Pernah merasa celana makin sesak padahal berat badan tampak biasa saja? Kemungkinan yang bertambah adalah ukuran perut Anda. Sayangnya, hal ini sering disepelekan dan banyak orang tidak menyadari bahaya perut buncit.
Lemak di area ini memang tidak sekadar membatasi penampilan, tapi bisa berkaitan dengan kesehatan organ penting. Mari kita telusuri masalah kebuncitan ini!
Apa itu Perut Buncit? (Lemak Viseral)
Perut buncit sering dianggap sekadar masalah penampilan saja. Padahal, di balik perut yang membesar, ada penumpukan jenis lemak yang bisa memengaruhi kesehatan secara serius. Lemak khusus ini namanya adalah lemak viseral.
Lemak viseral atau visceral adipose tissue (VAT) adalah jaringan lemak yang ada di dalam rongga perut dan membungkus organ-organ penting, meliputi hati, pankreas, dan usus. Ini berbeda dari lemak subkutan, yaitu lemak yang berada tepat di bawah kulit dan bisa Anda cubit.
“Tempat penyimpanan” memang sudah biasa, tetapi lemak ini juga aktif secara metabolik. Artinya, lemak ini terus melepaskan zat-zat yang memengaruhi kerja tubuh, seperti asam lemak, sitokin pro-inflamasi, serta adipokin.
Zat-zat tersebut akan memengaruhi sensitivitas insulin dan kadar lemak dalam darah. Apabila terjadi penumpukan, maka dapat disebut sebagai obesitas sentral, obesitas abdominal, atau obesitas viseral.
Mengapa Lebih Berbahaya daripada Lemak Subkutan?
Lemak viseral terhubung ke sirkulasi portal hepatik, jalur pembuluh darah yang mengalir ke hati. Jadi, asam lemak dan molekul peradangan dari sini akan langsung menghantam hati. Lalu, bisa timbul resistensi insulin (tubuh tidak peka insulin), dislipidemia (gangguan kadar lemak darah), dan peradangan di seluruh tubuh.
Lemak subkutan sendiri cenderung lebih “kalem” dan fokus menjadi penyimpan saja. Sementara lemak viseral sifatnya aktif dan responsif terhadap hormon stres seperti kortisol. SIfatnya yang responsif inilah yang membuatnya sering berkontribusi pada gangguan metabolik.
Bahaya Perut Buncit bagi Kesehatan
Karena lemak viseral aktif dan agresif, wajar jika dampaknya luas. Berikut andil lemak viseral pada beberapa risiko kesehatan.
1. Resistensi Insulin dan Diabetes Tipe 2
Lemak viseral membuat seseorang rentan terkena diabetes tipe 2. Setiap kenaikan 1 unit pada Visceral Adiposity Index berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes sebesar 42%.
Mekanismenya begini, lemak viseral mengirim banyak asam lemak bebas ke hati. Akibatnya, hati menjadi resisten terhadap insulin, sehingga produksi glukosa dan trigliserida (salah satu jenis lemak darah) ikut naik.
2. Penyakit Kardiovaskular
Lemak viseral berkaitan dengan dislipidemia aterogenik, yaitu pola lemak darah yang mendorong penyumbatan pembuluh darah. Cirinya, trigliserida tinggi, LDL kecil-padat, dan HDL (kolesterol baik) rendah.
Lemak viseral juga terkait dengan hipertensi, peradangan sistemik, dan profil trombogenik (kecenderungan darah membentuk gumpalan). Semuanya adalah faktor risiko penyakit jantung.
3. Sindrom Metabolik
Sindrom metabolik adalah kumpulan gejala yang muncul secara bersamaan dan saling memperburuk kondisi. Diagnosisnya memerlukan minimal 3 dari 5 kriteria, meliputi obesitas sentral, trigliserida tinggi, HDL rendah, tekanan darah tinggi, dan glukosa puasa tinggi. Menurut IDF, obesitas abdominal menjadi syarat wajib.
4. Penyakit Hati Berlemak (NAFLD/MASLD)
Lemak viseral adalah pendorong utama NAFLD, yang kini disebut MASLD (Metabolic dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease). Di lemak viseral terdapat asam lemak dan zat peradangan yang juga bisa masuk ke hati. Jika menimbun, maka bisa meradang sampai terjadi fibrosis (pengerasan jaringan).
5. Kanker
Obesitas viseral berkaitan dengan peningkatan risiko kanker rahim, kandung empedu, ginjal, hati, kolorektal (usus besar dan rektum), dan payudara.
Penyebabnya kemungkinan adalah peradangan kronis, kenaikan insulin/IGF-1 (faktor pertumbuhan yang mirip insulin), dan perubahan hormon seks steroid akibat lemak viseral. Ketiganya pun berkolaborasi dalam pertumbuhan tumor.
6. Kematian Semua Penyebab
Lemak viseral menjadi prediktor kuat kematian “all-cause mortality”, artinya bukan mematok satu penyakit saja. Pada pria, lemak ini juga terbukti memprediksi kematian secara independen.
Orang berberat badan normal tetapi berobesitas sentral juga punya risiko kematian lebih tinggi. Antara lain akibat penyakit jantung dan penyebab lain daripada mereka yang tidak berobesitas sentral.
Bahaya Perut Buncit pada Pria
Para pria, wajib perhatikan! Secara biologis, pria lebih mudah menumpuk lemak viseral daripada wanita pra-menopause. Ini terjadi karena perbedaan hormon seks dan cara tubuh mendistribusikan lemak. Berikut risiko spesifiknya pada pria.
Diabetes tipe 2: Pada usia 70 tahun, lemak viseral adalah prediktor terkuat kebanyakan diabetes, lebih kuat dibanding pada wanita.
Penyakit kardiovaskular: Pria dengan lemak viseral tinggi punya profil lemak darah yang lebih aterogenik dan risiko penyakit jantung lebih tinggi, bahkan pada BMI normal.
Gangguan seksual: Obesitas viseral berkaitan dengan hipogonadisme (kadar testosteron rendah).
Sleep apnea: Pria dengan obesitas sentral lebih rentan pada obstructive sleep apnea (henti napas berulang saat tidur). Ini juga memperparah resistensi insulin dan hipertensi.
Secara sederhana, ada “lingkaran setan” di sini. Testosteron rendah akan meningkatkan lemak viseral. Lalu, lemak viseral yang tinggi menekan produksi testosteron. Di samping itu, pria lebih sensitif terhadap efek kortisol dalam menumpuk lemak di perut.
Penyebab Perut Buncit
Penyebab bahaya perut buncit tidak hanya satu. Seringkali ada interaksi faktor genetik, hormon, lingkungan, dan gaya hidup.
Faktor Biologis dan Genetik
Usia: Lemak viseral cenderung bertambah seiring usia, terutama pada wanita setelah menopause.
Jenis kelamin: Pria lebih rentan dan wanita pra-menopause lebih banyak menyimpan lemak subkutan di pinggul dan paha.
Genetika: Variasi genetik dapat memengaruhi di mana lemak disimpan. Jadi, sebagian orang memang cenderung menimbun lemak di perut.
Etnis: Beberapa kelompok, misalnya Asia dan Hispanik, lebih mudah menumpuk lemak viseral meski BMI lebih rendah
Faktor Hormonal
Kortisol memiliki peran besar. Stres kronis akan mengaktifkan sumbu HPA (jalur komunikasi otak dan kelenjar adrenal), yang menaikkan kortisol dan mendorong penumpukan lemak viseral. Hiperinsulinemia (kadar insulin terlalu tinggi di darah) juga mendorong penyimpanan lemak di area ini.
Gaya Hidup
Diet tinggi fruktosa dan lemak jenuh: Mendorong lipogenesis de novo (tubuh membuat lemak baru dari gula) dan penumpukan lemak viseral.
Kurang aktivitas fisik: Gaya hidup sedenter meningkatkan lemak viseral, terlepas dari jumlah kalori yang masuk.
Kurang tidur: Tidur kurang dari 6 jam per malam dikaitkan dengan kenaikan lemak viseral karena kortisol serta hormon lapar dan kenyang (ghrelin dan leptin) jadi terganggu.
Stres kronis: Menaikkan kortisol dan memicu makan emosional, dua hal yang sama-sama mendorong lemak viseral.
Faktor Lingkungan dan Sosial
Paparan polusi udara PM2.5 terkait dengan peningkatan lemak viseral dan peradangan sistemik. Bahan kimia pengganggu hormon seperti BPA dan ftalat juga dapat mengacaukan metabolisme lemak.
Cara Mengatasi Perut buncit
Tadi sudah kita bahas bahwa lemak viseral ini responsif, termasuk pada perubahan gaya hidup. Namun, bukan berarti bahaya perut buncit ini tidak bisa Anda hindari atau atasi. Berikut cara mengendalikan kadar lemak dari gaya hidup.
1. Diet Kalori dan Diet Sehat
Defisit kalori sekitar 500-750 kkal per hari, dapat menurunkan 5-10%. Angka itu sudah cukup untuk mengurangi lemak viseral secara signifikan. Anda pun dapat melakukan dengan diet tanpa nasi. Selain itu, diet Mediterania, membatasi konsumsi fruktosa, dan konsumsi cukup protein juga sangat membantu.
2. Aktivitas Fisik
Olahraga aerobik dengan intensitas sedang hingga tinggi selama total 5 jam/minggu, terbukti menurunkan bahaya perut buncit secara signifikan, meski berat badan tidak turun. Latihan resistensi 2-3 kali seminggu untuk masa otot, meningkatkan metabolisme basal, dan memperbaiki sensitivitas insulin. Kombinasi keduanya akan sangat optimal.
3. Manajemen Stres dan Tidur
Kualitas tidur yang baik berkaitan dengan lemak viseral yang rendah. Selain itu, teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, dan pernapasan dalam juga menurunkan kortisol.
4. Intervensi Farmakologis
Sebaiknya, ini butuh pertimbangan dokter dan jika memang perubahan gaya hidup belum cukup. Sebab, terapi ini berpotensi menimbulkan efek samping. Berikut contoh obatnya.
Agonis GLP-1
Metformin: membantu pasien dengan resistensi insulin.
Terapi hormon: testosteron untuk pria hipogonad dan estrogen pada wanita pasca-menopause.
5. Pembedahan untuk Obesitas Morbid
Pada obesitas berat, bedah bariatrik dapat menurunkan lemak secara dramatis, sekitar 30-50%. Penanganan ini juga membuat remisi diabetes pada banyak pasien.
Kapan Perlu Cek Metabolic Panel?
Tes metabolic panel adalah tes darah yang menilai fungsi organ, keseimbangan elektrolit, glukosa, dan protein dalam tubuh. Tes ini berguna untuk menangkap masalah metabolik sebelum menimbulkan gejala. Berdasarkan pedoman dan bukti klinis, tes ini direkomendasikan jika Anda mengalami salah satu kondisi berikut.
Memiliki faktor risiko sindrom metabolik.
Obesitas sentral dengan gejala.
Riwayat keluarga: diabetes tipe 2, penyakit jantung usia muda, atau penyakit hati pada orang tua atau saudara kandung.
Usia di atas 40 tahun dengan perut buncit.
Ketika akan memulai program penurunan berat badan intensif.
Sedang mengonsumsi obat yang memengaruhi metabolisme.
Jika tanpa risiko, sebaiknya lakukan skrining 3-5 tahun sekali untuk usia 20-40 tahun dan setiap 1-3 tahun setelah 40 tahun. Sementara jika ada risiko, setiap 6-12 bulan. Setelah mengubah gaya hidup, lakukan skrining lagi setiap 3-6 bulan untuk memantau progres.
Siap Menghindari Bahaya Perut Buncit?
Singkatnya, perut buncit bukan hanya urusan penampilan, tetapi juga sinyal dari lemak viseral yang memengaruhi banyak organ. Kabar baiknya, lemak ini cukup mudah merespons perubahan gaya hidup. Jadi, Anda bisa mulai dengan langkah kecil saja, Ukur lingkar pinggang Anda hari ini dan terapkan gaya hidup sehat!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Tchernof, A., & Després, J.-P. (2013). Pathophysiology of human visceral obesity: An update.
Klein, S. (2004). The case of visceral fat: Argument for the defense.
Nordström, A., Hadrévi, J., Olsson, T., Franks, P. W., & Nordström, P. (2016). Higher prevalence of type 2 diabetes in men than in women is associated with differences in visceral fat mass.
Jayedi, A., Soltani, S., Motlagh, S. Z., Emadi, A., Shahinfar, H., Moosavi, H., & Shab-Bidar, S. (2022). Anthropometric and adiposity indicators and risk of type 2 diabetes: Systematic review and dose-response meta-analysis of cohort studies.
Eastern Mediterranean Health Journal (WHO EMRO). (t.t.). Table 1: Criteria for diagnosis of metabolic syndrome by diagnostic guideline.
Mathieu, P., Poirier, P., Pibarot, P., Lemieux, I., & Després, J.-P. (2009). Visceral obesity: The link among inflammation, hypertension, and cardiovascular disease.
Alberti, K. G. M. M., Eckel, R. H., Grundy, S. M., dkk. (2009). Harmonizing the metabolic syndrome: A joint interim statement of the International Diabetes Federation Task Force on Epidemiology and Prevention; National Heart, Lung, and Blood Institute; American Heart Association; World Heart Federation; International Atherosclerosis Society; and International Association for the Study of Obesity.
Mirza, M. S. (2011). Obesity, visceral fat, and NAFLD: Querying the role of adipokines in the progression of nonalcoholic fatty liver disease.
Parra-Soto, S., Boonpor, J., dkk. (2024). Association between visceral adiposity index and cancer risk in the UK Biobank cohort.
Lucassen, E. A., & Cizza, G. (2012). The hypothalamic-pituitary-adrenal axis, obesity, and chronic stress exposure: Sleep and the HPA axis in obesity.
Nauli, A. M., & Matin, S. (2019). Why do men accumulate abdominal visceral fat?
Hirotsu, C., Tufik, S., & Andersen, M. L. (2015). Interactions between sleep, stress, and metabolism: From physiological to pathological conditions.
Chaput, J.-P., & Tremblay, A. (2012). Insufficient sleep as a contributor to weight gain: An update.
Boyko, E. J., Fujimoto, W. Y., Leonetti, D. L., & Newell-Morris, L. (2000). Visceral adiposity and risk of type 2 diabetes: A prospective study among Japanese Americans.
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
.jpg&w=3840&q=75)