi akut. Perubahan kepribadian, gangguan ingatan, gangguan tidur, halusinasi, kejang, dan masalah pergerakan bisa berkembang secara bertahap hanya dalam hitungan minggu. Pada sebagian kasus, kondisi ini berhubungan dengan infeksi sebelumnya, penyakit autoimun, obat tertentu, atau bahkan tumor.
4. Reaksi Setelah Infeksi
Pada sebagian orang, peradangan otak bisa muncul ketika tubuh sudah mengalami infeksi. Kondisi ini dinamakan post-infectious encephalitis, yaitu peradangan yang berhubungan dengan respons sistem kekebalan tubuh setelah infeksi sebelumnya.
5. Kondisi yang Tidak Diketahui Penyebabnya
Meski beragam pemeriksaan sudah dilakukan, penyebab peradangan otak pada beberapa orang mungkin tetap tidak diketahui. Maka dari itu, tidak semua kasus bisa langsung masuk kategori infeksi atau penyakit autoimun.
Biasanya, dokter akan mempertimbangkan gejala, riwayat sebelumnya, hasil pemeriksaan penunjang, serta perkembangan kondisi sebelum mulai menarik kesimpulan penyebabnya.
Gejala Radang Otak
Mengutip Centers for Disease Control and Prevention, gejala peradangan otak bisa terjadi secara bertahap atau berkembang cukup cepat. Pada mulanya, keluhan bisa menyerupai penyakit ringan seperti infeksi flu. Hal ini membuatnya cukup sulit untuk dikenali.
1. Demam
Demam adalah salah satu gejala awal yang bisa muncul, khususnya pada radang otak karena infeksi. Suhu tubuh yang meningkat bisa disertai dengan nyeri otot, tubuh terasa lemas, atau rasa yang tidak nyaman secara umum.
2. Sakit Kepala Hebat
Sakit kepala bisa menjadi keluhan awal sebelum mengalami gangguan neurologis. Rasa sakit yang berat, khususnya ketika muncul bersama dengan keluhan muntah, leher kaku, demam, atau perubahan kesadaran, sebaiknya tidak Anda anggap sebagai sakit kepala biasa.
3. Kejang
Peradangan pada jaringan otak bisa mengganggu aktivitas listrik normal otak serta berpotensi memicu kejang. Kejang bisa berupa tatapan kosong, gerakan tubuh yang tidak terkontrol, hilangnya kesadaran, atau bentuk lain yang tidak selalu terlihat seperti kejang pada umumnya.
4. Penurunan Kesadaran dan Kebingungan
Penderita bisa mengalami kondisi seperti sulit diajak berkomunikasi, mengantuk, bingung terhadap tempat atau waktu, hingga bahkan hilang kesadaran. Perubahan seperti ini adalah salah satu tanda penting bahwa fungsi otak mengalami gangguan.
5. Perubahan Kepribadian atau Perilaku
Pada beberapa kasus, penderita bisa menjadi mudah gelisah, marah, mengalami perubahan kepribadian, atau menunjukkan perilaku yang berbeda dari biasanya. Sementara itu, pada ensefalitis autoimun, perubahan perilaku serta gangguan psikologis bahkan bisa menjadi gejala yang cukup menonjol.
6. Gangguan Gerakan, Bicara, atau Keseimbangan
Peradangan di bagian otak tertentu bisa berpengaruh terhadap kemampuan menggerakkan anggota tubuh, berbicara, berjalan, maupun menjaga keseimbangan. Mayoritas penderita juga bisa mengalami kelemahan di bagian tubuh tertentu.
7. Gangguan Pendengaran, Penglihatan, atau Ingatan
Peradangan otak bisa mengganggu fungsi sensorik dan kognitif. Penderita bisa mengalami gangguan seperti kesulitan memahami percakapan, gangguan memori, perubahan penglihatan, pendengaran, serta kesulitan untuk berkomunikasi.
Faktor Risiko Radang Otak
Peradangan otak bisa terjadi pada siapa pun, tetapi beberapa kondisi bisa meningkatkan risikonya. Usia merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan karena anak-anak dan orang lanjut usia cenderung lebih rentan terhadap beberapa jenis encephalitis karena infeksi.
1. Lemahnya Sistem Imun
Sistem imun yang melemah akan meningkatkan risiko peradangan. Kondisi ini bisa terjadi pada seseorang yang mempunyai penyakit tertentu maupun mereka yang memakai obat penekan sistem imun. Saat perubahan tubuh terganggu, kemampuan tubuh dalam melawan infeksi yang bisa menyerang sistem saraf akan berubah.
2. Lingkungan
Selain itu, faktor lingkungan juga berperan pada radang otak jenis tertentu. Orang yang kerap bepergian menuju wilayah dengan virus yang ditularkan oleh kutu atau nyamuk mempunyai kemungkinan terpapar patogen tertentu.
3. Paparan Hewan dan Gigitan Serangga
Riwayat paparan terhadap hewan maupun gigitan serangga juga bisa menjadi informasi penting saat dokter melakukan pemeriksaan, sehingga bisa mengetahui penyebabnya.
4. Riwayat Penyakit
Pada ensefalitis autoimun; riwayat penyakit autoimun, infeksi tertentu, episode ensefalitis sebelumnya, dan beberapa jenis tumor bisa menjadi faktor yang harus dipertimbangkan. Akan tetapi, mempunyai faktor risiko tidak berarti bahwa seseorang pasti menderita peradangan otak.
Diagnosis Radang Otak
Melakukan diagnosis terhadap peradangan otak memerlukan beberapa pemeriksaan karena gejalanya bisa menyerupai infeksi maupun gangguan saraf lain. Dokter biasanya akan memeriksa riwayat kesehatan, gejala, melakukan pemeriksaan fisik, serta mengecek hasil pemeriksaan penunjang.
1. MRI Otak
MRI atau magnetic resonance imaging menghasilkan gambaran otak menggunakan medan magnet. Pemeriksaan tersebut membantu melihat adanya perubahan maupun peradangan di jaringan otak serta menyingkirkan kondisi lain yang mempunyai gejala serupa.
2. Pemeriksaan Cairan Otak
Pungsi lumbal atau lumbar puncture dilakukan dengan cara mengambil sampel CSF (cerebrospinal fluid), atau cairan yang mengelilingi otak serta sumsum tulang belakang. Analisis CSF bisa menunjukkan indikasi peradangan atau infeksi dan membantu menemukan penyebab tertentu.
3. EEG
Electroencephalogram (EEG) adalah alat diagnosis yang merekam aktivitas fisik otak lewat elektroda. Pemeriksaan tersebut membantu mendeteksi aktivitas fisik yang abnormal, termasuk yang berhubungan dengan kejang.
4. Pemeriksaan Darah
Tes darah bisa digunakan untuk mencari tanda peradangan, infeksi, maupun petunjuk penyebab lainnya. Pemeriksaan lanjutan bisa dilakukan berdasarkan kondisi pasien serta dugaan dokter.
5. Pemeriksaan Autoimun
Ketika dokter mencurigai adanya ensefalitis autoimun, pemeriksaan antibodi bisa dilakukan untuk mengetahui apakah sistem imun menyerang bagian tertentu dari otak.
Pemeriksaan Kesehatan Berkala untuk Pantau Kondisi Tubuh
Pemeriksaan kesehatan secara berkala membantu memberi gambaran tentang kondisi tubuh serta menemukan faktor risiko yang mungkin belum menimbulkan keluhan. Salah satu layanan pemeriksaan yang bisa Anda pertimbangkan yaitu Medical Check Up Basic dari Bumame.
Paket ini sudah mencakup pemeriksaan fungsi hati, hematologi lengkap, asam urat, fungsi ginjal, glukosa puasa, profil kolesterol, dan urin lengkap. Akan tetapi, pemeriksaan ini bukan alat untuk melakukan diagnosis terhadap radang otak, melainkan sebagai pemantau kesehatan.
Kapan Harus Segera ke UGD?
Tidak semua sakit kepala atau demam ditandai sebagai gejala radang otak. Namun, Anda harus segera mencari pertolongan medis ketika keluhan juga disertai perubahan perilaku, kebingungan, kejang, kelemahan tubuh, gangguan bicara, sulit berjalan, atau penurunan kesadaran.
Kenali Penyebab Radang Otak untuk Penanganan yang Tepat
Ensefalitis atau radang otak adalah peradangan jaringan otak yang bisa terjadi karena infeksi atau reaksi sistem imun. Gejalanya bisa berupa sakit kepala, demam, kebingungan, kejang, perubahan perilaku, sampai penurunan kesadaran.
Diagnosis membutuhkan pemeriksaan seperti analisis cairan serebrospinal, EEG, MRI, dan tes laboratorium. Ketika muncul perubahan fungsi otak yang tidak biasa, penting untuk melakukan pemeriksaan medis sesegera mungkin agar penyebabnya segera diketahui.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Mayo Clinic. (2024). Encephalitis: Symptoms and causes.
National Health Service. (2023). Encephalitis: Symptoms, causes and diagnosis.
Centers for Disease Control and Prevention. (2026). Tick-borne Encephalitis: Symptoms, Diagnosis, Treatment.
National Institute of Neurological Disorders and Stroke. (n.d.). Neurological Diagnostic Tests and Procedures.
Mayo Clinic. (2024). Autoimmune encephalitis: Symptoms and causes.
Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna
_(1).jpg&w=3840&q=75)