Penyebab obesitas atau kelebihan berat badan

Penyebab Obesitas: Definisi, Gejala, Diagnosis dan Pencegahan

28/06/2026Bumame

Menyadari ukuran celana yang perlahan mulai menyempit atau tubuh yang lebih cepat lelah sering kali menjadi sinyal awal adanya perubahan berat badan. Jika kenaikan ini terjadi cukup cepat hingga mengubah penampilan secara signifikan, kondisi tersebut bisa jadi mengarah pada peningkatan berat badan berlebih atau obesitas. Namun, situasi ini tentu bisa disikapi dengan kepala dingin, karena pada dasarnya penyebab obesitas jarang sekali berdiri sendiri atau hanya dipicu oleh satu kebiasaan saja.

Biasanya, kondisi ini terbentuk dari kombinasi berbagai hal yang saling berkaitan, seperti pola makan harian, tingkat aktivitas fisik, kualitas tidur, pengelolaan stres, faktor lingkungan, pengaruh obat-obatan, dan kondisi medis tertentu. Dengan memahami pemicunya, Anda bisa mengambil langkah pencegahan terbaik untuk menstabilkan berat badan Anda kembali.

Apa Itu Obesitas?

Obesitas adalah kondisi ketika lemak tubuh menumpuk berlebihan dan mulai meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Pada orang dewasa, dokter biasanya menilai obesitas memakai indeks massa tubuh (IMT), lingkar pinggang, pemeriksaan fisik, serta faktor risiko lain.

Walaupun IMT berguna sebagai skrining awal, angka ini tidak selalu menggambarkan komposisi tubuh secara lengkap. Faktanya, dua orang dengan IMT yang sama bisa memiliki massa otot, lemak perut, dan risiko metabolik yang berbeda.

Karena itu, evaluasi obesitas sebaiknya tidak berhenti pada timbangan saja. Anda juga perlu memperhatikan hal seperti lingkar pinggang, tekanan darah, gula darah, kolesterol, pola tidur, dan riwayat keluarga.

Penyebab Obesitas yang Paling Sering Terjadi

Mengapa berat badan naik drastis bisa menyebabkan obesitas? Walau orang sering beranggapan bahwa penyebab obesitas adalah kurang disiplin makan, itu bukan satu-satunya alasan. Alasannya adalah obesitas terjadi karena asupan energi melebihi penggunaan energi serta dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, psikososial, genetik, penyakit, dan obat tertentu.

1. Asupan Kalori Lebih Besar dari Kebutuhan Tubuh

Tubuh membutuhkan energi untuk bergerak, berpikir, mencerna makanan, dan menjaga fungsi organ sepanjang hari. Jika asupan energi terus lebih tinggi dari kebutuhan harian, tubuh akan menyimpan kelebihannya sebagai lemak tubuh.

Masalahnya, kalori berlebih sering datang dari kebiasaan kecil yang tampak sepele. Contohnya adalah mengonsumsi camilan tinggi gula, gorengan, makanan cepat saji, atau nasi dengan porsi yang banyak tiap harinya. 

Tidak hanya dari makanan, asupan minuman juga sering luput dari perhatian.  Minuman seperti kopi susu, boba, teh manis, jus kemasan, atau minuman berperisa lainnya diam-diam menyumbang kalori harian yang cukup besar tanpa memberikan rasa kenyang yang lama.

2. Porsi Makan Besar dan Pola Makan Tidak Teratur

Porsi makan yang terlalu besar membuat tubuh menerima energi lebih banyak dari kebutuhan sebenarnya. Kondisi ini makin mudah terjadi saat makan terlalu cepat, makan sambil bekerja, atau sering menunda makan.

Saat lapar terlalu lama, pilihan makanan biasanya menjadi kurang terkontrol. Banyak orang akhirnya mengambil porsi besar, memilih makanan tinggi lemak, atau menambah camilan setelah makan.

Pola makan malam yang berat juga bisa memperburuk kebiasaan ini, apalagi kalau Anda langsung tidur setelah makan banyak.

3. Kurang Gerak dalam Aktivitas Harian

Gaya hidup modern sering membuat banyak orang duduk terlalu lama dalam satu hari. Bekerja di depan laptop, bepergian dengan kendaraan, memakai lift, dan jarang berjalan membuat pembakaran energi menurun.

Walaupun olahraga mingguan bisa membantu, aktivitas harian Anda tetap berperan besar. Dalam hal ini, tubuh yang jarang bergerak akan lebih mudah mengalami surplus energi, terutama bila pola makan tidak berubah.

4. Tidur Kurang dan Jam Tidur Berantakan

Kurang tidur dapat memengaruhi hormon lapar, nafsu makan, dan pilihan makanan Anda keesokan harinya. Orang yang kurang tidur seringnya lebih ingin makanan manis, asin, atau tinggi lemak.

Durasi tidur yang tidak cukup juga berkaitan dengan risiko obesitas, diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan gangguan suasana hati. Selain itu, kebiasaan begadang sambil ngemil juga bisa berdampak besar pada berat badan Anda dan bisa jadi salah satu penyebab obesitas.

5. Stres Berkepanjangan

Stres dapat membuat sebagian orang makan lebih banyak. Kebiasaan ini sering disebut emotional eating dan biasanya muncul tanpa rasa lapar fisik yang jelas.

Selain itu, stres juga bisa mengacaukan ritme kehidupan sehari-hari. Kalau mengalami stres berkepanjangan, seseorang bisa berisiko mengalami jadwal tidur yang kacau dan kurang olahraga harian.

6. Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga

Riwayat keluarga dapat memengaruhi kecenderungan berat badan, nafsu makan, penyimpanan lemak, dan respons tubuh terhadap makanan. Namun, faktor genetik bukan berarti seseorang pasti akan mengalami obesitas.

Faktor keluarga yang mencakup kebiasaan sehari-hari juga bisa berpengaruh. Pola makan bersama, pilihan belanja, kebiasaan ngemil, dan kegiatan akhir pekan bisa berpengaruh pada tingkat risiko obesitas seseorang.

7. Kondisi Medis dan Obat Tertentu

Beberapa kondisi medis dapat membuat berat badan lebih mudah naik dari biasanya. Contohnya adalah gangguan hormon tiroid, sindrom ovarium polikistik, gangguan tidur, depresi, atau masalah metabolik lain.

Obat tertentu juga bisa berpengaruh pada berat badan dalam sebagian kasus. Jika kenaikan berat badan terjadi setelah memulai obat baru, segera hubungi dokter untuk mengatur cara konsumsi obatnya.

Gejala atau Tanda-Tanda Obesitas

Tanda-tanda obesitas tidak selalu hanya terlihat dari bentuk tubuh seseorang. Banyak orang baru menyadarinya saat aktivitas harian terasa lebih berat dari biasanya.

Gejala yang bisa muncul meliputi mudah lelah, napas pendek saat naik tangga, mendengkur, nyeri lutut, atau nyeri punggung. Gejala obesitas yang muncul umumnya bisa sesederhana napas pendek saat naik tangga, mendengkur, nyeri lutut, atau nyeri punggung. Gejala ini juga kerap disertai dengan kondisi lain, seperti keringat berlebih, lingkar pinggang bertambah, tekanan darah meningkat, gula darah naik, atau kolesterol berubah.

Menjaga kebugaran dan berat badan tetap ideal sebenarnya adalah upaya kita menjaga diri agar tidak mudah sakit. Sebab tubuh yang bugar dapat meminimalkan risiko komplikasi obesitas, seperti masalah pada jantung, stroke, tekanan darah tinggi, atau ketidakstabilan kadar gula darah, yang berpotensi memicu ketergantungan pada obat dan campur tangan medis berkepanjangan.

Kapan Anda Harus ke Dokter?

Periksa ke dokter bila berat badan terus naik meski Anda sudah mencoba mengatur makan dan aktivitas. Kalau Anda punya riwayat keluarga diabetes, hipertensi, penyakit jantung, atau kolesterol tinggi, Anda juga bisa memeriksakan itu semua ke dokter.

Anda juga perlu berkonsultasi jika muncul keluhan tertentu yang mengganggu aktivitas harian. Ketika Anda mulai sering mendengkur berat, mengantuk saat siang hari, nyeri dada, sesak, haid tidak teratur, atau lelah berkepanjangan, itulah waktunya untuk pergi ke dokter.

Tes yang Bisa Membantu Memetakan Penyebab dan Dampak Obesitas

Pemeriksaan biasanya dimulai dari pengukuran berat badan, tinggi badan, IMT, lingkar pinggang, dan tekanan darah. Di tahap ini, dokter juga akan menanyakan pola makan, aktivitas, tidur, stres, obat, serta riwayat kesehatan keluarga Anda.

Kemudian, dokter akan melakukan tes laboratorium untuk mengetahui apa yang memicu kenaikan berat badan dan melihat dampaknya terhadap metabolisme tubuh. Pemeriksaan yang sering dipertimbangkan meliputi kadar gula darah, HbA1c, kolesterol lengkap, fungsi hati, fungsi ginjal, dan hormon tiroid.

Untuk pemeriksaan menyeluruh, Anda bisa pesan Paket MCU General Plus di Bumame. Paket ini membantu memeriksa kesehatan hati (melalui tes SGOT/AST dan SGPT/ALT) dan ginjal (melalui tes Ureum dan Kreatinin) yang berhubungan dengan proses nutrisi tubuh, serta rekam jantung (EKG) untuk memastikan organ vital Anda tetap prima dalam menopang berat badan.

Kalau fokus Anda adalah gula darah dan profil lemak, ambil layanan pemeriksaan Paket Gula Darah dan Kolesterol Lengkap dari Bumame. Pemeriksaan ini membantu memantau risiko diabetes, kolesterol tinggi, serta kesehatan jantung secara lebih terarah.

Jika dokter mencurigai adanya gangguan hormon, Anda bisa pilih tes pemeriksaan Hormon Tiroid di Bumame yang mengukur kadar TSHs, yaitu hormon yang diproduksi oleh kelenjar pituitari di otak, yang berfungsi merangsang kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tiroid, dan juga Free T4 yang berfungsi langsung mengatur metabolisme tubuh. Tes ini membantu dokter mendeteksi apakah penyebab obesitas Anda berakar dari kondisi hipotiroidisme (kelenjar tiroid kurang aktif), yang membuat tubuh malas membakar kalori.

Dengan mengikuti tes-tes di atas, Anda bisa menemukan jawaban apakah peningkatan berat badan ini murni karena gaya hidup, atau ada kondisi medis tersembunyi yang perlu disembuhkan terlebih dahulu. 

Anda juga bisa mencegah terjadinya gangguan kesehatan lebih lanjut, seperti fatty liver dan masalah kesehatan lainnya. Selain itu, Anda bisa mencari tahu tentang cara memilih tes yang sesuai dengan kelompok usia tertentu supaya bisa mendapatkan penanganan terbaik.

Strategi dan Cara Mencegah Obesitas

Kunci pencegahan penyebab obesitas adalah proses yang perlu Anda lakukan secara bertahap dan konsisten. Targetnya adalah gaya hidup sehat yang bisa Anda jalankan dalam jangka panjang dan sesuai kondisi tubuh.

1. Buat Isi Piring Lebih Proporsional

Mulailah dari komposisi makanan harian yang paling sering Anda konsumsi. Perbanyak sayur, buah, protein rendah lemak, kacang-kacangan, dan karbohidrat utuh dalam porsi sesuai kebutuhan.

Anda juga bisa membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak sambil mengonsumsi buah serta sayur minimal lima porsi sehari. Aktivitas fisik rutin minimal 30 menit sehari juga penting untuk membantu mencegah obesitas.

Bagi orang dengan berat badan berlebih, pendekatan piring makan model T bisa membantu. Pola makan ini menekankan porsi sayur yang lebih banyak dibandingkan dengan karbohidrat, protein, dan lemak.

2. Kurangi Kalori Cair

Minuman manis sering menjadi sumber kalori yang membuat Anda lengah. Oleh karena itu, cobalah mengurangi gula dalam kopi, teh, minuman kemasan, dan minuman berperisa secara bertahap.

Anda tidak harus berhenti mengonsumsi semua minuman favorit Anda secara mendadak. Supaya bertahap, Anda bisa mulai dari memilih ukuran lebih kecil, mengurangi topping, atau lebih sering mengganti minuman manis dengan air putih.

3. Bangun Kebiasaan Bergerak Setiap Hari

Orang dewasa bisa melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang minimal 150 menit per minggu untuk mencegah obesitas. Mereka juga bisa melakukan latihan penguatan otot setidaknya dua hari setiap minggu.

Jika belum terbiasa berolahraga, bisa dimulai dengan membiasakan jalan kaki selama sepuluh menit setelah makan. Tambahkan durasi secara perlahan hingga tubuh merasa lebih nyaman dan napas tidak terlalu berat.

Bahkan gerakan kecil juga berperan besar kalau Anda melakukannya secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari. Contohnya adalah lebih sering naik tangga, berdiri setiap satu jam, berjalan saat menelepon, atau parkir yang lebih jauh.

4. Perbaiki Tidur dan Kelola Stres

Tidur cukup membantu tubuh mengatur nafsu makan dan energi harian. Oleh karena itu, buat jadwal tidur lebih konsisten, kurangi melihat layar gawai sebelum tidur, dan batasi konsumsi kafein per harinya.

Mengelola stres juga tidak harus muluk-muluk asal realistis dan sesuai dengan kemampuan Anda. Cara sederhananya bisa dimulai dari hal-hal kecil di rumah, seperti menulis jurnal, berjalan kaki santai di sekitar rumah, beribadah dengan lebih tenang, atau bermeditasi sejenak untuk menjernihkan pikiran.

5. Pantau Angka Kesehatan Secara Berkala

Ingat, sebelum ada satu pun gejala yang muncul, Anda bisa melakukan pemeriksaan rutin. Anda bisa memeriksakan lingkar pinggang, tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan fungsi hati ke dokter supaya tahu gambaran kesehatan Anda.

Mulai dari Langkah yang Paling Mudah dan Realistis

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa obesitas  bisa berasal dari beberapa faktor penyebab tertentu. Oleh karena itu, penanganan obesitas juga perlu menyeluruh, bertahap, dan sesuai dengan hasil pemeriksaan.

Jika ingin memahami penyebab obesitas berdasarkan kondisi pribadi, konsultasi dan pemeriksaan bisa menjadi awal yang baik. Anda bisa menjadwalkan konsultasi dan pemeriksaan via WhatsApp Bumame secara gratis untuk menyusun langkah sehat berikutnya.

FAQ Seputar Penyebab Obesitas

Q: Apa penyebab utama obesitas?
A:
Obesitas umumnya terjadi ketika asupan energi yang masuk ke tubuh lebih besar dibandingkan energi yang digunakan. Kondisi ini juga dapat dipengaruhi oleh pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, stres, faktor genetik, kondisi medis tertentu, dan penggunaan obat-obatan.

Q: Apakah obesitas hanya disebabkan oleh terlalu banyak makan?
A:
Tidak. Meskipun asupan kalori berlebih berperan penting, obesitas biasanya dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor seperti kurang aktivitas fisik, kurang tidur, stres berkepanjangan, faktor keturunan, hingga kondisi medis tertentu.

Q: Bagaimana kurang tidur dapat meningkatkan risiko obesitas?
A:
Kurang tidur dapat memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar dan nafsu makan. Akibatnya, seseorang cenderung lebih sering mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, atau lemak yang dapat memicu kenaikan berat badan.

Q: Apakah faktor genetik dapat menyebabkan obesitas?
A:
Ya. Riwayat keluarga dapat memengaruhi kecenderungan berat badan, nafsu makan, penyimpanan lemak, dan respons tubuh terhadap makanan. Namun, faktor genetik tidak berarti seseorang pasti mengalami obesitas karena gaya hidup tetap memiliki peran penting.

Q: Apa saja tanda atau gejala obesitas?
A:
Selain peningkatan berat badan, obesitas dapat ditandai dengan mudah lelah, napas pendek saat beraktivitas, mendengkur, nyeri lutut atau punggung, keringat berlebih, lingkar pinggang yang bertambah, serta perubahan pada tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.

Q: Kapan sebaiknya berkonsultasi ke dokter terkait obesitas?
A:
Konsultasi dianjurkan jika berat badan terus meningkat meskipun sudah berusaha mengatur pola makan dan aktivitas fisik. Pemeriksaan juga perlu dipertimbangkan jika muncul keluhan seperti mudah lelah, sesak napas, nyeri dada, mendengkur berat, atau gangguan kesehatan lainnya.

Q: Pemeriksaan apa yang dapat membantu mengetahui penyebab obesitas?
A:
Evaluasi biasanya meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT), lingkar pinggang, dan tekanan darah. Dokter juga dapat merekomendasikan pemeriksaan gula darah, HbA1c, kolesterol, fungsi hati, fungsi ginjal, serta hormon tiroid sesuai kondisi pasien.

Q: Bagaimana cara membantu mencegah obesitas?
A:
Pencegahan obesitas dapat dilakukan dengan mengatur pola makan yang seimbang, mengurangi konsumsi minuman manis, rutin beraktivitas fisik, menjaga kualitas tidur, mengelola stres, serta memantau kondisi kesehatan secara berkala.


Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Muhammad Reza K.

Lokasi Klinik Bumame

1. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

References:

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. (2025). Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/509/2025.

World Health Organization. (2024). Obesity and Overweight.

CDC. (2025). Risk Factors for Obesity.

CDC. (2025). Consequences of Obesity.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2021). Overweight & Obesity Statistics.

Kementerian Kesehatan RI. (2023). Cegah Obesitas dengan 5 Langkah.

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI. (2022). Piring Makan Model T, Diet Sehat untuk Menurunkan Berat Badan.