Angka tekanan darah yang sedikit tinggi saat cek kesehatan kantor sering dianggap wajar. Badan terasa segar, jadi hasil itu disimpan lalu terlupakan.
Pola seperti ini umum pada penyakit tidak menular. Penyakitnya berkembang perlahan dalam waktu lama, sehingga perubahan di dalam tubuh mudah terlewat. Kabar baiknya, banyak faktor risikonya bisa dikenali dan dikendalikan sejak awal.
Berikut pengertian, jenis, faktor risiko, hingga cara deteksi dini penyakit tidak menular.
Apa Itu Penyakit Tidak Menular?
Penyakit tidak menular (PTM) adalah penyakit yang tidak berpindah dari satu orang ke orang lain. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menjelaskan bahwa PTM berlangsung lama dan umumnya berkembang lambat. WHO juga menyebut PTM sebagai penyakit kronis yang muncul dari gabungan faktor keturunan, kondisi tubuh, lingkungan, dan perilaku.
Menurut CDC, penyakit kronis adalah kondisi yang berlangsung satu tahun atau lebih dan membutuhkan perawatan medis berkelanjutan, membatasi aktivitas sehari-hari, atau keduanya.
Tidak menular berarti PTM tidak didapat dari bersentuhan atau tinggal serumah dengan penderitanya. Meski begitu, PTM bisa muncul pada beberapa anggota keluarga karena faktor keturunan dan kebiasaan yang sama di rumah, seperti pola makan dan paparan asap rokok.
Jenis Penyakit Tidak Menular yang Utama
WHO membagi PTM ke dalam empat kelompok utama. Keempatnya menyumbang sebagian besar kematian dini akibat PTM di dunia.
Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Kelompok ini disebut penyakit kardiovaskular, dengan contoh serangan jantung dan stroke. Menurut WHO, penyakit kardiovaskular menyumbang kematian akibat PTM lebih banyak dibanding tiga kelompok lainnya. Mengenali gejala stroke sejak awal membantu penderitanya mendapat pertolongan lebih cepat.
Kanker
Kanker bisa muncul di berbagai organ tubuh. Dalam data WHO, kanker berada di urutan kedua setelah penyakit kardiovaskular sebagai penyebab kematian akibat PTM. Sebagian faktor risikonya sama dengan PTM lain, misalnya tembakau, alkohol, dan polusi udara.
Penyakit Pernapasan Kronis
Contoh utamanya adalah penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan asma. Keduanya berlangsung lama dan membutuhkan pemantauan dokter. Batuk yang tidak kunjung reda atau napas yang cepat tersengal perlu diperiksakan.
Diabetes
Diabetes, atau dalam istilah medis diabetes melitus, ditandai kadar gula darah yang tetap tinggi dalam jangka panjang. Data WHO ikut menghitung kematian akibat penyakit ginjal yang disebabkan diabetes dalam kelompok ini.
Kondisi Kronis Lainnya
Di luar empat kelompok tersebut, ada kondisi jangka panjang lain yang juga tidak menular, misalnya penyakit ginjal kronis. Sesuai batasan CDC, kondisi seperti ini membutuhkan perawatan medis berkelanjutan.
Faktor Risiko yang Sama-sama Mendasari PTM
Berbagai jenis PTM berakar pada faktor risiko yang sama. WHO membaginya menjadi kebiasaan yang bisa diubah, faktor lingkungan, dan perubahan metabolik yang bisa diukur. Faktor keturunan dan usia juga berperan, tetapi tidak bisa diubah.
1. Merokok dan Paparan Asap Rokok
Penggunaan tembakau meningkatkan risiko berbagai PTM. WHO mencatat asap rokok orang lain juga menyumbang kematian akibat tembakau, sehingga perokok pasif ikut berisiko. Dokter bisa membantu menyusun langkah berhenti merokok.
2. Pola Makan Tidak Sehat
CDC menyebut pola makan rendah sayur dan buah serta tinggi garam dan lemak jenuh sebagai pemicu penyakit kronis. WHO juga mencatat asupan garam berlebih sebagai penyumbang kematian akibat PTM. Bila tekanan darah atau gula darah sudah tinggi, konsultasikan pola makan dengan dokter.
3. Kurang Aktivitas Fisik
Menurut WHO, pola makan tidak sehat dan kurang gerak bisa muncul sebagai kenaikan tekanan darah, gula darah, lemak darah, dan berat badan. Pekerja yang banyak duduk perlu memperhatikan risiko ini. Penderita penyakit jantung sebaiknya memilih jenis olahraga bersama dokter.
4. Konsumsi Alkohol
Penggunaan alkohol yang berbahaya meningkatkan risiko PTM. CDC mengaitkan konsumsi alkohol berlebihan dengan tekanan darah tinggi, stroke, penyakit hati, dan beberapa jenis kanker. Bila sulit mengurangi kebiasaan minum, dokter bisa memberikan pendampingan.
5. Polusi Udara
WHO menyebut polusi udara, baik di luar maupun di dalam rumah, sebagai faktor risiko lingkungan utama bagi PTM. Paparannya berkaitan dengan stroke, penyakit jantung, PPOK, dan kanker paru, sehingga polusi termasuk penyebab kanker paru selain rokok.
6. Tekanan Darah Tinggi
Menurut WHO, tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah faktor risiko metabolik utama penyebab kematian akibat PTM. Bila dibiarkan lama, kondisi ini bisa mengarah ke serangan jantung dan stroke. Pola makan tinggi garam dan kurang bergerak termasuk penyebab tensi naik yang bisa dikendalikan.
7. Gula Darah Tinggi
Gula darah tinggi atau hiperglikemia berada di urutan berikutnya dalam daftar faktor risiko metabolik WHO. Kadar yang terus tinggi bisa berkembang menjadi diabetes. Orang dengan riwayat keluarga diabetes sebaiknya membicarakan jadwal cek gula darah dengan dokter.
8. Kolesterol dan Lemak Darah Tinggi
Kadar lemak darah yang tinggi disebut hiperlipidemia, termasuk kolesterol tinggi. WHO memasukkannya ke dalam perubahan metabolik yang meningkatkan risiko PTM, khususnya penyakit jantung dan pembuluh darah. Kadarnya diketahui lewat tes darah, sehingga deteksi kolesterol tinggi bergantung pada pemeriksaan laboratorium.
9. Kelebihan Berat Badan
Kelebihan berat badan dan obesitas juga termasuk faktor risiko metabolik menurut WHO. Kenaikannya biasanya pelan, sehingga sering baru disadari setelah bertahun-tahun. WHO mencatat anak-anak juga rentan terhadap faktor risiko PTM, sehingga pencegahan obesitas pada anak juga penting.
Mengapa Penyakit Tidak Menular Menjadi Perhatian di Indonesia?
Menurut WHO, PTM menyebabkan mayoritas kematian di dunia, dan sebagian besar terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah seperti Indonesia. Jutaan kematian itu terjadi sebelum usia 70 tahun, saat seseorang masih aktif bekerja.
Kemenkes mencatat masalah kesehatan di masyarakat mulai bergeser dari penyakit menular ke arah PTM. Biaya perawatan jangka panjangnya juga bisa cepat menguras keuangan keluarga.
Kemenkes mengajak masyarakat mencegah PTM lewat perilaku CERDIK, yaitu cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres. Ajakan ini sejalan dengan GERMAS atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat yang dimulai dari keluarga.
Apa Bedanya Penyakit Menular dan Tidak Menular?
Tabel berikut merangkum perbedaan keduanya.
Tabel ini membantu memahami perbedaannya secara garis besar. Diagnosis tetap ditegakkan oleh dokter.
Gejala Awal yang Sering Tidak Terasa
Pada tahap awal, PTM sering berjalan tanpa keluhan yang jelas. Tekanan darah, gula darah, dan kolesterol bisa naik perlahan sementara badan tetap terasa sehat, sehingga angka hasil pemeriksaan sering menjadi petunjuk pertama.
Beberapa hal yang sering dianggap biasa antara lain:
Hasil cek sebelumnya yang mendekati batas. Angka seperti ini sering diabaikan karena tidak terasa apa-apa. Bicarakan dengan dokter agar pemeriksaan ulang bisa dijadwalkan.
Keluhan yang menetap. Mudah lelah atau napas lebih pendek saat beraktivitas perlu diperiksakan bila berlangsung berminggu-minggu. Keluhan ringan yang berulang juga layak dibicarakan.
Riwayat PTM dalam keluarga. Menurut CDC, riwayat keluarga dengan diabetes, penyakit jantung, atau kanker bisa meningkatkan kemungkinan kondisi yang sama. Sampaikan informasi ini kepada dokter saat pemeriksaan.
Keluhan yang lebih khas biasanya muncul sesuai organ yang terganggu, misalnya sinyal awal jantung tidak sehat, dan perlu diperiksakan meski terasa ringan. Keluhan yang datang mendadak atau terasa berat perlu segera ditangani di IGD.
Kapan dan Bagaimana Deteksi Dini Dilakukan?
WHO menempatkan deteksi dan pengobatan sejak awal sebagai bagian inti penanganan PTM. Penanganan lebih awal juga bisa mengurangi kebutuhan pengobatan yang lebih mahal.
Kemenkes menganjurkan cek kesehatan secara berkala. Pemeriksaan ini tetap berguna saat badan terasa sehat, dan jadwalnya bisa ditentukan bersama dokter berdasarkan usia, riwayat keluarga, kebiasaan merokok, dan hasil sebelumnya.
Pemeriksaan dasar untuk faktor risiko PTM mencakup:
Tekanan darah. Pengukurannya cepat dan tidak menimbulkan nyeri. Hasil yang tinggi perlu ditindaklanjuti bersama dokter.
Gula darah. Tes darah menunjukkan apakah kadar gula berada dalam rentang normal. Ambang diagnosis ditentukan oleh dokter.
Profil lemak darah. Tes ini mengukur kolesterol dan lemak darah lainnya. Hasilnya membantu dokter menilai risiko penyakit jantung.
Berat badan dan lingkar perut. Keduanya menggambarkan kelebihan berat badan. Pengukurannya sederhana dan bisa diulang setiap kali cek.
Bila ada keluhan atau hasil di luar batas normal, dokter bisa menyarankan tes lanjutan, misalnya pemeriksaan jantung koroner.
Pemeriksaan Menyeluruh untuk Mengenali Risiko Lebih Awal
Faktor risiko metabolik berkembang perlahan dan sering tanpa keluhan, tetapi angkanya bisa diukur jauh sebelum berubah menjadi penyakit. Paket MCU Plus dari Bumame adalah pemeriksaan kesehatan menyeluruh yang mencakup gula darah, kolesterol, fungsi hati, dan fungsi ginjal. Untuk jadwal dan lokasi, silakan hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Mencegah PTM dari Kebiasaan Sehari-hari
Karena faktor risikonya saling berkaitan, satu perubahan kebiasaan bisa menurunkan beberapa risiko sekaligus. WHO menilai pengurangan faktor risiko sebagai cara penting untuk menekan PTM. Langkahnya meliputi berhenti merokok, cukup makan sayur dan buah, membatasi garam dan alkohol, rutin bergerak, tidur cukup, serta mengelola stres. Semuanya lebih mudah dijalankan bertahap, dan cara menerapkan gaya hidup sehat bisa dimulai dari satu perubahan kecil.
Kenali Angka Kesehatan Anda Mulai Sekarang
PTM berkembang pelan, dan di situlah peluangnya. Waktu yang panjang memberi kesempatan untuk mengenali faktor risiko, memperbaikinya, lalu memantau hasilnya. Kepastian lebih awal memberi lebih banyak pilihan untuk melangkah. Untuk mengatur jadwal pemeriksaan, Anda bisa chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Mengenal Penyakit Tidak Menular. Retrieved 23 September 2026 from https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2501/mengenal-penyakit-tidak-menular
Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Perilaku CERDIK dalam Mencegah Penyakit Tidak Menular. Retrieved 23 September 2026 from https://ayosehat.kemkes.go.id/perilaku-cerdik-dalam-mencegah-penyakit-tidak-menular
World Health Organization. Noncommunicable diseases. Retrieved 23 September 2026 from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/noncommunicable-diseases
World Health Organization. Noncommunicable diseases. Retrieved 23 September 2026 from https://www.who.int/health-topics/noncommunicable-diseases
Centers for Disease Control and Prevention. About Chronic Diseases. Retrieved 23 September 2026 from https://www.cdc.gov/chronic-disease/about/index.html
Centers for Disease Control and Prevention. Preventing Chronic Diseases: What You Can Do Now. Retrieved 23 September 2026 from https://www.cdc.gov/chronic-disease/prevention/index.html
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
Frequently Asked Question
Apa itu penyakit tidak menular?
Apa saja contoh penyakit tidak menular?
WHO menyebut empat kelompok utama, yaitu penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke, kanker, penyakit pernapasan kronis seperti PPOK dan asma, serta diabetes.
