Pernah merasa tubuh mudah lelah padahal sudah cukup tidur, ditambah kepala pusing atau aktivitas ringan terasa lebih berat dari biasanya? Keluhan seperti ini bisa saja berkaitan dengan berbagai kondisi kesehatan, termasuk anemia. Salah satu jenisnya yang lebih spesifik adalah anemia makrositik.
Kondisi tersebut ditandai dengan sel darah merah yang berukuran lebih besar dari normal. Untuk bisa menentukan penyebab dan penanganannya yang tepat, maka dokter perlu menilai gejala serta hasil pemeriksaan darah, tidak hanya dengan mengandalkan keluhan yang Anda rasakan. Yuk, pelajari lebih dalam!
Apa Itu Anemia Makrositik?
Anemia terjadi saat kadar hemoglobin atau jumlah sel darah merah tidak mencukupi untuk membawa oksigen ke jaringan tubuh. Nah, untuk anemia makrositik adalah kondisi di mana sel darah merah memiliki ukuran lebih besar dari biasanya.
Secara sederhana, kondisi ini tidak serius, namun bisa menjadi serius jika tidak mendapat penanganan. Kondisi ini pun umumnya dikenali melalui pemeriksaan darah lengkap, khususnya nilai mean corpuscular volume (MCV), atau ukuran rata-rata sel darah merah.
Pada orang dewasa, MCV di atas 100 femtoliter (fL) sering digunakan sebagai batas makrositosis. Hanya saja, hasilnya tetap masih perlu dinilai sesuai rentang laboratorium dan juga kondisi pasien.
Mengenal Anemia Makrositik Normokrom?
Istilah anemia makrositik normokrom mungkin juga akan Anda dengar. Hal tersebut merujuk pada penggabungan dua karakteristik sel darah merah. “Makrositik” berarti ukuran sel darah merah lebih besar daripada normalnya, sedangkan “normokrom” berarti konsentrasi hemoglobin dalam sel darah merah masih dalam rentang normal.
Artinya, selnya berukuran besar, tapi konsentrasi hemoglobinnya tidak menunjukkan penurunan seperti pada kondisi hipokrom. Nah, istilah ini nantinya akan menjelaskan pola hasil laboratorium, bukan penyebab pasti anemia.
Anda pun harus memahami bahwa, kekurangan vitamin B12 atau folat bukan satu-satunya yang menyebabkan anemia makrositik. Tetapi gangguan hati, konsumsi alkohol, obat tertentu, ataupun ada masalah sumsum tulang juga bisa berperan. Maka dari itu, dokter perlu mencari penyebab yang mendasarinya sebelum menentukan terapi.
Gejala dan Tanda Anemia Makrositik
Gejala anemia makrositik bisa saja berkembang perlahan sehingga penderita mungkin tidak bisa langsung menyadari dari perubahan kondisi tubuhnya. Keluhan yang muncul juga bergantung pada tingkat anemia dan penyebabnya. Beberapa gejala yang sangat perlu diperhatikan meliputi:
Mudah lelah dan lemas, termasuk pada saat melakukan aktivitas sehari-hari.
Kulit seperti lebih pucat dibandingkan biasanya.
Pusing atau sakit kepala, apalagi ketika tubuh terasa lemah.
Sesak saat beraktivitas ataupun jantung terasa berdebar.
Nafsu makan malah menurun atau lidah tiba-tiba terasa nyeri dan tampak meradang, apalagi pada anemia akibat kekurangan vitamin tertentu.
Kesemutan atau gangguan keseimbangan, yang perlu diperhatikan lebih detail bisa karena berkaitan dengan kekurangan vitamin B12.
Ingat! Tidak semua penderita mengalami seluruh gejala di atas. Keluhan-keluhan seperti lemas dan pusing juga bisa disebabkan kondisi lain, sehingga pemeriksaan tetap dibutuhkan untuk bisa memastikan penyebabnya.
Penyebab dan Faktor Risiko Anemia Makrositik
Penyebab dari anemia makrositik adalah kondisi yang mengganggu pembentukan, pematangan, atau pergantian sel darah merah. Berikut beberapa penyebab yang perlu dievaluasi.
Kekurangan vitamin B12: Vitamin ini sangat dibutuhkan untuk melakukan pembentukan sel darah dan fungsi saraf. Kekurangannya sendiri bisa terjadi akibat asupan yang tidak mencukupi, gangguan penyerapan, lalu kondisi tertentu pada lambung dan usus.
Kekurangan folat atau asam folat: Folat ini berperan dalam pembentukan DNA dan juga perkembangan sel darah merah. Kekurangan dari folat sendiri bisa mengganggu pematangan sel sehingga terbentuk sel berukuran besar.
Konsumsi alkohol berlebihan: Alkohol juga akan memengaruhi pembentukan sel darah dan bisa berkaitan dengan gangguan hati ataupun kekurangan nutrisi.
Penyakit hati dan gangguan tiroid: Kondisi tertentu pada hati maupun gangguan hipotiroidisme atau hipertiroidisme bisa juga memengaruhi karakteristik sel darah merah.
Penggunaan obat tertentu: Sejumlah obat-obatan bisa memengaruhi sintesis DNA atau pembentukan sel darah.
Gangguan sumsum tulang atau peningkatan sel darah merah muda: Kondisi seperti sindrom mielodisplastik ataupun peningkatan retikulosit setelah perdarahan maupun penghancuran sel darah merah juga bisa saja menyebabkan ukuran rata-rata sel meningkat.
Risiko tetap bergantung pada penyebab yang mendasari. Misalnya orang dengan pola makan terbatas, gangguan penyerapan nutrisi, konsumsi alkohol berlebihan, penyakit kronis tertentu, ataupun penggunaan obat yang memengaruhi pembentukan sel darah mungkin saja memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Diagnosis dan Pemeriksaan Anemia Makrositik
Dokter nantinya akan menilai keluhan, riwayat kesehatan, pola makan, penggunaan obat, sampai pada hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan laboratorium ini kemudian dipilih untuk bisa memastikan adanya anemia serta mencari kemungkinan penyebabnya. Pemeriksaan yang dapat direkomendasikan antara lain.
Hematologi lengkap: Bisa mengukur hemoglobin, jumlah sel darah merah, serta indeks eritrosit seperti MCV untuk bisa melihat ukuran rata-rata sel.
Apusan darah tepi: Akan membantu melihat bentuk dan karakteristik sel darah merah melalui pemeriksaan mikroskopis.
Pemeriksaan vitamin B12 dan folat: Nantinya akan membantu menilai apakah kekurangan salah satu vitamin tersebut berperan dalam anemia.
Retikulosit: Akan mengukur sel darah merah muda untuk bisa membantu menilai respons sumsum tulang.
Pemeriksaan tambahan sesuai indikasi: Dokter nantinya bisa menyarankan tes fungsi hati, fungsi tiroid, atau pemeriksaan lain berdasarkan gejala dan hasil awal.
Namun, tidak semua pasien membutuhkan seluruh pemeriksaan tersebut. Hasil laboratorium masih perlu ditafsirkan secara menyeluruh karena satu hasil saja belum tentu bisa menjelaskan penyebab anemia.
Anda pun bisa mencoba melakukan pemeriksaan asam folat di Bumame untuk mengukur kadar folat dalam darah. Pemeriksaan ini dapat membantu mengevaluasi status folat ketika direkomendasikan tenaga kesehatan, termasuk pada saat kekurangan folat dicurigai sebagai salah satu dari penyebab anemia.
Namun, pemeriksaan asam folat saja tidak cukup untuk bisa memastikan seluruh penyebab makrositik. Dokter tetap perlu mengevaluasi vitamin B12 dan parameter darah lainnya. Jadi, jika ingin melakukan pemeriksaan, maka sampaikan keluhan itu serta obat dan suplemen yang sedang dikonsumsi.
Penanganan Anemia Makrositik
Sayangnya, sampai saat ini masih tidak ada satu pengobatan pun yang cocok untuk bisa menangani seluruh kasus anemia ini. Jadi, penanganannya ditentukan berdasarkan penyebab, tingkat keparahan, dan juga kondisi kesehatan pasien. Nah, beberapa pendekatan yang mungkin dilakukan meliputi.
Mengatasi kekurangan folat: Dokter akan menyarankan perubahan pola makan ataupun suplementasi asam folat jika memang kekurangan folat sudah dinilai sebagai penyebab.
Menangani kekurangan vitamin B12: Terapi ini bisa berupa suplemen oral ataupun bentuk pemberian lain, bergantung dari apa saja penyebab dan kemampuan tubuh dalam menyerap vitamin.
Meninjau obat yang digunakan: Jika obat sudah diduga berperan, maka dokter akan menilai apakah penyesuaiannya diperlukan. Jangan tiba-tiba menghentikan obat tanpa arahan medis ya!
Menangani penyakit yang mendasari: Gangguan hati, tiroid, ataupun sumsum tulang tetap membutuhkan penanganan sesuai diagnosis.
Cara Mengurangi Risiko Anemia Makrositik
Tidak semua penyebab gangguan ini dapat Anda cegah, tapi pola hidup sehat akan sangat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi dan juga mendukung pembentukan sel darah. Berikut kebiasaan yang dapat Anda terapkan.
Konsumsi makanan sumber folat, seperti sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, dan juga beberapa jenis buah.
Penuhi kebutuhan vitamin B12, yang ada pada ikan, telur, susu, dan daging. Biasanya orang yang menjalani pola makan vegan masih perlu memperhatikan sumber B12 yang sesuai.
Batasi konsumsi alkohol, karena alkohol bisa memengaruhi pembentukan sel darah dan juga kesehatan hati.
Kelola kondisi kesehatan yang sudah diketahui, serta ikuti juga anjuran pemeriksaan dari dokter.
Jangan mengonsumsi suplemen secara sembarangan. Kebutuhan suplemen bisa saja berbeda pada setiap orang, dan juga penyebab anemia masih perlu diketahui terlebih dahulu.
Pola makan yang baik akan membantu menjaga kecukupan nutrisi, tapi tidak selalu tiba-tiba bisa mengatasi anemia yang sudah disebabkan oleh gangguan penyerapan, penyakit kronis, ataupun masalah sumsum tulang.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?
Jangan menyepelekan setiap tanda yang merujuk pada anemia makrositik. Pastikan untuk memeriksakan diri jika Anda memang mengalami kelelahan yang menetap, pucat, pusing berulang, sesak ketika beraktivitas, ataupun hasil hematologi sudah menunjukkan MCV tinggi ataupun hemoglobin rendah.
Pemeriksaan akan membantu Anda mendapatkan pemeriksaan yang tepat, seperti pemeriksaan folat, vitamin B12, ataupun tes-tes lainnya berdasarkan kondisi. Jika ingin memeriksa kondisi darah, maka Anda bisa melihat layanan hematologi lengkap Bumame.
Pemeriksaan ini bisa membantu menilai berbagai komponen darah, tapi penentuan dalam diagnosis dan terapi masih tetap memerlukan interpretasi hasil sesuai gejala dan juga riwayat kesehatan. Ayo, kenali sinyal tubuh Anda dan jangan ragu mencari pertolongan medis!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Merck Manual Professional Edition — Megaloblastic Macrocytic Anemias
National Health Service (NHS) — Vitamin B12 or Folate Deficiency Anaemia: Diagnosis
MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine — Folate-Deficiency Anemia
Kaferle, J., & Strzoda, C. — Evaluation of Macrocytosis
Merck Manual Professional Edition — Evaluation of Anemia
Cleveland Clinic — Macrocytic Anemia
Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan
Frequently Asked Question
Apa yang dimaksud dengan anemia makrositik?
Anemia makrositik adalah kondisi anemia yang ditandai oleh sel darah merah berukuran lebih besar dari normal, umumnya diketahui melalui pemeriksaan darah lengkap dan nilai MCV.
Apa arti anemia makrositik normokrom?
Anemia makrositik normokrom menunjukkan sel darah merah berukuran lebih besar dari normal, tetapi konsentrasi hemoglobin di dalam sel masih berada dalam rentang normal.
Apakah kekurangan asam folat dapat menyebabkan anemia makrositik?
Ya. Folat berperan dalam pembentukan DNA dan pematangan sel darah merah. Kekurangan folat dapat mengganggu proses tersebut sehingga menghasilkan sel darah merah berukuran besar.
Apakah pemeriksaan asam folat cukup untuk mendiagnosis anemia makrositik?
Tidak. Pemeriksaan asam folat hanya salah satu bagian evaluasi. Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan hematologi lengkap, vitamin B12, apusan darah tepi, retikulosit, serta fungsi hati atau tiroid sesuai indikasi.
Apakah anemia makrositik bisa ditangani?
Ya. Penanganannya bergantung pada penyebab yang mendasari. Kekurangan folat atau vitamin B12 dapat ditangani sesuai kebutuhan, sedangkan gangguan hati, tiroid, obat-obatan, atau sumsum tulang memerlukan pendekatan yang sesuai diagnosis.
