Kebanyakan orang cenderung fokus menjaga kesehatan tubuh secara umum saja, misalnya rutin berolahraga maupun mengonsumsi makanan bergizi. Kesehatan seksual masih sering dikesampingkan, padahal juga menjadi bagian penting untuk diperhatikan. Salah satu penyakit yang harus Anda waspadai sejak dini yaitu sifilis.
Penyakit yang juga disebut raja singa tersebut terjadi karena infeksi yang bisa berkembang tanpa menunjukkan keluhan pada tahap awal. Sifilis juga termasuk IMS atau infeksi menular seksual yang bisa menyerang siapa pun yang secara seksual aktif.
Untungnya saja, penyakit raja singa masih bisa dideteksi lewat pemeriksaan laboratorium serta bisa diobati secara efektif ketika ditemukan sejak dini. Pemeriksaan pranikah bantu pria deteksi dini masalah kesehatan dan kesuburan untuk rencana keluarga sehat demi masa depan bersama
Apa Itu Sifilis?
Sifilis atau penyakit raja singa adalah sebuah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri bernama Treponema pallidum. Ini adalah penyakit yang sering menular lewat kontak seksual, baik oral, vaginal, maupun anal, dengan seseorang yang mengalami infeksi.
Selain itu, ibu hamil juga bisa menularkan penyakit raja singa kepada janinnya dan menyebabkan sifilis kongenital. Penularan dari ibu ke janin ini berisiko mengakibatkan bayi mengalami gangguan serius seperti gangguan penglihatan, pendengaran, lahir prematur, dan gangguan perkembangan lainnya.
Penyebab Sifilis
Penyebab utama raja singa yaitu infeksi bakteri bernama Treponema pallidum. Bakteri ini akan masuk ke dalam tubuh lewat luka kecil di kulit maupun di selaput lendir ketika terkena kontak secara langsung dengan luka penderita sifilis.
Beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko terjadinya penularan antara lain:
Mempunyai pasangan seksual lebih dari satu,
Mempunyai pasangan yang mengalami IMS,
Pria yang berhubungan dengan pria mempunyai risiko sifilis lebih tinggi sesuai dengan data epidemiologi di banyak negara,
Hidup dengan HIV maupun mempunyai riwayat IMS yang lainnya.
Perlu diketahui, penyakit raja singa tidak menular karena menggunakan toilet bersama, berbagi kolam renang, alat makan, atau berjabat tangan. Umumnya, penularan memerlukan kontak langsung dengan luka yang terinfeksi atau penularan dari ibu hamil ke janin selama masa kehamilan.
Gejala Penyakit Raja Singa yang Harus Diwaspadai
Gejala raja singa bisa berubah sesuai dengan stadium penyakit. Pada beberapa orang, gejala yang muncul sangat ringan, sehingga terkadang baru disadari setelah melakukan pemeriksaan laboratorium.
1. Sífilis Primer
Tahap pertama biasanya memunculkan satu atau beberapa luka kecil (chancre) di area anus, kelamin, mulut, maupun bagian tubuh lain yang merupakan tempat masuknya bakteri.
Luka tersebut mempunyai ciri-ciri:
Berbentuk bulat,
Tidak terasa nyeri,
Permukaannya bersih,dan
Bisa sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu meski infeksinya tetap berlangsung.
Karena tidak menyebabkan rasa sakit, banyak penderita raja singa tidak menyadari bahwa mereka sudah terinfeksi.
2. Sifilis Sekunder
Beberapa minggu pasca luka awal menghilang, bakteri bisa menyebar ke seluruh tubuh dan mengakibatkan gejala lebih variatif. Biasanya seseorang akan mengalami beberapa keluhan seperti berikut.
Demam ringan,
Ruam di telapak tangan maupun telapak kaki,
Rambut rontok secara tidak merata,
Nyeri tenggorokan,
Pembesaran pada kelenjar getah bening,
Mudah lelah, dan
Nyeri otot.
Ruam karena raja singa biasanya tidak terasa gatal, sehingga bisa disalah artikan sebagai gangguan kulit biasa.
3. Sifilis Laten
Setelah gejala yang terjadi pada stadium sekunder sudah menghilang, infeksi memasuki fase laten. Di tahap ini, umumnya penderita tidak mengalami keluhan apa pun. Namun, bakteri masih ada di dalam tubuh.
Terdapat dua jenis sifilis laten, yaitu laten dini (terjadi kurang dari setahun sejak infeksi) dan laten lanjut (terjadi lebih dari setahun). Meskipun tanpa gejala, biasanya seseorang harus tetap membutuhkan pengobatan sehingga infeksi tidak berkembang sampai ke tahap yang lebih berat.
Maka dari itu, pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan agar tahu apakah infeksi sudah hilang atau masih ada.
4. Sifilis Tersier
Sebagian kecil penderita raja singa yang tidak memperoleh pengobatan berpotensi mengalami sifilis tersier, mulai dari beberapa tahun sampai puluhan tahun setelah infeksi pertama kali. Pada stadium ini, biasanya bakteri sudah merusak ke berbagai organ tubuh, antara lain:
Mata,
Jantung,
Pembuluh darah,
Tulang,
Otak,
Sistem saraf, hingga
Hati.
Kerusakan organ karena sifilis tersier bisa bersifat permanen. Itulah mengapa deteksi serta pengobatan sejak tahap awal sangat penting sebagai langkah awal dalam mencegah terjadinya komplikasi tersebut.
Komplikasi Penyakit Raja Singa
Tanpa mendapatkan penanganan secara tepat, raja singa bisa mengakibatkan berbagai komplikasi serius. Ini adalah risiko yang bisa meningkat saat infeksi berlangsung pada jangka waktu lama dan tanpa disadari.
Beberapa komplikasi yang bisa terjadi antara lain:
1. Gangguan Sistem Saraf atau Neurosifilis
Bakteri bisa menyerang otak serta sumsum tulang belakang yang mengakibatkan penurunan daya ingat, gangguan keseimbangan, mati rasa, perubahan perilaku, bahkan stroke pada beberapa kasus.
2. Gangguan Mata atau Ocular Syphilis
Infeksi bisa menimbulkan dampak kesehatan pada berbagai bagian mata serta mengakibatkan nyeri mata, penglihatan kabur, bahkan kebutaan ketika tidak segera mendapat penanganan secara tepat.
3. Gangguan Pembuluh Darah dan Jantung
Pada stadium lanjut, raja singa bisa mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah, khususnya aorta. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan fungsi jantung maupun aneurisma.
4. Sifilis Kongenital
Ketika ibu hamil mengalami penyakit raja singa yang tidak terdiagnosis, bakteri bisa menular ke janin lewat plasenta. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko bayi lahir mati, keguguran, kelahiran prematur, sampai gangguan pertumbuhan serta perkembangan.
Karena beberapa komplikasi tersebut bisa dicegah lewat diagnosis dini, pemeriksaan seksual secara berkala merupakan langkah yang sangat tepat, khususnya bagi seseorang yang memiliki faktor risiko tertentu.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera konsultasikan kondisi kesehatan dengan dokter jika mengalami beberapa masalah berikut.
Mengalami ruam pada kulit disertai dengan riwayat berhubungan seksual berisiko;
Muncul luka di area kelamin, mulut, atau anus yang penyebabnya tidak diketahui;
Pasangan seksual yang terdiagnosis terkena sifilis maupun IMS lainnya;
Sedang merencanakan kehamilan maupun sudah hamil tetapi belum menjalani skrining penyakit raja singa;
Mempunyai pasangan seksual lebih dari satu serta belum pernah memeriksakan kesehatan terkait IMS.
Perlu diingat, gejala sifilis tidak selalu muncul. Beberapa penderita baru bahkan mengetahui dirinya terkena infeksi setelah melakukan pemeriksaan laboratorium.
Hal ini berarti sangat penting untuk melakukan tindakan pencegahan agar tidak sampai menimbulkan masalah lebih lanjut. Maka dari itu, jangan sampai menunggu munculnya keluhan berat untuk memulai pemeriksaan.
Bagaimana Pemeriksaan Raja Singa Dilakukan?
Diagnosis sifilis tidak bisa ditegakkan berdasarkan gejalanya saja. Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, mempertimbangkan riwayat kesehatan, lalu menyarankan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium agar memastikan adanya infeksi atau tidak.
Adapun beberapa jenis pemeriksaan yang biasa dilakukan antara lain:
1. Pemeriksaan RPR atau VDRL
Tes RPP (Rapid Plasma Reagin) dan VDRL (Venereal Disease Research Laboratory) adalah pemeriksaan skrining yang bertujuan untuk mendeteksi antibodi yang terbentuk karena infeksi sifilis. Jika hasilnya reaktif, dokter akan menyarankan agar dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan diagnosis.
2. Pemeriksaan TPPA atau TPHA
Tes TPPA (Treponema Pallidum Particle Agglutination) atau TPHA (Treponema Pallidum Hemagglutination Assay) dipakai sebagai pemeriksaan konfirmasi ketika hasil skrining menunjukkan adanya kemungkinan infeksi.
Kombinasi dari kedua jenis pemeriksaan kesehatan tersebut akan membantu dokter dalam menentukan diagnosis yang lebih akurat.
3. Pemeriksaan Tambahan
Pada kondisi tertentu, biasanya dokter akan merekomendasikan pemeriksaan lain, misalnya analisis cairan serebrospinal, ketika dicurigai adanya neurosifilis maupun pemeriksaan mata ketika terjadi gangguan penglihatan.
Bagaimana Pengobatan Sifilis?
Sifilis bisa disembuhkan ketika seseorang mendapatkan penanganan yang tepat. Terapi utama sesuai rekomendasi WHO adalah antibiotik, khususnya benzathine penicillin G. Dosisnya disesuaikan dengan stadium penyakit.
Sementara itu, pada raja singa tahap awal, umumnya cukup mendapatkan satu kali suntikan. Untuk raja singa laten lanjut maupun tersier, biasanya dibutuhkan regimen lebih panjang. Untuk seseorang yang mempunyai alergi penisilin, dokter bisa mempertimbangkan pemberian antibodi alternatif sesuai dengan kondisi klinis.
Akan tetapi, pada ibu hamil tetap diberikan penisilin karena itu satu-satunya terapi yang terbukti bisa mencegah penularan raja singa pada janin. Maka dari itu, ibu hamil yang memiliki alergi penisilin biasanya akan menjalani prosedur desensitisasi sebelum mendapatkan terapi tersebut.
Penting agar dipahami bahwa pengobatan hanya akan membunuh bakteri yang menyebabkan sifilis, tetapi tidak selalu bisa memperbaiki kerusakan organ yang terjadi karena infeksi yang berlangsung dalam waktu lama. Jadi, semakin cepat penyakit raja singa didiagnosis, peluang untuk sembuh tanpa mengalami komplikasi akan semakin besar.
Selain itu, selama masa pengobatan, pasien akan dianjurkan untuk:
Tidak berhubungan seksual sampai dokter menyatakan bahwa infeksi sudah teratasi;
Memberi tahu pasangan agar ikut melakukan pemeriksaan serta pengobatan jika diperlukan;
Menjalani pemeriksaan ulang untuk memastikan terapi berhasil;
Mematuhi semua anjuran dokter serta tidak menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Cara Mencegah Sifilis
Meskipun raja singa bisa diobati, pencegahan tetap menjadi langkah terbaik. Berikut beberapa upaya yang bisa dilakukan:
Menggunakan kondom secara benar dan konsisten,
Melakukan pemeriksaan seksual secara berkala dan sebelum menikah,
Bersikap terbuka terhadap pasangan,
Melakukan skrining ketika hamil,
Tidak menunda untuk melakukan konsultasi medis.
Pemeriksaan Sifilis di Bumame untuk Deteksi Dini
Deteksi dini sifilis merupakan langkah penting karena penyakit ini berkembang tanpa gejala pasti di tahap awal. Pemeriksaan laboratorium bisa membantu memberi kepastian agar seseorang segera mendapatkan penanganan yang tepat sedini mungkin.
Untuk Anda yang ingin mengambil langkah konkret, Bumame menyediakan beragam layanan pemeriksaan kesehatan dengan standar laboratorium yang terjamin. Tes kesehatan seksual dan reproduksi di Bumame hasilnya akurat, cepat, terjangkau, serta dilengkapi dengan konsultasi dokter gratis untuk pembacaan hasil.
Terutama sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, mengambil paket pemeriksaan lengkap pranikah pria semestinya perlu dilakukan sebagai bukti keseriusan pasangan dalam menjalin hubungan penuh kasih dengan calon istri dan melahirkan keturunan yang sehat tanpa membawa penyakit tertentu dari orang tuanya.
Pada paket pemeriksaan pranikah ini, calon ayah akan melalui skrining IMS sifilis maupun penyakit menular lainnya semacam HIV dan hepatitis B. Terdapat juga pemeriksaan thalassemia untuk tahu apakah calon ayah memiliki sifat pembawanya atau tidak.
Intinya, pemeriksaan kesehatan seksual dan reproduksi sangat diperlukan demi kebaikan diri, pasangan, dan calon buah hati kelak. Hubungi WhatsApp Bumame untuk mendapatkan info pemeriksaan selengkapnya atau konsultasi terkait kebutuhan Anda gratis selama jam operasional!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
4. Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
Referensi:
World Health Organization. (2025). Syphilis.
Centers for Disease Control and Prevention. (2025). About Syphilis.
World Health Organization. (2025). Syphilis – Health Topics.
Centers for Disease Control and Prevention. (2024). STI Treatment Guidelines: Syphilis.
MedlinePlus (U.S. National Library of Medicine). (2024). Syphilis.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia – Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2022). Sifilis.
Tudor, M. E., Al Aboud, A. M., Leslie, S. W., et al. (2024). Syphilis. In StatPearls.
Ditinjau oleh: dr. Reycha Nabila
FAQ Seputar Sifilis
Apa itu sifilis?
Apa itu sifilis?
Sifilis atau penyakit raja singa adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penularannya paling sering terjadi melalui kontak seksual, baik oral, vaginal, maupun anal. Selain itu, sifilis juga dapat ditularkan dari ibu hamil kepada janinnya.
Bagaimana sifilis dapat menular?
Bagaimana sifilis dapat menular?
Sifilis menular melalui kontak langsung dengan luka yang terinfeksi saat berhubungan seksual atau dari ibu hamil ke janin selama kehamilan. Penyakit ini tidak menular melalui penggunaan toilet bersama, kolam renang, alat makan, maupun berjabat tangan.
Apa saja gejala sifilis?
Apa saja gejala sifilis?
Gejala sifilis berbeda pada setiap stadium. Pada tahap awal dapat muncul luka kecil yang tidak nyeri di area kelamin, anus, atau mulut. Seiring perkembangan penyakit, dapat timbul demam ringan, ruam pada telapak tangan dan kaki, rambut rontok tidak merata, nyeri tenggorokan, pembesaran kelenjar getah bening, mudah lelah, hingga nyeri otot. Pada fase laten, penderita dapat tidak mengalami gejala sama sekali.
Apa yang dapat terjadi jika sifilis tidak diobati?
Apa yang dapat terjadi jika sifilis tidak diobati?
Jika tidak ditangani, sifilis dapat menyebabkan komplikasi serius seperti gangguan sistem saraf (neurosifilis), gangguan mata, kerusakan pembuluh darah dan jantung, serta sifilis kongenital pada bayi yang tertular dari ibu selama kehamilan.
Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?
Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?
Segera berkonsultasi ke dokter jika muncul luka pada area kelamin, mulut, atau anus yang tidak diketahui penyebabnya, mengalami ruam setelah berhubungan seksual berisiko, memiliki pasangan yang didiagnosis IMS, sedang merencanakan kehamilan atau hamil tanpa skrining sifilis, maupun memiliki lebih dari satu pasangan seksual.
Bagaimana sifilis didiagnosis?
Bagaimana sifilis didiagnosis?
Diagnosis sifilis dilakukan melalui pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan, serta pemeriksaan laboratorium. Tes yang umum digunakan meliputi pemeriksaan skrining RPR atau VDRL, dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi TPPA atau TPHA bila diperlukan. Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan tambahan.
Bagaimana pengobatan sifilis?
Bagaimana pengobatan sifilis?
Sifilis dapat diobati dengan antibiotik sesuai rekomendasi dokter, dengan jenis dan lama pengobatan disesuaikan berdasarkan stadium penyakit. Selama menjalani terapi, pasien dianjurkan tidak berhubungan seksual hingga dinyatakan sembuh, memberi tahu pasangan agar ikut diperiksa, menjalani pemeriksaan ulang, serta mengikuti seluruh anjuran dokter.
Bagaimana cara membantu mencegah sifilis?
Bagaimana cara membantu mencegah sifilis?
Pencegahan sifilis dapat dilakukan dengan menggunakan kondom secara benar dan konsisten, melakukan pemeriksaan kesehatan seksual secara berkala atau sebelum menikah, bersikap terbuka dengan pasangan, menjalani skrining selama kehamilan, serta tidak menunda konsultasi medis jika memiliki faktor risiko atau keluhan.
