Menghabiskan waktu berjam-jam untuk duduk bekerja dan menghadapi tekanan stres harian sering kali menjadi rutinitas yang sulit dihindari. Di tengah padatnya aktivitas tersebut, kebiasaan-kebiasaan kecil yang tampaknya biasa ini ternyata bisa memberikan dampak besar bagi tubuh jika dibiarkan tanpa jeda. Tanpa disadari, pola hidup yang kurang aktif dan tingkat stres yang tinggi dapat berkaitan erat dengan faktor penyebab stroke.
Kabar baiknya, risiko ini sangat bisa diantisipasi sejak dini. Langkah awal yang paling bijak adalah dengan mulai memberikan perhatian lebih pada kesehatan tubuh. Melalui artikel ini, mari pelajari apa saja yang menjadi faktor pemicu stroke serta langkah pencegahan yang bisa Anda terapkan dengan mudah.
Apa Itu Stroke?
Stroke merupakan gangguan fungsi otak yang muncul secara mendadak akibat masalah pada pembuluh darah otak.
Kementerian Kesehatan RI, dengan merujuk pada ketentuan WHO, menjelaskan bahwa stroke ditandai oleh adanya gangguan pada fungsi otak. Gejala klinis ini umumnya bertahan setidaknya selama 24 jam atau bahkan memicu kondisi fatal, di mana penyebab utamanya murni berasal dari permasalahan pada sistem pembuluh darah
Berdasarkan data Institute for Health Metrics and Evaluation tahun 2019, stroke merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia dengan kontribusi 19,42% dari total kematian.
Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) turut mencatat adanya tren peningkatan pada kasus stroke di Indonesia. Jika pada tahun 2013 angka prevalensinya berada di tingkat 7 per 1.000 warga, dalam kurun waktu lima tahun berikutnya, yaitu pada 2018, angka tersebut mengalami kenaikan hingga mencapai 10,9 per 1.000 penduduk.
Secara umum, stroke terbagi menjadi dua jenis utama.
1. Stroke Iskemik
Stroke iskemik terjadi ketika aliran darah menuju sebagian area otak terhambat. Menurut Paris Brain Institute, sekitar 85% kasus stroke termasuk jenis ini. Penyumbatan biasanya terjadi akibat bekuan darah atau penumpukan plak kolesterol yang mempersempit pembuluh darah.
Saat aliran darah berhenti, sel-sel otak tidak memperoleh oksigen dan glukosa yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Jika kondisi ini berlangsung terlalu lama, jaringan otak akan mengalami kerusakan permanen.
2. Stroke Hemoragik
Sekitar 15% kasus stroke terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di otak. Tekanan darah tinggi menjadi penyebab utama yang membuat dinding pembuluh darah melemah hingga akhirnya pecah dan menimbulkan perdarahan di dalam otak.
Penyebab Stroke yang Perlu Anda Perhatikan
Berikut adalah beberapa penyebab mengenai stroke yang bisa dilihat dari berbagai faktor yang saling berkaitan.
1. Tekanan Darah Tinggi
Menurut jurnal Medicine (Abingdon), hipertensi merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap stroke. Semakin tinggi tekanan darah seseorang, semakin besar peluang terjadinya gangguan pada pembuluh darah otak.
Pada stroke hemoragik, tekanan darah tinggi dapat melemahkan dinding pembuluh darah hingga pecah. Sementara pada stroke iskemik, hipertensi mempercepat kerusakan pembuluh darah yang kemudian memicu penyumbatan.
2. Kolesterol Tinggi
Penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah dapat mempersempit saluran aliran darah. Kondisi yang dikenal sebagai aterosklerosis ini membuat pembuluh darah lebih mudah tersumbat oleh bekuan darah.
Ketika sumbatan terjadi pada pembuluh darah otak, jaringan otak kehilangan suplai oksigen sehingga timbul stroke iskemik. Oleh karena itu, kadar kolesterol yang tinggi menjadi penyebab stroke yang perlu mendapat perhatian.
3. Diabetes dan Risiko Kerusakan Pembuluh Darah
Diabetes melitus meningkatkan risiko stroke hingga dua kali lipat. Kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah dan mempercepat terbentuknya sumbatan.
Penderita diabetes memiliki kelebihan glukosa dalam darah yang dapat meningkatkan pembentukan lemak maupun gumpalan pada dinding pembuluh darah. Kondisi tersebut dapat memicu penyumbatan dan akhirnya menjadi penyebab stroke.
Memantau kesehatan secara berkala melalui pemeriksaan diabetes melitus rutin sangatlah penting, terutama jika Anda memiliki riwayat diabetes. Langkah sederhana ini membantu Anda memastikan kondisi tubuh tetap terkontrol dengan baik.
4. Kebiasaan Merokok
Merokok dapat meningkatkan risiko stroke. Lebih lanjut, asap rokok mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia yang dapat merusak sel tubuh, menurunkan kadar HDL, mempercepat pembentukan trombus, dan merusak lapisan pembuluh darah.
Kondisi tersebut membuat merokok menjadi penyebab stroke yang sering ditemukan pada usia produktif. Menariknya, risiko ini dapat berkurang beberapa tahun setelah seseorang berhenti merokok.
5. Penyakit Jantung dan Gangguan Irama Jantung
Ketika jantung mengalami gangguan irama, atau yang dalam dunia medis dikenal sebagai fibrilasi atrium, kondisi ini dapat memicu terbentuknya bekuan darah. Jika gumpalan tersebut terbawa hingga ke area kepala, penyumbatan bisa terjadi dan memicu stroke iskemik berat.
Itulah mengapa masalah pada jantung juga tergolong sebagai penyebab stroke yang perlu diantisipasi, khususnya bagi yang telah memasuki usia lanjut.
6. Obesitas
Kelebihan berat badan sering berkaitan dengan hipertensi, gangguan metabolik, dan resistensi insulin. Ketiga kondisi tersebut meningkatkan risiko kerusakan pembuluh darah.
Selain itu, makanan penyebab stroke umumnya berkaitan dengan pola makan tinggi gula dan lemak yang berkontribusi terhadap obesitas, diabetes, maupun kolesterol tinggi. Selain itu, konsumsi makanan atau minuman manis berlebihan juga dapat meningkatkan risiko stroke.
7. Faktor Usia dan Riwayat Keluarga
Risiko stroke cenderung meningkat setelah usia 55 tahun. Selain itu, riwayat keluarga dengan stroke juga berpengaruh terhadap peluang seseorang mengalami kondisi serupa. Meskipun faktor ini tidak dapat diubah, Anda tetap dapat menurunkan risikonya melalui pengendalian faktor lain yang lebih mudah dikendalikan.
Gejala dan Cara Mengenali Tanda-Tanda Stroke
Mengenali ciri-ciri dan penyebab stroke sejak dini membantu mempercepat penanganan. Gejala stroke umumnya muncul secara mendadak, antara lain:
Wajah tampak menurun pada satu sisi.
Lengan atau tungkai mendadak lemah.
Bicara pelo atau sulit berbicara.
Gangguan penglihatan.
Kehilangan keseimbangan.
Pusing mendadak.
Kebingungan.
Sakit kepala berat yang muncul tiba-tiba.
Mati rasa pada salah satu sisi tubuh.
Dalam dunia medis, ada satu metode cepat yang sangat populer untuk mengenali gejala awal stroke, yaitu metode FAST (Face, Arms, Speech, Time). Namun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, metode ini kini telah disempurnakan menjadi BE-FAST agar bisa mendeteksi tanda-tanda stroke dengan jauh lebih akurat.
Metode BE-FAST ini merangkum enam tanda utama yang muncul secara mendadak, yang bisa diamati dengan mudah:
B (Balance atau Keseimbangan): Perhatikan apakah orang tersebut tiba-tiba kehilangan keseimbangan tubuh, limbung, sulit berjalan, atau merasa pusing berputar tanpa sebab yang jelas.
E (Eyes atau Penglihatan): Adanya gangguan penglihatan yang terjadi secara tiba-tiba, seperti pandangan menjadi kabur, berbayang (penglihatan ganda), atau bahkan kehilangan kemampuan melihat pada salah satu mata.
F (Face atau Wajah): Mintalah ia untuk tersenyum. Amati apakah salah satu sisi wajahnya tampak turun, tidak simetris, atau terasa mati rasa.
A (Arms atau Lengan): Mintalah ia mengangkat kedua tangan secara bersamaan. Perhatikan apakah salah satu lengan terasa lemah, mati rasa, atau terkulai turun dengan sendirinya.
S (Speech atau Cara Bicara): Ajaklah ia mengucapkan kalimat sederhana. Amati apakah suaranya tiba-tiba terdengar pelo, tidak jelas, atau ia justru kesulitan memahami perkataan Anda.
T (Time atau Waktu): Jika Anda menemukan salah satu saja dari gejala di atas, jangan menunda waktu. Segera bawa ia ke rumah sakit atau hubungi layanan medis darurat, karena setiap detik penanganan yang cepat sangat berharga untuk melindungi fungsi otak.
Kapan Harus ke Dokter?
Stroke merupakan keadaan darurat medis. Masa emas penanganan stroke berada pada sekitar 3 hingga 4,5 jam setelah gejala muncul. Sebagian jaringan otak masih dapat diselamatkan apabila aliran darah dipulihkan dengan cepat.
Jika Anda atau orang terdekat mengalami wajah mencong, kelemahan pada lengan, gangguan bicara, kehilangan keseimbangan, atau gangguan penglihatan secara mendadak, segera cari pertolongan medis. Jangan menunggu gejala membaik dengan sendirinya.
Deteksi Dini: Periksa Risiko Stroke Sebelum Terjadi
Langkah pencegahan akan lebih optimal jika disertai pemeriksaan kesehatan secara rutin. Untuk membantu mendeteksi berbagai faktor yang berkaitan dengan penyebab stroke, berikut adalah beberapa poin tes yang perlu Anda jalani.
1. Cek Profil Lemak (Kolesterol Total, LDL, HDL, Trigliserida)
Tes ini membantu memantau kadar lemak dalam darah. Menjaga angka kolesterol baik (HDL) tetap tinggi dan kolesterol jahat (LDL) tetap normal akan memastikan tidak ada sisa lemak yang mengendap di sepanjang jalur pipa darah.
2. Rekam Jantung (EKG) dan Tes Treadmill
Tes sederhana ini gunanya untuk melihat keteraturan ketukan atau irama jantung kita. Mengetahui bagaimana irama jantung bekerja dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kondisi kesehatan Anda sehari-hari.
3. Hematologi Lengkap
Medical check-up hematologi atau tes darah ini berguna untuk melihat komposisi sel darah. Tujuannya adalah memastikan cairan darah berada dalam kondisi yang pas dan tidak terlalu kental, sehingga bisa mengalir dengan mudah saat mengantarkan oksigen ke kepala.
Kenali Faktor Risiko Stroke dengan Pemeriksaan di Bumame
Untuk memastikan kesehatan pembuluh darah hingga ke otak tetap optimal, Bumame menyediakan Paket MCU General Premium. Paket pemeriksaan ini dirancang secara komprehensif untuk memberikan kejelasan kondisi kesehatan Anda secara menyeluruh sekaligus mendeteksi berbagai faktor risiko vaskular serta membantu mengantisipasi potensi penyumbatan lebih awal.
Sebagai nilai tambah, Bumame menawarkan fleksibilitas melalui beragam panel tes spesifik yang dapat dikombinasikan untuk memetakan faktor pemicu stroke melalui pengecekan profil kolesterol lengkap, rekam jantung (EKG), tes darah, hingga kadar gula darah. Kombinasi parameter ini memberikan gambaran riil mengenai seberapa aman aliran darah yang mengalir menuju otak Anda.
Bagi Anda yang ingin menyesuaikan jenis pemeriksaan dengan riwayat penyakit keluarga atau keluhan fisik yang sedang dirasakan saat ini, Bumame menyediakan layanan konsultasi gratis via WhatsApp sepanjang jam operasional.
Strategi Pencegahan Stroke
Sebagian besar faktor risiko stroke dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup dan pemeriksaan kesehatan rutin. Jadi, setelah mengetahui penyebab stroke, penting untuk memahami pencegahannya berikut ini.
1. Kendalikan Tekanan Darah
Karena hipertensi merupakan penyebab stroke yang paling dominan, pemantauan tekanan darah perlu dilakukan secara rutin. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah tinggi, konsultasikan langkah penanganannya dengan dokter.
2. Kelola Kadar Gula Darah
Penderita diabetes memiliki risiko stroke yang lebih tinggi. Oleh karena itu, menjaga kadar gula darah tetap stabil menjadi bagian penting dalam pencegahan.
3. Berhenti Merokok
Risiko stroke akan menurun setelah seseorang berhenti merokok. Semakin cepat kebiasaan ini dihentikan, semakin besar manfaat yang diperoleh pembuluh darah.
4. Jaga Berat Badan dan Kadar Kolesterol
Pola makan yang seimbang membantu mengurangi penumpukan lemak pada pembuluh darah. Selain itu, aktivitas fisik secara rutin membantu menjaga kesehatan jantung dan sirkulasi darah.
5. Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Berkala
Pemeriksaan berkala membantu mendeteksi hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, maupun gangguan jantung sebelum menimbulkan komplikasi yang lebih serius.
Pahami Faktor Risiko Stroke Lebih Awal dan Ambil Langkah Pencegahannya
Penyebab stroke dapat berasal dari berbagai faktor, mulai dari hipertensi, diabetes, hingga kebiasaan merokok. Kabar baiknya, sebagian besar faktor risiko tersebut masih dapat dikendalikan dengan melakukan pencegahan di atas.
Semakin dini Anda mengenali risiko yang dimiliki, semakin besar peluang untuk menjaga kesehatan otak dan menjalani hidup yang lebih berkualitas.
FAQ Seputar Penyebab Stroke
Q: Apa penyebab utama stroke?
A: Penyebab stroke dapat berasal dari berbagai faktor, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, penyakit jantung, obesitas, serta faktor usia dan riwayat keluarga. Di antara berbagai faktor tersebut, hipertensi merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap stroke.
Q: Apa perbedaan stroke iskemik dan stroke hemoragik?
A: Stroke iskemik terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat akibat penyumbatan pembuluh darah. Sementara itu, stroke hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di otak yang menyebabkan perdarahan.
Q: Mengapa tekanan darah tinggi dapat menyebabkan stroke?
A: Tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah otak. Pada stroke hemoragik, hipertensi dapat melemahkan dinding pembuluh darah hingga pecah, sedangkan pada stroke iskemik kondisi ini dapat mempercepat terjadinya penyumbatan pembuluh darah.
Q: Apakah diabetes dapat meningkatkan risiko stroke?
A: Ya. Diabetes dapat meningkatkan risiko stroke hingga dua kali lipat. Kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah dan mempercepat terbentuknya sumbatan yang mengganggu aliran darah ke otak.
Q: Apa saja gejala stroke yang perlu dikenali?
A: Gejala stroke biasanya muncul secara mendadak, seperti wajah menurun pada satu sisi, kelemahan pada lengan atau tungkai, bicara pelo, gangguan penglihatan, kehilangan keseimbangan, pusing, kebingungan, sakit kepala berat, atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh.
Q: Apa itu metode BE-FAST untuk mengenali stroke?
A: BE-FAST adalah metode untuk mengenali tanda-tanda stroke sejak dini. Metode ini mencakup gangguan keseimbangan (Balance), penglihatan (Eyes), wajah (Face), lengan (Arms), kemampuan bicara (Speech), serta pentingnya segera mencari pertolongan medis (Time).
Q: Kapan harus segera ke dokter jika mengalami gejala stroke?
A: Stroke merupakan keadaan darurat medis. Jika muncul gejala seperti wajah mencong, kelemahan pada lengan, gangguan bicara, kehilangan keseimbangan, atau gangguan penglihatan secara mendadak, segera cari pertolongan medis tanpa menunggu gejala membaik.
Q: Bagaimana cara membantu mencegah stroke?
A: Pencegahan stroke dapat dilakukan dengan mengendalikan tekanan darah dan gula darah, berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, mengontrol kadar kolesterol, serta menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk mendeteksi faktor risiko sejak dini.
Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
Sumber:
Mayo Clinic. (2024). Stroke.
American Stroke Association. (2020). Explaining Stroke Brochure.
Kementerian Kesehatan RI. (2023). Kenali Stroke dan Penyebabnya.
Prosiding Kedokteran UMS. (2024). Stroke Infark pada Wanita 65 Tahun.
Medicine (Abingdon). (2020). Stroke: causes and clinical features.
Paris Brain Institute. (2026). What Causes Stroke.
Oona. (2025). 8 Causes of Stroke That You Should Beware.
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi. (2022). Faktor Resiko yang Mempengaruhi Kejadian Stroke: Sebuah Tinjauan Sistematis.
NHS. (2024). Symptoms of a stroke.
CDC. (2026). Signs and Symptoms of Stroke.
Stroke Foundation. Signs of stroke.
American Stroke Association. (2024). Stroke Symptoms.
Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesia. (2024). Methods for Detecting Early Symptoms of Stroke: A Literature Review.
Hannah Joseph Hospital. What Are the Warning Signs of a Stroke and When Should You Go to the Hospital?.
American College of Emergency Physicians. Stroke.
Sherman Medical Center. BE FAST: Signs of a Stroke & When to Get to the Hospital.
Mayo Clinic. (2024). Stroke.
National Heart, Lung, and Blood Institute. (2023). Stroke Diagnosis.
Stroke Foundation. Tests and Treatment for Stroke Fact Sheet.
American Stroke Association. (2020). Let's Talk About Stroke: Stroke Diagnosis.
Pew Research Center. (2010). Preventing Stroke and Heart Disease: Connecting Traditional and Emerging Communication Approaches to Change Behavior.
Harvard Health Publishing. (2026). 7 things you can do to prevent a stroke.
CDC. (2024). Preventing Stroke.
Liv Hospital. How to Reduce Risk of Stroke: 7 Proven Methods.
