Apakah Anda pernah merasa nyeri atau rasa tertekan pada bagian dada saat beraktivitas, seperti berjalan berat atau dalam situasi stres? Hingga hari ini, masih banyak yang menganggap remeh keluhan ini. Padahal, keluhan ini bisa menjadi tanda dari angina pectoris atau yang juga orang awam kenal dengan istilah angin duduk.
Angina pectoris sendiri pada dasarnya bukanlah jenis penyakit yang berdiri sendiri, namun sebuah indikasi gangguan pada sistem pembuluh darah pemasok darah ke jantung. Kondisi ini juga bisa menjadi warning adanya penyakit jantung koroner yang berpotensi menuntun pada serangan jantung jika tidak ditangani dengan tepat.
Apa Itu Angina Pectoris?
Angina pectoris adalah kondisi berupa rasa nyeri di dada yang terjadi saat otot jantung tidak mendapatkan aliran darah dan pasokan oksigen yang cukup. Kondisi ini biasanya muncul saat terjadi penyempitan pembuluh darah koroner karena penumpukan plak lemak (aterosklerosis).
Kondisi angin duduk sendiri biasanya digambarkan dengan gejala berupa rasa terhimpit benda berat atau sensasi terbakar di bagian tengah dada. Pada beberapa kasus, rasa tidak nyaman ini juga bisa menjalar ke bagian bahu, kedua lengan, leher, rahang, punggung, hingga ulu hati.
Jenis Kondisi Angina Pectoris
Didasarkan pada karakteristiknya, angin duduk pada dasarnya bisa dibagi menjadi 3 jenis berbeda, yaitu stable angina, unstable angina, dan prinzmetal’s angina.
1. Stable Angina
Stable angina adalah jenis angin duduk yang kasusnya paling umum terjadi. Gejala jenis angin duduk ini umumnya terjadi saat melakukan aktivitas berat atau dalam kondisi stres berat. Stable angina juga biasanya memiliki pola relatif konsisten dengan durasi singkat, tidak sampai 5 menit.
2. Unstable Angina
Unstable angina adalah kondisi angin duduk yang lebih berbahaya. Pasalnya, kemunculan gejala angin duduk ini tidak tergantung pada aktivitas berat yang dilakukan. Dengan kata lain, gejalanya bisa muncul tiba-tiba, meskipun penderita dalam posisi sudah beristirahat.
Dibandingkan dengan stable angina, unstable angina biasanya terjadi dalam durasi lebih lama dengan intensitas nyeri yang lebih parah.
3. Prinzmetal’s Angina
Berbeda dengan dua jenis sebelumnya, prinzmetal's angina bisa terjadi karena adanya spasme atau kejang sementara pada pembuluh darah koroner penyuplai darah ke jantung. Kondisi ini menyebabkan terjadinya penurunan sementara aliran darah ke jantung.
Intensitas nyeri dari jenis angina ini sendiri cukup berat, namun biasanya akan mereda setelah pemberian obatan.
Berbagai Penyebab Kondisi Angina Pectoris
Penyebab utama munculnya angina pectoris adalah kondisi aterosklerosis atau adanya penumpukan plak lemak, kolesterol, atau zat lain di dinding pembuluh koroner.
Dalam waktu lama, akumulasi plak ini bisa menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah yang menuntun terbatasnya aliran darah ke otot jantung. Kondisi inilah yang membuat penderita mengalami rasa nyeri atau sesak di area dada.
Selain aterosklerosis, ada beberapa kondisi lainnya yang juga bisa memicu gejala angin duduk, antara lain:
Vasospasme (kejang pembuluh darah koroner),
Anemia berat,
Gangguan irama jantung,
Penyakit katup jantung,
Hipertirodisme.
Meskipun frekuensinya lebih jarang, sejumlah faktor di atas umumnya tetap dipertimbangkan dalam proses diagnosis.
Faktor Risiko Angina Pectoris
Ada sejumlah faktor biologis dan faktor risiko yang bisa diubah penyebab potensial munculnya angina pectoris dan penyakit jantung koroner. Untuk faktor biologis, hal tersebut mencakup:
Usia (di atas 45 tahun untuk pria dan di atas 55 tahun untuk wanita),
Jenis kelamin,
Riwayat keluarga.
Sedangkan faktor yang bisa diubah mencakup:
Tekanan darah tinggi,
Kadar kolesterol tinggi,
Diabetes,
Kebiasaan merokok,
Kondisi obesitas,
Pola makan tinggi lemak jenuh,
Konsumsi alkohol berlebih,
Stres berkepanjangan.
Hal yang paling mungkin untuk diupayakan adalah mengendalikan faktor yang bisa diubah guna menurunkan risiko munculnya gejala angin duduk dan komplikasi penyakit jantung di kemudian hari.
Gejala Angina Pectoris yang Perlu Anda Waspadai
Gejala utama dari angina pectoris adalah munculnya rasa nyeri atau sesak di bagian dada. Di kebanyakan kasus, banyak penderita yang menggambarkan rasa tidak nyaman tersebut seperti rasa tertindih benda berat atau sesak napas penuh.
Rasa nyeri ini umumnya bisa muncul dan berlangsung selama beberapa menit saat jantung bekerja lebih keras, misalnya saat melakukan aktivitas berat dan berada dalam tekanan emosional tinggi.
Selain rasa nyeri di dada, angin duduk juga bisa muncul bersama gejala lainnya, antara lain:
Sesak napas;
Mudah kelelahan;
Mengalami keringat dingin;
Rasa nyeri atau tidak nyaman yang menjalar ke bahu, lengan kiri, kedua lengan, leher, rahang, punggung, atau ulu hati;
Kadang disertai rasa mual.
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Rasa nyeri di dada sebaiknya tidak Anda anggap remeh, khususnya jika kondisi tersebut terjadi secara berulang. Bisa saja hal tersebut kemungkinan besar menjadi indikasi angina pectoris yang disebabkan oleh penyakit jantung koroner.
Jika Anda mengalami gejala nyeri di dada, terutama jika berlangsung cukup lama, maka sebaiknya Anda segera melakukan medical check up. Tindakan ini sifatnya menjadi makin wajib jika Anda memiliki riwayat hipertensi, kolesterol tinggi, dan menjalankan pola hidup tidak sehat.
Semakin cepat pemeriksaan Anda lakukan, maka semakin cepat penanganan didapatkan dan risiko komplikasi lebih parah bisa dicegah.
Diagnosis Angina Pectoris di Klinik Bumame
Menentukan penyebab nyeri dada tidak bisa Anda lakukan hanya berdasarkan gejala belaka. Keluhan yang sekilas seperti angina atau angin duduk juga bisa muncul karena indikasi penyakit lain, seperti gangguan lambung, paru-paru, dan lainnya.
Oleh karena itu, melakukan evaluasi kesehatan secara menyeluruh sangat penting untuk bisa memastikan diagnosis sekaligus menentukan langkah penanganan yang tepat.
Di klinik Bumame, evaluasi kesehatan menyeluruh ini bisa dilakukan secara akurat melalui paket Medical Check Plus.
Paket pemeriksaan kesehatan ini bisa memberikan gambaran lengkap mengenai kondisi tubuh Anda melalui berbagai tes lab, mulai dari pemeriksaan hematologi, SGOT, SGPT, kolesterol HDL, Kolesterol LDL, asam urat, dan lainnya.
Hasil pemeriksaan dari medical check up ini bisa membantu proses identifikasi faktor risiko penyakit kronis, seperti diabetes, gangguan metabolisme, kolesterol tinggi, termasuk risiko penyakit kardiovaskular.
Jika Anda sudah memiliki faktor risiko penyakit jantung atau ingin melakukan evaluasi yang lebih spesifik akan kesehatan jantung, klinik Bumame juga menyediakan paket Medical Check-Up Jantung Lengkap yang bisa menjadi pilihan.
Paket pemeriksaan ini berfokus mendeteksi faktor risiko penyakit jantung dan memberikan gambaran awal tentang kondisi kesehatan kardiovaskular Anda. Selanjutnya, hasil pemeriksaan nantinya akan dievaluasi oleh tenaga medis, sehingga Anda bisa memperoleh insight dan rekomendasi tingkat lanjut sesuai kondisi kesehatan.
Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin tidak sekedar membantu pendeteksian penyakit lebih dini. Hal ini juga memberikan kesempatan untuk mengambil langkah pencegahan sebelum muncul komplikasi lebih serius.
Semakin cepat faktor risiko terungkap, maka semakin mudah bagi Anda untuk menjaga kesehatan jantung tetap optimal dalam jangka panjang.
Pengobatan Angina Pectoris
Pengobatan angina pectoris bertujuan untuk mengurangi gejala dan menurunkan risiko serangan jantung atau komplikasi lainnya. Jenis terapi atau pengobatannya sendiri akan disesuaikan dengan penyebab, tingkat keparahan, hasil pemeriksaan, dan kondisi kesehatan pasien. Adapun beberapa pengobatan tersebut, antara lain:
1. Pemberian Obat-Obatan
Pada banyak kasus, dokter umumnya mengombinasikan perubahan gaya hidup dan pemberian obat sebagai upaya mengobati penyakit angin duduk. Obat-obatan yang sering digunakan, antara lain:
Obatan nitrat untuk meredakan rasa nyeri dada, seperti nitrogliserin;
Antiplatelet seperti aspirin untuk mencegah pembentukan bekuan darah;
Statin untuk mengendalikan kadar kolesterol;
Obat pengontrol tekanan darah dan untuk mengontrol beban kerja jantung seperti calcium channel blocker atau beta blocker.
2. Tindakan Revaskularisasi
Jika terjadi penyempitan pembuluh darah koroner yang termasuk kategori berat atau keluhan yang tidak membaik setelah terapi optimal, dokter bisa mempertimbangan tindakan revaskularisasi. Tindakan ini sendiri bisa meliputi angioplasti koroner dengan pemasangan stent (PCI) atau juga operasi bypass arteri koroner (CABG).
Komplikasi Angina Pectoris
Penyebab utama angina pectoris adalah penyakit jantung koroner. Jika pembuluh darah koroner semakin menyempit atau tersumbat total, maka kondisi tersebut bisa menuntun pada serangan jantung.
Oleh karena itu, sudah menjadi pertimbangan penting untuk memeriksakan angina ini saat masih berupa gejala awal atau sejak rasa nyeri masih ringan.
Tips Mencegah Angina atau Angin Duduk
Tidak semua kasus angina bisa dicegah sepenuhnya, terutama jika kemunculannya berkaitan dengan faktor usia atau riwayat keluarga. Meskipun demikian, Anda bisa mengendalikan sebagian faktor risikonya melalui penerapan gaya hidup sehat, yang meliputi:
1. Penerapan Pola Makan Seimbang
Salah satu langkah penting untuk mengendalikan faktor risiko angin duduk adalah menerapkan pola makan seimbang. Anda bisa memulainya dengan memperbanyak konsumsi sayuran, buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, dan sumber protein rendah lemak.
Selain itu, mulai juga batasi konsumsi makanan berkandungan lemak jenuh tinggi, lemak trans, garam, gula tambahan, dan makanan ultra proses.
Pola makan seperti diet Mediterania terbukti bisa memberikan manfaat kesehatan bagi jantung dan direkomendasi di cukup banyak jurnal kesehatan, salah satunya rilis di American Heart Association (AHA) pada 2019.
2. Aktivitas Fisik Rutin
Aktivitas fisik rutin menjadi langkah lainnya yang berperan dalam mencegah angin duduk dan menjaga kesehatan pembuluh darah. Untuk orang dewasa, frekuensi aktivitas fisik dengan intensitas sedang ideal adalah setidaknya 150 menit per minggu.
Jika Anda sudah memiliki gejala angin duduk atau riwayat penyakit jantung, sebaiknya Anda berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum memulai program aktivitas rutin ini.
3. Berhenti Merokok dan Konsumsi Alkohol
Menghentikan kebiasaan merokok juga termasuk langkah terbaik untuk mencegah angina pectoris dan menjaga kesehatan jantung. Pasalnya, zat yang terkandung di dalam rokok bisa merusak lapisan pembuluh darah, mempercepat pembentukan plak, hingga meningkatkan risiko serangan jantung.
Selain berhenti merokok, mengurangi atau menghentikan konsumsi alkohol, menjaga berat badan, mengelola stres, dan mengontrol kadar gula dan kolesterol juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan ini.
Jaga Diri Anda dari Serangan Angin Duduk
Bagi Anda yang sudah memiliki faktor risiko tinggi, pemeriksaan kesehatan berkala menjadi hal yang tidak kalah penting selain penerapan pola hidup sehat. Pemeriksaan rutin bisa memungkinkan masalah kondisi kesehatan terdeteksi lebih awal, sehingga penanganan pun bisa lebih dini sebelum komplikasi serius muncul.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
Referensi:
European Heart Journal. (2024). 2024 ESC Guidelines for the Management of Chronic Coronary Syndromes.
National Heart, Lung, and Blood Institute. (2025). Angina.
World Health Organization. (2025). Cardiovascular Diseases (CVDs).
American Heart Association. (2025). Angina (Chest Pain).
MSD Manual Professional Edition. (2025). Angina Pectoris.
Bumame. (2026). Paket Kesehatan Jantung.
American College of Cardiology. (2024). 2024 ESC Guidelines for Management of Chronic Coronary Syndromes: Key Points.
World Health Organization. (2020). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour.
American Heart Association (AHA). (2019) The Mediterranean Diet and Cardiovascular Health: A Critical Review.
Circulation (American Heart Association). (2019). 2019 ACC/AHA Guideline on the Primary Prevention of Cardiovascular Disease.
Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Heart Disease Prevention.
Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani
Frequently Asked Question
Apa itu angina pectoris?
Apa itu angina pectoris?
Angina pectoris atau angin duduk adalah kondisi nyeri dada yang terjadi ketika otot jantung tidak memperoleh aliran darah dan oksigen yang cukup. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah koroner akibat penumpukan plak lemak.
Apa penyebab utama angina pectoris?
Apa penyebab utama angina pectoris?
Penyebab utama angina pectoris adalah aterosklerosis, yaitu penumpukan plak lemak, kolesterol, dan zat lain pada dinding pembuluh darah koroner sehingga aliran darah menuju jantung menjadi berkurang.
Apa saja gejala angina pectoris yang perlu dikenali?
Apa saja gejala angina pectoris yang perlu dikenali?
Gejala utama angina pectoris adalah nyeri atau rasa tertekan di dada yang dapat menjalar ke bahu, lengan, leher, rahang, punggung, atau ulu hati. Kondisi ini juga dapat disertai sesak napas, mudah lelah, keringat dingin, dan mual.
Apa perbedaan stable angina dan unstable angina?
Apa perbedaan stable angina dan unstable angina?
Stable angina biasanya muncul saat aktivitas berat atau stres dan berlangsung singkat dengan pola yang relatif konsisten. Sementara itu, unstable angina dapat muncul secara tiba-tiba meskipun sedang beristirahat, berlangsung lebih lama, dan umumnya menimbulkan nyeri yang lebih berat.
Siapa yang lebih berisiko mengalami angina pectoris?
Siapa yang lebih berisiko mengalami angina pectoris?
Risiko angina pectoris lebih tinggi pada orang berusia lanjut, memiliki riwayat keluarga penyakit jantung, hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, kebiasaan merokok, pola makan tinggi lemak jenuh, konsumsi alkohol berlebih, atau stres berkepanjangan.
Kapan harus segera ke dokter jika mengalami gejala angina pectoris?
Kapan harus segera ke dokter jika mengalami gejala angina pectoris?
Segera lakukan pemeriksaan apabila mengalami nyeri dada, terutama jika terjadi berulang atau berlangsung cukup lama. Pemeriksaan juga dianjurkan bagi orang yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi, kolesterol tinggi, atau menjalani pola hidup tidak sehat.
Bagaimana cara mengobati angina pectoris?
Bagaimana cara mengobati angina pectoris?
Pengobatan angina pectoris bertujuan meredakan gejala dan menurunkan risiko serangan jantung. Penanganan dapat berupa perubahan gaya hidup, pemberian obat seperti nitrat, antiplatelet, statin, dan obat pengontrol tekanan darah, hingga tindakan revaskularisasi seperti pemasangan stent atau operasi bypass bila diperlukan.
Bagaimana cara membantu mencegah angina pectoris?
Bagaimana cara membantu mencegah angina pectoris?
Pencegahan dapat dilakukan dengan menerapkan pola makan sehat, rutin berolahraga, berhenti merokok, membatasi konsumsi alkohol, menjaga berat badan ideal, mengelola stres, serta mengontrol tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol secara berkala.



