Momen intim bersama pasangan bisa terasa kurang memuaskan ketika ejakulasi terjadi lebih cepat dari yang diharapkan. Jika kondisi ini sering terjadi, Anda mungkin bertanya-tanya, apa itu ejakulasi dini dan apakah kondisi tersebut perlu dikhawatirkan.
Memahami penyebab dan tanda-tandanya dapat membantu Anda menentukan langkah yang tepat untuk mengatasinya. Ketahui pembahasan selengkapnya di artikel ini.
Apa Itu Ejakulasi Dini?
Melansir The Journal of Sexual Medicine, premature ejaculation atau ejakulasi dini adalah kondisi saat pria ejakulasi, rangsangan seksual untuk mengeluarkan air mani, terlalu cepat dari yang diharapkan, sementara kemampuan untuk mengendalikannya juga terbatas.
Diagnosis tidak hanya ditentukan oleh lamanya menjalani hubungan seksual, tetapi juga oleh kendali ejakulasi dan dampaknya terhadap kondisi emosional dan hubungan dengan pasangan. Secara umum, ada dua jenis ejakulasi dini, yaitu:
Ejakulasi dini primer (lifelong premature ejaculation): Kondisi yang terjadi sejak pengalaman seksual pertama kali maupun sejak awal kehidupan seksual. Biasanya, ejakulasi tersebut terjadi sangat cepat dan sulit untuk ditunda secara konsisten.
Ejakulasi dini sekunder (acquired premature ejaculation): Kondisi yang terjadi setelah pria sebelumnya tidak mengalami masalah tersebut. Perubahannya bisa berhubungan dengan gangguan ereksi, faktor psikologis, maupun kondisi medis tertentu.
Ejakulasi yang terjadi sesekali lebih cepat daripada biasanya tidak secara otomatis menandakan gangguan atau disfungsi seksual. Hal yang harus Anda perhatikan adalah apakah masalah tersebut sulit dikendalikan, terjadi berulang, dan mengakibatkan tekanan bagi Anda maupun pasangan.
Penyebab Ejakulasi Dini
Apa itu ejakulasi dini tidak selalu disebabkan oleh hal yang sama pada setiap pria. Faktor biologis dan psikologis berperan masing-masing atau secara bersamaan.
1. Faktor Psikologis
Beberapa faktor psikologis yang bisa berkontribusi adalah sebagai berikut.
Kecemasan ketika berhubungan: Anda merasa khawatir tentang performa seksual, yang bisa menyebabkan ketegangan meningkat dan ejakulasi sulit dikendalikan.
Stres dan kelelahan emosional: Masalah pribadi, tekanan pekerjaan, atau kurang istirahat bisa berpengaruh terhadap respons seksual.
Masalah hubungan dengan pasangan: Komunikasi yang kurang terbuka, konflik, dan rasa tidak nyaman dalam hubungan bisa memperburuk keluhan.
Pengalaman seksual sebelumnya: Pengalaman yang menyebabkan ketakutan atau kebiasaan terburu-buru pada beberapa orang juga bisa berpengaruh terhadap respons seksual.
Meskipun faktor psikologis berperan, masalah ejakulasi dini tidak tepat jika langsung disimpulkan sebagai akibat dari kurangnya kemampuan maupun kontrol diri.
2. Faktor Biologis atau Medis
Beberapa kondisi fisik juga bisa berkaitan dengan ejakulasi dini, di antaranya adalah:
Gangguan hormon: Kondisi pada sistem hormon, seperti hormon tiroid, yang berpengaruh terhadap fungsi seksual;
Peradangan prostat: Prostatitis adalah peradangan yang terjadi pada kelenjar prostat, bisa juga disertai dengan keluhan seksual maupun gangguan berkemih;
Disfungsi ereksi: Kesulitan untuk mempertahankan ereksi bisa menimbulkan kecemasan yang akan mempercepat ejakulasi;
Faktor genetik dan neurobiologis: Perbedaan dalam pengaturan sinyal saraf yang terlihat di dalam ejakulasi diduga berperan pada beberapa kasus; dan
Kondisi kelelahan lain: Gangguan metabolik maupun penyakit tertentu juga bisa berhubungan dengan masalah seksual, meskipun hubungannya masih perlu dinilai secara individual.
Kondisi genetik seperti sindrom Klinefelter juga bisa berpengaruh terhadap perkembangan seksual dan kesuburan pria. Akan tetapi, hal tersebut bukan menjadi penyebab langsung dari ejakulasi dini. Itulah mengapa penting untuk berkonsultasi dengan dokter agar bisa mengetahui secara pasti penyebabnya.
Ciri-Ciri Ejakulasi Dini
Masih seputar apa itu ejakulasi dini. Terdapat tanda-tanda yang mengindikasikan masalah ejakulasi dini, di antaranya adalah:
Ejakulasi terjadi sebelum/segera pasca penetrasi, lebih cepat dari yang diharapkan;
Kesulitan menunda ejakulasi padahal sudah berusaha mengendalikannya;
Kondisi tersebut terjadi secara berulang, bukan sekali;
Merasa malu, cemas, frustrasi, atau menghindari hubungan seksual karena khawatir masalah yang sama akan terulang; dan
Hubungan dengan pasangan mulai terganggu karena masalah seksual tersebut.
Pada kategori ejakulasi dini primer, ejakulasi sering terjadi antara 1–2 menit pasca penetrasi atau bahkan sebelumnya. Sementara tipe sekunder, yang lebih penting, yaitu perubahan nyata dari kebiasaan sebelumnya; durasi bisa berkurang, meskipun durasi saja belum cukup untuk memastikan diagnosis.
Diagnosis Ejakulasi Dini
Dokter akan melakukan diagnosis berdasarkan pengalaman seksual, riwayat kesehatan, kendali terhadap ejakulasi, dan dampak keluhan. Pemeriksaan laboratorium tidak selalu diterapkan untuk setiap pasien.
1. Wawancara Medis dan Riwayat Seksual
Dokter biasanya akan menanyakan kapan masalah muncul, perkiraan waktu sampai ejakulasi, seberapa sering terjadi, dan apakah Anda bisa menundanya. Dokter juga bisa menanyakan obat yang Anda gunakan, riwayat penyakit, dan ada atau tidak adanya gangguan ereksi. Informasi ini bisa membantu membedakan apa itu ejakulasi dini yang sudah Anda alami sejak awal kehidupan seksual dari masalah yang baru muncul.
2. Evaluasi Psikologis dan Hubungan
Dokter bisa menanyakan tingkat kecemasan, stres, dan suasana hati ketika berhubungan intim serta seberapa berpengaruhnya terhadap hubungan dengan pasangan. Jika dibutuhkan dan mendapatkan persetujuan, pasangan bisa dilibatkan dalam konseling.
3. Pemeriksaan Fisik dan Tes Tambahan
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menemukan kemungkinan kondisi yang berhubungan dengan keluhan, termasuk masalah yang berkaitan dengan gangguan ereksi atau organ reproduksi. Pemeriksaan hormon, tes darah, atau pemeriksaan lain hanya dilakukan ketika riwayat dan hasil pemeriksaan menunjukkan adanya indikasi tertentu.
Cara Mengatasi Ejakulasi Dini pada Pria
Cara mengatasi masalah ejakulasi dini perlu disesuaikan dengan penyebab, tingkat keluhan, dan kebutuhan setiap pasien. Melansir Mayo Clinic, beberapa pendekatan yang bisa Anda pertimbangkan adalah sebagai berikut.
1. Teknik Stop-Start
Teknik stop-start dilakukan dengan cara menghentikan rangsangan seksual saat mulai mendekati ejakulasi. Ketika sensasi tersebut mereda, rangsangan bisa dilanjutkan. Latihan ini bermanfaat untuk membantu pria dalam mengenali tingkat gairah dan melatih kendali ejakulasi.
2. Menggunakan Kondom
Kondom bisa membantu mengurangi sensitivitas penis pada beberapa pria sehingga ejakulasi menjadi lebih mudah ditunda. Penggunaan kondom khusus dengan bahan pengurang sensitivitas juga sudah tersedia. Akan tetapi, penggunaannya harus sesuai dengan petunjuk produk agar tidak mengakibatkan iritasi atau mengurangi sensasi pasangan.
3. Konseling Psikoseksual
Konseling psikoseksual adalah pendampingan untuk mengatasi stres, kecemasan performa, dan masalah hubungan yang berkontribusi terhadap keluhan. Terapi perilaku dan konseling bisa digabungkan dengan penanganan medis jika dibutuhkan.
4. Terapi Obat
Dokter bisa mempertimbangkan obat tertentu, seperti dapoxetine atau obat golongan SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor), yang berpengaruh terhadap kinerja serotonin dan bisa membantu menunda ejakulasi.
Obat anestesi lokal yang di dalamnya mengandung lidokain atau prilokain juga bisa digunakan pada kondisi tertentu. Pilihan dosis, obat, dan cara penggunaan juga harus sesuai anjuran dokter karena indikasi, ketersediaan, efek samping, dan interaksinya relatif berbeda-beda pada setiap orang.
Apakah Ejakulasi Dini Bisa Sembuh?
Apa itu ejakulasi dini bisa membaik dan dikendalikan lewat penanganan yang tepat. Hasilnya bergantung pada jenis ejakulasi dini, penyebab, dan respons terhadap terapi.
Sebagian pria terbantu dengan konseling dan teknik perilaku, sementara sebagian lainnya memerlukan obat maupun penanganan kondisi medis yang mendasari. Jika keluhan baru muncul padahal sebelumnya tidak pernah terjadi, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya terlebih dahulu.
Pemeriksaan Kesehatan Pria di Bumame
Pemeriksaan kesehatan bisa membantu memberikan gambaran kondisi tubuh dan mendukung evaluasi medis ketika ditemukan indikasi tertentu. Akan tetapi, perlu Anda pahami bahwa paket pemeriksaan umum atau tes kesuburan pria tidak bisa secara langsung mendiagnosis ejakulasi dini.
Diagnosis memerlukan evaluasi dokter dengan melihat keluhan dan pemeriksaan yang sesuai. Bumame menyediakan paket kesuburan pria yang mencakup tes hormon LH, testosteron, FSH, prolaktin, dan urine rutin. Pemeriksaan tersebut bisa Anda pertimbangkan jika evaluasi kesehatan reproduksi dan hormon diperlukan.
Kapan Harus ke Dokter?
Konsultasikan keluhan kepada dokter ketika ejakulasi dini terjadi secara berulang, sulit dikendalikan, membuat Anda merasa tertekan, atau mengganggu hubungan dengan pasangan. Pemeriksaan juga disarankan ketika masalah muncul secara mendadak padahal sebelumnya tidak ada, khususnya jika disertai dengan keluhan berkemih atau gangguan ereksi.
Kenali Penyebabnya, Tentukan Langkah yang Tepat
Apa itu ejakulasi dini bukan sesuatu yang harus Anda hadapi dengan rasa malu atau bahkan menyalahkan diri sendiri. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor biologis maupun psikologis, sehingga penanganannya juga harus disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya.
Konsultasikan dengan dokter agar Anda mendapatkan evaluasi dan pilihan penanganan yang tepat. Melalui penanganan medis yang terarah, Anda bisa meningkatkan kenyamanan dan kualitas hubungan intim.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Serefoglu, E. C., et al. — An Evidence-Based Unified Definition of Lifelong and Acquired Premature Ejaculation
National Health Service (NHS) — Ejaculation Problems
European Association of Urology (EAU) — EAU Guidelines on Sexual and Reproductive Health: Disorders of Ejaculation
Coskuner, E. R., & Ozkan, B. — Premature Ejaculation and Endocrine Disorders: A Literature Review
Mayo Clinic — Premature Ejaculation: Diagnosis and Treatment
Althof, S. E., et al. — An Update of the International Society of Sexual Medicine's Guidelines for the Diagnosis and Treatment of Premature Ejaculation
American Urological Association (AUA) — AUA Guideline on the Pharmacologic Management of Premature Ejaculation
Salonia, A., et al. — European Association of Urology Guidelines on Male Sexual and Reproductive Health: 2025 Update on Male Hypogonadism, Erectile Dysfunction, Premature Ejaculation, and Peyronie's Disease
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
Frequently Asked Question
Apa itu ejakulasi dini?
Ejakulasi dini adalah kondisi ketika pria mengalami ejakulasi lebih cepat dari yang diharapkan dan kesulitan mengendalikannya. Diagnosis tidak hanya bergantung pada durasi hubungan seksual, tetapi juga kemampuan mengendalikan ejakulasi serta dampaknya terhadap kondisi emosional dan hubungan dengan pasangan.
Apa penyebab ejakulasi dini pada pria?
Ejakulasi dini dapat dipengaruhi faktor psikologis, seperti kecemasan, stres, kelelahan emosional, dan masalah hubungan. Faktor biologis atau medis yang berkaitan meliputi gangguan hormon tiroid, peradangan prostat, disfungsi ereksi, serta faktor genetik dan neurobiologis.
Apa saja ciri-ciri ejakulasi dini?
Ciri-cirinya meliputi ejakulasi yang terjadi lebih cepat dari harapan, kesulitan menunda ejakulasi, keluhan yang berulang, serta munculnya rasa malu, cemas, atau frustrasi. Kondisi ini juga dapat mengganggu hubungan dengan pasangan.
Bagaimana cara mengatasi ejakulasi dini tanpa obat?
Beberapa pendekatan yang dapat membantu adalah teknik stop-start untuk melatih kendali ejakulasi, penggunaan kondom untuk mengurangi sensitivitas pada sebagian pria, konseling psikoseksual, pengelolaan stres, dan komunikasi terbuka dengan pasangan. Pilihan yang sesuai bergantung pada penyebab dan tingkat keluhan.
Apakah ejakulasi dini bisa sembuh?
Ejakulasi dini dapat membaik dan dikendalikan melalui penanganan yang tepat. Sebagian pria terbantu dengan teknik perilaku dan konseling, sementara lainnya mungkin membutuhkan obat atau penanganan kondisi medis yang mendasari. Konsultasikan kepada dokter jika keluhan terjadi berulang atau muncul secara mendadak.
