Batuk, pilek, dan hidung tersumbat merupakan keluhan yang cukup umum dan sering dianggap sebagai gejala flu biasa. Namun, keluhan tersebut juga bisa disebabkan oleh RSV virus.
Ini adalah virus yang menyerang saluran pernapasan dan pada kondisi tertentu dapat menyebabkan gangguan pernapasan lebih serius. Lantas, apa saja gejalanya? bagaimana cara mencegah penularannya? Mari ketahui selengkapnya melalui penjelasan berikut!
Apa Itu Virus RSV?
Virus RSV adalah virus yang menyerang saluran pernapasan dan dapat menginfeksi anak-anak maupun orang dewasa. RSV sendiri merupakan singkatan dari Respiratory Syncytial Virus dan umumnya menyebabkan gejala yang mirip dengan flu, seperti batuk dan pilek.
Pada sebagian orang, infeksi RSV virus dapat menyebabkan gangguan pernapasan yang lebih serius. Anak-anak berusia di bawah 2 tahun termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami gejala berat, sehingga perlu mendapat perhatian lebih.
Gejala Infeksi RSV pada Anak dan Dewasa
Gejala virus RSV dapat berbeda pada setiap orang, mulai dari keluhan ringan seperti pilek hingga gangguan pernapasan yang lebih serius. Gejala umumnya mulai muncul sekitar 4–7 hari setelah seseorang terinfeksi virus. Pada anak-anak, terutama bayi, beberapa gejala yang dapat muncul meliputi:
hidung berair atau tersumbat,
batuk,
demam,
sakit tenggorokan,
tubuh lebih lemas atau mudah lelah,
nafsu makan menurun,
napas lebih cepat, dan
mengi atau muncul suara saat bernapas.
Sementara itu, pada orang dewasa, RSV umumnya menyebabkan gejala menyerupai pilek biasa. Seperti hidung berair, sakit tenggorokan, batuk, sakit kepala, tubuh terasa lelah, dan demam.
Meski demikian, lansia dan orang dengan penyakit tertentu, terutama yang berkaitan dengan jantung atau paru-paru, dapat mengalami gejala yang lebih berat. Contohnya seperti sesak dan kesulitan bernapas.
Penyebab dan Cara Penularan
RSV disebabkan oleh respiratory syncytial virus, yaitu virus yang dapat masuk ke tubuh melalui mata, hidung, atau mulut. Virus ini mudah menular melalui percikan cairan dari saluran pernapasan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin.
Selain melalui percikan pernapasan, RSV juga dapat menular melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Virus ini juga dapat menempel pada permukaan benda yang sering disentuh, seperti gagang pintu dan meja.
Ketika seseorang menyentuh benda yang telah terkontaminasi, kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut, virus dapat masuk ke dalam tubuh. Pada bayi dan anak kecil, infeksi RSV pun cukup umum terjadi.
Bahkan, sebagian besar anak pernah terinfeksi RSV virus sebelum berusia 2 tahun. Meski umumnya menimbulkan gejala ringan, infeksi ini dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih serius pada sebagian anak.
Sementara itu, anak yang lebih besar dan orang dewasa dapat kembali terinfeksi RSV karena infeksi sebelumnya tidak selalu memberikan kekebalan jangka panjang. Biasanya, gejala yang muncul tetap ringan, kecuali pada orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu.
Apakah RSV Berbahaya?
Seperti yang sudah disinggung, pada sebagian besar orang, RSV virus dapat menimbulkan gejala ringan yang mirip dengan flu dan dapat membaik dengan sendirinya. Namun, RSV dapat menyebabkan komplikasi lebih serius, terutama pada bayi, anak kecil, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu.
Pada bayi, terutama yang masih berusia sangat muda, infeksi RSV dapat berkembang menjadi bronkiolitis atau pneumonia. Kondisi tersebut dapat menyebabkan batuk berat, napas cepat, mengi, hingga kadar oksigen dalam tubuh menurun. Selain RSV, gangguan pernapasan lain seperti croup pada anak juga memiliki ciri yang sama.
Sementara itu, pada orang dewasa, risiko mengalami RSV yang berat meningkat seiring bertambahnya usia. Lansia dan orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru, serta sistem kekebalan tubuh yang lemah, lebih berisiko mengalami komplikasi.
Karena itu, meskipun RSV virus sering kali hanya menyebabkan gejala ringan, kondisi ini tetap perlu mendapat evaluasi lebih lanjut.
Pengobatan Infeksi RSV
Hingga saat ini, belum ada pengobatan khusus yang dapat menghilangkan RSV virus dari tubuh. Pada sebagian besar kasus, penanganan dilakukan dengan perawatan suportif, yaitu membantu meredakan gejala dan menjaga kondisi tubuh selama proses pemulihan.
Jika infeksi RSV menyebabkan gejala yang berat, terutama gangguan pernapasan, pasien mungkin memerlukan perawatan medis. Beberapa bentuk perawatan yang dapat diberikan dapat berupa pembersihan atau penyedotan lendir dari hidung untuk membantu melancarkan pernapasan.
Pemberian cairan melalui infus juga dapat dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh ketika pasien sulit minum. Bisa juga dengan oksigen tambahan untuk membantu memenuhi kebutuhan oksigen ketika pasien mengalami kesulitan bernapas.
Selain pengobatan, saat ini juga tersedia beberapa produk imunisasi yang dapat membantu mencegah penyakit RSV yang parah pada bayi dan orang dewasa lanjut usia.
Vaksin RSV jug dapat diberikan kepada ibu hamil pada trimester ketiga. Vaksinasi ini akan membantu tubuh ibu membentuk antibodi yang kemudian dapat diteruskan kepada bayi melalui plasenta. Perlindungan tersebut dapat bertahan selama beberapa bulan setelah bayi lahir.
Pencegahan Lewat Vaksinasi RSV
Mengingat RSV virus dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan yang lebih serius pada kelompok tertentu, vaksinasi dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu memberikan perlindungan.
Vaksin RSV bukan digunakan untuk mengobati infeksi yang sudah terjadi, melainkan membantu menurunkan risiko mengalami penyakit RSV yang berat. Salah satu pilihan yang tersedia adalah Vaksin RSV Abrysvo dari Bumame.
Vaksin ini merupakan vaksin RSV bivalen yang bekerja dengan merangsang tubuh untuk membentuk antibodi terhadap virus RSV. Abrysvo akan diberikan dalam 1 dosis melalui suntikan ke otot. Pada ibu hamil, pemberiannya dapat dilakukan pada usia kehamilan 32–36 minggu, sesuai dengan rekomendasi dokter.
Selain vaksin RSV, vaksinasi terhadap penyakit saluran pernapasan lainnya juga dapat dipertimbangkan sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing. Salah satunya adalah vaksin Prevenar 20 yang memberikan perlindungan terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae.
Selain ibu hamil, vaksin RSV dapat dipertimbangkan oleh orang dewasa dan lansia yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit RSV berat. Namun, kebutuhan vaksinasi tidak sama pada setiap orang.
Karena itu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui jenis vaksin dan jadwal pemberian yang sesuai dengan kondisi serta kebutuhan Anda.
Kapan Harus ke Dokter
RSV virus perlu mendapat penanganan jika penderita mulai mengalami sakit kepala, sulit bernapas, demam, tidak lapar, hingga sakit tenggorokan. Sedangkan pada bayi, gejala akan sedikit berbeda. Karena itu, segera bawa bayi ke dokter atau fasilitas kesehatan jika muncul tanda-tanda berikut.
1. Napas Cepat, Tidak Teratur, atau Berbunyi
Pertama, perhatikan perubahan pada pola pernapasan bayi. Jika napas menjadi semakin cepat, tidak teratur, berbunyi, atau terdapat jeda saat bernapas, segera periksakan bayi ke dokter.
2. Sulit Menyusu atau Menolak Makan
Selain perubahan pada pernapasan, bayi yang mengalami RSV virus juga dapat mengalami kesulitan menyusu atau minum. Jika bayi terus menolak menyusu, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kekurangan cairan.
3. Demam, Terutama pada Bayi di Bawah 3 Bulan
Selanjutnya, demam pada bayi yang masih sangat kecil juga perlu mendapat perhatian. Karena itu, segera periksakan bayi jika mengalami demam, terutama bila disertai gejala lainnya.
4. Batuk Semakin Parah
Perhatikan apakah batuk semakin sering atau berat. Jika batuk terus memburuk dan mulai disertai sesak atau kesulitan bernapas, bayi perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.
5. Ada Tarikan di Dada Saat Bernapas
Perhatikan bagian dada bayi saat bernapas. Jika kulit di sekitar dada atau sela-sela tulang rusuk tampak tertarik ke dalam, kondisi ini dapat menjadi tanda bayi sedang mengalami kesulitan bernapas.
6. Bayi Tampak Pucat, Kebiruan, atau Sangat Lemas
Terakhir, perubahan warna kulit atau bibir menjadi kebiruan serta kondisi bayi yang tampak sangat lemas atau sulit dibangunkan. Ini merupakan tanda yang perlu segera mendapat pertolongan medis.
Jangan Abaikan Gejala RSV, Lindungi Diri dan Keluarga!
RSV virus umumnya menimbulkan gejala seperti batuk, pilek, dan hidung tersumbat. Namun, pada bayi, lansia, atau orang dengan kondisi tertentu, infeksi ini dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan yang lebih serius.
Jika gejala semakin berat, terutama jika disertai kesulitan bernapas, sulit menyusu, atau bayi tampak sangat lemas, segera periksakan diri ke dokter. Selain itu, lakukan langkah pencegahan seperti menjaga kebersihan tangan dan mempertimbangkan vaksinasi RSV sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Cleveland Clinic. (2025). RSV (Respiratory Syncytial Virus.
National Library of Medicine. (2009). Respiratory Syncytial Virus: Diagnosis, Treatment and Prevention.
World Health Organization. (2025). Respiratory syncytial virus (RSV).
Siloam Hospitals. (2025). Waspadai Infeksi Respiratory Synctial Virus (RSV) pada Bayi.
CDC. (2026). RSV in Adults.
KMNC. (2026). Waspadai RSV pada Bayi: Kenali Gejala, Risiko, dan Kapan Harus ke Dokter.
CDC. (2026). About Respiratory Illnesses.
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
.png&w=3840&q=75)