Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Abu vulkanik: Bahaya Bagi Kesehatan dan Cara Melindungi Diri
Kembali ke Artikel & Berita

Abu vulkanik: Bahaya Bagi Kesehatan dan Cara Melindungi Diri

Bumame Editor

Abu vulkanik adalah kumpulan partikel batuan, mineral, dan pecahan kaca vulkanik berukuran sangat halus yang terbentuk saat magma pecah akibat letusan gunung berapi. Sebagian partikelnya berukuran sehalus 2,5 mikrometer, jauh lebih kecil dari lebar sehelai rambut manusia, sehingga mudah terhirup hingga ke saluran pernapasan bagian dalam.

Berbeda dari abu sisa pembakaran kayu atau sampah, abu vulkanik mengandung kristal silika dan mineral lain yang bersifat keras dan sedikit tajam di tingkat mikroskopis. Sifat inilah yang membuatnya dapat mengiritasi jaringan tubuh yang bersentuhan langsung, mulai dari saluran napas, mata, hingga kulit. Angin juga dapat membawa abu ini menyebar hingga ratusan kilometer dari titik letusan, jauh melampaui wilayah yang secara visual tampak terdampak.

Tingkat keparahan dampak paparan abu vulkanik berbeda beda pada tiap orang, tergantung pada durasi paparan, konsentrasi abu di udara, dan kondisi kesehatan yang sudah dimiliki sebelumnya.

Kandungan abu vulkanik dan sifat yang membuatnya berisiko

Abu vulkanik terdiri dari partikel dengan rentang ukuran yang dikenal sebagai PM10, berdiameter hingga 10 mikrometer, dan PM2,5, berdiameter hingga 2,5 mikrometer. Semakin kecil ukuran partikel, semakin dalam ia dapat masuk ke saluran pernapasan, bahkan hingga ke kantong udara terkecil di paru paru tempat pertukaran oksigen terjadi.

Selain ukurannya yang halus, abu vulkanik juga membawa kandungan silika kristalin dalam kadar yang bervariasi tergantung jenis letusan dan komposisi magma sumbernya. Paparan berulang terhadap silika dalam jangka panjang dikaitkan dengan gangguan fungsi paru, meski risiko ini lebih relevan untuk paparan kerja bertahun tahun dibandingkan paparan singkat akibat satu peristiwa erupsi. Kandungan mineral ini juga membuat abu vulkanik terasa lebih kasar dan abrasif dibanding debu rumah tangga biasa saat menempel di kulit atau mata.

Perlu dibedakan pula antara abu vulkanik dan gas vulkanik seperti sulfur dioksida yang kadang ikut terlepas saat letusan terjadi. Keduanya sama sama berasal dari aktivitas gunung berapi, tetapi mekanisme bahayanya berbeda. Abu vulkanik bersifat partikel padat yang mengganggu secara fisik dan abrasif, sementara gas vulkanik bekerja secara kimiawi pada saluran napas. Kombinasi keduanya saat erupsi besar bisa membuat kualitas udara memburuk lebih cepat dari yang terlihat kasat mata, sehingga memantau informasi resmi soal kualitas udara di wilayah Anda tetap penting.

Bahaya abu vulkanik bagi kesehatan

Paparan abu vulkanik dapat memengaruhi beberapa bagian tubuh sekaligus. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa dampaknya paling terasa pada tiga area berikut, dengan tingkat keparahan yang bergantung pada seberapa lama dan seberapa sering seseorang terpapar.

  • Saluran pernapasan - iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, produksi dahak berlebih, serta mengi. Pada orang dengan riwayat asma atau penyakit paru obstruktif kronis, gejala ini berisiko memberat dan memicu sesak napas yang lebih mengganggu dibanding biasanya.

  • Mata - mata merah, perih, berair, dan gatal akibat gesekan partikel abu yang bersifat abrasif, bahkan berpotensi menyebabkan lecet pada permukaan kornea bila terpapar dalam jumlah banyak dan berulang.

  • Kulit - iritasi, kemerahan, rasa gatal, atau memperberat kondisi kulit yang sudah ada sebelumnya, terutama pada kulit yang sensitif atau sedang mengalami peradangan.

Kelompok rentan yang perlu lebih waspada

Meski abu vulkanik berpotensi mengganggu kesehatan siapa saja, sejumlah kelompok menghadapi risiko yang lebih tinggi karena kondisi tubuh yang belum atau kurang mampu menghadapi paparan partikel halus ini secara optimal.

  • Anak anak - saluran napasnya masih berkembang dan cenderung bernapas lebih cepat dibanding orang dewasa, sehingga menghirup lebih banyak partikel per berat badan. Orang tua perlu ekstra waspada bila anak menunjukkan tanda batuk pada anak yang tidak kunjung membaik setelah beberapa hari.

  • Lansia - fungsi paru dan jantung yang sudah menurun seiring usia membuat lansia lebih rentan mengalami komplikasi pernapasan akibat paparan abu, termasuk perburukan kondisi kronis yang mungkin sudah ada.

  • Ibu hamil - perubahan kapasitas paru selama kehamilan membuat ibu hamil lebih mudah merasa sesak saat kualitas udara memburuk, sehingga perlu lebih membatasi aktivitas di luar ruangan.

  • Penderita asma, PPOK, atau penyakit jantung - kondisi paru dan jantung yang sudah ada sebelumnya membuat kelompok ini lebih mudah mengalami perburukan gejala saat terpapar abu vulkanik, bahkan dalam konsentrasi yang relatif rendah.

Cara melindungi diri di dalam ruangan

Sebagian besar waktu saat abu vulkanik turun sebaiknya dihabiskan di dalam ruangan. Badan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC merekomendasikan sejumlah langkah berikut untuk menjaga kualitas udara di dalam rumah maupun tempat kerja.

  • Tutup pintu, jendela, dan ventilasi - termasuk celah kecil di bawah pintu, untuk mencegah abu masuk ke dalam ruangan tempat Anda beraktivitas.

  • Matikan kipas yang menarik udara dari luar - kipas exhaust dan ventilasi serupa dapat menarik partikel abu masuk ke dalam ruangan bila tetap dinyalakan.

  • Gunakan AC dengan mode recirculation - mode ini mengedarkan ulang udara yang sudah ada di dalam ruangan, alih alih menarik udara segar dari luar yang mengandung abu.

  • Gunakan air purifier dengan filter HEPA bila tersedia - filter jenis ini cukup efektif menyaring partikel halus seukuran PM2,5 yang sulit disaring masker kain biasa.

Cara melindungi diri di luar ruangan

Bila harus keluar rumah saat abu vulkanik masih turun, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia atau PDPI menekankan bahwa perlindungan berlapis jauh lebih efektif dibanding hanya mengandalkan satu jenis alat pelindung saja.

  • Gunakan masker yang menutup rapat wajah - Kementerian Kesehatan merekomendasikan masker tipe KN95, sementara PDPI menyebut masker N95 memberi perlindungan maksimal karena mampu menutup wajah dengan kebocoran minimal. Menurut PDPI, memakai masker jenis apa pun tetap lebih baik dibanding tidak memakai masker sama sekali, jadi pilihlah yang paling nyaman digunakan dalam waktu cukup lama.

  • Kenakan kacamata pelindung atau goggles - untuk mencegah partikel abu masuk dan menggesek permukaan mata saat berada di luar ruangan.

  • Pakai baju lengan panjang dan celana panjang - untuk meminimalkan kontak langsung abu dengan permukaan kulit, terutama saat harus berjalan cukup jauh.

  • Batasi aktivitas fisik di luar ruangan - terutama saat abu masih turun deras atau jarak pandang memburuk, dan jadwalkan ulang aktivitas berat seperti olahraga luar ruangan bila memungkinkan.

  • Tutup jendela kendaraan dan gunakan mode recirculation saat berkendara - berkendara saat abu tebal juga berisiko mengganggu jarak pandang serta menyumbat komponen mesin kendaraan.

Cara membersihkan abu vulkanik dengan aman

Setelah abu vulkanik mereda, proses pembersihan perlu dilakukan dengan cara yang tepat agar partikel yang sudah menempel tidak kembali beterbangan dan terhirup oleh penghuni rumah.

  • Jangan menyapu abu dalam keadaan kering - menyapu abu kering justru membuat partikelnya kembali melayang di udara dan berisiko terhirup oleh orang yang membersihkannya.

  • Semprot dengan air bersih terlebih dahulu - membasahi abu sebelum dibersihkan membantu meminimalkan partikel yang beterbangan, sesuai anjuran Kementerian Kesehatan.

  • Gunakan alat pelindung diri saat membersihkan - tetap kenakan masker, kacamata, sarung tangan, dan pakaian tertutup meski sedang membersihkan area di dalam rumah.

  • Segera mandi dan ganti pakaian setelah beraktivitas di luar - PDPI menganjurkan mencuci pakaian yang terpapar abu secara terpisah dari pakaian lain, serta segera mandi untuk membersihkan sisa abu yang menempel di tubuh.

Kapan harus ke dokter

Sebagian besar gejala ringan akibat paparan abu vulkanik, seperti iritasi tenggorokan atau mata yang perih, umumnya membaik dengan sendirinya setelah paparan dihentikan dan tubuh dibersihkan dari sisa abu. Namun, segera cari pertolongan medis bila muncul sesak napas yang tidak kunjung membaik, nyeri dada, batuk yang terus memburuk, atau gejala yang sudah mengganggu aktivitas sehari hari, terutama pada kelompok rentan yang sudah disebutkan sebelumnya.

Karena gejala pernapasan akibat abu vulkanik bisa menyerupai kondisi lain seperti asma, pneumonia, dan ISPA pemeriksaan oleh dokter dapat membantu memastikan penyebab yang tepat sekaligus penanganan yang paling sesuai untuk kondisi Anda.

Mencatat kapan gejala muncul, seberapa sering, dan apakah membaik saat berpindah ke lingkungan dengan udara lebih bersih juga bisa membantu dokter menilai seberapa besar peran abu vulkanik terhadap keluhan yang Anda alami, dibandingkan kemungkinan penyebab lain yang juga umum terjadi di musim pancaroba.


Menjaga kondisi tubuh tetap prima sebelum musim erupsi atau bencana lingkungan lain terjadi dapat membantu Anda mengenali lebih cepat bila ada perubahan pada fungsi paru atau jantung. Pemeriksaan kesehatan berkala seperti medical check up di Bumame dapat membantu memantau kondisi pernapasan dan jantung Anda secara menyeluruh, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih dini bila memang diperlukan.

Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Apa yang dimaksud dengan abu vulkanik?

Abu vulkanik adalah partikel batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang sangat halus, hasil pecahan magma saat gunung berapi meletus. Partikel ini berbeda dari abu hasil pembakaran karena bersifat lebih keras dan abrasif terhadap jaringan tubuh yang bersentuhan dengannya.


Apa yang terjadi pada tubuh jika terkena abu vulkanik?

Paparan abu vulkanik dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan berupa batuk dan mengi, iritasi mata seperti kemerahan dan mata berair, serta iritasi kulit. Pada orang dengan kondisi paru atau jantung tertentu, gejala ini berisiko muncul lebih berat.


Apakah masker N95 efektif menangkal abu vulkanik?

Menurut PDPI, masker N95 memberikan perlindungan maksimal karena mampu menutup wajah dengan kebocoran minimal, meski penggunaannya dalam waktu lama bisa terasa kurang nyaman. Memakai jenis masker apa pun tetap lebih baik dibanding tidak memakai masker sama sekali, jadi pilih yang paling nyaman untuk dipakai secara konsisten.


Bolehkah menyapu abu vulkanik dalam keadaan kering?

Sebaiknya tidak. Menyapu abu dalam keadaan kering membuat partikelnya kembali melayang di udara dan berisiko terhirup. Kementerian Kesehatan menganjurkan menyemprotkan air bersih terlebih dahulu agar abu basah sebelum dibersihkan.


Siapa saja yang paling berisiko terkena dampak abu vulkanik?

Anak anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan riwayat asma, PPOK, atau penyakit jantung menghadapi risiko lebih tinggi mengalami gejala yang lebih berat saat terpapar abu vulkanik.


Apa yang perlu dilakukan setelah beraktivitas di luar ruangan saat abu vulkanik turun?

Segera mandi dan bersihkan tubuh dari sisa abu, serta cuci pakaian yang terpapar secara terpisah dari pakaian lain. Langkah ini membantu mengurangi paparan berkelanjutan terhadap partikel abu yang mungkin masih menempel di tubuh atau pakaian.


Kapan harus ke dokter setelah terpapar abu vulkanik?

Segera konsultasikan ke dokter bila muncul sesak napas yang tidak membaik, nyeri dada, batuk yang terus memburuk, atau gejala yang mengganggu aktivitas sehari hari, terutama bila Anda termasuk dalam kelompok rentan.