Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Kolestasis: Gejala dan Penyebab
Kembali ke Artikel & Berita

Apa Itu Kolestasis? Gejala dan Penyebabnya

SBAOthers

Mengalami kulit gatal tanpa ruam, warna urine jadi lebih gelap, atau warna kulit dan mata yang menguning? Ini bisa jadi tanda adanya gangguan pada empedu. Keluhan seperti ini memang tidak selalu berarti Anda mengalami kolestasis, namun tetap perlu diperhatikan jika gejala muncul terus-menerus, bahkan disertai dengan gejala lain.

Ini adalah kondisi ketika aliran empedu dari hati melambat atau terhambat. Empedu sendiri merupakan cairan yang dibuat oleh hati untuk membantu tubuh mencerna lemak dan membuang zat-zat sisa. Ketika alirannya terganggu, komponen empedu dapat menumpuk di dalam tubuh dan menyebabkan berbagai gejala.

Apa Itu Kolestasis?

Secara umum, cholestasis atau kolestasis adalah suatu kondisi ketika empedu tidak dapat mengalir dengan normal dari hati menuju ke saluran empedu dan usus. Kondisi ini umumnya dapat terjadi karena adanya masalah di dalam hati maupun adanya sumbatan pada saluran empedu.

Empedu pada tubuh manusia memiliki peran penting dalam proses pencernaan, terutama untuk membantu tubuh menyerap lemak. Jika alirannya terganggu dalam waktu yang lama, tubuh akan kesulitan menyerap lemak dan vitamin yang ikut larut dalam lemak, seperti vitamin A, D, E, dan K. 

Secara sederhana, cholestasis bukan jenis penyakit, melainkan sebuah kondisi di mana aliran empedu terhambat atau terganggu karena beberapa penyebab. Oleh karena itu, dokter biasanya perlu mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu untuk menentukan penanganan seperti apa yang sesuai pada penderitanya.

Gejala Kolestasis

Gejalanya dapat berbeda-beda tergantung dari penyebab dan tingkat keparahannya. Pada sebagian orang, kondisi ini ditemukan melalui pemeriksaan darah sebelum adanya gejala-gejala yang muncul secara jelas. Beberapa gejala yang dapat muncul untuk cholestasis antara lain.

  • Kulit yang terasa gatal tanpa adanya ruam.

  • Kulit atau mata tampak menguning.

  • Urine berwarna lebih gelap.

  • Feses berwarna lebih pucat.

  • Mual dan muntah.

  • Nyeri pada bagian kanan atas perut.

  • Gangguan atau kesulitan dalam mencerna makanan berlemak.

Rasa gatal biasanya dapat terjadi tanpa adanya ruam yang jelas. Lebih parahnya, terkadang keluhan ini muncul bersamaan dengan kulit yang menguning, urine yang berwarna lebih gelap, dan bahkan feses pucat. Jika keluhan di atas muncul, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan untuk mencari tahu penyebabnya.

Penyebab Kolestasis

Penyebab munculnya gangguan ini dapat terbagi menjadi dua kategori. Pertama adalah gangguan yang berasal dari dalam hati dan yang kedua adalah adanya hambatan pada saluran empedu di luar hati. Keduanya sama-sama dapat mengganggu aliran empedu.

Gangguan dari dalam hati dapat terjadi akibat hepatitis, infeksi berat, penyakit hati tertentu, perubahan hormonal saat kehamilan, atau efek obat-obatan. Sementara itu, aliran empedu juga dapat terhambat jika salurannya tersumbat. Salah satu penyebab tersumbatnya aliran empedu adalah batu empedu.

Batu dapat masuk ke saluran empedu dan menghambat jalannya empedu dari hati menuju usus. Akibatnya, bilirubin atau zat kuning hasil pemecahan sel darah merah dapat menumpuk dalam darah. Kondisi ini juga dapat membuat enzim hati meningkat.

Beberapa jenis obat-obatan juga dapat menjadi penyebab munculnya kondisi kolestasis pada beberapa orang. Oleh sebab itu, dokter biasanya akan menanyakan obat atau suplemen apa yang dikonsumsi. Hasil ini nantinya akan dokter gunakan untuk mengevaluasi penyebab dari cholestasis.

Kolestasis pada Kehamilan vs Bayi Baru Lahir

Pada umumnya, cholestasis dapat terjadi pada siapa saja, namun ada dua kelompok yang sering mengalami kondisi ini, yaitu pada wanita hamil dan pada bayi yang baru lahir. Penyebab, gejala, serta penanganannya pun berbeda.

Kolestasis pada Kehamilan

Intrahepatik pada kehamilan atau biasanya disebut intrahepatic cholestasis of pregnancy biasanya muncul di trimester akhir. Gejala utama dari kondisi ini dapat berupa rasa gatal yang berlebihan pada telapak tangan dan telapak kaki. Meski begitu, rasa gatal juga dapat muncul di bagian tubuh yang lain.

Sebenarnya, kondisi ini berkaitan dengan peningkatan kadar asam empedu dalam darah penderita. Dokter biasanya akan memeriksa kadar asam empedu dan enzim hati jika mencurigai adanya cholestasis pada kehamilan. Karena bagaimanapun, kondisi ini dapat meningkatkan risiko komplikasi pada janin, sehingga dokter perlu memantau kondisi ibu dan janin dengan lebih ketat.

Kolestasis pada Bayi Baru Lahir

Selain pada ibu hamil, kolestasis juga dapat terjadi pada bayi. Kondisi dapat ditandai dengan kulit dan bagian putih mata yang tetap tampak kuning di usia sekitar dua minggu, disertai urine gelap atau feses berwarna pucat. Gejala tersebut perlu dibedakan dari penyakit kuning biasa pada bayi karena penyebab dan penanganannya berbeda. [3]

Pedoman NASPGHAN dan ESPGHAN menyarankan pemeriksaan kadar bilirubin total dan bilirubin direk pada bayi yang kondisi kulit dan matanya masih tampak kuning di usia sekitar dua minggu. Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi cholestasis lebih awal dan mencari penyebab yang mungkin membutuhkan penanganan segera.

Cholestasis pada bayi juga dapat berkaitan dengan berbagai kondisi, termasuk gangguan pada saluran empedu, infeksi, masalah metabolik, maupun penyakit hati bawaan. Karena itu, dokter anak atau dokter spesialis perlu melakukan pemeriksaan dan evaluasi lebih menyeluruh untuk menentukan penyebabnya.

Diagnosis Lewat Tes Fungsi Hati

Dokter biasanya memulai pemeriksaan dengan menanyakan gejala, riwayat kesehatan, obat yang sedang digunakan, serta melakukan pemeriksaan fisik. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan darah untuk menentukan apakah terdapat gangguan pada hati atau saluran empedu Anda.

Pada kolestasis, beberapa parameter yang sering diperiksa adalah bilirubin dan alkaline phosphatase atau ALP. Kadar ALP dapat meningkat ketika saluran empedu mengalami gangguan atau sumbatan. Sementara itu, kadar bilirubin dapat meningkat ketika hati atau saluran empedu tidak dapat memproses dan mengeluarkan bilirubin dengan baik.

Dokter juga dapat memeriksa enzim hati lain seperti AST, ALT, dan GGT untuk menilai fungsi hati secara menyeluruh. Hasil tes tersebut biasanya dinilai bersama gejala, riwayat kesehatan, dan pemeriksaan lain agar dokter dapat memahami penyebabnya dengan lebih tepat.

Jika dokter mencurigai adanya sumbatan pada saluran empedu atau gangguan pada fungsi hati, pemeriksaan seperti USG dapat digunakan untuk melihat kondisi hati, kantong empedu, dan saluran empedu. Pemeriksaan lain pun dapat dilakukan jika diperlukan untuk membantu menemukan penyebab.

Pengobatan

Pengobatan akan bergantung pada penyebabnya. Jika gangguan terjadi karena sumbatan pada saluran empedu, dokter dapat menangani sumber sumbatan tersebut. Jika penyebabnya berasal dari penyakit hati, infeksi, atau efek obat tertentu, penanganan akan disesuaikan dengan kondisi yang mendasarinya.

Pada kolestasis kehamilan, dokter dapat memberikan ursodeoxycholic acid untuk membantu mengurangi keluhan gatal pada ibu. Selain itu, dokter akan memantau kadar asam empedu dan kondisi janin untuk menentukan waktu persalinan yang sesuai berdasarkan tingkat risikonya.

Pada bayi, beberapa kondisi memerlukan penanganan segera, terutama jika terdapat gangguan pada saluran empedu atau penyakit hati tertentu. Karena itu, diagnosis lebih awal memiliki peran penting dalam menentukan terapi.

Selain menangani penyebab utama, dokter juga dapat memperhatikan kebutuhan nutrisi penderita. Terutama jika cholestasis berlangsung lama dan mengganggu penyerapan lemak atau vitamin tertentu.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter jika muncul gejala kulit atau mata menguning, urine gelap, feses pucat, gatal berat tanpa ruam, atau nyeri pada bagian kanan atas perut. Ibu hamil juga sebaiknya segera berkonsultasi jika mengalami gatal yang berlebihan tanpa sebab, terutama pada telapak tangan atau kaki. 

Pada bayi, kulit yang berwarna kuning dan masih terlihat setelah usia sekitar dua minggu, terlebih jika disertai dengan urine gelap atau feses pucat, juga memerlukan pemeriksaan medis. Dengan adanya pemeriksaan lebih awal, dokter dapat menentukan apakah gejala-gejala tersebut berkaitan dengan kolestasis atau kondisi lain. 

Jika ingin mengevaluasi fungsi hati dan beberapa parameter lain yang berkaitan, Paket MCU Plus & Hati Lengkap Bumame dapat menjadi salah satu pilihan pemeriksaan. Paket ini mencakup SGOT/AST, SGPT/ALT, Gamma GT, alkali fosfatase, bilirubin total, bilirubin direk, serta pemeriksaan kesehatan lainnya.

Melalui pemeriksaan MCU Plus & Hati, hasil tes dapat membantu memberikan gambaran mengenai fungsi hati dan kondisi saluran empedu. Jadi, jika memang ada masalah, dokter dapat memberi arahan dan penanganan yang Anda terima bisa lebih cepat!

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

References

  1. National Library of Medicine. (2024). Cholestasis. MedlinePlus Medical Encyclopedia.

  2. Society for Maternal-Fetal Medicine. (2021, reaffirmed 2024). Consult Series #53: Intrahepatic Cholestasis of Pregnancy. Society for Maternal-Fetal Medicine.

  3. Fawaz, R., Baumann, U., Ekong, U., et al. (2017). Guideline for the Evaluation of Cholestatic Jaundice in Infants: Joint Recommendations of NASPGHAN and ESPGHAN. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition, 64(1), 154–168.

  4. American College of Obstetricians and Gynecologists. (2025). Skin Conditions During Pregnancy. American College of Obstetricians and Gynecologists.

Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan

Frequently Asked Question

Apa itu kolestasis?
Kolestasis adalah kondisi ketika empedu tidak dapat mengalir secara normal dari hati menuju saluran empedu dan usus. Kondisi ini dapat terjadi karena gangguan di dalam hati atau sumbatan pada saluran empedu.
Apa saja gejala kolestasis?
Gejalanya dapat berupa kulit gatal tanpa ruam, kulit atau mata menguning, urine berwarna gelap, feses pucat, mual dan muntah, nyeri perut kanan atas, serta kesulitan mencerna makanan berlemak.
Apa penyebab kolestasis?
Kolestasis dapat disebabkan oleh gangguan di dalam hati, seperti hepatitis, infeksi, penyakit hati, perubahan hormonal saat kehamilan, atau efek obat. Kondisi ini juga dapat terjadi akibat sumbatan saluran empedu, termasuk karena batu empedu.
Bagaimana kolestasis didiagnosis?
Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan gejala dan riwayat kesehatan, pemeriksaan darah seperti bilirubin, ALP, AST, ALT, dan GGT, serta USG jika diperlukan untuk melihat kondisi hati dan saluran empedu.
Bagaimana cara mengobati kolestasis?
Pengobatan bergantung pada penyebabnya, seperti menangani sumbatan saluran empedu atau penyakit yang mendasarinya. Pada kolestasis kehamilan, dokter dapat memberikan ursodeoxycholic acid dan memantau kadar asam empedu serta kondisi janin.