Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Hemodialisis Adalah: Fungsi, Prosedur, dan Harga | Bumame
Kembali ke Artikel & Berita

Hemodialisis adalah: Fungsi, Cara Kerja, dan Persiapannya

SBAOthers

Bayangkan jika isi tempat sampah di rumah penuh dan tidak pernah dibuang. Tentu rumah menjadi kotor, bukan? Sama seperti rumah, di dalam tubuh terdapat organ pembersih otomatis, yaitu ginjal yang bekerja menyaring darah, limbah, dan racun. Akan tetapi, jika ginjal tidak berfungsi dengan baik, maka hemodialisis adalah solusinya.

Proses hemodialisis tergolong rumit dan mahal, karena harus meniru cara kerja organ ginjal yang bekerja tanpa henti selama 24 jam. Oleh karena itu, penting bagi Anda atau orang di sekitar Anda yang akan menjalani cuci darah untuk memahami apa itu hemodialisis, bagaimana prosedurnya, dan apa saja persiapannya terlebih dahulu.

Apa Itu Hemodialisis?

Pada seseorang yang memiliki ginjal sehat, ginjal dapat menyaring ratusan liter darah setiap hari selama 24 jam. Organ ini membuang zat sisa metabolisme seperti urea (zat sisa pemecahan protein), kreatinin (zat sisa aktivitas otot), asam urat, kelebihan air, elektrolit (sisa mineral), dan zat racun lainnya.

Namun, ketika ginjal mengalami kerusakan berat dan tidak lagi bisa menjalankan fungsinya, maka akan terjadi penumpukan zat-zat racun dan cairan berlebih dalam tubuh. Hal ini akan mengancam keselamatan jiwa seseorang yang mengalaminya.

Seiring dengan perkembangan teknologi medis yang semakin canggih, terdapat alat/prosedur yang mampu menggantikan peran ginjal, yaitu hemodialisis.

Secara medis, hemodialisis adalah prosedur terapi pengganti fungsi ginjal untuk membersihkan darah menggunakan mesin khusus dan dialiser (filter ginjal buatan). Sehingga, di Indonesia, nama lain dari hemodialisis adalah cuci darah.

Selain untuk membersihkan darah dalam tubuh, hemodialisis mempunyai beberapa fungsi lain yang sama dengan organ ginjal. Fungsi lain dari hemodialisis adalah menyaring limbah sisa metabolisme, mencegah penumpukan cairan tubuh, dan menjaga kadar mineral penting (natrium, kalium, kalsium) agar tekanan darah stabil.

Tetapi, penting untuk Anda pahami bahwa hemodialisis adalah tindakan terapi untuk mengambil alih tugas penyaringan darah saja. Bukan sebagai metode untuk menyembuhkan atau memulihkan kembali organ ginjal yang sudah rusak.

Kondisi yang Memerlukan Hemodialisis

Tidak semua orang yang mempunyai penyakit ginjal boleh menjalani terapi hemodialisis. Sebab, perlu evaluasi medis secara menyeluruh terlebih dahulu oleh dokter. Beberapa kondisi medis yang memerlukan hemodialisis adalah sebagai berikut.

  • Gagal ginjal kronis: Ginjal sudah mengalami kerusakan permanen sebesar 85–90%, atau fungsi ginjal hanya tersisa 10–15%. Ini terjadi akibat penyakit diabetes, hipertensi, atau radang ginjal yang membutuhkan perawatan jangka panjang. 

  • Gagal ginjal akut: Terjadi penurunan fungsi ginjal secara mendadak akibat infeksi berat, dehidrasi parah, perdarahan hebat, serangan jantung, atau efek samping obat tertentu. Pada kondisi ini, penggunaan hemodialisis adalah tindakan sementara sampai ginjal dapat pulih lagi.

  • Uremia berat: Kondisi menumpuknya zat sisa metabolisme beracun berupa ureum berlebih. Urea diperoleh dari pemecahan protein yang menjadi asam amino, lalu amonia yang beracun diubah hati menjadi ureum. Dampaknya dapat memicu pusing, kejang, mual, muntah, hingga hilang kesadaran.

  • Hiperkalemia: Kadar kalium dalam darah terlalu tinggi, yang dapat menyebabkan gangguan fatal pada detak jantung.

  • Kelebihan cairan: Gagalnya ginjal dalam membuang air dari dalam tubuh mengakibatkan penumpukan cairan yang berlebih pada organ tubuh tertentu. Sehingga, tubuh menjadi bengkak, atau bisa juga menumpuk di paru-paru yang memicu sesak napas berat.

  • Keracunan berat: Keracunan zat kimia dari racun atau obat tertentu dengan dosis tinggi, seperti salisilat (aspirin), metanol, metformin, atau etilen glikol. Apabila ginjal tidak mampu membersihkannya, maka dapat menyebabkan pasien koma, kejang, dan gangguan kesadaran.

Cara Kerja Hemodialisis

Prinsip kerja dari hemodialisis adalah sederhana, yaitu dengan mengandalkan konsep fisika perpindahan zat, yaitu darah, air, dan zat lain sisa metabolisme. Namun, pelaksanaannya di rumah sakit perlu pengawasan yang ketat. Untuk lebih jelasnya, simak cara kerja hemodialisis di bawah ini.

  1. Pertama, perawat akan memasukkan jarum ke dalam pembuluh darah pasien. Sehingga, darah perlahan mengalir keluar melalui selang khusus berwarna merah (jalur arteri), menuju mesin cuci darah dengan bantuan pompa darah.

  2. Kemudian, darah masuk ke dalam dialiser, yaitu tabung berisi ribuan serat halus dengan pori-pori yang sangat kecil, yang memisahkan darah dan cairan dialisat (cairan pembersih). Aliran cairan dialisat berlawanan arah dengan aliran darah.

  3. Zat-zat racun seperti ureum dan kreatinin mengalami difusi, yaitu berpindah dari tempat berkonsentrasi tinggi (darah) ke area berkonsentrasi rendah (cairan dialisat).

  4. Sementara itu, kelebihan air akan dibuang melalui proses ultrafiltrasi, di mana kelebihan cairan akan disaring melalui membran semipermeabel dengan didorong oleh perbedaan tekanan hidrostatik antara kompartemen darah dan cairan dialisat.

  5. Selanjutnya, pemberian obat antikoagulan, seperti heparin, dilakukan dengan cara disuntikkan ke dalam sirkulasi, untuk mencegah pembekuan darah selama di luar tubuh.

  6. Setelah melalui proses penyaringan zat-zat beracun dan penarikan cairan yang berlebih, darah yang telah bersih dialirkan kembali ke dalam tubuh pasien melalui selang khusus berwarna biru (jalur vena).

Frekuensi dan Durasi Hemodialisis

Jadwal pelaksanaan cuci darah pada setiap orang bisa berbeda-beda, tergantung kondisi medis dan keputusan dari dokter spesialis ginjal. Pada penderita gagal ginjal kronis, frekuensi hemodialisis adalah sebanyak 2–3 kali seminggu, dengan durasi selama 4–5 jam per sesi.

Umumnya, total durasi selama seminggu yang harus pasien lakukan adalah 10-+12 jam. Jadi, jika frekuensinya 2 kali seminggu, maka durasinya 5 jam per sesi. Sedangkan jika 3 kali seminggu, berarti durasinya 4 jam per sesi. Pasien juga dapat melakukan hemodialisis di rumah dengan frekuensi yang lebih sering dan durasi yang lebih singkat.

Beberapa faktor yang menentukan jadwal hemodialisis adalah sisa fungsi ginjal, berat badan, serta jumlah cairan dan zat limbah metabolisme yang terakumulasi di dalam darah di antara dua jadwal. Mematuhi jadwal sangatlah penting agar tidak terjadi penumpukan racun dan cairan berlebih yang dapat menyebabkan komplikasi.

Persiapan Sebelum Tindakan Hemodialisis

Sebelum menjalani tindakan hemodialisis untuk pertama kalinya, ada serangkaian persiapan medis agar proses cuci darah berjalan lancar dan aman. Persiapan sebelum tindakan hemodialisis adalah pemeriksaan fisik, laboratorium, dan penyiapan akses vaskular. Berikut ini penjelasan selengkapnya.

  • Persiapan fisik: Menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, dan pernapasan.

  • Pemeriksaan laboratorium: Berupa tes fungsi ginjal untuk mengukur kadar elektrolit, ureum, dan kreatinin. Lalu, juga ada cek darah lengkap untuk mengetahui kadar hemoglobin dan trombosit. Kemudian, skrining penyakit menular seperti hepatitis A, B dan C serta HIV.

  • Penyiapan akses vaskular (jalan masuk dan keluar darah): Memastikan kondisi akses darah telah siap dan bersih. Jenis aksesnya berupa AV Fistula (penyambungan langsung arteri dan vena), AV Graft (penyambungan dengan selang sintetis), atau Kateter Vena Sentral (pemasangan selang ke vena).

  • Edukasi nutrisi: Dokter akan memberi saran pembatasan asupan cairan harian dan panduan diet khusus rendah natrium, kalium, dan fosfor di luar jadwal terapi. Makanan yang harus dihindari misalnya makanan olahan dan yang mengandung tinggi garam.

Ketahui Kesehatan Ginjal Melalui MCU Lengkap

Sebagian besar gangguan ginjal tahap awal tidak menimbulkan gejala. Sehingga, banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki masalah dengan fungsi ginjal. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk melakukan pemeriksaan kesehatan organ ginjal agar tidak terjadi kerusakan permanen.

Anda dapat melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh secara berkala melalui layanan medical check up premium di Bumame. Dalam paket premium ini, tersedia pemeriksaan fungsi ginjal seperti analisis urin, mengukur kadar ureum dan kreatinin, serta analisis eGFR untuk memeriksa seberapa baik fungsi ginjal dalam menyaring darah.

Selain itu, Anda dapat melengkapinya dengan pemeriksaan kadar NA, K, dan Cl untuk mengukur keseimbangan elektrolit dalam tubuh, yang mana berguna untuk mendukung evaluasi gangguan ginjal. Dari hasil skrining tersebut, Anda dapat melakukan tindakan pencegahan atau dokter dapat mengambil langkah penanganan sejak dini.

Kapan Dokter Menyarankan Hemodialisis?

Dokter spesialis nefrolog akan menyarankan tindakan hemodialisis kepada pasien setelah mengetahui hasil dari tes fisik dan laboratorium. Selain itu, beberapa pertimbangan medis yang membuat seseorang harus segera melakukan hemodialisis adalah sebagai berikut.

  • Nilai eGFR (laju penyaringan ginjal) berada di bawah 15 mL/menit/1,73 m², yang mana artinya ginjal telah memasuki tahap gagal ginjal stadium akhir.

  • Pasien mengalami gejala uremia parah, seperti mual dan muntah terus menerus, berat badan turun drastis, dan sesak napas berat.

  • Terjadi komplikasi medis yang dapat mengancam jiwa, seperti edema paru (penumpukan cairan di paru-paru), ketidakseimbangan asam darah (pH darah rendah), dan kadar kalium dalam darah sangat tinggi.

Pentingnya Hemodialisis bagi Kesehatan Ginjal

Hemodialisis adalah prosedur medis yang sangat penting bagi pasien yang mengalami gangguan ginjal berat. Hal ini karena hemodialisis harus menggantikan peran ginjal yang sudah kehilangan fungsinya, terutama dalam menyaring darah dan racun hingga menjaga keseimbangan cairan tubuh.

Meskipun hemodialisis adalah tindakan yang membutuhkan banyak biaya dan disiplin tinggi, pemahaman mengenai prosedur dan persiapannya akan membantu pasien menjalani terapi dengan percaya diri. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin pun menjadi langkah terbaik untuk menjaga kualitas hidup yang lebih sehat.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Tingkatkan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik

  2. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2023). Hemodialysis

  3. Mayo Clinic. (2026). Hemodialysis: Overview, why it's done, and risks

  4. National Kidney Foundation. (2026). Hemodialysis

  5. Program Pendidikan Kedokteran Spesialis dan Subspesialis Universitas Brawijaya. (2023). Hemodialisis

Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna

Frequently Asked Question

Apa itu hemodialisis?
Hemodialisis adalah terapi pengganti fungsi ginjal untuk membersihkan darah menggunakan mesin khusus dan dialiser atau filter ginjal buatan. Di Indonesia, hemodialisis juga dikenal sebagai cuci darah. 
Kondisi apa saja yang memerlukan hemodialisis?
Hemodialisis dapat diperlukan pada gagal ginjal kronis, gagal ginjal akut, uremia berat, hiperkalemia, kelebihan cairan, atau keracunan berat tertentu. Keputusan menjalani terapi tetap memerlukan evaluasi medis oleh dokter. 
Bagaimana cara kerja hemodialisis?
Darah dialirkan dari tubuh menuju mesin dan masuk ke dialiser untuk menyaring zat sisa seperti ureum dan kreatinin serta membuang kelebihan cairan. Setelah melalui proses penyaringan, darah yang sudah dibersihkan dialirkan kembali ke tubuh pasien. 
Seberapa sering hemodialisis perlu dilakukan?
Pada penderita gagal ginjal kronis, hemodialisis umumnya dilakukan 2–3 kali seminggu dengan durasi sekitar 4–5 jam setiap sesi. Jadwal dapat berbeda berdasarkan sisa fungsi ginjal, berat badan, serta jumlah cairan dan limbah yang menumpuk dalam darah. 
Kapan dokter menyarankan hemodialisis?
Dokter dapat menyarankan hemodialisis berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium, terutama ketika eGFR berada di bawah 15 mL/menit/1,73 m², terdapat gejala uremia berat, atau komplikasi yang mengancam jiwa.