Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Apa Itu Anafilaksis: Gejala
Kembali ke Artikel & Berita

Apa Itu Anafilaksis: Gejala dan Pertolongan Pertama yang Tepat

SBAOthers

Pernahkah Anda melihat seseorang tiba-tiba mengalami gatal-gatal, bibir membengkak, atau sesak napas setelah mengonsumsi makanan tertentu? Reaksi tersebut mungkin tampak seperti alergi biasa, tetapi pada sebagian orang dapat berkembang dengan sangat cepat dan memengaruhi berbagai organ tubuh sekaligus. Kondisi ini disebut anafilaksis dan membutuhkan penanganan segera. Lantas, apa itu anafilaksis sebenarnya? Apa bedanya dengan alergi biasa? Dan bagaimana cara mengatasinya? Untuk mengetahui jawabannya, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

Apa Itu Anafilaksis?

Secara umum, anafilaksis adalah jenis reaksi hipersensitivitas berat yang terjadi secara cepat, serta memengaruhi lebih dari satu sistem tubuh. Reaksi ini juga dapat menyebabkan gangguan pada bagian kulit, saluran pernapasan, pencernaan, hingga tekanan darah dan sirkulasi.

Anafilaksis sendiri merupakan bentuk reaksi alergi yang sangat berat sehingga butuh penanganan segera. Gejalanya akan muncul dalam hitungan menit setelah seseorang terpapar pemicunya, meskipun untuk beberapa kondisi bisa lebih lambat lagi.

Meski demikian, tidak semua penderita akan mengalami gejala seperti bentol atau ruam saat mengalami anafilaksis. Oleh karena itu, tidak harus tunggu sampai keluhan dirasakan semuanya sebelum meminta pertolongan medis.

Berapa Lama Anafilaksis Berlangsung? 

Biasanya anafilaksis berkembang cepat. Gejalanya akan muncul dalam beberapa menit setelah terpapar oleh pemicunya. Waktunya pun bervariasi, tergantung penyebab dan kondisi masing-masing.

Setelah penanganan yang tepat diberikan, gejala biasanya bisa membaik dalam hitungan jam. Tapi tidak jarang gejala akan kambuh setelah sebelumnya sudah mulai membaik. Kondisi seperti ini dinamakan reaksi bifasik, yaitu munculnya gelombang gejala kedua tanpa adanya paparan ulang pada pemicu.

Karena bisa mengancam nyawa, seorang penderita anafilaksis sangat memerlukan penilaian medis. Lamanya observasi di fasilitas kesehatan bervariasi sesuai dengan tingkat keparahan reaksi serta faktor risikonya.

Syok Anafilaktik vs Anafilaksis

Meski keduanya sering dikaitkan satu dengan lainnya, tetapi ternyata ada sedikit perbedaan antara kedua istilah tersebut. Penjelasan dari apa itu anafilaksis yakni sebuah reaksi hipersensitivitas berat yang bisa memengaruhi berbagai organ tubuh. 

Sementara syok anafilaktik merupakan kondisi saat anafilaksis menyebabkan gangguan serius pada sistem sirkulasi tubuh, seperti tekanan darah yang tiba-tiba turun drastis hingga aliran darah menuju organ-organ penting terganggu.

Dari penjelasannya di atas, bisa dipahami bahwa syok anafilaktik merupakan salah satu kondisi berat yang mungkin dialami saat anafilaksis terjadi. Keduanya membutuhkan pertolongan medis segera.

Penyebab Anafilaksis

Berikut beberapa pemicu terjadinya anafilaksis:

  • Makanan seperti kacang tanah, kacang pohon, susu, telur, ikan, kerang, kedelai, dan gandum.

  • Obat-obatan tertentu (termasuk beberapa jenis antibiotik dan obat lainnya).

  • Sengatan atau gigitan serangga, terutama yang menyuntikkan bisa.

  • Lateks pada orang yang memiliki alergi terhadap bahan tersebut.

  • Pemicu lain yang lebih jarang seperti dermatitis atau alergi kontak dengan bahan tertentu.

Selain faktor pemicu alergi utama seperti di atas, terdapat faktor lain yang dapat meningkatkan keparahan reaksinya seperti olahraga, infeksi akut, alkohol, dan kondisi kesehatan tertentu seperti:

  • Asma yang belum terkontrol, dan ini merupakan salah satu faktor risiko paling signifikan. Saluran napas yang sudah sensitif akibat asma sangat rentan mengalami penyempitan parah saat terjadi reaksi anafilaksis.

  • Penyakit kardiovaskular (jantung), di mana jantung dapat melemahkan kemampuan tubuh untuk berkompensasi terhadap penurunan tekanan darah drastis (syok anafilaktik), sehingga meningkatkan risiko komplikasi fatal.

  • Mastositosis atau gangguan sel mast, yaitu kondisi langka di mana tubuh memproduksi sel mast secara berlebihan. Sel mast ini dapat melepaskan zat kimia pemicu alergi. Jika jumlahnya terlalu banyak, pelepasan zat tersebut dapat menyebabkan reaksi yang muncul secara spontan dan berlangsung lebih ekstrem.

Kombinasi makanan seperti gandum dan makanan laut serta aktivitas fisik pada beberapa orang juga dapat memicu reaksi anafilaksis yang sebelumnya tidak terjadi ketika hanya mengonsumsi makanan itu saja.

Karena pemicu terjadinya anafilaksis tidak selalu mudah dikenali, maka informasi tentang riwayat kejadian sangat penting untuk mengetahui penyebab pastinya.

Gejala Anafilaksis

Setelah memahami apa itu anafilaksis, selanjutnya pahami juga gejalanya karena tidak semua tanda yang muncul akibat reaksi anafilaksis akan terjadi pada setiap orang. Berikut beberapa tanda yang harus diwaspadai.

Pada kulit:

  • Biduran atau bentol-bentol.

  • Terasa gatal.

  • Kulit kemerahan.

  • Bengkak pada area wajah, bibir, atau bagian tubuh tertentu.

Pada saluran pernapasan:

  • Napas sesak dan berbunyi/mengi.

  • Batuk yang terus-menerus.

  • Tenggorokan terasa menyempit (tertutup).

  • Kesulitan menelan atau berbicara.

  • Suara serak.

Pada pencernaan:

  • Mual dan muntah berulang.

  • Nyeri/ kram pada perut.

  • Diare.

Pada sirkulasi dan kondisi umum:

  • Pusing atau merasa akan pingsan.

  • Merasa tubuh sangat lemas.

  • Denyut nadi melemah.

  • Tekanan darah turun.

  • Kehilangan kesadaran.

Anda mungkin tidak mengalami semua gejala di atas, tetapi kombinasi gejala ini, terlebih jika terjadi setelah terpapar sesuatu yang dicurigai sebagai pemicu alergi, wajib diperhatikan dengan serius.

Penanganan Darurat Anafilaksis

Jika seseorang diduga mengalami anafilaksis, segera tangani dan jangan menunggu gejalanya semakin parah. Gunakan epinefrin atau adrenalin sebagai obat lini pertama. Sementara pada orang yang sudah memiliki auto-injector epinefrin sesuai resep dan rencana tindakan dari dokter, obat tersebut perlu digunakan sesuai petunjuk ketika anafilaksis dicurigai.

Setelah itu, segera cari bantuan medis. Di Indonesia, gunakan layanan darurat medis 119 untuk mendapatkan bantuan kegawatdaruratan.

Sambil menunggu pertolongan lakukan hal berikut:

  • Bantu orang tersebut tetap dalam posisi yang aman dan nyaman. Umumnya berbaring lebih dianjurkan, kecuali kondisi tertentu seperti muntah atau kesulitan bernapas membuat posisi tersebut tidak nyaman.

  • Jangan membiarkan orang yang sedang mengalami gejala berat berjalan atau berdiri sendiri.

  • Jika gejala tidak membaik atau kembali muncul dan pasien memiliki dosis epinefrin berikutnya sesuai rencana dokter, penggunaannya dapat dipertimbangkan sesuai instruksi medis.

  • Jangan mengandalkan antihistamin sebagai pengganti epinefrin. Antihistamin dapat membantu beberapa gejala alergi, tetapi tidak menggantikan epinefrin dalam menangani anafilaksis.

  • Tetap cari pertolongan medis meskipun gejala terlihat membaik, terutama setelah penggunaan epinefrin.

Pada intinya, penanganan anafilaksis bukan hanya soal mencari obat alergi yang paling cepat bekerja. Prioritas utamanya adalah mengenali kondisi, menggunakan epinefrin bila tersedia dan memang diindikasikan, lalu mendapatkan pertolongan medis.

Pencegahan Reaksi Alergi Berat

Pencegahan biasanya dimulai dengan mengetahui apa itu anafilaksis serta faktor yang menjadi pemicunya apakah karena makanan, dermatitis, serangga, atau riwayat lainnya.

Jika seseorang pernah mengalami reaksi alergi yang cukup berat, dokter akan membantu menilai kemungkinan penyebab berdasarkan riwayat kejadian dan pemeriksaan yang sesuai.

Untuk alergi makanan, kebiasaan sederhana seperti membaca label makanan, menanyakan komposisi makanan ketika makan di luar, dan menghindari makanan yang sudah diketahui sebagai pemicu dapat membantu mengurangi risiko paparan.

Sementara bagi orang yang pernah mengalami anafilaksis, dokter juga dapat membuat rencana tindakan darurat alergi. Rencana ini mencakup kapan menggunakan epinefrin, siapa yang harus dihubungi, serta apa yang perlu dilakukan jika gejala muncul kembali.

Selain langkah di atas, penting juga untuk memberi tahu keluarga, pengasuh, guru, atau rekan kerja mengenai kondisi tersebut jika diperlukan. Dengan begitu, orang di sekitar tidak sepenuhnya bingung ketika keadaan darurat terjadi.

Kapan Harus ke IGD?

Segera meminta pertolongan medis ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) jika setelah terpapar sesuatu muncul gejala anafilaksis seperti: 

  • sulit bernapas, 

  • tenggorokan terasa menyempit, 

  • pembengkakan pada lidah atau wajah yang mengganggu pernapasan,

  • pusing berat, penurunan kesadaran, atau 

  • kombinasi gejala pada beberapa bagian tubuh.

Sebagai contoh, setelah makan makanan tertentu seseorang tiba-tiba mengalami biduran sekaligus muntah dan sesak napas. Situasi seperti ini sebaiknya tidak dibiarkan untuk melihat apakah akan membaik sendiri.

Meskipun epinefrin sudah digunakan, orang tersebut tetap memerlukan pertolongan medis. Tujuannya agar saat gejala kembali setelah sempat membaik, dokter bisa mengobservasi lebih lanjut sesuai kondisi pasien.

Pahami Pemicu Alergi sebagai Bagian dari Pencegahan Anafilaksis

Kesimpulannya, anafilaksis adalah reaksi alergi berat yang bersifat darurat, terjadi secara cepat, dan dapat mengancam nyawa jika tidak segera ditangani. Untuk itu, mengenali pemicu dan memahami gejalanya merupakan kunci utama untuk mencegah komplikasi serius.

Sebagai contoh, untuk dugaan alergi makanan, pemeriksaan yang relevan dapat menjadi salah satu bagian dari proses evaluasi untuk membantu memahami apakah makanan tertentu berkaitan dengan keluhan yang muncul. Tes IgE Atopy seharga mulai dari Rp1.830.000 bisa jadi opsi pemeriksaan alergi yang dapat dipilih. Pemeriksaan ini dapat mencari tahu penyebab alergi secara spesifik dan berfokus pada alergen yang paling relevan dengan lingkungan dan gaya hidup masyarakat Indonesia.

Dari pemeriksaan ini, pemicu alergi dapat diketahui dan Anda dapat menghindarinya atau mengurangi risiko mengalami anafilaksis.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

References:

  1. Journal of Allergy and Clinical Immunology. (2025). Anaphylaxis definition, overview, and clinical support tool: 2024 consensus report—a GA2LEN project.

  2. National Library of Medicine. (2018). Anaphylaxis.

  3. Allergy, Asthma & Clinical Immunology. (2024). Anaphylaxis. 

  4. Medscape. (2024). Anaphylaxis: Practice Essentials, Background, Pathophysiology.

  5. Journal of Advanced Lung Health. (2022). Evaluation of Anaphylaxis: A Simplified Approach.

Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Apa itu anafilaksis?

Anafilaksis adalah reaksi hipersensitivitas berat yang berkembang cepat dan dapat memengaruhi beberapa sistem tubuh, termasuk kulit, saluran pernapasan, pencernaan, serta tekanan darah dan sirkulasi. Kondisi ini membutuhkan penanganan medis segera. 

Apa saja penyebab anafilaksis?
Anafilaksis dapat dipicu oleh makanan seperti kacang, susu, telur, ikan, kerang, kedelai, dan gandum, serta obat-obatan tertentu, sengatan atau gigitan serangga, dan lateks. Beberapa faktor seperti asma yang tidak terkontrol, olahraga, infeksi akut, dan alkohol dapat meningkatkan keparahan reaksi. 
Apa saja gejala anafilaksis?
Gejala dapat berupa biduran, gatal, kemerahan dan pembengkakan, sesak atau mengi, tenggorokan menyempit, kesulitan menelan atau berbicara, mual dan muntah, pusing, tekanan darah turun, hingga kehilangan kesadaran. Tidak semua gejala harus muncul secara bersamaan. 
Bagaimana cara menangani anafilaksis?

Jika anafilaksis dicurigai, epinefrin atau adrenalin menjadi obat lini pertama dan harus digunakan sesuai resep atau rencana tindakan dokter. Setelah itu, segera cari pertolongan medis, jangan membiarkan penderita berjalan atau berdiri sendiri, dan jangan mengganti epinefrin dengan antihistamin. 

Apakah anafilaksis sama dengan alergi biasa?
Tidak. Alergi memiliki tingkat keparahan yang beragam, sedangkan anafilaksis merupakan reaksi hipersensitivitas berat yang dapat mengancam nyawa dan membutuhkan penanganan segera.