Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Rotavirus: Gejala, Penularan, dan Cara Mencegah | Bumame
Kembali ke Artikel & Berita

Apa itu Rotavirus: Gejala, Penularan, dan Cara Mencegah

SBAOthers

Aktivitas harian seperti bermain, makan, dan menyentuh berbagai benda membuat anak mudah terpapar kuman. Salah satunya adalah rotavirus, yang dapat menyebabkan diare berkepanjangan (akut) dan muntah hingga berisiko membuat anak kehilangan banyak cairan dalam waktu singkat.

Diare akibat virus ini perlu ditangani dengan tepat, terutama untuk mencegah dehidrasi. Dengan mengenali gejala, cara penularan, serta langkah pencegahannya, Anda sebagai orang tua dapat bertindak lebih cepat dan membantu menjaga kondisi anak tetap aman.

Apa Itu Rotavirus?

Rotavirus adalah virus yang menyerang saluran pencernaan, khususnya di lambung dan usus, yang umumnya menyerang anak, khususnya pada anak usia 3 hingga 15 bulan. Virus ini terkenal memiliki daya tahan yang kuat dan sangat stabil di luar tubuh inang hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.

Lapisan protein yang melindungi virus ini adalah sistem pertahanan yang kuat dan merepotkan bila memasuki tubuh. Begitu masuk, virus menyebabkan peradangan di lapisan lambung serta usus kecil maupun besar, lalu berujung pada diare, muntah, dan demam.

Cara Penularan Rotavirus

Virus ini umumnya menular lewat jalur fekal-oral, yaitu ketika virus dari feses (penderita) masuk ke mulut orang yang sehat. Sekilas memang sangat menjijikkan, namun hal ini biasanya tidak disengaja. Kemungkinannya ada beberapa cara, yakni:

  • Kontak langsung orang-ke-orang: Misalnya menyentuh mulut setelah tangan bersentuhan dengan feses yang terinfeksi (seperti saat mengganti popok).

  • Kontak tidak langsung: Misalnya menyentuh benda yang ada virusnya, lalu memasukkan tangan ke mulut.

  • Makanan/minuman terkontaminasi: Pastikan mencuci tangan terlebih dahulu sebelum mendekati makanan/minuman, terutama setelah dari kamar mandi.

  • Droplet pernapasan: Virus juga mungkin menyebar lewat percikan air lius saat batuk atau bersin. Namun, rute ini lebih jarang terjadi.

Apa yang Terjadi di Dalam Tubuh?

Setelah terpapar, virus membutuhkan masa inkubasi selama 1–3 hari (rata-rata 2 hari) sebelum gejala muncul. Kemudian, virus yang masuk akan menuju usus halus untuk menginfeksi dan menghancurkan enterosit matang, yaitu sel-sel di ujung vili usus halus yang bertugas menyerap nutrisi.

Di titik tersebut, protein rotavirus NSP4 meracuni usus. Akibatnya, vili usus memendek dan kemampuan menyerap nutrisi dan air menurun drastis. Maka dari itu, muncul dua jenis diare, yaitu diare sekretorik (usus terpaksa membuang cairan) dan diare osmotik (tidak bisa menyerap nutrisi). Keduanya menghasilkan diare berair yang sangat banyak, lalu muncul muntah dan demam juga.

Gejala Rotavirus

Umumnya, pada hari kedua terinfeksi, akan mulai muncul gejala. Dalam banyak kasus, gejala terjadi selama 3–8 hari, dengan rata-rata 5–7 hari pada anak-anak. Gejala kondisi ini cukup khas, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Muntah: sekitar 24–48 jam pertama.

  • Diare berair parah: Feses cair tanpa darah dan berbau seperti sulfur. Umumnya berlangsung selama 4–9 hari. 

  • Demam: suhu tubuh sekitar 38–40℃.

  • Kram perut: anak tampak gelisah dan menarik kaki ke perut.

  • Gejala tambahan: batuk, pilek, ruam popok, nafsu makan menurun, dan tubuh terasa lemas.

Faktor Risiko Rotavirus

Mengenali faktor risiko adalah hal penting agar Anda dapat melindungi keluarga dengan lebih baik. Terdapat beberapa faktor risiko, namun sejatinya, anak-anak memang lebih rentan terhadap virus ini.

1. Faktor Usia

Anak berumur 6–23 bulan memiliki risiko tertinggi, di mana anak berusia 6–11 bulan sekitar 54,2% dan usia 12–23 bulan sekitar 50,6% dari total kasus. Selain itu, anak yang belum vaksin juga menjadi faktor risiko yang rawan.

2. Faktor Lingkungan

Tempat dengan sanitasi yang buruk dan akses ke air bersih yang susah juga memiliki andil dalam penyebaran rotavirus. Lingkungan daycare yang mempertemukan banyak anak dalam kontak dekat juga lebih rentan.

3. Musim yang Diimbangi Sistem Imun Anak yang Buruk

Infeksi virus ini lebih sering terjadi pada musim dingin dan musim semi. Bahkan, risiko akan lebih besar pada anak dengan sistem imun lemah, misalnya anak pengidap HIV atau yang sedang menjalani kemoterapi.

Lantas, apakah orang dewasa tidak berisiko tertular virus ini? Orang dewasa sebenarnya juga bisa tertular virus ini. Biasanya lewat kontak dengan anak yang sedang sakit.

Meski begitu, gejala pada orang dewasa umumnya lebih ringan, bahkan tak jarang tanpa gejala sama sekali. Jadi, Anda harus tetap waspada dan menjaga kebersihan selama menangani anak.

Komplikasi yang Mengintai

Apabila tidak ditangani dengan baik, rotavirus mungkin akan memicu sejumlah komplikasi, seperti:

  • Dehidrasi berat: Kehilangan cairan dan elektrolit karena diare dan muntah, dengan ciri-ciri mulut dan lidah kering, berkurangnya frekuensi buang air kecil, sedikit/tidak ada air mata saat menangis, mata terlihat cekung, rewel dan mudah marah, serta ujung jari terasa dingin.

  • Gangguan elektrolit, sehingga menyebabkan lemas, mudah mengantuk, tidak buang air kecil selama 6–8 jam, napas dan detak jantung cenderung cepat, serta kulit pucat.

  • Syok hipovolemik: Tekanan darah turun drastis akibat kehilangan cairan.

  • Gagal ginjal akut.

  • Kejang: Terjadi pada sekitar 20% kasus rotavirus berat. 

  • Malnutrisi.

Saat menangani kondisi dengan komplikasi, sebaiknya pasien perlu rawat inap. Dengan infus, kebutuhan cairan akan terpenuhi sehingga tidak mengganggu organ lain dan memicu komplikasi lainnya.

Cara Mencegah Rotavirus

Kabar baiknya, virus ini sangat mungkin untuk dicegah. Terdapat dua langkah pasti yang bisa Anda lakukan, yaitu vaksinasi dan praktik kebersihan. Berikut ini penjelasan selengkapnya.

1. Vaksinasi 

Ini adalah cara paling efektif untuk menghindari rotavirus. Untuk bayi, saat ini terdapat dua jenis vaksin, yaitu:

  • RV1 (Rotarix): Vaksin monovalen dalam 2 dosis. Dosis pertama saat usia 2 bulan, dan dosis kedua saat usia 4 bulan. Atau minimal interval 4 minggu antar dosis.

  • RV5 (RotaTeq): Vaksin pentavalen dalam 3 dosis. Diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan. Atau jarak minimal 4 minggu antar dosis.

Vaksin-vaksin tersebut diberikan secara oral (ditelan), bukan disuntik. Paling dini diberikan pada anak usia 6 minggu. Pada laporan American Academy of Pediatrics, vaksin rotavirus tercatat berhasil menurunkan angka anak masuk rumah sakit secara global hingga 75–85%.

Namun, perlu Anda ketahui pula bahwa vaksin tidak memberikan perlindungan 100%. Jadi, infeksi masih mungkin terjadi, namun dengan gejala yang jauh lebih ringan.

Untuk anak dengan riwayat intususepsi (kondisi usus yang melipat ke dalam dirinya sendiri) atau alergi terhadap komponen vaksin, sebaiknya berkonsultasi ke dokter sebelum vaksin. Reaksi efek samping jarang sekali terjadi, umumnya anak hanya akan demam ringan serta rewel.

2. Higiene dan Sanitasi

Meski vaksinasi sangat efektif, kebersihan tidak boleh Anda abaikan. Infeksi berulang masih mungkin terjadi meski anak sudah vaksin. Beberapa langkah pencegahan sehari-hari antara lain:

  • Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah buang air besar atau mengganti popok dan sebelum mendekati makanan;

  • Rutin membersihkan dan disinfeksi permukaan;

  • Pastikan keamanan makanan dengan menghindari makanan mentah atau setengah matang, cuci buah dan sayur dengan air bersih, serta hindari makanan (kotor) saat bepergian;

  • Jangan bawa anak yang sedang diare ke daycare atau sekolah serta tidak berenang saat sedang diare sampai gejalanya hilang (minimal 24–48 jam). Bila perlu, hindari kontak dengan orang yang sakit.

  • Berikan ASI eksklusif karena ASI mengandung antibodi yang melindungi bayi dari infeksi. Sehingga, sebaiknya tetap susui anak meski ia sedang sakit.

  • Pertimbangkan asupan suplemen zinc. Sebab, WHO merekomendasikan pemberian seng sebanyak 10–20mg/hari selama 10–14 hari pada anak diare akut.

Periksa Kondisi Tubuh saat Gejala Rotavirus Muncul

Selain memperhatikan gejala rotavirus seperti diare, muntah, dan demam, pemantauan tumbuh kembang anak juga penting. Salah satu pilihan yang dapat Anda pertimbangkan adalah layanan pemeriksaan tumbuh kembang anak dari Bumame.

Layanan ini dirancang untuk membantu memantau berbagai aspek tumbuh kembang anak, dengan pemeriksaan hematologi, glukosa sewaktu, TSHs (Thyroid-Stimulating Hormon sensitif), serum iron, TIBS, ferritin, vitamin D (25-OH), dan kultur urin.

Melalui pemeriksaan tumbuh kembang anak, Anda bisa mendapatkan informasi kesehatan yang lebih terarah sebagai bagian dari pemantauan rutin, bukan sebagai tindakan untuk mengobati keluhan. Hasil pemeriksaan dapat menjadi bahan diskusi dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan hal yang perlu dievaluasi lebih lanjut.

Kapan Harus ke Dokter?

Sebagian besar kasus memiliki gejala seperti diare biasa. Namun, apabila mulai muncul gejala dehidrasi dan anak tidak mau minum atau menyusu, sebaiknya segera ke dokter. Perhatikan kembali gejala-gejala awal yang sering muncul pada anak dan mulai waspadai apabila gejala darurat sudah mulai terlihat.

Pada orang dewasa, segera periksakan jika diare telah berlangsung lebih dari 2 hari tanpa indikasi membaik. Serta apabila ada demam 39℃, muncul muntah darah atau BAB berdarah. Periksakan juga jika muncul tanda dehidrasi berat. 

Bagaimana Langkah Anda dalam Menangani Rotavirus?

Virus ini memang menular dengan mudah dan bisa membuat si kecil rewel berhari-hari. Tapi, pastikan Anda telah mengambil langkah pencegahan dengan vaksinasi dan menjaga kebersihan rumah serta lingkungan anak.

Dengan mengetahui gejalanya sejak awal dan mengetahui kapan harus ke dokter, Anda bisa lebih tenang menghadapi kemungkinan anak terpapar virus ini kapan saja. Perhatikan juga sistem imun Anda karena virus ini juga bisa menyerang orang dewasa.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Gotfried, J. (2025). Gastroenteritis Rotavirus. MSD Manuals Versi Konsumen. 

  2. Vipulanandan, Y. (2026). Rotavirus in Children: Symptoms, Treatment & Why the Vaccine Matters. HealthyChildren.org (American Academy of Pediatrics). 

  3. Tim Promkes RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2022). Virus Rotavirus. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 

  4. Zermeño-Ruiz, M., Gutierrez-Gutierrez, F., Anaya-Ambriz, E. J., Peña-Durán, E., García-Galindo, J. J., Huerta-Huerta, A., Quiñonez-Gallardo, A. L., & Suárez-Rico, D. O. (2026). Enteric Infections, Dysbiosis, and Metabolic Dysfunction: The Role of Diarrheagenic Pathogens in Insulin Resistance. International Journal of Molecular Sciences, 27(3), 1610. 

  5. Alberta Health Services. (2025). Rotavirus. MyHealth.Alberta.ca. 

  6. Dayton Children's Hospital (KidsHealth). (n.d.). A to Z: Rotavirus

  7. Wikipedia (diadaptasi oleh Universitas STEKOM Semarang). (n.d.). Rotavirus

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Apa itu rotavirus?
Rotavirus adalah virus yang menyerang saluran pencernaan dan paling sering menginfeksi anak, terutama usia 3–15 bulan. Infeksi ini dapat menyebabkan diare, muntah, dan demam sehingga anak berisiko mengalami kehilangan banyak cairan. 
Bagaimana rotavirus menular?

Rotavirus umumnya menular melalui jalur fekal-oral, yaitu ketika virus dari feses masuk ke mulut orang sehat. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung, benda yang terkontaminasi, makanan atau minuman, dan lebih jarang melalui percikan saat batuk atau bersin. 

Apa saja gejala rotavirus pada anak?
Gejala biasanya mulai muncul sekitar 1–3 hari setelah terpapar dan dapat berlangsung beberapa hari. Keluhan yang umum meliputi muntah, diare berair, demam, kram perut, nafsu makan menurun, serta tubuh lemas. 
Apa komplikasi yang dapat terjadi akibat rotavirus?
Komplikasi utama adalah dehidrasi berat akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui diare dan muntah. Pada kondisi berat, rotavirus juga dapat menyebabkan gangguan elektrolit, syok hipovolemik, gagal ginjal akut, kejang, hingga malnutrisi. 
Bagaimana cara mencegah rotavirus?

Pencegahan dapat dilakukan melalui vaksinasi dan menjaga kebersihan serta sanitasi. Selain mencuci tangan dan membersihkan permukaan secara rutin, keamanan makanan dan minuman serta menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit juga perlu diperhatikan.