Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Dermatitis Atopik pada Bayi: Penyebab, Gejala, dan Cara Merawatnya
Kembali ke Artikel & Berita

Dermatitis Atopik pada Bayi: Penyebab, Gejala, dan Cara Merawatnya

Redaksi Bumame

Kulit Bayi Merah dan Gatal? Kenali Dermatitis Atopik dan Cara Merawat Kulit Si Kecil

Dermatitis atopik pada bayi dapat membuat kulit menjadi kering, kemerahan, dan terasa gatal. Keluhan ini sering membuat bayi tidak nyaman, terutama ketika rasa gatal menyebabkan bayi lebih sering menggaruk atau menggosok area kulit tertentu.
Dermatitis atopik termasuk bentuk eksim yang umum terjadi pada anak. Kondisi ini bersifat kronis dan dapat mengalami periode membaik serta kambuh kembali. National Institute for Health and Care Excellence (NICE) juga menjelaskan bahwa penanganannya perlu disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala dan kondisi masing-masing anak.
Lalu, apa penyebab dermatitis atopik pada bayi dan bagaimana mengenali gejalanya?

Mengenal Dermatitis Atopik pada Bayi

Dermatitis atopik adalah kondisi peradangan kulit kronis yang menyebabkan kulit menjadi kering, gatal, dan mengalami ruam. Kondisi ini dapat mulai muncul sejak bayi atau masa kanak-kanak.
Pada dermatitis atopik, lapisan pelindung kulit tidak bekerja secara optimal sehingga kulit lebih mudah kehilangan kelembapan dan menjadi sensitif terhadap iritan maupun faktor lingkungan tertentu.
Dermatitis atopik juga memiliki hubungan dengan kondisi atopik lainnya. American Academy of Dermatology (AAD) menyebut anak dengan dermatitis atopik memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kondisi lain seperti alergi makanan, asma, hay fever, dan urtikaria. Namun, hubungan tersebut tidak berarti dermatitis atopik secara langsung menyebabkan kondisi-kondisi tersebut.

Penyebab Dermatitis Atopik pada Bayi

Dermatitis atopik tidak memiliki satu penyebab tunggal. Faktor genetik, kondisi lapisan pelindung kulit, respons sistem imun, serta lingkungan dapat saling berinteraksi dalam munculnya keluhan.
Beberapa penyebab eksim yang dapat berkaitan dengan dermatitis atopik pada bayi meliputi:

1. Faktor Genetik

Riwayat keluarga dapat meningkatkan kecenderungan seorang bayi mengalami kondisi atopik. Risiko dapat lebih tinggi apabila terdapat anggota keluarga yang memiliki dermatitis atopik, asma, atau kondisi alergi lainnya.
Faktor genetik juga dapat memengaruhi kemampuan kulit mempertahankan kelembapan sehingga kulit lebih mudah menjadi kering dan mengalami iritasi.

2. Alergi

Dermatitis atopik dan alergi dapat terjadi bersamaan, tetapi tidak berarti semua kasus dermatitis atopik disebabkan oleh alergi.
Misalnya, alergi makanan pada bayi lebih sering ditemukan pada anak dengan dermatitis atopik sedang hingga berat. Namun, AAD menekankan bahwa menghindari makanan penyebab alergi tidak selalu menghentikan dermatitis atopik.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menghilangkan susu, telur, kacang, atau jenis makanan lain dari pola makan bayi tanpa evaluasi tenaga medis.
Selain makanan, alergen lingkungan seperti alergi debu dan tungau juga dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan apabila terdapat gejala alergi yang konsisten.

3. Kulit Sensitif dan Kering

Pada dermatitis atopik, kulit cenderung kehilangan air lebih cepat sehingga menjadi sangat kering dan mudah mengalami iritasi.
Kondisi kulit yang kering kemudian dapat memperparah rasa gatal. Ketika bayi menggaruk atau menggosok kulit, lapisan kulit dapat semakin mengalami iritasi dan membuat keluhan lebih sulit mereda.

Gejala dan Ciri-Ciri Dermatitis Atopik pada Bayi

Gejala dermatitis atopik dapat berbeda pada setiap bayi dan berubah seiring bertambahnya usia.
Beberapa ciri yang dapat muncul antara lain:
  1. Kulit kering atau bersisik.
  2. Ruam kemerahan atau perubahan warna kulit.
  3. Rasa gatal.
  4. Kulit terasa kasar.
  5. Kulit pecah-pecah.
  6. Luka akibat garukan pada kondisi yang lebih berat.
Saat mengalami flare-up, kulit dapat menjadi semakin kering, gatal, merah, atau membengkak.
Bayi mungkin belum dapat menyampaikan bahwa kulitnya terasa gatal. Karena itu, orang tua dapat memperhatikan perilaku seperti bayi lebih sering menggosok wajah atau bagian tubuh tertentu, sulit tidur, atau tampak lebih rewel ketika keluhan memburuk.

Area Tubuh yang Sering Terkena

Lokasi dermatitis atopik dapat berbeda sesuai usia bayi.
Pada bayi, ruam cukup sering muncul pada wajah, terutama area pipi. Keluhan juga dapat ditemukan pada kulit kepala maupun bagian tubuh lainnya.
Seiring pertumbuhan anak, pola dermatitis dapat berubah dan lebih banyak muncul pada lipatan kulit seperti siku dan lutut.
Lokasi ruam saja tidak cukup untuk menentukan diagnosis. Dokter juga perlu mempertimbangkan karakteristik kulit, pola kekambuhan, riwayat keluarga, dan keluhan lain yang menyertai.

Cara Membedakan Dermatitis Atopik dengan Ruam Popok dan Biang Keringat

Dermatitis atopik bukan satu-satunya kondisi yang dapat menyebabkan ruam pada bayi.
Ruam popok umumnya terkonsentrasi pada area kulit yang tertutup popok dan dapat berkaitan dengan kelembapan serta kontak berkepanjangan dengan urine atau feses.
Sementara itu, biang keringat terjadi akibat saluran keringat yang tersumbat dan lebih mudah muncul ketika bayi berada di lingkungan yang panas atau lembap.
Dermatitis atopik lebih khas dengan kulit yang sangat kering dan gatal serta memiliki pola kambuh. Namun, beberapa kondisi kulit dapat terlihat mirip sehingga diagnosis sebaiknya tidak hanya berdasarkan tampilan ruam.

Pengobatan dan Perawatan Dermatitis Atopik pada Bayi

Perawatan dermatitis atopik bertujuan menjaga kelembapan kulit, mengurangi rasa gatal dan peradangan, serta mengendalikan faktor yang dapat memperburuk keluhan.
NICE menempatkan emolien atau pelembap sebagai dasar penanganan dermatitis atopik pada anak, termasuk ketika kondisi kulit sedang terlihat membaik. Terapi kemudian dapat ditingkatkan atau dikurangi sesuai tingkat keparahan penyakit.
Beberapa langkah perawatan yang dapat dilakukan antara lain menjaga kelembapan kulit secara rutin, memilih produk perawatan yang lembut, menghindari bahan yang mengiritasi kulit, serta menjaga kuku bayi tetap pendek untuk mengurangi risiko luka ketika menggaruk.
Selain perawatan kulit, orang tua juga dapat memperhatikan kapan keluhan muncul atau memburuk. Mengetahui cara mengetahui pemicu alergi dapat membantu mengenali apakah terdapat pola tertentu yang berkaitan dengan makanan atau paparan lingkungan.
Namun, tidak semua dermatitis atopik membutuhkan pemeriksaan alergi. AAD menyebut tes alergi makanan lebih relevan dipertimbangkan pada kondisi tertentu, misalnya dermatitis atopik sedang hingga berat yang tetap sulit dikendalikan atau ketika anak mengalami reaksi alergi segera setelah mengonsumsi makanan tertentu.
Jika dokter mencurigai adanya faktor alergi, tes alergi lengkap dapat menjadi salah satu pemeriksaan pendukung. IgE Atopy Panel Indonesia di Bumame menggunakan sampel darah untuk mengukur IgE spesifik terhadap 54 jenis alergen, termasuk tungau debu, jamur, hewan peliharaan, hingga beberapa jenis makanan.
Hasil pemeriksaan tetap perlu dinilai bersama gejala dan evaluasi dokter karena hasil IgE tidak digunakan sendirian untuk menentukan penyebab dermatitis atopik.

Kapan Harus Membawa Bayi ke Dokter?

Dermatitis atopik ringan umumnya dapat dikelola dengan perawatan kulit yang tepat. Namun, pemeriksaan dokter diperlukan ketika keluhan semakin berat, terus berulang, atau mulai mengganggu aktivitas dan tidur bayi.
Konsultasikan dengan dokter apabila:
  • ruam semakin luas atau memburuk;
  • bayi terlihat sangat tidak nyaman akibat gatal;
  • kulit mengeluarkan cairan, bernanah, atau menunjukkan tanda infeksi;
  • keluhan tidak membaik meskipun perawatan kulit sudah dilakukan;
  • terdapat dugaan reaksi alergi setelah makanan atau paparan tertentu.
Jika bayi mengalami alergi yang sering kambuh bersamaan dengan dermatitis atopik, evaluasi dokter dapat membantu menentukan apakah terdapat faktor alergi yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Perhatikan juga kondisi bayi secara menyeluruh. Apabila masalah kulit disertai perubahan pola makan, berat badan, atau perkembangan yang mengkhawatirkan, kenali pula tanda gangguan tumbuh kembang bayi dan konsultasikan dengan dokter.
Dermatitis atopik pada bayi memang dapat kambuh, tetapi perawatan kulit yang konsisten dan pengenalan terhadap faktor pemicu dapat membantu mengendalikan gejalanya.
Jika ruam, kulit kering, atau rasa gatal pada bayi terus berulang dan membuat kamu khawatir, kamu dapat chat gratis dengan dokter untuk konsultasi agar keluhan dapat dievaluasi dan kamu mendapatkan rekomendasi langkah selanjutnya.

Sumber: National Institute for Health and Care Excellence (NICE), American Academy of Dermatology (AAD)

Lokasi Klinik Bumame

Klinik Bumame Cideng JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10160
Klinik Bumame TB Simatupang 1, Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12550
Klinik Bumame BSD Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kec. Serpong, Tangerang, Banten 15310 Klinik Bumame Puri Indah Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23, Kembangan, Jakarta Barat 11610

Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan

Frequently Asked Question

Apakah dermatitis atopik pada bayi bisa sembuh?
Gejala dermatitis atopik dapat membaik seiring bertambahnya usia, tetapi kondisi ini dapat mengalami periode kambuh. Penanganan berfokus pada menjaga kondisi kulit dan mengendalikan gejala.
Apakah dermatitis atopik pada bayi disebabkan alergi makanan?
Tidak selalu. Alergi makanan lebih sering ditemukan pada sebagian anak dengan dermatitis atopik, terutama kasus sedang hingga berat, tetapi bukan berarti setiap eksim pada bayi disebabkan oleh makanan.
Apakah bayi dengan dermatitis atopik boleh mandi setiap hari?
Boleh, tetapi perawatan kulit perlu disesuaikan dengan kondisinya. Hindari produk yang dapat mengiritasi kulit dan gunakan pelembap secara rutin untuk membantu mempertahankan kelembapan kulit.
Apakah dermatitis atopik menular?
Tidak. Dermatitis atopik merupakan kondisi inflamasi kulit dan bukan penyakit menular.
Apakah bayi dengan dermatitis atopik perlu tes alergi?
Tidak semua bayi dengan dermatitis atopik membutuhkan tes alergi. Pemeriksaan dapat dipertimbangkan berdasarkan pola gejala, tingkat keparahan dermatitis, dugaan pemicu, serta rekomendasi dokter.