Apakah Anda sedang merasa tubuh cepat sekali lelah dalam beberapa hari ke belakang, padahal waktu tidur sudah cukup dan tidak ada aktivitas sehari-hari yang terlalu berat? Atau mungkin Anda merasakan nyeri sendi yang tiba-tiba datang dan pergi tanpa alasan? Kondisi ini bisa menjadi salah satu tanda bahwa Anda mungkin mengalami autoimun. Apa itu?
Ini adalah kondisi dimana sistem kekebalan tubuh yang seharusnya menjaga tubuh dari zat asing berbahaya malah bertindak sebaliknya. Lebih lengkapnya mengenai istilah ini mulai dari penyebab, gejala, pemeriksaan, hingga tips pengobatannya akan diuraikan pada artikel ini. Anda pun bisa mengambil langkah pencegahan dan pengendalian yang tepat.
Apa Itu Penyakit Autoimun?
Penyakit autoimun adalah suatu kondisi dimana sistem kekebalan atau sistem imun tubuh yang seharusnya bertindak sebagai pelindung tubuh dari ancaman virus, bakteri, kuman, dan zat asing lainnya malah salah mengenali dan menyerang sel-sel tubuh yang sehat. Akibatnya, terjadi peradangan dan gangguan pada jaringan dan organ tubuh yang sel-sel sehatnya diserang.
Umumnya, penyakit ini menyerang satu organ spesifik, misalnya kelenjar tiroid atau pankreas pada diabetes tipe 1. Namun, bisa juga bersifat sistemik, yang artinya bisa memengaruhi beberapa organ sekaligus di dalam tubuh.
Penyebab Penyakit Autoimun
Sampai saat ini, penyebab dari penyakit ini masih belum diketahui pasti. Namun, para ahli yakin bahwa penyakit ini timbul karena kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan, yang berarti jika Anda punya faktor genetik autoimun, belum tentu terkena penyakit ini jika tidak terpapar faktor pemicunya.
Apa saja faktor-faktor tersebut? berikut uraiannya.
Faktor keturunan (genetik), artinya apabila orang tua ada riwayat penyakit autoimun, maka risiko untuk mengalami penyakit yang sama menjadi lebih tinggi.
Jenis kelamin dan perubahan hormon, yang mana perempuan lebih rentan terkena penyakit ini, karena efek dari perbedaan hormon, terutama hormon estrogen, yang diketahui bisa memengaruhi cara kerja sistem imun tubuh.
Infeksi virus atau bakteri yang tinggi, karena dapat memicu imun menjadi terlalu aktif dan kesulitan mengenali antara sel sehat dan zat asing.
Paparan sinar ultraviolet (UV), polusi udara, asap rokok, bahan kimia tertentu, hingga logam seperti silika yang berlebihan juga bisa memicu munculnya penyakit ini, terutama pada tubuh yang rentan.
Gaya hidup seperti stres terus menerus, kurang tidur, pola makan yang tidak sehat, serta kurangnya gerak tubuh juga bisa menjadi penyebabnya, karena semua kondisi ini bisa memengaruhi cara kerja sistem imun.
Jenis dan Gejala Penyakit Autoimun yang Banyak Ditemukan
Secara umum, gejala penyakit ini pada setiap orang berbeda, tergantung dari jenis penyakit autoimunnya dan organ yang terdampak. Untuk itu, berikut jenis-jenis penyakitnya lengkap dengan gejalanya sebagai referensi Anda dalam memahami penyakit gangguan sistem imun ini.
Lupus (Systemic Lupus Erythematosus/SLE), penyakit autoimun kronis yang bisa menyerang berbagai organ tubuh sekaligus, yang mana gejala yang muncul berupa ruam kulit, nyeri sendi, mudah lelah, demam, sampai gangguan fungsi organ pada kasus yang lebih berat.
Rheumatoid Arthritis (RA), merupakan jenis gangguan fungsi kekebalan tubuh yang biasanya terjadi di bagian sendi dan menyebabkan peradangan kronis di bagian tersebut. Gejala yang muncul biasanya berupa nyeri, bengkak, dan kaku pada sendi, hingga sulit bergerak.
Hashimoto Thyroiditis, merupakan jenis autoimun yang menyerang kelenjar tiroid sehingga menyebabkan produksi hormon tiroid tubuh Anda menurun. Gejalanya bisa berupa mudah lelah, berat badan cepat naik, kulit kering, rambut rontok, hingga mudah kedinginan.
Graves' Disease, termasuk jenis gangguan kekebalan tubuh yang juga menyerang kelenjar tiroid. Bedanya penyakit ini menyebabkan produksi hormon tiroid berlebihan, sehingga gejala yang muncul biasanya berupa jantung berdebar, berat badan turun tanpa sebab yang jelas, mudah berkeringat, gemetar, dan mata tampak lebih menonjol.
Psoriasis, atau jenis kelainan autoimun yang menyerang jaringan kulit sehingga menyebabkan munculnya bercak warna merah dengan sisik tebal warna putih keperakan.
Diabetes Mellitus Type 1, penyakit autoimun yang terjadi karena sistem imun menyerang sel yang memproduksi insulin, sehingga penderitanya sering merasakan gejala buang air kecil, rasa haus berlebihan, berat badan turun drastis, hingga tubuh terus merasa lemas.
Multiple Sclerosis (MS), adalah jenis gangguan kekebalan tubuh yang menyerang sistem saraf pusat, tepatnya otak dan sumsum tulang belakang, sehingga gejala yang muncul berupa gangguan penglihatan, otot yang melemah, kesemutan, mati rasa, hingga kesulitan berjalan.
Sindrom Sjogren, merupakan penyakit autoimun yang menyerang bagian kelenjar produksi air mata dan air liur, yang mana gejalanya berupa mata dan mulut kering, sulit menelan, hingga nyeri sendi dan kelelahan.
Immune Thrombocytopenia (ITP), termasuk jenis gangguan fungsi kekebalan tubuh yang menyerang trombosit tubuh, sehingga menyebabkan darah sulit membeku. Hasilnya, penderitanya akan lebih mudah memar, mimisan, gusi berdarah, hingga perdarahan yang susah berhenti.
Penyakit Celiac, merupakan penyakit autoimun yang menyerang bagian usus kecil ketika penyerapan gluten terjadi. Gejala yang muncul biasanya berupa diare kronis, perut kembung, hingga berat badan yang turun drastis.
Kapan Sebaiknya Konsultasi ke Dokter?
Beberapa gejala di atas memang belum tentu menandakan penyakit autoimun. Tapi, jika mengalami rasa lelah, nyeri sendi, ruam kulit, dan gejala lainnya yang berlangsung selama beberapa minggu, sering kambuh, dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari Anda, maka konsultasi dengan dokter ahlinya perlu dilakukan.
Tujuannya agar dokter bisa langsung mengevaluasi dan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyakit Anda agar kemudian bisa mendapat langkah pengobatan yang cepat dan tepat.
Jenis Pemeriksaan Penyakit Autoimun
Pada dasarnya, tidak ada satu pun pemeriksaan yang bisa memastikan semua jenis penyakit ini. Untuk itulah, dokter biasanya akan menggabungkan hasil wawancara medis, pemeriksaan fisik, tes laboratorium, dan pemeriksaan lainnya untuk memastikan apakah Anda menderita penyakit ini atau tidak. Adapun pemeriksaan yang dimaksud yaitu:
1. Complete Blood Count (CBC)
Ini adalah tahap paling awal dari pemeriksaan autoimun, yang berupa pemeriksaan darah lengkap yang meliputi cek jumlah sel darah merah, sel darah putih, hingga trombosit. Tujuannya adalah untuk mengetahui adanya indikasi anemia atau penurunan sel darah putih atau trombosis, untuk kemudian bisa dijadikan acuan untuk mendeteksi apakah Anda menderita penyakit ini atau tidak.
2. Pemeriksaan Autoantibodi
Jika hasil pemeriksaan awal Anda mengarah pada penyakit ini, maka dokter biasanya akan menyarankan untuk Anda melakukan pemeriksaan autoantibodi, yang bisa berupa:
ANA (Antinuclear Antibody), untuk deteksi lupus (SLE), sindrom Sjogren dan skleroderma.
Rheumatoid Factor (RF) dan Anti-CCP, untuk deteksi rheumatoid arthritis.
ANCA, untuk deteksi beberapa jenis peradangan di pembuluh darah.
Antibodi antifosfolipid, untuk deteksi adanya sindrom antifosfolipid.
3. Cek Penanda Peradangan (CRP dan ESR)
Pemeriksaan C-Reactive Protein (CRP) dan Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah ada peradangan di dalam tubuh atau tidak. Semakin tinggi nilainya, maka menunjukkan adanya inflamasi yang kemudian bisa dijadikan acuan untuk mendiagnosis ada tidaknya penyakit autoimun.
4. Pemeriksaan Fungsi Organ
Sesuai namanya, pemeriksaan ini dapat berupa tes fungsi ginjal, fungsi hati, hingga urinalysis (tes urine). Tujuannya adalah untuk lebih memastikan apakah Anda terkena penyakit autoimun ini atau tidak dan mengetahui tingkat keparahannya. Hasil pemeriksaan ini kemudian bisa dijadikan acuan oleh dokter ahli dalam memilih penanganan yang paling tepat untuk mengatasinya.
5. Pemeriksaan Biopsi
Ini adalah pemeriksaan opsional, yang mana dilakukan jika hasil pemeriksaan belum cukup. Caranya yaitu dengan mengambil sampel jaringan dari kulit, ginjal, atau organ lain yang kemungkinan terkena penyakit ini.
MCU Premium Bumame: Cara Cerdas Evaluasi Penyakit Autoimun
Gejala gangguan ini sering kali mirip dengan penyakit lainnya, sehingga langkah awal yang direkomendasikan adalah bukan mencari satu jenis penyakit tertentu, tetapi melakukan pemeriksaan menyeluruh melalui Paket MCU General Premium dari Bumame.
Paket ini mencakup konsultasi dan pemeriksaan fisik oleh dokter, pemeriksaan laboratorium, serta pemeriksaan penunjang seperti rontgen thorax, EKG, hingga treadmill. Jadi, benar-benar menyeluruh dan Anda pun bisa tahu lebih akurat tentang penyakit apa yang sebenarnya Anda derita.
Adapun jika terdapat dugaan penyakit yang berkaitan dengan sistem imun, biasanya dokter akan merekomendasikan pemeriksaan lebih lanjut, seperti tes autoantibodi ANA atau RF, maupun pemeriksaan penunjang lainnya seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Tips Penanganan Penyakit Autoimun
Sampai saat ini, penyakit ini belum bisa disembuhkan secara total, tapi Anda bisa mengontrolnya dengan beberapa cara berikut.
Minum obat sesuai anjuran dokter, seperti imunosupresan, kortikosteroid, hingga obat antiinflamasi untuk mengendalikan respons sistem imun tubuh dan mengurangi peradangan yang terjadi.
Mengonsumsi makanan bergizi seperti perbanyak makan sayuran, buah, biji-bijian utuh, ikan, kacang-kacangan, serta lemak sehat (seperti minyak zaitun) dan batasi makanan yang tinggi gula tambahan, makanan ultra-proses, gorengan, serta makanan yang tinggi lemak jenuh karena bisa memperburuk peradangan.
Lakukan olahraga ringan, seperti berjalan kaki, berenang, bersepeda santai, atau yoga, dan sebaiknya pastikan jenis olahraga yang Anda pilih sesuai dengan kondisi tubuh.
Tidur yang cukup, yaitu sekitar 7–9 jam setiap malam.
Kelola stres, misalnya dengan meluangkan waktu untuk istirahat, bermeditasi, atau melakukan aktivitas relaksasi.
Batasi konsumsi rokok dan alkohol karena kedua hal ini bisa mengurangi efektivitas pengobatan pada beberapa penyakit autoimun.
Lindungi tubuh dari paparan sinar matahari berlebihan, cuaca yang terlalu panas, atau polusi udara, karena ini bisa memicu gejala autoimun.
Jaga tubuh agar tetap terhidrasi dengan cara minum air yang cukup.
Jika autoimun menyerang kulit, maka sebaiknya gunakan pelembap sesuai anjuran dokter.
Jaga kebersihan diri dengan mencuci tangan sebelum makan, mandi secara teratur, dan menghindari kontak langsung dengan orang yang sedang sakit.
Cek kesehatan secara rutin dan terpadu misalnya melalui medical check up plus Bumame agar bisa mendeteksi komplikasi sejak dini sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
Bangun dukungan dari keluarga, orang terdekat, atau komunitas pasien serupa jika ada, untuk meningkatkan semangat menjalani pengobatan dan mengurangi risiko stres.
Check Kesehatan Anda Sekarang sebagai Langkah Awal Penanganan Autoimun
Autoimun adalah penyakit yang terjadi saat sistem kekebalan tubuh malah menyerang sel sehat. Gejala penyakit ini umumnya sama dengan penyakit lainnya, sehingga pemeriksaan yang sistematis sangat dianjurkan untuk mengenalinya lebih awal agar kemudian bisa memperoleh penanganan yang cepat dan tepat.
Melakukan pemeriksaan rutin melalui layanan Medical Check Up Premium Bumame bisa menjadi salah satu opsi terbaik, karena Anda sudah mendapatkan layanan kesehatan lengkap, mulai dari konsultasi, cek fisik, hingga berbagai tes laboratorium untuk mengetahui kondisi kesehatan Anda. Konsultasikan kesehatan Anda sekarang dan booking layanan Bumame!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
4. Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
Referensi:
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory. (2025). Mengeksplorasi Hubungan Antara Nutrisi dan Hasil Penyakit Autoimun: Tinjauan Sistematis Terhadap Bukti Terkini.
Info Sehat FKUI. (2021). Mengenal Penyakit Autoimun, Bagaimana Penyebab, Gejala, dan Penanganannya?.
Universitas Muhammadiyah Jakarta. (2017). Gambaran Tingkat Pengetahuan Mengenai Penyakit Autoimun pada Mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta Angkatan 2016.
National Library of Medicine. (2022). Enhancing NIH Research on Autoimmune Disease.
News Medical Life Sciences. (2023). Jenis-jenis Penyakit Autoimun.
Science of Medicine Saint Louis University. (2016). Laboratory Studies in Autoimmune Diseases.
Ascia. (2023). Position Paper: Laboratory Tests for Autoimmune Diseases
Pharmacy times. (2023). How to Manage the Symptoms of Autoimmune Disease.
Global Autoimmune Institute. (2026). Stay Cool: How to Manage Autoimmune Flare-ups in Hot Temperatures.
Ditinjau oleh: dr. Aimee Wineyna
FAQ Seputar Penyakit Autoimun
Apa itu penyakit autoimun?
Apa itu penyakit autoimun?
Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari virus, bakteri, dan zat asing justru menyerang sel-sel tubuh yang sehat. Akibatnya, dapat terjadi peradangan dan gangguan pada jaringan atau organ yang terdampak.
Apa penyebab penyakit autoimun?
Apa penyebab penyakit autoimun?
Hingga saat ini penyebab pasti autoimun belum diketahui. Namun, kondisi ini diduga muncul akibat kombinasi faktor genetik dan lingkungan, seperti riwayat keluarga, perubahan hormon, infeksi virus atau bakteri, paparan sinar ultraviolet, polusi, asap rokok, bahan kimia tertentu, stres, kurang tidur, pola makan yang kurang sehat, dan kurang aktivitas fisik.
Apa saja gejala penyakit autoimun?
Apa saja gejala penyakit autoimun?
Gejalanya bergantung pada jenis autoimun dan organ yang terkena. Keluhan yang dapat muncul antara lain mudah lelah, nyeri sendi, ruam kulit, demam, gangguan pada kelenjar tiroid, kulit bersisik, mata dan mulut kering, gangguan saraf, hingga perdarahan yang mudah terjadi pada beberapa jenis autoimun.
Apa saja jenis penyakit autoimun yang sering ditemukan?
Apa saja jenis penyakit autoimun yang sering ditemukan?
Beberapa jenis autoimun yang umum meliputi lupus, rheumatoid arthritis, Hashimoto thyroiditis, Graves' disease, psoriasis, diabetes melitus tipe 1, multiple sclerosis, sindrom Sjogren, immune thrombocytopenia (ITP), dan penyakit celiac.
Kapan sebaiknya berkonsultasi ke dokter?
Kapan sebaiknya berkonsultasi ke dokter?
Sebaiknya segera berkonsultasi jika mengalami gejala seperti mudah lelah, nyeri sendi, ruam kulit, atau keluhan lain yang berlangsung selama beberapa minggu, sering kambuh, dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan diperlukan agar penyebabnya dapat dipastikan dan penanganan yang tepat dapat diberikan.
Bagaimana penyakit autoimun didiagnosis?
Bagaimana penyakit autoimun didiagnosis?
Dokter biasanya menegakkan diagnosis melalui kombinasi wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah lengkap (CBC), tes autoantibodi seperti ANA atau RF, pemeriksaan penanda peradangan (CRP dan ESR), pemeriksaan fungsi organ, hingga biopsi bila diperlukan.
Bagaimana cara membantu mengendalikan penyakit autoimun?
Bagaimana cara membantu mengendalikan penyakit autoimun?
Meskipun belum dapat disembuhkan sepenuhnya, autoimun dapat dikendalikan dengan mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, menerapkan pola makan bergizi, berolahraga ringan, tidur yang cukup, mengelola stres, menghindari rokok dan alkohol, menjaga hidrasi, serta rutin memantau kondisi kesehatan.
Apakah penyakit autoimun dapat dicegah?
Apakah penyakit autoimun dapat dicegah?
Belum ada cara yang terbukti dapat mencegah penyakit autoimun sepenuhnya. Namun, menjaga pola hidup sehat, menghindari faktor pemicu, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu mendeteksi kondisi sejak dini dan mengurangi risiko komplikasi.
