Imunisasi Polio: Jadwal, Manfaat dan Efek Sampingnya pada Anak

Imunisasi Polio: Jadwal, Manfaat, dan Efek Sampingnya pada Anak

30/07/2026Bumame

Setiap orang tua tentu ingin melihat anak tumbuh sehat, aktif, dan mampu menjalani setiap perkembangan dengan baik. Namun, ada beberapa penyakit infeksi yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak bahkan meninggalkan dampak panjang. Salah satunya yakni polio. Tapi tenang, penyakit ini dapat dicegah melalui imunisasi polio.

Imunisasi ini tidak hanya melindungi satu anak, tetapi juga membantu membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) sehingga penyebaran virus polio bisa lebih ditekan. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui bahwa imunisasi merupakan langkah awal pemberantasan penyakit polio untuk mendukung kesehatan anak.

Pengertian Polio

Poliomyelitis atau lebih dikenal dengan istilah polio adalah suatu penyakit virus menular (poliovirus) yang sering menyerang anak-anak dibawah usia 5 tahun. Virus ini menyebar dari manusia ke manusia secara transmisi fecal oral melalui media seperti makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja penderita.

Pada dasarnya, virus polio menyerang sistem saraf dan akan menyebabkan kelumpuhan permanen, gangguan pernapasan, hingga kematian apabila menyerang otot-otot yang berperan dalam proses bernapas.

Gejala dan Masa Inkubasi Polio

Lebih dari 90% individu yang tertular polio cenderung mengalami asimtomatik (tanpa gejala) atau hanya mengalami keluhan ringan. Namun, virus ini memerlukan waktu inkubasi sekitar 3 hingga 6 hari sebelum memicu manifestasi klinis yang dikelompokkan ke dalam tiga fase berikut:

1. Polio Non-Paralitik

Kondisi ini ditandai dengan gejala umum seperti demam, mual-muntah, letih, nyeri tenggorokan, pusing, serta kekakuan pada area leher, punggung, dan anggota gerak. Kadang kala, fase ini juga memicu meningitis.

2. Polio Paralitik

Keluhan awalnya mirip dengan jenis non-paralitik, tetapi dalam kurun waktu satu minggu akan berkembang menjadi gejala yang lebih fatal. Indikasinya meliputi hilangnya refleks tubuh, kram otot yang hebat, hingga terjadinya kelumpuhan pada kaki atau lengan yang dapat bersifat permanen maupun temporer.

3. Sindrom Pasca-Polio (Post-Polio Syndrome)

Dampak jangka panjang yang dapat mengancam tumbuh kembang anak di masa depan ini dapat muncul kembali sekitar 15 hingga 40 tahun setelah pasien dinyatakan sembuh.

Gejala yang sering dilaporkan adalah atrofi (penurunan massa) otot, nyeri sendi, kelelahan kronis, gangguan tidur akibat sesak napas, disfagia (sulit menelan), hingga gangguan psikologis seperti depresi.

Mengapa Imunisasi Polio Sangat Penting?

Banyak orang mengira polio sudah tidak ada lagi. Padahal, selama virus masih beredar di berbagai negara, setiap anak yang belum mendapatkan imunisasi tetap memiliki risiko terpapar. Berikut alasan mengapa imunisasi polio sangat penting.

1. Mencegah Kelumpuhan Permanen

Polio merupakan salah satu penyakit yang belum memiliki obat untuk menghilangkan virus dari tubuh. Penanganan ini hanya bersifat suportif untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi.

Apabila virus telah merusak sel saraf, kelumpuhan yang terjadi umumnya bersifat permanen. Karena itu, pencegahan melalui imunisasi jauh lebih efektif daripada pengobatan setelah infeksi terjadi.

2. Melindungi Anak Sejak Dini

Bayi dan anak balita merupakan kelompok yang paling rentan terhadap infeksi polio. Oleh sebab itu, pemberian vaksin perlu dilakukan sejak bayi agar mendapat perlindungan sedini mungkin.

3. Membantu Menghentikan Penularan

Ketika cakupan imunisasinya tinggi, penyebaran virus jadi sangat sulit karena sebagian besar masyarakat sudah memiliki kekebalan kolektif. Inilah yang disebut herd immunity, yaitu perlindungan tidak langsung bagi kelompok yang belum bisa menerima vaksin, misalnya bayi dengan kondisi medis tertentu atau individu dengan gangguan sistem kekebalan tubuh.

4. Mendukung Program Eliminasi Polio

Indonesia bersama banyak negara lain terus berupaya mempertahankan status bebas polio melalui program imunisasi rutin dan imunisasi tambahan pada kondisi tertentu. Semakin tinggi angka imunisasi, maka semakin kecil peluang virus kembali menyebar di masyarakat.

Bagaimana Cara Kerja Vaksin Polio?

Vaksin polio bekerja dengan memperkenalkan antigen virus kepada sistem kekebalan tubuh tanpa menyebabkan penyakit polio. Setelah vaksin diberikan, tubuh akan membentuk antibodi yang mampu mengenali virus polio. 

Apabila suatu hari seseorang terpapar virus yang sebenarnya, antibodi tersebut akan bekerja lebih cepat untuk melawan infeksi sehingga risiko terjadinya penyakit berat maupun kelumpuhan dapat ditekan. Respons imun ini dapat bertahan dalam jangka panjang apabila imunisasi diberikan sesuai jadwal yang direkomendasikan.

Jenis Vaksin Polio

Secara umum, terdapat dua jenis vaksin polio yang digunakan di berbagai negara, termasuk Indonesia, yakni sebagai berikut.

1. Oral Polio Vaccine (OPV)

OPV merupakan vaksin polio oral berbentuk tetes. Vaksin ini menggunakan virus yang telah dilemahkan sehingga mampu merangsang pembentukan kekebalan di dalam saluran cerna. Karena mudah diberikan, OPV sering digunakan dalam program imunisasi massal maupun Pekan Imunisasi Nasional (PIN).

2. Inactivated Polio Vaccine (IPV)

IPV diberikan melalui suntikan dengan menggunakan virus yang sudah mati sehingga tidak dapat menyebabkan penyakit. Vaksin ini bisa memberikan perlindungan terhadap kelumpuhan di dalam darah. Dokter sering kali merekomendasikan kombinasi OPV dan IPV agar perlindungan anak menjadi lebih optimal.

Jadwal Imunisasi Polio yang Dianjurkan

Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan orang tua adalah kapan waktu terbaik untuk memberikan imunisasi polio. Jawabannya adalah sedini mungkin sesuai jadwal imunisasi yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Pemberian vaksin sejak bayi bertujuan agar perlindungan terhadap virus polio terbentuk sebelum anak berisiko terpapar virus di lingkungan sekitarnya. Secara umum, jadwal imunisasi polio meliputi:

  • Saat lahir (0 bulan): vaksin polio tetes (OPV dosis 0).

  • Usia 2 bulan: OPV dan/atau IPV sesuai program imunisasi.

  • Usia 3 bulan: dosis berikutnya sesuai jadwal nasional.

  • Usia 4 bulan: dosis lanjutan untuk memperkuat kekebalan.

  • Usia 9 bulan atau sesuai program terbaru Kementerian Kesehatan: tambahan IPV apabila direkomendasikan.

Selain imunisasi rutin, pemerintah juga dapat menyelenggarakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio atau Sub PIN Polio apabila ditemukan kasus polio di suatu wilayah. 

Pada kondisi tersebut, anak yang memenuhi kriteria tetap mengikuti imunisasi tambahan meskipun sebelumnya sudah menerima vaksin polio lengkap. Hal ini bertujuan meningkatkan perlindungan masyarakat dan menghentikan penyebaran virus.

Siapa yang Perlu Mendapatkan Imunisasi Polio?

Imunisasi polio terutama ditujukan bagi bayi dan anak-anak karena kelompok usia ini memiliki risiko tertinggi mengalami infeksi. Namun, dalam kondisi tertentu, orang dewasa juga dapat memerlukan vaksin polio, misalnya:

  • Belum pernah mendapatkan imunisasi polio lengkap saat kecil;

  • Akan bepergian ke negara yang masih memiliki risiko penularan polio;

  • Bekerja di laboratorium yang menangani virus polio;

  • Merupakan tenaga kesehatan yang berpotensi menangani pasien polio.

Apakah Imunisasi Polio Aman?

Banyak orang tua merasa khawatir sebelum membawa anak untuk imunisasi. Perasaan ini sangat wajar, terutama jika mendengar berbagai informasi yang beredar di media sosial.

Faktanya, vaksin polio yang digunakan dalam program imunisasi nasional telah melalui berbagai tahapan penelitian, uji klinis, serta evaluasi ketat mengenai keamanan, mutu, dan efektivitas sebelum mendapatkan izin edar.

Efek samping yang muncul umumnya ringan dan bersifat sementara, seperti:

  • Demam ringan;

  • Anak menjadi sedikit rewel;

  • Nyeri atau kemerahan pada lokasi suntikan (untuk IPV);

  • Nafsu makan sedikit menurun selama 1-2 hari.

Reaksi berat setelah imunisasi sangat jarang terjadi. Apabila anak mengalami demam tinggi, sesak napas, atau reaksi alergi berat setelah vaksinasi, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan.

Perlu diketahui bahwa penelitian menunjukkan imunisasi tidak menyebabkan autisme maupun merusak DNA. Informasi tersebut hanya mitos yang telah dibantah oleh berbagai lembaga kesehatan, termasuk Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Imunisasi Polio dengan Vaksin IPV

Setelah memastikan bahwa imunisasi aman bagi masa depan si kecil, langkah selanjutnya adalah memilih fasilitas kesehatan tepercaya. Sebagai solusi praktis untuk mempermudah perlindungan keluarga Anda, Bumame menyediakan layanan Vaksin Polio IPV dengan harga mulai dari Rp375.000,00.

Untuk anak, vaksin diberikan pada usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan booster pada usia 18 bulan. Anak yang telah menerima vaksin polio oral (OPV) tetap dianjurkan memperoleh dua dosis IPV sebelum usia 12 bulan. Jika jadwal imunisasi terlambat, vaksin tetap dapat diberikan melalui imunisasi kejar.

Bagi orang dewasa dan lansia, vaksin diberikan dalam tiga dosis. Dosis pertama diberikan saat ini, dilanjutkan dosis kedua setelah 1–2 bulan, dan dosis ketiga 6–12 bulan setelah dosis kedua. Jadwal ini membantu membentuk perlindungan yang optimal terhadap virus polio.

Layanan vaksinasi dilakukan oleh tenaga medis profesional sesuai standar yang berlaku dan diberikan mengikuti rekomendasi jadwal imunisasi nasional.

Jangan khawatir imunisasi karena vaksinasi anak dan dewasa di Bumame memberikan berbagai keuntungan. Salah satunya yakni proteksi tambahan berupa asuransi efek samping vaksinasi hingga Rp50.000.000,00 bekerja sama dengan Prodigi selama satu bulan. Hal ini tentu membuat pasien merasa aman.

Tips Mencegah Penyakit Polio

Selain melalui jalur vaksinasi di fasilitas kesehatan, pencegahan polio juga harus didukung dengan kebiasaan sehat harian di rumah. Ikuti langkah pencegahan berikut ini.

1. Lengkapi Imunisasi Polio

Pastikan anak mendapatkan vaksin polio tetes (OPV) dan suntik (IPV) lengkap sesuai jadwal yang ditentukan. Pemberian yang tepat waktu sangat penting agar kekebalan tubuh anak terbentuk secara optimal.

2. Jaga Kebersihan Sanitasi

Selalu gunakan jamban yang sehat dan higienis untuk membuang kotoran setiap hari. Hindari membuang air besar sembarangan agar virus tidak mencemari sumber air bersih di sekitar lingkungan.

3. Biasakan Cuci Tangan

Ajarkan anak untuk selalu mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan setelah dari toilet. Kebiasaan sederhana ini sangat bertujuan untuk memutus rantai penularan virus ke dalam tubuh.

4. Pastikan Konsumsi Makanan dan Minuman Higienis

Selalu masak air minum hingga benar-benar mendidih pada suhu 100 derajat celcius agar bakteri dan virus mati sebelum dikonsumsi. Selain itu, cuci bersih bahan makanan dan pastikan semuanya disajikan dalam kondisi matang sempurna.

5. Ikuti Program Imunisasi Tambahan

Dukung dan ikuti kegiatan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio jika sedang dilaksanakan di wilayah tempat tinggal Anda. Dosis tambahan ini sangat penting untuk memberikan perlindungan ekstra sekaligus memperkuat kekebalan kelompok.

Lindungi Anak dengan Imunisasi Tepat Waktu

Sebagian besar orang tua tentu berharap anak dapat tumbuh sehat, aktif, dan bebas dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Imunisasi polio merupakan salah satu langkah paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut.

Selain melindungi anak dari risiko kelumpuhan permanen, imunisasi juga membantu menghentikan penyebaran virus di masyarakat. Semakin tinggi cakupan imunisasi, semakin besar pula perlindungan bagi seluruh anggota masyarakat, termasuk mereka yang belum dapat menerima vaksin karena kondisi medis tertentu.

Jadi, jangan menunggu hingga muncul kasus di lingkungan sekitar. Pastikan jadwal imunisasi anak selalu lengkap sesuai rekomendasi tenaga kesehatan untuk menjaga kesehatannya sejak dini.

Lokasi Klinik Bumame

1. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

4. Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

References

  1. World Health Organization. (2024). Poliomyelitis (Polio).

  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Poliomyelitis (Penyakit Virus Polio).

  3. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2022). Assessment Report Vaksin Polio.

  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Pencegahan Polio.

  5. Jurnal Meditek Universitas Kristen Krida Wacana. (2022). Tinjauan Efektivitas dan Keamanan Vaksin Polio.

  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Imunisasi Tidak Merusak Sel dan DNA.

  7. Asia Pacific Journal of Health Management. (2024). evaluating boil water advisory policies and practices: health outcomes in hongkong.

Ditinjau oleh: dr. Talitha Amalia

FAQ Seputar Imunisasi Polio

Apa itu polio?

Polio adalah penyakit menular yang disebabkan oleh poliovirus dan paling sering menyerang anak-anak di bawah usia 5 tahun. Virus ini menyebar melalui jalur fecal-oral, misalnya dari makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja penderita, dan dapat menyebabkan kelumpuhan permanen hingga gangguan pernapasan.

Mengapa imunisasi polio penting?

Imunisasi polio bertujuan mencegah kelumpuhan permanen, melindungi anak sejak usia dini, membantu menghentikan penularan melalui kekebalan kelompok (herd immunity), serta mendukung program eliminasi polio agar virus tidak kembali menyebar di masyarakat.

Bagaimana cara kerja vaksin polio?

Vaksin polio bekerja dengan memperkenalkan antigen virus kepada sistem kekebalan tubuh tanpa menyebabkan penyakit. Setelah vaksin diberikan, tubuh membentuk antibodi yang dapat mengenali dan melawan virus polio jika suatu saat terpapar.

Apa saja jenis vaksin polio?

Terdapat dua jenis vaksin polio, yaitu Oral Polio Vaccine (OPV) yang diberikan dalam bentuk tetes dan Inactivated Polio Vaccine (IPV) yang diberikan melalui suntikan. Pada beberapa kondisi, dokter dapat merekomendasikan kombinasi OPV dan IPV untuk memberikan perlindungan yang lebih optimal.

Kapan jadwal imunisasi polio diberikan?

Imunisasi polio dianjurkan dimulai sejak lahir dengan OPV dosis 0, kemudian dilanjutkan sesuai jadwal pada usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan tambahan IPV pada usia 9 bulan atau sesuai program terbaru Kementerian Kesehatan. Pada kondisi tertentu, anak juga dapat mengikuti imunisasi tambahan melalui Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio.

Siapa yang perlu mendapatkan imunisasi polio?

Imunisasi polio terutama ditujukan bagi bayi dan anak-anak. Namun, orang dewasa juga dapat memerlukannya jika belum pernah mendapatkan imunisasi lengkap, akan bepergian ke daerah berisiko, bekerja di laboratorium yang menangani virus polio, atau merupakan tenaga kesehatan yang berpotensi menangani pasien polio.

Apakah imunisasi polio aman dan apa efek sampingnya?

Vaksin polio yang digunakan telah melalui uji keamanan dan efektivitas. Efek samping yang paling sering muncul bersifat ringan dan sementara, seperti demam ringan, anak menjadi rewel, nyeri atau kemerahan pada lokasi suntikan (IPV), serta penurunan nafsu makan selama 1–2 hari. Reaksi berat sangat jarang terjadi.

Bagaimana cara membantu mencegah penyakit polio?

Pencegahan polio dilakukan dengan melengkapi imunisasi sesuai jadwal, menjaga kebersihan sanitasi, membiasakan cuci tangan menggunakan sabun, memastikan makanan dan minuman higienis, serta mengikuti program imunisasi tambahan apabila diselenggarakan di wilayah tempat tinggal.